Tag: Liga Champions

Bayern Muchen Bisa Sixtuple Seperti Barcelona?

Vivagoal Liga Champions – Sukses memenangkan Piala Super Eropa 2020, Bayern Munchen kian dekat untuk meraih sixtuple sekaligus menyamai pencapaian Barcelona pada tahun 2009 silam.

Bayern Munchen menuai sukses besar di musim 2019/2020 kemarin dengan meraih tiga gelar sekaligus. Selain menjuarai Bundesliga Jerman dan DFB-Pokal, skuad besutan Hansi Flick juga menjadi yang terbaik di ajang Liga Champions.

Kesuksesan itu membuka peluang bagi skuad Die Roten untuk meraih sixtuple atau enam gelar beruntun, terlebih jalan untuk kesana semakin lapang ketika mereka berhasil menaklukkan Sevilla di ajang Piala Super Eropa 2020, Jumat (25/9/2020) dinihari WIB.

Kini, Bayern tinggal menuntaskan dua kompetisi lagi, yakni Piala Super Jerman pada 1 Oktober mendatang dan Piala Dunia Antarklub, Desember 2020 di Qatar untuk menahbiskan dirinya sebagai klub kedua setelah Barcelona yang bisa meraih sixtuple pada tahun 2009 silam.

Untuk diketahui, Barcelona selain menjadi klub pertama yang bisa meraih treble winners sebanyak dua kali, mereka juga menjadi tim satu-satunya sepanjang sejarah yang bisa meraih sixtuple. Blaugrana meraih sixtuple saat tampil begitu mendominasi di kancah domestik, Eropa hingga interkontinental pada musim 2009/2010 di bawah asuhan pelatih Pep Guardiola.


Baca Juga: 


Pada masa itu, Lionel Messi Cs bisa menjadi kampiun di enam kompetisi berbeda, yakni La Liga, Copa Del Rey, Liga Champions, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub. Dan sejauh ini, Bayern punya kans besar sebagai klub kedua dalam sejarah yang bisa merengkuh sixtuple.

Selalu update berita terbaru seputar Liga Champions hanya di Vivagoal.com

Terlalu Egosentris Bikin Guardiola Selalu Kandas di Liga Champions

Vivagoal Liga Champions – Legenda Bayern Munich, Lothar Matthaus mengkritik Josep Guardiola adalah sosok yang begitu egois dengan taktik yang dimiliki. Menurutnya pelatih asal Spanyol itu terlalu percaya diri dengan taktik yang ia terapkan meski itu sangat tidak dibutuhkan dalam sebuah permainan.

Nama Guardiola melesat sebagai salah satu pelatih top di Eropa saat ini. Keberhasilan membawa Barcelona meraih 14 trofi hanya dalam empat musim menjadi salah satu penyebabnya.

Ia kemudian melanjutkan karier di Bayern Munich dan Manchester City. Di sana, Guardiola kembali menunjukkan kualitasnya dengan menghadirkan beberapa trofi bergengsi.

Namun perjalanan Guardiola di Bayern dan City hanya sebatas raja domestik. Ia tak bisa berbicara banyak di kancah Eropa.

Terbaru City yang diperkuat nama-nama besar terpeleset di babak delapan besar. Mereka kalah 1-3 dari kuda hitam, Lyon.

Guardiola menyalahkan blunder lini pertahanan kala tim lawan begitu tegas dengan permainan serangan baliknya. Kekecewaan Guardiola itulah yang membuat Matthaus menyebutnya sebagai pelatih yang egosentris.

“Tentang Pep Guardiola, saya merasa dia selalu ingin melakukan sesuatu yang istimewa pada pertandingan besar,” kata Matthaus kepada Sport Bild.


Baca Juga:



“Barcelona memiliki DNA, sistem yang dia pelopori. Pep pun sukses di sana. Dengan Bayern dan City, dia mencobanya berulang kali dengan sejumlah modifikasi, tapi hasilnya gagal lagi dan lagi.

“Dia selalu ingin memamerkan kepada semua orang bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Saya ingin sekali menasihati dia: Pep, Anda adalah pelatih hebat, tapi tolong pertahankan sistem bermain Anda!

