Vivagoal.com – Era 90-an dikenal sebagai awal dari berkembangnya sepakbola modern. Dan ada seorang pemain yang menjadi bintang pada era tersebut yang uniknya, berasal dari Afrika. George Weah, merupakan pesepakbola yang pernah meraih Ballon d’Or, dan pemain terbaik dunia sekaligus. Dan uniknya, ia mempersembahkan semua raihan itu bagi seorang Arsene Wenger. Apa hubungan dari Weah dan Arsene Wenger? Dapatkan informasinya dengan membaca 5 fakta dari George Weah yang telah kami kumpulkan dari berbagai macam sumber di bawah ini.

  1. Tumbuh di daerah kumuh

Lahir di Monrovia, Liberia, Afrika bagian Barat, George Weah kecil tumbuh bersama sang nenek di sudut kota  yang paling kumuh. Untungnya berkat kehidupan yang keras ia juga tumbuh menjadi remaja bertubuh atletis dan mulai belajar sepakbola bersama klub lokal Young Survivors, untuk kemudian bermain bersama klub yang lebih besar yaitu Invicible Eleven.

  1. Ke Eropa bersama Arsene Wenger

Ketika usianya 22 tahun, bakatnya dilihat oleh seorang Claude Le Roy, pelatih tim nasional Kamerun. Berita tersebut kemudian sampai ke telinga Arsene Wenger yang kala itu menjadi pelatih AS Monaco dan  mengunjumgi sendiri sang pemain yang kala itu masih bermain bersama klub lokal kamerun, Tonerre Yaounde. Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Weah yakin untuk mengajaknya bergabung bersama AS Monaco. Dan sisanya adalah sejarah.

  1. Mencapai puncak kesuksesan bersama PSG

PSG yang meminati Weah, membeli sang pemain dari monaco dengan 6,5 juta euro, sebuah harga yang cukup mahal bagi pesepakbola kala itu. Namun harga tersebut dibayar tuntas dengan  gelar French Cup pada 1993, dan gelar jawara Ligue 1  pada 1994.  Di musim berikutnya ia lebih trengginas lagi, ia kembali mengulangi pencapaian sebelumnya dan bahkan memenangkan gelar pencetak gol terbanyak Liga Champions musim 1994-1995. Sayangnya langkahnya untuk mengangkat trofi liga Champions harus terhenti ketika berhadapan dengan AC Milan di semifinal. Tetapi, atas performanya tersebut ia diganjar penghargaan Ballon d’Or , Fifa Player of The year, dan Best African Player of The Year.

  1. Bersama Milan Cetak Gol Spektakuler

Takluk oleh Milan, rupanya Weah malah pindah ke klub tersebut semusim setelahnya. Di klub tersebut ia makin ganas dengan berhasil 54 gol dalam lima musim di sana. Ia juga berhasil mempersembahkan dua gelar Scudetto. Di klub tersebut ia berhasil mencetak salah satu gol bersejarah dalam laga melawan Verona. Ia menggiring bola dari kotak penalti Milan dan melewati para pemain Verona seorang diri hingga mencetak gol.

  1. Beralih menjadi aktivis kemudian politikus

Merasa karirnya telah cukup setelah bermainn di Liga Primer Inggris bersama Chelsea dan Manchester City, George Weah memutuskan gantung sepatu bersama klub Al-Jazira pada tahun 2003 dan memutuskan untuk  pulang ke kampung halamannya, Liberia. Di sana ia fokus ke kegiatan kemanusiaan hingga terjun untuk berpolitik. Pada pemilihan umum tahun 2005 ia mencalonkan diri sebagai presiden Liberia, namun ia kalah dari lawannya, Ellen Johnson Sirleaf. Pantang menyerah, pada 2011 ia kembali melawan Sirleaf dengan  mengincar posisi wakil presiden, tetapi sepertinya rakyat Liberia masih belum yakin kepada dirinya. Pada pemilu yang akan datang, yaitu tahun 2017, Weah kembali mencalonkan diri sementara sang lawan tidak bisa mencalonkan diri lagi karena terbentur undang-undang. Sementara ia juga fokus di beberapa kegiatan kemanusiaan untuk membuat Benua Afrika menjadi lebih baik.

 

Leave a Reply