Vivagoal.com5 FaktaSaat ini, nama Aples Gideon Tecuari mungkin kurang terlalu familiar. Namun di pertengahan 1990an hingga awal 2000an, namanya sangat dikenal. Ia mulai dikenal saat membela PSSI Primavera di Kualifikasi Olimpiade 1996. Sebagai satu-satunya pemain asal Papua di tim tersebut, Aples terlihat mencolok bukan hanya karena kulitnya yang legam tapi gaya bermainnya yang keras, tanpa kompromi, sekaligus agresif membantu penyerangan. Ia salah satu stopper terbaik Indonesia pada era-era tersebut.

Keputusan pensiun dari sepakbola usai membela Perseman Manokwari di tahun 2005 membuat banyak orang perlahan mulai melupakannya. Aples Lahir di Jayapura, Papua pada 21 April 1973. Aples dijamannya disebut sebagai salah satu mutiara Papua yang sukses merentas ke gemerlap panggung sepakbola tanah air. Aples memulai karir sepakbolanya dengan cukup gemilang, dan berhasil menjadi bagian dari proyek Primavera timnas Merah Putih.

Aples tercatat memulai karir sepakbolanya di Persipura Jayapura, tapi namanya mulai dikenal saat ia membela tim Pelita Jaya. Selesai dari Pelita, Aples kemudian bermain untuk PSPS Pekanbaru, ia juga sempat bermain untuk Persija Jakarta dan Perseman Manokwari. Dan berikut 5 fakta tentang Legenda Mutiara Hitam, Aples Gideon Tecuari.

 

  1. Aples Pemain Papua Yang Pernah Menimba Ilmu Sepakbola di Italia

Demi mengembangkan sepakbola Indonesia, PSSI pernah mengirim pemain-pemain muda berbakat ke Italia untuk menimba ilmu. Mereka kemudian dikenal dengan nama PSSI Primavera dan PSSI Baretti.

Saat itu, tim Primavera yang mayoritas diisi pemain-pemain usia di bawah 19 tahun lebih dulu dikirim ke Italia untuk mengikuti kompetisi Serie C2, sedangkan Baretti adalah para pemain yang usianya di bawah 16 tahun. Mereka semua diambil dari hasil seleksi yang dilakukan oleh trio Danurwindo, Harry Tjong dan Sartono Anwar. Saat itu, Bakat Aples tercium saat membela tim sepakbola Papua di ajang PON XIII tahun 1993 di Jakarta. Dan di PON ke-13 tersebut, Aples berhasil membawa tim sepakbola Irian Jaya (masih belum bernama Papua), menjadi juara tanpa tersentuh kekalahan.

Akhirnya, keberangkatan Aples ke Italia adalah salah satu titik balik terbaik dalam karir sepakbolanya. Aples Tecuari menjelma menjadi palang pintu andalan tim nasional Indonesia pada masanya.

Saat itu, Tim Primavera memang tidak diciptakan sebagai sebuah tim, tetapi untuk mengisi pos timnas Indonesia. Ada 8-9 pemain yang kala itu berusia 18 tahun, dan Aples sendiri saat itu sudah berumur 22 tahun, namun selalu menjadi pemain inti di timnas senior dan menjadi andalan di klubnya saat berkompetisi di Liga Indonesia.

 

  1. Aples Selalu Naik Angkutan Umum Selama Berkarir Di Pelita Jaya

Tim Pelita Jaya di Liga Indonesia pada tahun 1996 dijuluki sebaga ‘Los Galacticos’ nya Indonesia. Kala itu, Pelita Jaya masih bermarkas di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.

Pelita Jaya pada era tersebut diperkuat oleh tiga pemain asing dengan kualitas luar biasa, yaitu, Maboang Kessack, Dejan Gluscevic, plus penyerang legendaris Kamerun, Roger Milla. Dan walaupun tergabung dalam tim yang bertabur bintang, Aples tetap memilih naik angkot saat berangkat latihan dari Sawangan (mess Pelita Jaya) ke stadion Lebak Bulus, Jakarta. Beberapa rekannya hadir di Lebak Bulus justru sudah dengan kendaraan pribadi.

 

  1. Aples Tecuari Tetap Dimainkan Di Final Sea Games 1997 Walaupun Menderita Rabun Ayam

Banyak hal di luar lapangan yang dikaitkan dengan Aples baik saat masih aktif bermain bola maupun saat sudah memutuskan pensiun dari dunia yang telah membesarkan namanya. Salah satunya adalah penyakit rabun ayam.