“Saya mendeskripsikannya sebagai sosok yang egosentris. Ya, itu kata yang sedikit berlebihan, tapi itu karena perbuatannya sendiri. Di Bayern, Robert Lewandowski bahkan pernah coba dia mainkan sebagai sayap kiri dan itu tidak berhasil sama sekali,” imbuhnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Champions hanya di Vivagoal.com

Bak Roller Coster, Lewandowski Emosional Disinggung Soal Ballon d’Or

Vivagoal Bundesliga – Penyerang Bayern Munich, Robert Lewandowski emosional soal pencapaiannya musim 2019/20. Ballon d’Or yang batal digelar membuat emosinya naik turun.  

Lewandowski yang sukses mencetak 55 gol jadi pemain paling tajam di Eropa. Tak hanya itu, 34 gol di Bundesliga, enam di DFB dan 15 di Liga Champions sukses mengantarnya jadi pemain paling penting dalam trable winner yang diraih Bayern Munich.

Karenanya, sebagian menganggap Lewandowski layak untuk mematahkan duopoli Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo pada Ballon d’Or 2020 andai tidak dibatalkan.

Menanggapi situasi ini, Lewandowski beraksi sarkas meski sebenarnya tidak terlalu ambil pusing soal hal ini. Sebaliknya, dia juga merasa dirinya layak untuk jadi pemenang Ballon d’Or.

“Kami memenangkan semua yang kami bisa dengan Bayern. Di setiap kompetisi – Bundesliga, Piala Jerman dan Liga Champions – saya adalah pencetak gol terbanyak. Saya pikir pemain yang mencapai ini akan memenangkan Ballon d’Or,” kata Lewandowski dikutip laman resmi Bundesliga.

“Sampai sekarang, saya menyembunyikan emosi, tetapi Liga Champions adalah impian setiap pesepakbola dan saya percaya sepanjang hidup saya bahwa saya bisa memenuhinya.


Baca Juga:


“Saya sering kali dekat, tetapi ada sesuatu yang hilang, sesuatu menyebabkan kami tersingkir lebih awal. Sekarang setelah kami memenangkannya, ada kegembiraan seperti anak kecil, sesuatu yang alami dan spontan. Saya tidak bisa mengendalikannya,” kata Lewandowski.

Selalu update berita bola terbaru seputar Bundesliga hanya di Vivagoal.com                             

Immobile: Lazio Menolak Cuma Jadi Penggembira

Vivagoal Serie ALazio bakal tampil kembali di kejuaraan Eropa. Biancocelesti menegaskan mereka tidak ingin hanya jadi penggembira di pentas Eropa tersebut.

Lazio berhasil menutup musim 2019/20 dengan menempati posisi keempat di klasemen akhir Serie A Italia sekaligus memastikan diri berhak untuk satu tempat di fase grup Liga Champions musim depan.

Penyerang Lazio, Ciro Immobile mengakui tampil di Liga Champions memang tidak pernah mudah. Namun ia memastikan timnya tidak ingin sekedar numpang lewat saja di pentas tertinggi kompetisi antarklub Eropa tersebut.

“Sekarang kami punya Liga Champions, dan saya tahu betapa tegangnya seseorang untuk bersiap menghadapi pertandingan besar. Itu akan sulit untuk bermain dalam tiga kompetisi, tapi kami antusias dan tidak ingin hanya sekadar lewat di Liga Champions. Kami kesana untuk menang.” ucap Immobile dilansir dari Football Italia.

Lebih lanjut, kebersamaan diakui Immobile bakal jadi kunci. Pasalnya tak melakukan banyak perubahan sekaligus dan sosok Simone Inzaghi memegang peran penting untuk meraih sukses di musim mendatang. 

“Kami tidak banyak melakukan perubahan skuad selama musim panas ini. Kami sudah bertumbuh secara konstan selama beberapa tahun terakhir untuk para pemain, pelatih dan klub.

“Sekarang, dengan musim baru bersama Liga Champions, kami sekaligus ingin mengkonfirmasi status kami di Serie A. Kami punya dengan kepemimpinan Simone Inzaghi meski lockdown membuat kami tidak stabil dan gagal juara musim ini,” tutup Immobile.


