Vivagoal.com5 FaktaSistem liga sepakbola di Indonesia adalah serangkaian sistem liga untuk klub sepakbola di Indonesia. Liga Indonesia termasuk liga yang paling sering berganti-ganti format karena banyaknya politisasi.

Sepakbola Indonesia sendiri pernah disanksi oleh FIFA pada tahun 2014 karena adanya intervensi dari pemerintah, yaitu pembekuaan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia oleh Menpora, Imam Nahrawi. Sejak tahun 2016, dimana Indonesia telah bebas dari sanksi FIFA. PT Gelora Trisula Semesta selaku operator sementara liga, membentuk Indonesia Soccer Championship dan bertahan hingga saat sekarang ini.

Tahun 1994, Liga Indonesia adalah kompetisi liga yang menampilkan pertandingan antar klub sepakbola, sebagai hasil penggabungan dari dua kompetisi teratas di Indonesia yang sudah ada sebelumnya yaitu Perserikatan (amatir) dan Galatama (semi profesional). Liga Indonesia dikelola oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Setelah dengan beberapa perubahan format dan nama, Liga Indonesia berakhir pada tahun 2007.

Pada tahun 2008 dibentuklah kompetisi Liga Super Indonesia. Dan bisa ditebak, kompetisi ini cuma dapat bertahan dalam beberapa tahun (hingga 2014). Namun, dibalik suka duka persepakbolaan Indonesia, Liga Indonesia tetap menyimpan pesona bagi para pemain kelas dunia, khususnya dari Benua Afrika. Liga Indonesia sudah banyak kedatangan pemain-pemain asing asal Afrika sejak dulu.

Dan berikut 5 fakta Pemain Afrika yang dianggap terbaik selama ajang Liga Indonesia digelar:

 

  1. Roger Milla (Kamerun) Kerap Mencetak Dua Digit Gol Selama 2 Musim Bermain di Liga Indonesia dalam usia 44 Tahun.

Saat itu, mendengar Roger Milla mantan bintang Piala Dunia mau bermain di Liga Indonesia ketika usianya sudah 42 tahun, dan berstatus sebagai pemain termahal pula, ada kesan bahwa Milla mungkin hanya berniat mencari uang pensiun di akhir karier saja. Tapi ternyata, Roger Milla jauh lebih profesional daripada dugaan tersebut.

Roger Milla yang memang baru melejit namanya di jagat sepakbola dunia kala usianya sudah memasuki senja berhasil membuktikan bahwa dirinya belumlah habis meski usianya jauh di atas rata-rata. Setelah membela Kamerun di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Milla bermain di Liga Indonesia dan berkolaborasi dengan kompatriotnya, Maboang Kessack dan pemain asal Montenegro, dan Miodrag Bozovic. Milla berhasil menciptakan 13 gol dari 23 pertandingan untuk klub kaya raya tersebut. Sebuah catatan yang luar biasa, apalagi mengingat usianya.

Tahun 1996, Milla berlabuh di Putra Samarinda. Saat membela Putra Samarinda, Milla berhasil menciptakan 18 gol dari 12 pertandingan. Fakta bahwa ia mampu menceploskan dua digit gol dalam semusim tetap saja hebat. Setelah pensiun sebagai pemain, sosok Milla tetap berkontribusi terhadap sepak bola Indonesia, Ia pernah menjadi duta untuk menyukseskan upaya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Sayang usahanya gagal, sehingga Jepang dan Korea Selatan ditetapkan FIFA menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002.

Seolah sudah melupakan Indonesia, Milla juga pernah mengungkapkan pertanyaan kontroversial soal laga persahabatan saat Indonesia dikalahkan Kamerun 0-1, di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo pada 25 Maret 2015. Ia menyebut laga itu tidak berguna dan merendahkan martabat tim nasional Kamerun. Selain itu, ia menuding ada bisnis terselubung di balik kesepakatan Federasi Sepak Bola Kamerun (FECAFOOT) selaku pihak yang menyepakati laga tersebut.

 

  1. Zah Rahan Pemain Timnas Liberia Yang Karirnya Melejit Saat Masih Bermain di Liga Indonesia

Ada banyak pemain Afrika yang pernah merumput di Indonesia, tapi nyaris tidak ada yang setara dengan Zah Rahan dalam hal teknis. Zah Rahan memang semacam anomali. Jika pemain tengah atau penyerang Afrika berkarir di Liga Indonesia mengandalkan fisik besar dan stamina tinggi sebagai keunggulan mereka, Zah Rahan adalah seorang playmaker yang tak cuma memiliki visi yang bagus, tapi juga teknik di atas rata-rata.

Zah Rahan mempunyai kecepatan yang membuatnya berbahaya jika sedang menguasai bola dalam situasi serangan balik. Namanya mulai melambung setelah menjadi bintang utama Persekabpas Kabupaten Pasuruan, dan membuat tim kecil itu menjadi kuda hitam mengejutkan di musim 2006. Pemain Liberia ini membawa Persekabpas melaju hingga semifinal Liga Indonesia. Prestasi itu membuatnya dibajak oleh Sriwijaya FC, dan di sana Zah Rahan mencapai prestasi tinggi pertamanya di Indonesia.