Penyakit rabun ayam mulai diderita Aples saat dirinya membela Timnas Merah Putih di ajang Piala Tiger 1996, di Singapura. Menurut Aples, karena sering mengisi teka-teki silang di waktu malam hari hanya dengan menggunakan lampu tidur saat ada jeda pertandingan, penyakit rabun ayam mulai dia rasakan gejalannya.

Karena penyakit rabun ayam juga, pada SEA Games 1997, Aples harus rela menjadi cadangan di barisan belakang timnas Merah Putih. Posisinya digantikan oleh Nur Alim dan Sugiantoro. Aples harus jadi cadangan karena penglihatannya jadi kabur jika main di malam hari.

Tapi dasar Aples memang palang pintu andalan Indonesia di ajang tersebut, Aples diturunkan di babak final SEA Games 1997. Timnas saat itu harus berhadapan dengan Thailand. Aples saat itu diperintahkan oleh Danurwindo untuk menjaga ketat penyerang andalan Thailand, Kiatisuk Senamuang (sekarang Pelatih Timnas Thailand). Di Final tersebut, Kiatisuk Senamuang merasakan betapa sulitnya melewati hadangan dari Aples.

Dan saat ini, penyakit rabun ayam yang dialami oleh Aples sembuh.

 

  1. Aples Tecuari Sangat Mengidolakan Pelatih Ivan Kolev

Piala Tiger 2002 disebut Aples sebagai masa terbaiknya bersama tim nasional Indonesia. Tampil dengan skuat yang cukup komplit, Aples merasa tim saat itu adalah tim terbaik terakhir yang dimiliki Indonesia.

Kesuksesan tim nasional Indonesia saat itu diakui oleh Aples adalah buah dari tangan dingin pelatih Ivan Venkov Kolev. Bagi Aples, Kolev adalah sosok penting di balik keberhasilan timnas Indonesia masuk ke final Piala Tiger tahun 2002. Menurutnya, Thailand hanya beruntung menang dari Indonesia di pertandingan tersebut.

Tak hanya itu, apresiasi Aples terhadap kolev juga sangat tinggi karena mampu menumbuhkan nasionalisme setiap pemain yang masuk tim nasional dan mampu membuat hati setiap pemain timnas Indonesia menyatu.

Kolev juga selalu memberikan para pemain semangat. Salah satu kata yang paling diingat Aples dari Kolev adalah ‘Kalian itu orang-orang terpilih. Kalian dipilih dari 200 juta orang. Percuma jika kalian sudah dipilih dan tampil seadanya di sini. Kalian harus dapat membuktikan bahwa kalian memiliki kualitas yang lebih baik ketimbang orang-orang lain.”

 

  1. Aples Sempat Menolak Jadi PNS Karena Alasan Takut Gemuk

Aples yang juga mantan bek Persija Jakarta sekarang ini masih melatih sepakbola. Walaupun statusnya saat ini adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Papua Barat dengan SK sebagai pelatih untuk tim pelajar maupun provinsi di Papua Barat.

Ada cerita unik di balik alasan Aples sebelum menerima tawaran menjadi PNS. Aples pernah mengungkapkan, sempat menolak tawaran jadi PNS pada tahun 2004. Kemudian, kembali ditolaknya ketika ditawarkan pada tahun 2009, namun akhirnya Aples menerima tawaran jadi PNS karena desakan dari sang istri.

Aples sebenarnya tak pernah mau jadi PNS. Ketakutannya jika jadi PNS yaitu di kantor hanya duduk saja, itu bisa membuat tubuhnya jadi gemuk seperti teman-teman mantan pemain lainnya di papua. Aples takut menjadi gemuk. Makanya, saat menerima tawaran sebagai PNS, Aples meminta agar tetap di lapangan dan tetap melatih.

Aples beberapa waktu lalu mendapatkan tugas untuk menjadi asisten pelatih timnas street soccer Indonesia yang mengikuti International Street Soccer Championship (ISSC) di Ancol, Jakarta, 7-9 Oktober 2016. Dia mendampingi mantan rekannya di timnas Indonesia Rochy Putiray yang menjadi pelatih kepala tim tersebut.

Selalu update berita terbaru sepakbola, highlights dan 5 fakta hanya di Vivagoal.com

Leave a Reply