Grup L Piala Dunia 2026: Duo Eropa Berebut Takhta, Ghana dan Panama Mengintai

Irman Maulana - Juni 11, 2026
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Vivagoal – Piala Dunia 2026 – Melihat dari berbagai aspek, Timnas Inggris dan Kroasia seharusnya takkan terlalu banyak mengalami kesulitan untuk merebutkan posisi penguasa Grup L Piala Dunia 2026, meski mereka wajib waspada dengan semangat serta potensi kejutan dari Ghana maupun Panama.

Grup terakhir pada format baru Piala Dunia ini bakal dibuka dengan duel ulangan babak semifinal edisi 2018 di Rusia lalu. Ketika itu, Timnas Kroasia tampil mengejutkan berkat kemenangan tipis atas Inggris 2-1 sekaligus mengamankan tiket menuju partai final, walau akhirnya tumbang oleh Prancis 2-4.


Baca Juga:


Di atas kertas, Inggris dan Kroasia akan dengan nyaman bersaing merebutkan posisi teratas pada Grup L nanti, melihat dua kontenstan lainnya, seperti Ghana dan Panama yang kualitasnya jauh dibawah mereka. Tapi, khusus Inggris, mereka tak boleh lupa bahwa pernah dibuat malu oleh para kuda hitam di edisi 2014, sehingga gagal lolos menuju fase gugur.

Semangat untuk kembali membuat malu raksasa sepakbola itulah yang kini digaungkan oleh Ghana, Panama, maupun Kroasia, terlebih dengan adanya format baru. Menariknya, keempat tim sama-sama bermodalkan status sebagai pemuncak grup di fase kualifikasi pada masing-masing region.

Inggris

Inggris
(Rich Storry/Getty Images via AFP via bola.com)

Inggris datang ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu tim paling kuat di turnamen ini. Per 1 April, Inggris jadi tim teratas pada peringkat FIFA di Grup L Piala Dunia 2026, yakni posisi 4, diikuti Kroasia (11), Panama (34), dan Ghana (73).

Piala Dunia 2026 akan menjadi penampilan ke-17 secara beruntun bagi Inggris sepanjang keikutsertaan mereka pada kompetisi teratas sepkbola itu. Namun, trofi Piala Dunia 1966 yang ketika itu masih bernama Jules Rimet menjadi satu-satunya trofi juara bagi The Three Lions sampai sekarang.

Secara inferensial, Inggris adalah favorit paling kuat untuk setidaknya mengamankan satu tiket langsung menuju fase gugur. Kualitas individu mereka lebih dalam daripada Kroasia, Ghana, maupun Panama. Ditambah struktur tim kokoh yang kini sudah dibangun oleh manajer, Thomas Tuchel.

Pada fase Kualifikasi Zona Eropa lalu, Inggris melenggang sangat mulus untuk menjadi pemuncak klasemen dengan hasil sempurna 24 poin dari delapan laga. Makin impresif karena sepanjang kualifikasi gawang Inggris benar-benar bersih dari kebobolan.

Optimisme untuk memutus puasa gelar internasional tampak cukup jelas diutarakan oleh para punggawa Inggris, yang bakal dipimpin oleh Harry Kane sebagai kapten. Mereka memahami kegusaran bangsa Inggris mendengar chant “Football is Coming Home” belum bisa direalisasikan secara nyata.

Peran sebagai mesin gol masih akan diemban oleh Kane yang tampil ganas bersama Bayern Munich musim lalu. Ia akan ditempani para pemain lincah di sayap, seperti Marcus Rashford, Anthony Gordon, atau Bukayo Saka.

Sementara di area tengah, kapten Arsenal, Declan Rice menjadi poros stabilitas pasukan Tuchel, seiring keberhasilannya membawa Arsenal juara EPL. Satu yang mungkin membuat Tuchel pusing adalah tentang peran kreativitas, apakah menurunkan Jude Bellingham atau menampilkan Morgan Rogers.

Tantangan mereka sekarang bukan hanya tentang kelolosan, melainkan memastikan performa tetap tajam sejak laga pertama melawan Kroasia. Satu hasil buruk saja bisa, terlebih dari Ghana atau Panama, bisa membuat grup menjadi lebih rumit dari yang diharapkan.