Baca Juga: 


Kali terakhir Lazio tampil di Liga Champions terjadi di musim 2007/08 alias 13 tahun lalu. Kala itu, Lazio yang tergabung bersama Real Madrid, Olympiakos dan Werder Bremen dalam satu grup gagal lolos ke babak 16 besar karena hanya bisa menempati posisi juru kunci.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Nasser: Meski Tuchel Gagal Lagi Di Champions, Kami Tak Akan Memecatnya!

Vivagoal – Ligue 1 –  Meski gagal membawa Paris Saint-Germain menjuarai Liga Champions, posisi Thomas Tuchel sebagai pelatih dikabarkan aman dan bakal tetap menukangi Neymar dan rekannya hingga kontraknya habis akhir musim 2020/21 mendatang.  

PSG di bawah asuhan Tuchel kembali gagal meraih trofi Liga Champions untuk ketiga kalinya sejak ditunjuk menjadi pelatih pada 2017 silam. Terakhir PSG harus mengakui ketangguhan Munchen dengan skor tipis 1-0 di laga final Senin (24/8) di Estádio Da Luz, Portugal.

Alhasil, Les Parisiens pun harus menutup musim 2019/20 dengan hanya meraih tiga trofi juara namun kesemuanya merupakan gelar juara di level domestik. Kegagalan demi kegagalan ini tentunya menyudutkan posisi Tuchel sebagai pelatih kepala.

Pasalnya, meski bergelimang gelar dengan mempersembahkan sembilan trofi untuk PSG di level domestik, tapi ekspektasi publik Paris jauh lebih dari itu jika merujuk komposisi skuat yang ia miliki selama ini.

Rumor berkembang menyebutkan PSG bakal mulai bergerak mencari pengganti mantan juru taktik Dortmund itu. Menurut kabar yang beredar, mantan pelatih Juventus, Massimiliano Allegri jadi calon terkuat pengganti Tuchel musim 2020/21.

Namun presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi yang sempat mengungkapkan kekecewaannya karena timnya kembali gagal unjuk gigi di Liga Champions, menyebut rasa kecewanya tak akan berujung pada pemecatan Tuchel sebagai juru taktik tim.

“Saya masih percaya Thomas, dan tentu saja dia akan melanjutkan sesuatu yang sudah dibuatnya di PSG. Kami sudah bekerja dengannya selama tiga tahun terakhir.” ucap Al-Khelaifi dilansir dari Sun Sport.


Baca Juga:


“Kami tidak ragu Thomas akan tetap melatih tim kami [PSG] pada musim depan. Dia pelatih yang sangat kami percayai, dia cerdas dan dia tahu permainan yang ingin kami mainkan.” tegasnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar La Liga hanya di Vivagoal.com

Inilah Daftar Top Skor Hingga Top Asisst Liga Champions 2019/20

Vivagoal – Liga Champions – Bayern Munchen memastikan diri sebagai kampiun Eropa usai mengalahkan Paris Saint-Germain dengan skor 1-0 di laga final Liga Champions yang digelar di Estadio da Luz, Senin (24/8/2020) dinihari WIB.

Menariknya beberapa nama berhasil menjadi jagoan di bidangnya masing-masing. Seperti Robert Lewandowski yang sukses mencatatkan dirinya sebagai pemain tersubur Liga Champions musim ini, dan Lionel Messi adalah yang paling baik dalam hal melewati lawan.

Sementara winger PSG, Angel Di Maria tetap boleh berbangga diri meski gagal membawa timnya juara, namun ia bisa menutup Liga Champions musim ini sebagai top assist. Selain ketiganya, berikut rangkuman lengkap berbagai jagoan Liga Champions musim 2019/20 seperti dilansir dari situs Whoscored.

Top Scorer – Robert Lewandowski

Kendati tidak mencetak gol di partai final, namun Lewandowski tetap mampu mempertahankan statusnya sebagai penyerang tertajam di kompetisi Eropa musim ini usai mencetak 15 gol, unggul enam gol dari dari rekan setimnya Serge Gnabry yang mengemas sembilan gol dan Erling Braut Haaland delapan gol.

