
Spanyol Adalah Antitesis Prancis
Vivagoal– Piala Dunia 2026–Sepanjang gelaran Piala Dunia 2026, dari fase grup hingga babak perempat final mungkin Spanyol banyak menampilkan sepak bola yang membosankan. Banyak orang mengatakan jika Spanyol melaju ke babak semifinal adalah sebuah keberuntungan. Tetapi di laga semifinal melawan Prancis, semua teori itu terpatahkan.
Di turnamen terbesar sepak bola ini, Spanyol menjelma menjadi tim yang paling sulit dibobol. Dari tujuh laga yang telah dijalani, Spanyol hanya kebobolan satu gol saat menghadapi Belgia. Impresifnya pertahanan La Furia Roja tidak barengi dengan apiknya penampilan di lini tengah. Disebut memiliki gelandang-gelandang yang komplit, tim pengoleksi satu gelar Piala Dunia ini kesulitan memunculkan kreativitas dari lini tengah untuk membokar pertahanan lawan. Dan itu terlihat hampir di seluruh pertandingan. Kecuali semalam.

Melawan Prancis, tim asuhan De La Fuente menerapkan sepak bola reaktif, inisiatif mengontrol permainan, dan menghindarkan tim lawan nyaman memegang bola dengan menerapkan high press intens. Praktis itu membuat permainan Prancis tidak berkembang. Kylian Mbappe dan kawan-kawan tampak kebingungan sepanjang jalannya pertandingan. Hingga pemain-pemain kunci Les Blues seperti Michael Olise tidak diberi ruang sama sekali untuk berkreasi.
Baca Juga:
- Dibayangi Kutukan Jersey Kedua Argentina, Inggris Tetap Tenang
- Inggris vs Argentina: Prediksi, Jadwal dan Link Live Streaming
- Tak Peduli Soal Sejarah, Tuchel Fokus Bawa Inggris Menang
- Kesan Shin Tae-yong Usai Pimpin Latihan Perdana Persija
Kali ini, De La Fuente menurunkan Fabian Ruiz untuk menemani Rodri di lini tengah. Hasilnya terbukti. Aliran bola Spanyol lebih cepat dan tidak banyak bertele-tele memegang bola di area tengah. Ruiz rajin membantu lini serang dan sering muncul di second line. Belum lagi fluiditas posisi yang ditunjukkannya seringkali mengisi sisi half space untuk menambah jumlah opsi serangan di lini depan. Ini terbukti efektif mempercepat sirkulasi bola di lini serang Spanyol yang memang memiliki kemampuan tersebut.

Di bagian pertahanan, Marc Cucurella tampil apik. Sepertinya ia dapat instruksi khusus dari pelatih untuk mengikuti ke mana pun Olise bergerak. Man to man yang dilakukan Cucurella terbukti tepat karena praktis sepanjang Olise bermain 70 menit di lapangan ia tidak menunjukkan pergerakan yang mematikan.
Momentum bagi Prancis tampaknya telah hilang sejak babak pertama berlangsung. Gol yang dicetak Oyarzabal dari titik putih didapat dari pelanggaran ceroboh Digne terhadap Lamine Yamal. Tepat setelah gol tersebut, beberapa saat kemudian pertandingan harus dihentikan karena hydration break. Ritme, intensitas, dan momentum untuk Prancis bangkit hilang sudah karena aturan tersebut. Apakah jika tidak ada hydration break situasi akan berbeda? Atau Spanyol memang menjelma sebagai antitesis Prancis?
Selalu update berita bola terbaru seputar Piala Dunia 2026 hanya di Vivagoal.com