Selain membawa Sriwijaya meraih gelar ganda yaitu Liga Indonesia dan Piala Indonesia 2007-08, ia juga menyabet gelar pemain terbaik Liga Indonesia di musim tersebut. Pada tahun 2010, setelah menyumbangkan empat trofi bagi Sriwijaya, Zah Rahan pindah ke Persipura Jayapura. Di sana, ia kembali berprestasi tinggi dengan membawa Mutiara Hitam memenangi Indonesia Super League (ISL) musim 2010/11 dan 2012/13.

 

  1. Olinga Atangana (Kamerun) Bek Tangguh Rebutan Klub Papan Atas Liga Indonesia

Sekarang memang sulit dibayangkan, tetapi Bandung Raya pernah menjadi tim kuat di Liga Indonesia dalam tiga musim beruntun pada pertengahan 1990an. Mencapai babak 8 besar di musim 1994/95, mereka kemudian menjadi juara di musim 1995/96 setelah mengalahkan PSM Makassar di final. Bandung Raya juga lolos ke final di musim berikutnya, sayang mereka gagal mencatatkan gelar juara beruntun karena kalah 3-1 dari Persebaya Surabaya.

Salah satu faktor utama kesuksesan Bandung Raya ketika itu adalah Bek Tangguh, Olinga Atangana. Sebagai bek tengah Bandung Raya ketika itu, Atangana adalah pemain bertahan yang tangguh dan sangat sulit untuk dilewati striker lawan. Ia menjadi rebutan klub-klub papan atas Liga Indonesia ketika itu, karena cepat beradaptasi dan fasih dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya, Persija Jakarta yang beruntung mendapatkan servis Olinga Atangana. Bersama duetnya di jantung pertahanan Bandung Raya, Nur Alim, Atangana kembali menorehkan prestasi gemilang dengan mengantarkan Tim Macan Kemayoran menjadi juara Liga Indonesia pada tahun 2001.

 

  1. Pierre Njanka (Kamerun) Bersahabat Dengan Samuel Eto’o Dan Menjadi Legenda Hidup Arema

Tak banyak pesepakbola yang pernah bermain di Piala Dunia berkarir di Indonesia, dan Pierre Njanka adalah salah satunya. Malang melintang di berbagai klub, ia bahkan pernah bermain di Ligue 1 Perancis dan menjuarai Coupe de France bersama RC Strasbourg pada musim 2000-01. Dunia mengenangnya sebagai pemain Kamerun yang mencetak gol indah ke gawang Austria di Piala Dunia 1998. Tetapi bagi Indonesia, ia adalah kapten Arema ketika klub Malang ini menjuarai Indonesia Super League 2009/10.

Setelah Eropa dan Timur Tengah, Njanka memang bertualang ke Indonesia dengan bergabung ke Persija Jakarta pada musim 2008/09. Mencuri perhatian dengan statusnya sebagai pemain yang pernah bermain di Piala Dunia 1998 dan 2002, Njanka sukses tampil bagus di sepanjang musim, meski Persija sendiri di musim itu hanya finis di posisi ke-7.

Semusim di ibukota, Njanka kemudian hijrah ke Arema. Menariknya, meski baru bergabung, Njanka langsung mendapatkan ban kapten di Arema. Pengalamannya yang luas dan statusnya sebagai pemain senior (usianya sudah 34 tahun ketika bergabung dengan Arema) membuat ia terpilih sebagai pemimpin tim. Pada musim perdananya di Arema, Njanka mampu membawa Tim Singo Edan meraih gelar Indonesia Super League (ISL) 2009-2010. Trofi tersebut terasa spesial bagi Njanka, karena bertindak sebagai kapten tim, walau berstatus sebagai pemain asing pendatang baru.

Gelar tersebut juga menjadi gelar pertama pasukan Kera-kera Ngalam sejak era Liga Indonesia mulai bergulir pertengahan 1990-an. Sebelumnya, pencapaian tertinggi Arema adalah menjadi juara Piala Indonesia 2005 dan 2006.

 

  1. Mbeng Jean Mambalou

Sangat jarang ada pemain asing berposisi sebagai penjaga gawang yang berkarir di Indonesia. Apalagi dari Afrika. Karena itulah, Mbeng Jean Mambalou rasanya perlu disebutkan dalam daftar 5 fakta ini.

Toh Mbeng Jean Mambalou memang berprestasi hebat. Bermain selama empat musim di Persija Jakarta, Mbeng Jean sukses menjadi salah satu legenda Macan Kemayoran dengan penampilan hebatnya di bawah mistar gawang. Ia juga sukses membawa klub ibukota ini menjuarai Liga Indonesia musim 2001, setelah timnya mengalahkan PSM Makassar dengan skor 3-2.

Kiper lincah dan sulit ditaklukkan ini kemudian sempat membela PSPS Pekanbaru dan PSMS Medan. Sekarang, Mbeng Jean berdomisili di Paris dan memiliki sekolah sepakbola di sana.

Selalu update berita terbaru sepakbola, highlights dan 5 fakta hanya di Vivagoal.com

Leave a Reply