Top Assist – Angel Di Maria

Urusan kreator gol, bisa dibilang Angel Di Maria adalah pakarnya. Mantan pemain Real Madrid dan Manchester United tersebut bisa mengkreasikan enam umpan yang sukses dikonversi menjadi gol oleh rekan setimnya. Pemain Argentina itu mengalahkan Kylian Mbappe dan Robert Lewandowski yang membuat lima assist.

Dribble – Lionel Messi

Soal take-on alias kemampuan melewati lawan, siapa lagi kalau bukan Lionel Messi yang sukses mencatatkan 57 dribble sukses di ajang Liga Champions musim ini. Capaian ini membuktikan bahwa Messi belumlah habis dan kualitasnya masih di atas pemain lain seperti, Neymar yang hanya membuat 43 take-on, dan playmaker Lyon, Houssem Aouar dengan 35 dribble sukses.

Tackles – Konrad Laimer

Prestasi mencengangkan dibukukan oleh gelandang RB Leipzig, Konrad Laimer. Gelandang berusia 23 tahun itu mampu mengalahkan para pemain elit seperti, gelandang Bayern Thiago Alcantara, Marco Verratti di PSG dan Thomas Partey di Atletico Madrid.

Konrad Laimer tercatat sukses memotong serangan lawan dengan melakukan 38 tackles sementara Thiago Alcantara hanya bisa mengemas 34 tackles dan Thomas Partey dengan 29.

Clean Sheet – Keylor Navas

Meski gagal mengantarkan PSG keluar sebagai juara Liga Champions musim ini, namun Keylor Navas tetap keluar sebagai kiper terbaik kompetisi tersebut usai mengoleksi lima clean sheet. Ia bahkan berhasil mengungguli kiper nomor satu Bayern, Manuel Neuer serta kiper incaran Chelsea, Jan Oblak yang masing-masing membuat empat.


Baca Juga:


Saves – Fernando Muslera

Urusan penyelamatan terbanyak, kiper Galatasaray, Fernando Muslera dan Milan Borjan di Red Star Belgrade jadi penjaga gawang yang paling banyak membukukan saves di Liga Champions musim dengan 33 penyelamatan.

Yang menarik, kedua kiper ini justru sama-sama gagal membawa timnya lolos dari fase grup dengan menempati dasar klasemen. Fernando Muslera dan Galatasaray menjadi juru kunci di grup A bersama PSG, Madrid dan Club Brugge, sementara Milan Borjan di dasar klasemen grup B karena kalah bersaing dengan Bayern, Tottenham Hotspur dan Olympiakos.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Champions hanya di Vivagoal.com

Lebih Greget, UEFA Pertimbangkan Pertahankan Format 8 Besar di Liga Champions

Vivagoal Liga Champions – Badan Sepak Bola Eropa (UEFA) mempertimbangkan untuk tetap menggunakan sistem gugur yang mereka gunakan di musim 2019/2020 untuk kompetisi Eropa musim berikutnya. Mereka menilai laga perempatfinal akan berjalan lebih seru dengan satu leg saja ketimbang dua leg.

UEFA memutuskan untuk mengubah sistem kompetisi Liga Champions (dan Liga Europa) tahun ini setelah pandemi corona menghentikan kompetisi selama beberapa bulan di seluruh Eropa pada Maret. Mereka memutuskan untuk menjalankan satu leg mulai babak delapan besar guna menyelesaikan kompetisi lebih cepat.

Terhitung sejak babak perempatfinal, selama 11 hari saja kompetisi tersebut akhirnya terselesaikan. UEFA kemudian berujar tengah mempertimbangkan untuk kembali menggunakan sistem tersebut untuk kompetisi tahun depan.

“Kami terpaksa melakukannya, tetapi pada akhirnya kami melihat bahwa kami menemukan sesuatu yang baru. Jadi kami pasti akan memikirkannya untuk diterapkan di masa depan,” Presiden UEFA Aleksander Ceferin kepada Reuters.