Kroasia

Timnas Kroasia
Twitter/X/HNS_CFF via jatim.tribunnews.com

Kroasia kembali memasuki gelaran Piala Dunia sebagai tim yang konsisten pada satu dekade terakhir. Pada fase Kualifikasi Zona Eropa lalu, Kroasia memuncaki klasemen dengan torehan 22 poin dari delapan laga, tanpa menderita kekalahan.

Secara peluang, Kroasia tetap layak dipandang sebagai kandidat serius untuk lolos dari fase grup, tetapi bukan favorit utama grup. Inggris berada satu tingkat di atas mereka dalam kualitas dan kedalaman skuad, sementara Ghana dan Panama berpotensi menyulitkan bila Kroasia kehilangan tempo sejak awal.

Tapi format baru yang menghadirkan posisi tiga terbaik membuat peluang Kroasia masih relatif aman. Kuncinya tentu adalah meraih kemenangan atas Ghana dan Panama, serta tidak kehilangan poin pada laga pertama melawan Inggris.

Namun, partai pertama menghadapi Inggris itu pula bisa menentukan arah dan tujuan Kroasia di Amerika Utara ini. Andai mental para pemain runtuh terlalu cepat, Ghana maupun Panama bisa dengan cekatan memanfaatkannya untuk mendulang poin.

Kondisi skuad terbaru cukup menarik sekaligus mengandung risiko. Pelatih, Zlatko Dalic memanggil 26 pemain terbaik Kroasia yang menggabungkan antara pilar veteran dengan para talenta muda potensial, dipimpin oleh sang kapten, Luca Modric.

Tapi persiapan Kroasia itu juga sedikit dibayangi oleh kebugaran Modric yang baru pulih dari operasi tulang pipi. Walau masih kompetitif di level atas bersama AC Milan di musim kemarin, Modric tahun ini sudah menginjak usia 40 tahun.

Modric masih akan menjadi pusat gravitasi permainan Kroasia, sebagai pengatur ritme, pengendali tempo, dan pemecah tekanan lewat umpan vertikal maupun kontrol ruang. Di lini belakang, Kroasia berharap dari ketangguhan Josko Gvardiol sebagai bek modern, yang tak hanya kuat dalam duel atau menutup ruang, tapi terlibat lebih jauh pada permainan Kroasia.

Melihat 26 pemain yang dipanggil, Kroasia masih punya semua atribut untuk lolos dari fase grup. Kubu Vatreni memiliki pengalaman di turnamen besar, ditambah disiplin taktik, dan poros kreatif yang sangat matang.

Namun, seperti pada edisi 2018 dan 2022, ketergantungan pada Modric bisa pula menjadi bumerang bagi Kroasia. Ketimbang memaksakan posisi pertama, akan lebih bijak bagi Kroasia mengamankan runner-up, mengeruk poin sebanyak-banyaknya dari Ghana dan Panama.

Ghana

(X/PentTvGh via jatim.antaranews.com)

Secara peringkat FIFA, Ghana memang menjadi tim terbawah ketimbang Inggris, Kroasia atau Panama. Namun, potensi kejutan dan ancaman kubu Black Stars bisa sangat mematikan andai para lawan memandang remeh mereka.

Piala Dunia 2026 menjadi penampilan ke-5 Ghana sepanjang keikutsertaan mereka sejak edisi perdana 1930 silam. Pada enam edisi terakhir, Ghana hanya satu kali absen yakni pada tahun 2018 Rusia, dengan pencapaian terbaik mereka adalah perempat final di Afrika Selatan 2010.

Di fase Kualifikasi Zona Afrika, Ghana dengan mulus melaju ke Amerika Utara sebagai pemuncak klasemen. Mereka mendulang total 25 poin dari 10 laga, hasil dari delapan kemenangan, satu imbang, dan hanya sekali kalah.

Format baru Piala Dunia 2026 membuat peluang Ghana kembali lolos dari fase grup menjadi semakin terbuka. Jika Inggris sulit, Ghana bisa berusaha keras menahan Krosia, dan sama sekali tak boleh kalah dari Panama, untuk menjadi posisi tiga terbaik.

