Vivagoal.com5 FaktaKurniawan Dwi Yulianto adalah seorang pesepak bola Indonesia yang juga dianggap sebagai salah satu yang terbaik yang dimiliki Indonesia. Kurniawan lahir di Magelang pada tanggal 13 Juli 1976.

Biasa bermain sebagai striker, Kurniawan adalah salah satu dari sedikit pemain Indonesia yang pernah bermain di Eropa. Pada awal karirnya dia sempat bermain di tim remaja Sampdoria sebelum kemudian pindah ke FC Luzern di Swiss.

Pemain yang akrab dipanggil “Ade” dan juga sering dijuluki “Kurus” karena posturnya yang ceking ini lalu kembali ke Indonesia dan bermain di Liga Indonesia dan bermain dengan beberapa tim: PSM Makassar, PSPS Pekanbaru, PS Pelita Bakrie, Persebaya Surabaya,Persija Jakarta, Persitara Jakarta Utara, Persela Lamongan, dan bermain untuk PSMS Medan. Antara Desember 2005 hingga Mei 2006, Kurniawan memperkuat Sarawak FC di Malaysia, namun ia dianggap gagal karena jarang mencetak gol dan diputus kontrak.

Prestasi Kurniawan untuk timnas Indonesia sendiri terbilang cukup gemilang. Bersama Bambang Pamungkas, Kurniawan Dwi Yulianto berhasil mencetak lebih dari 30 gol bagi timnas Indonesia dan total mencetak 204 gol selama karirnya baik di level klub maupun timnas Indonesia.

Striker yang licin dan cerdik ini pernah tampil di SEA Games 1995 dan 1997, Pra Piala Dunia, dan dua kali membawa Indonesia menjadi semifinal Piala Tiger (1998 dan 2000). Ia juga tiga kali mengantarkan Indonesia lolos ke putaran Final Piala Asia (1996, 2000, 2004), walaupun namanya dicoret saat skuat Merah Putih bermain di Piala Asia 2004.

Dan berikut 5 fakta tentang Kurniawan Dwi Yulianto:

 

  1. Kurniawan Pernah Terjerat Kasus Narkoba

Saat itu, nama Kurniawan sedang menjulang sebagai salah satu bomber paling mematikan di Indonesia. Namun, karir eks penyerang PSM Makassar tersebut tercoreng karena kasus sabu.

Pemain yang dijuluki ‘Si Kurus’ itu dituduh menggunakan sabu di Hotel Wetan Surabaya pada pukul 13.00 WIB, 11 April 2000. Hal itu dilakukan sehari sebelum PSM bertarung di kandang Petrokimia Putra Gresik. Hal itu diungkapkan oleh pemain PSM lainnya, Kuncoro. Namun, Kurniawan lolos dari hukuman karena terbukti negatif narkoba.

 

  1. Klub Sepakbola Profesional Pertama Kurniawan Adalah Di Eropa

Kurniawan, pemain kelahiran Magelang, menjadi salah satu dari sedikit pemain Indonesia yang sempat bermain di benua biru. Saat tahun 1993, pemain timnas Indonesia U-16 dikirim ke Italia untuk mengikuti program latihan Primavera dan ikut kompetisi Primavera U-23.

Pada saat program talent scout (ajang pencarian bakat) dari klub-klub di Eropa, Kurniawan menjadi salah satu pemain yang beruntung karena diberi kesempatan untuk ikut seleksi di FC Luzern, Swiss. Kurniawan yang lolos seleksi langsung disodori kontrak menjadi salah satu pemain Indonesia pertama yang bermain di Liga klub Eropa yang resmi.

FC Luzern adalah menjadi klub profesional pertama dari pemain kelahiran 13 Juli 1976 ini. Dan hal yang paling dikenang oleh si Kurus yaitu saat melakoni pertandingan resmi antara FC Luzern melawan FC Basel pada tahun 1995. Kurniawan yang saat itu baru berusia 19 tahun dipercaya FC Luzern untuk menjadi penyerang utama. Sadar mendapatkan kesempatan langka, Kurniawan tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dirinya berhasil mencetak gol pertama bagi timnya, di mana Luzern pada akhirnya menang 2-1.

Setelah mencetak gol tersebut, nama Kurniawan kemudian menghiasi beberapa surat kabar di Swiss. Fotonya muncul di halaman utama. Namun hal tersebut tak lebih dari sekadar bonus. Baginya, menjadi pemain Indonesia pertama yang mencetak gol pertama di kompetisi resmi Eropa jauh lebih penting daripada menghiasi halaman depan sebuah surat kabar. Selama bermain untuk FC Luzern, menurut wikipedia, Kurniawan tampil sebanyak 12 kali. Pemain kelahiran Magelang ini juga menyumbang tiga gol untuk Luzern.