“Tidak ada banyak taktik. Jika hanya satu pertandingan, jika satu tim mencetak gol maka tim lain harus membalas secepat mungkin. Kalau sistem dua leg maka masih ada waktu untuk memenangkan pertandingan di laga berikutnya,” ujar Ceferin.

“Yang pasti, pertandingan lebih menarik, tapi tentu saja kami juga harus memikirkan tentang fakta bahwa kami hanya memiliki lebih sedikit pertandingan dan stasiun televisi mungkin mengatakan ‘Anda tidak memiliki banyak pertandingan seperti sebelumnya, ini berbeda’. Jadi, kami harus berdiskusi saat situasi gila ini berakhir.”


Baca Juga:



Namun Ceferin memastikan ini masih sebatas rencana. Masih ada banyak hal yang perlu dilakukan dan dipersiapkan jika memang ini akan terus menjadi format di musim-musim berikutnya.

“Pastikan itu adalah format yang sangat menarik. Sekarang, saya ragu sebanyak kalender sekarang, bahwa kami dapat melakukan delapan besar (sistem turnamen), karena itu akan memakan banyak waktu. Tapi dengan format satu pertandingan dan sistem seperti sekarang, saya kira akan jauh lebih seru dari format sebelumnya,” ujarnya.

“Ini baru ide, jika kami akan memainkan sistem ini, kami belum berdiskusi dengan siapa pun. Kami akan bermain di satu kota. Jika Anda bermain di satu kota, Anda bisa bermain sepak bola selama seminggu atau semacamnya. Tapi masih terlalu dini untuk memikirkannya.”

“Kami telah melihatnya sebagai kesuksesan besar dan pemirsa di TV sangat besar, mungkin juga bagus karena ini bulan Agustus dan orang-orang ada di rumah, setidaknya beberapa dari mereka, tetapi turnamen yang menarik.”

Lebih lanjut Ceferin mengatakan jika rencana ini bukan hal yang mudah. Begitu banyak persiapan untuk menyelenggarakan sebuah kompetisi di satu negara dan mencari tanggal yang pas untuk para peserta.

“Itu bukan tugas yang mudah, percayalah. Kami satu-satunya organisasi di dunia yang menyelenggarakan acara internasional (dengan) empat acara di empat negara, yang merupakan tantangan ekstrim bagi kami,” imbuh Ceferin.

“Yang paling menantang adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan dan virus ini yang menyebar ke seluruh dunia. Kami mencoba untuk mengontrol semua orang, untuk dikunci, dipisahkan dari bagian dunia lainnya, tetapi ini adalah tantangan besar.”

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Champions hanya di Vivagoal.com

Cerita Kingsley Coman Pernah Ingin Pensiun Dini Sebelum Jadi Pahlawan Munchen

Vivagoal Bundesliga Kingsley Coman sempat dihadapkan dengan situasi sulit pada 2018 kemarin. Coman mengungkapkan bahwa dirinya sempat berpikir ingin pensiun saja dari dunia sepakbola jika terus menerus menjalani operasi kaki.

Coman jadi pahlawan Bayern Munchen di laga final Liga Champions kontra Paris Saint-Germain, Senin (24/8/2020) dinihari WIB. Berlaga di Estadio Da Luz, Portugal, Coman mencetak gol tunggal kemenangan Die Roten memanfaatkan umpan Joshua Kimmich di menit ke-59.

Gol tersebut menjadi terasa sangat penting bagi Coman secara pribadi. Pasalnya di masa lalu ia sempat putus asa dan nyaris memutuskan pensiun di usia dini, yakni 22 tahun.

Momen buruk itu terjadi awal musim 2018/2019 alias setahun setelah statusnya dipermanenkan oleh Bayern Munchen dari Juventus.

Masih berusia sangat muda, Coman kala itu sudah bisa mengoleksi 98 penampilan bersama Die Roten dengan torehan 16 gol dan 22 assist tuk membantu Bayern meraih tiga trofi Bundesliga.

