Liga 1 2019 adalah Roller Coaster untuk Persebaya Surabaya

Liga 1 2019 adalah Roller Coaster untuk Persebaya Surabaya

Heri Susanto - Desember 27, 2019
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Dagelan yang Tak Berakhir Lucu

Untuk mengisi kekosongan yang ada, Bejo Sugiantoro, mantan kapten sekaligus legenda tim mengisi pos yang ditinggalkan Djanur sebelum tim kebangaan Bonek menunjuk juru taktik anyar. Ia pun mengaku agak berat menjalani tugas sebagai juru taktik. Namun melatih mantan timnya merupakan sebuah panggilan jiwa yang tar terelakan

“Berat menerima tugas ini. Tapi panggilan jiwa untuk Persebaya, saya menerimanya,” tutur sang mantan kapten seperti dikutip laman resmi Liga 1. Namun kesediaan Bejo menukangi Bajul ijo mendapat apresiasi dari presiden Persebaya, Azrul Ananda. Ia mengaku bangga sang legenda hidup meluangkan waktunya untuk Green Force.

Bersama Bejo, Persebaya memainkan dua laga. Sebelumnya, nama Alfried Riedl digadang bakal menjadi suksesor Djajang Nurdjaman. Namun karena masalah kesehata, pria asal Austria batal menukangi Irfan Jaya dan kolega. Sebagai pengganti, nama Wolfgang Pikal pun ditunjuk sebagai pelatih tim utama.

Baca Juga: Review Persija Jakarta Di Liga 1 2019: Sang Juara Yang Hampir Menjelma Jadi Tim Medioker

Dhion Prasetya pun mengkritisi penunjukan Pikal sebagai pelatih kepala. Menurut Pria asal Sidoarjo itu, Pikal adalah sosok miskin pengalaman dan memiliki rekam jejak yang kurang baik bersama tim yang ia tangani. Benar saja, Pikal tak mampu berbuat banyak dan semakin memperpatah kondisi tim. Apa yang ditorehkan Pikal tak jauh berbeda dengan yang diberikan Djanur. Bersama Pikal, Persebaya hanya memenangkan satu laga, tiga imbang dan empat kali kalah dalam 8 laga yang telah dimainkan.

Puncak dari laga asisten Riedl di Persebaya yakni kala Persebaya harus kalah 2-3 dari PS Sleman, (29/10) lalu. Pasca kekalahan, oknum Bonek menginvasi Stadion karena kecewa dengan apa yang ditorehkan timnya. Bahkan laga pun sempat diboikot ditandai dengan pengosongan satu tribun dan senyapnya kondisi Stadion dalam laga tersebut. Bahkan pasca invasi, Komite Disiplin pun memberikan efek jera dengan tak memperbolehkan Persebaya menggelar laganya di Gelora Bung Tomo untuk beberapa waktu ke depan.

Sehari berselang, pelatih kelahiran Vienna itu resmi mundur sebagai pelatih kepala Persebaya. Pengunduran dirinya diumumkan melalui akun Instagram resmi Persebaya. “Saya mau bilang terima kasih kepada Persebaya, manajemen dan pemain. Hari ini, 30 Oktober 2019, saya mundur dari kursi pelatih kepala Persebaya,” tuturnya.

Menurut Pikal, keputusan mundur sebagai pelatih kepala merupakan sebuah resiko dalam dunia manajerial. Namun pria asal Austria itu tetap berharap Persebaya bisa menjadi lebih baik lagi karena Bajul Ijo, menurutnya merupakan klub yang luar biasa.

Saat ditinggal pria 52 tahun,Green Force menempati  posisi Sembilan dengan raihan 31 poin dari 25 laga yang telah mereka mainkan. Berada di luar lima besar jelas bukan sebuah hal yang diinginkan tim sekelas Persebaya.