Masalah terbesar Ghana bukan kualitas dasar, melainkan kondisi terkini skuad Black Stars. Pelatih, Carlos Queiroz baru ditunjuk pada 13 April 2026, sehingga Ia harus menghadapi waktu persiapan pendek, bahkan baru sempat memimpin pada satu laga.

Secara taktis, Queiroz dinilai memberi struktur pada skuad yang bertalenta, tetapi selama ini kurang disiplin secara taktik dan rapuh di lini belakang. Masalah Ghana tampak utamanya ketika menghadapi tim-tim yang punya reputasi lebih tinggi.

Salah satu krisis terbesar mereka datang dari absennya penyerang Tottenham Hotspur, Mohamed Kudus. Ia harus dicoret karena cedera paha, padahal Kudus selama ini menjadi jimat keberuntungan Ghana serta paling menentukan sejak fase kualifikasi.

Absennya Kudus kemudian membuat Antoine Semenyo dan Inaki Williams mendapatkan tugas lebih besar untuk lini depan Ghana. Pengalaman panjang serta kualitas Thomas Partey juga sangat diharapkab bisa menjaga kestabilan lini tengah Ghana di Amerika Utara.

Keberadaan Inggris dan Kroasia membuat target paling realistis Ghana adalah peringkat ketiga. Perlu performa yang sangat melebihi ekspektasi andai Ghana ingin memaksa lolos langsung lewat jalur posisi dua besar di Grup L.

Andai Queiroz cepat menanamkan organisasi defensif dan Semenyo, Inaki Williams, serta Jordan Ayew mampu menutup lubang dari Kudus, Ghana bisa menjadi tim yang sangat merepotkan. Kalau tidak, mereka berisiko menjadi tim yang kompetitif tetapi kurang tajam di sepertiga akhir lapangan.

Panama

Timnas Panama
(c) FEPAFUT via bola.net

Panama memasuki Grup L Piala Dunia 2026 sebagai tim yang jauh lebih kompetitif dibanding debut mereka pada 2018. Di bawah komando Thomas Christiansen, Panama melejit naik peringkat 81 dunia menjadi 33 dunia dalam ranking FIFA resmi per 1 April 2026.

Seperti tiga kontestan lain di Grup L, Panama pun datang sebagai pemuncak klasemen pada fase Kualifikasi yang terbagi dalam dua ronde. Ghana akan menjadi lawan pertama Panama di Piala Dunia 2026, Kamis (18/6) pagi WIB di Toronto Stadium.

Ketimbang pada edisi 2018 mereka datang dengan identitas permainan yang lebih jelas dan kepercayaan diri yang lebih tinggi. Christiansen menegaskan bahwa tujuan mereka adalah “membuat sejarah” dan melampaui hasil 2018, ketika Panama pulang tanpa satu pun poin.

Kubu Los Canaleros menjadi kuda hitam yang lebih matang, tapi tetap butuh sedikit keajaiban, utamanya saat hadapi Inggris dan Kroasia. Mereka kini wajib memaksimalkan partai melawan Ghana, sambil mengintip kans mencuri poin dari Inggris atau Kroasia.

Kekuatan Panama terletak pada struktur kolektif dan pengalaman para pemain yang sudah lama bekerja dengan Christiansen, bukan pada satu bintang tunggal. Walaupun Panama juga berharap para pemain yang mentas di Eropa, seperti Amir Murillo (Besiktas) dan Jose Cordoba (Norwich) memainkan peran penting di Piala Dunia 2026 ini.

Panama masih diposisikan sebagai tim non-unggulan, tetapi bukan lagi tim yang datang hanya untuk berpartisipasi. Andai para pemain penting dalam kondisi fit, Panama berpeluang memaksa grup ini menjadi lebih rumit daripada yang diperkirakan banyak orang, setidaknya demi mengamankan kans sebagai posisi tiga terbaik.

Selalu update berita bola terbaru seputar Piala Dunia 2026 hanya di Vivagoal.com