Vivagoal.com5 FaktaKlub sepak bola PSM Makassar akan memperingati ulang tahunnya yang ke-102 pada tanggal 2 November 2017, mendatang. Di usianya yang akan menginjak ke-102 tahun, telah banyak prestasi yang sukses ditorehkan tim berjuluk Juku Eja, Ayam Jantan dari Timur, dan Pasukan Ramang, ini. Tak hanya itu, deretan nama pemain-pemain top yang pernah berkarir di Liga Indonesia lahir dari PSM Makassar.

PSM Makassar, telah diketahui menjadi salah satu kesebelasan tertua yang hingga sekarang ini masih eksis di Liga Indonesia. Sepanjang perjalanannya, PSM belum pernah terdegradasi dari kasta tertinggi dan selalu mampu melahirkan bibit muda untuk memperkuat tim nasional Indonesia.

Dan menginjak usia seabad lebih PSM Makassar, berikut 5 fakta menarik PSM Makassar, klub tertua di Indonesia ini.

 

  1. PSM Adalah Klub Sepakbola tertua di Indonesia

Kisah panjang sejarah PSM Makasar dimulai pada tanggal 2 November 1915 yang sekaligus diproklamirkan sebagai tanggal berdirinya perkumpulan sepak bola bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) yang di kemudian hari tercatat sebagai embrio Persatuan Sepak bola Makassar (PSM). Dalam perjalanan prestasinya, MVB banyak berisi orang-orang bumi putra di jajaran elit persepakbolaan Hindia Belanda seperti Sagi dan Sangkala, dan tercatat sebagai pemain andal plus promotor yang disegani kalangan Belanda saat itu.

Pada masa itu, sekitar tahun 1926-1940, MVB sudah banyak melakukan pertandingan dengan beberapa kesebelasan dari dalam dan luar negeri, di antaranya dari Jawa, seperti Quick, Excelcior, HBS, sejumlah klub dari Sumatera, Borneo, dan Bali. Sedang dari luar negeri kesebelasan dari Hong Kong dan Australia.

Di usianya yang ke-25, kegiatan MVB mulai surut seiring dengan kedatangan pasukan Jepang di Makassar. Orang-orang Belanda yang tergabung dalam MVB banyak ditangkap. Pemain-pemain pribumi dijadikan Romusa, dan sebagian dikirim ke Burma (kini Myanmar). MVB praktis lumpuh total, sebagaimana klub-klub sepak bola di Indonesia. Di Makassar ketika itu, segala yang berbau Belanda mutlak dilenyapkan, sebaliknya untuk mencari dukungan penduduk, Jepang membiarkan masyarakat menggunakan nama-nama Indonesia. Dan MVB pun berubah menjadi Persatuan Sepak bola Makassar (PSM).

 

  1. Pemain PSM Ramang Menjadi Satu-Satunya Pemain Asal Indonesia Yang Diakui Kehebatannya oleh FIFA

Berkat prestasi Ramang, Indonesia masuk dalam hitungan kekuatan bola di Asia. Satu demi satu kesebelasan Eropa mencoba kekuatan PSSI. Mulai dari Yugoslavia yang gawangnya dijaga Beara (salah satu kiper terbaik dunia waktu itu), klub Stade de Reims dengan si kaki emas Raymond Kopa, kesebelasan Rusia dengan kiper top dunia Lev Jashin, klub Locomotive dengan penembak maut Bubukin, sampai Grasshopers dengan Roger Vollentein.

Pada tahun 1954, Timnas Indonesia yang melakukan lawatan ke berbagai negeri Asia (Filipina, Hong Kong, Muangthai, Malaysia), Indonesia membantai seluruh kesebelasan yang dijumpai dengan gol menyolok. Dari 25 gol (dan PSSI hanya kemasukan 6 gol) 19 di antaranya lahir dari kaki Ramang.

Dengan kelihaian dan kehebatannya itu, oleh Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA), melalui sebuah artikel yang diunggah dalam situs resminya (www.fifa.com), FIFA mengenang kehebatan Ramang tepat pada peringatan ke-25 tahun kematiannya di tahun 2012. Ramang, yang meninggal pada 26 September 1987, disebut, seperti tertulis dalam judul artikel tersebut, sebagai “Orang Indonesia yang Menginspirasi Puncak Sukses Tahun 1950-an (Indonesian who inspired ’50s meridian)”.