 

  1. Gol Heroik Kurniawan Ke Gawang Malaysia Pada Ajang Piala Tiger 2004 Menjadi Yang Terakhir Di Timnas Indonesia

Pada pertandingan semifinal Piala AFF 2004 leg kedua di Malaysia, yang mana di Leg pertama, Indonesia mengalami kekalahan 2-1, dan saat itu juga, Indonesia telah ketinggalan 1-0 dari Malaysia. Kurniawan sadar betul bahwa dia mempunyai tanggung jawab besar dalam pertandingan tersebut. Apalagi bermain di hadapan puluhan ribu pendukung Malaysia, yang saat itu memadati stadion Bukit Jalil, juga merupakan musuh yang harus bisa dikalahkan.

Saat umpan lambung Ponaryo hendak mengarah tepat ke salah seorang bek tengah Malaysia, Kurniawan melakukan pergerakan yang membuat bek tengah Malaysia gugup dan melakukan kesalahan dalam mengontrol bola. Dengan kecepatan yang dimilikinya, Kurniawan berhasil masuk hingga ke dalam kotak penalti Malaysia. Dengan tenang, dirinya melakukan tembakan meyilang yang berhasil menyamakan kedudukan.

Pasca gol Kurniawan tersebut, angin keberuntungan berubah. Puluhan ribu penggemar Malaysia yang memadati tribun penonton membisu dan pemain-pemain Malaysia menjadi kehilangan konsentrasi yang pada akhirnya membuat Indonesia berhasil mencetak tiga gol tambahan. Pada akhirnya Indonesia menang 1-4 dan berhasil lolos ke babak final secara ajaib dengan agregat 5-3.

Banyak pengamat yang mengatakan, gol yang dicetak Kurniawan pada pertandingan semifinal tersebut lebih hebat daripada yang pernah dilakukan Leonidas, seorang jendral pasukan Sparta. Jika Leonidas dengan 300 pasukannya hanya berhasil membuat repot puluhan ribu pasukan Persia, Kurniawan berhasil menginspirasi 10 pemain Indonesia lainnya untuk mengalahkan 11 pemain Malaysia beserta puluhan ribu pendukungnya. Dan akhirnya, gol Kurniawan ke gawang Malaysia di ajang Piala AFF tahun 2004 menjadi gol terakhirnya dengan seragam timnas.

 

  1. Kurniawan Memilih Aples Rekannya Di Tim Primavera Sebagai Bek Paling Tangguh Di Indonesia

Meski sama-sama sebagai anggota timnas Merah Putih, Kurniawan dan Aples tak jarang harus berjibaku di level klub. Sayang duel klasik kedua pemain ini tidak berlangsung lama, karena Aples lebih dulu memutuskan untuk gantung sepatu. Aples menepi dari lapangan hijau akibat cedera lutut, dan pensiun pada tahun 2005. Sedangkan Kurniawan baru pensiun di tahun 2014.

Saat berhadapan dengan Aples, Kurniawan mengakui jika Aples Tecuari adalah bek paling tangguh dan paling berkesan yang pernah berduel dengannya. Sama-sama pernah ditempa dalam program Timnas Primavera, membuat keduanya sangat hafal dengan permainan masing-masing.

Aples Gideon Tecuari dijamannya adalah salah satu bek yang paling berat untuk dilewati baik di level klub maupun level internasional karena ketenangannya dalam mengkoordinir barisan belakang timmnya.

 

  1. PSM Makassar Jadi Klub Yang Paling Berkesan Buat Kurniawan

Setelah kembali ke tanah air, Kurniawan mencoba peruntungannya di beberapa klub di Liga Indonesia. Yang paling berkesan bagi Kurniawan adalah saat bermain untuk PSM Makassar. Kurniawan sukses mengantarkan PSM Makassar menjuarai Liga Indonesia tahun 2000, lalu menjadi juara Ho Chi Minh City Cup di Vietnam setahun kemudian.

Mantan striker PSM Makassar pada era 1999 hingga 2001 ini mengakui bahwa dirinya sudah mengagumi euforia sepak bola Makassar sejak berseragam tim berjulukan Juku Eja itu. Ada memori yang paling diingat Kurniawan saat masih membela PSM Makassar, yaitu antusiasme luar biasa yang diperlihatkan para pendukung PSM saat hendak menyaksikan final Liga Indonesia 1999-2000 antara PSM dengan Pupuk Kaltim di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Waktu itu, suporter PSM Makassar yang ingin menyaksikan final, ke Jakarta menggunakan kapal laut. Dan karena menggunakan kapal laut, mereka harus transit dulu di Surabaya karena belum ada kapal waktu itu yang langsung menuju Tanjung Priok. Dan saat transit, para suporter PSM Makassar harus berkelahi dulu disana dengan pendukung tim lain sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

PSM Makassar memang salah satu klub tempat Kurniawan Dwi Yulianto meraih prestasi selain Persebaya Surabaya, di mana dua klub tersebut menjadi juara Liga Indonesia saat diperkuatnya. Kurniawan bahkan menjadi salah satu mesin gol PSM dengan berduet bersama Miro Baldo Bento saat itu.

Selalu update berita terbaru sepakbola, highlights dan 5 fakta hanya di Vivagoal.com

Leave a Reply