Kehebatan Ramang yang dikenang dan dikupas panjang lebar di situs FIFA itu, terpusat saat pemain asal Makassar tersebut memperkuat Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956. Ajang itu dianggap puncak sukses timnas Indonesia di level internasional, setelah menjadi negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia pada 1938 di Prancis.

Tapi sudah menjadi tradisi di Indonesia yang tidak bisa menghargai mantan atletnya. Enam tahun Ramang menderita sakit di paru-parunya tanpa pernah bisa berobat ke Rumah sakit karena kekurangan biaya. Pada tanggal 26 September 1987, di usia 59 tahun, Ramang akhirnya itu meninggal dunia di rumahnya yang sangat sederhana yang ia huni bersama anak, menantu dan cucunya yang semuanya berjumlah 19 orang. Ramang dimakamkan di TPU Panaikang. Untuk mengenang jasanya, sebuah patung di lapangan Karebosi dibuat untuknya. Selain itu hingga sekarang salah satu julukan PSM Makassar adalah Pasukan Ramang.

Ironis memang mengetahui kisah hidup mantan bintang sepak bola itu. Apalagi Ramang kini hanya diapresiasi dengan sebuah patung yang dibuat seadanya, yang berdiri di pintu utara Lapangan Karebosi.

 

  1. PSM Menjadi Klub di Tahun 2015 Yang Empat Kali Ganti Pelatih

Ada kejadian unik, tepatnya pada tahun 2015, tercatat PSM Makassar menjadi satu-satunya klub yang 4 kali melakukan pergantian kepala pelatih. Dimulai diawal Januari 2015, Alfred Riedl yang resmi menjadi pelatih kepala PSM Makassar dengan menekan kontrak durasi satu musim, mundur dipertengahan kompetisi lantaran harus menjalani perawatan medis di Austria. Maka Hans Peter Schaller secara otomatis naik pangkat menjadi kepala pelatih PSM Makassar. Sayangnya, kontrak pelatih asal Austria ini pun putus setelah kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2015 dinyatakan berhenti, menyusul pembekuan PSSI oleh Menpora.

Tak mau tinggal diam, Manajemen PSM Makassar kemudian menunjuk asisten pelatih Assegaf Razak untuk menukangi Syamsul Chaeruddin dkk. selama Piala Presiden sebagai jawaban atas pembekuan kompetisi kala itu. Tetapi, Assegaf Razak dianggap gagal di Piala Presiden sehingga PSM memutus kontraknya, baik sebagai pelatih kepala maupun asisten pelatih.

Pelatih selanjutnya dan yang keempat, yakni Liestiadi yang kemudian dipercaya menjadi juru taktik PSM Makassar di Piala Jenderal Sudirman. Namun, eks pelatih Gresik United ini juga gagal membawa PSM tampil lebih baik. Bahkan harus pulang terlebih dahulu setelah tak mampu bersaing di fase penyisihan grup.

 

  1. PSM Makassar Satu-Satunya Klub Yang Tersisa Dari Pulau Sulawesi

PSM Makassar hingga saat ini menjadi satu-satunya klub sepak bola profesional dari pulau Sulawesi yang masih bertahan di kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.

Selain PSM, sebenarnya ada beberapa klub Sulawesi lainnya pernah menjajal kerasnya kompetisi Liga Indonesia, seperti Persma Manado dan Persmin Minahasa, namun kedua klub tersebut lalu terkubur oleh ganasnya persaingan industry sepak bola.

 

  1. PSM Menjadi Tempat Bersinarnya Bintang Asing Top Sepakbola Liga Indonesia

Siapa yang tidak mengetahui duet pemain asing paling menakutkan kala Christian Gonzales dan Oscar Aravena saat masih dimiliki PSM Makassar. Namun sebelum itu, PSM juga telah berhasil mengorbitkan nama-nama seperti Marcio Novo, Joseph Lewono, Jacksen F.Tiago, dan tentu saja, Sang Maestro Luciano Leandro yang kesemuanya menjadi bintang top di dunia sepakbola Indonesia.

Publik sepak bola tanah air, khususnya di Makassar pernah dibuat terpukau oleh daya magis dari kocekan kaki kiri Ronald Fagundez, umpan lambung mematikan Carlos de Mello, serta through pass cerdas Mohammad Khadafi. Jangan lupa pula garangnya Osvaldo Moreno di kotak enam belas dan ngototnya Aldo Bareto bertarung di lini serang Ayam Jantan dari Timur.

Selalu update berita terbaru sepakbola, highlights dan 5 fakta hanya di Vivagoal.com

Leave a Reply