Namun, karier cemerlangnya mendadak redup setelah diganggu cedera engkel. Cedera tersebut sampai membuat Coman harus naik meja operasi yang membuatnya absen di Piala Dunia 2018 lalu. Belum juga bisa bermain Coman lagi-lagi divonis harus naik meja operasi pada Agustus 2018 dan harus melewatkan paruh pertama musim 2018/2019.


Baca Juga:


Dua kali naik meja operasi membuat Coman frustasi berat. Secara tegas ia mengatakan ingin pensiun saja jika sampai diminta menjalani operasi ketiga di engkel kakinya.

“Saya sudah tidak mau lagi di operasi yang ketiga kalinya. Sudah cukup buat saya.” kata Coman dilansir dari situs resmi Bayern.

“Itu jadi periode yang sangat sulit, dunia seperti sudah runtuh di cedera engkel pertama. Saya berharap tidak ada lagi operasi berikutnya, jika sampai itu terjadi, berarti saya tidak ditakdirkan main sepakbola.” tegasnya kala itu.

Namun perjuangan Coman untuk terus bisa tampil di atas lapangan hijau akhirnya berbuah manis. Di musim keempatnya bersama Die Roten, pemain berusia 24 tahun itu sudah bisa memenangkan treble winners, yakni Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions.

Selalu update berita bola terbaru seputar Bundesliga hanya di Vivagoal.com

Kimmich: Tidak Ada Yang Dapat Bendung Munchen

Vivagoal – Bundesliga – Joshua Kimmich mengatakan bahwa saat laga final Liga Champions Bayern Munchen menantang Paris Saint-Germain dengan kepercayaan diri tinggi. Kimmich mengklaim Bayern ada di posisi yang tidak ada satu tim pun yang bisa mengalahkan mereka.

Bayern berhasil meraih kemenangan tipis 1-0 atas PSG di laga puncak Liga Champions, Senin (24/8/2020) dinihari WIB di Estádio Da Luz, Portugal. The Bavarian menang berkat gol tunggal yang dicetak oleh Kingsley Coman menyambut umpan Joshua Kimmich pada menit ke-59.

Hasil ini membuat Bayern memastikan membawa pulang trofi Liga Champions keenam mereka. Kemenangan atas PSG juga jadi penutup musim yang fantastis Die Roten. Pasalnya, selain mampu menorehkan catatan luar biasa dengan tak terkalahkan dalam 30 laga terakhir, Bayern juga berhasil membukukan treble winners musim ini.

Kimmich mengungkapkan bahwa laju Bayern di bawah asuhan Hansi Flick memang sedang sulit dibendung saat ini. Menurut Kimmich, Bayern merasa tak ada tim yang bisa mengalahkan mereka sekarang.

“Hansi Flick membuat kami berada dalam kondisi yang sangat baik sejak kali pertama ia datang. Dia juga memberi kami kepercayaan diri untuk menghadapi laga final Liga Champions.” ucap Kimmich dilansir dari Fourfourtwo.


Baca Juga:


“Setiap kemenangan membuat kami semakin percaya diri. Saat anda membuat kesalahan, pemain lain pasti akan menebusnya.” jelas Kimmich.

“Kami bukannya tanpa kesalahan, tapi kami merasa kami tak akan terkalahkan. Saya pikir, kami memang pantas memenangkan semua ajang musim ini, termasuk final Liga Champions.” tegasnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar Bundesliga hanya di Vivagoal.com

Gagal Juara, Fans PSG Obrak-Abrik Kota Paris

Vivagoal Ligue 1 – Ibu kota Paris, Paris membara usai Paris Saint-Germain takluk di final Liga Champions dari Bayern Munchen. Sebagian fans PSG meluapkan kekesalan dengan melakukan perusakan dan aksi vandalisme.

Dikutip dari Goal, beberapa oknum melakukan perusakan dan pembakaran kendaraan di salah satu landmark kota Paris, Shamps-Elysees.

Sebelumnya, ribuan fans PSG berkumpul di dekat tempat ikonik itu untuk melangsungkan nonton bareng partai final. Namun, asa mereka melihat Les Parisiens angkat piala gagal terlaksana setelah gol Kinsgsley Coman.

Dari foto-foto Goal, terlihat kerusuhan terjadi setelah pertandingan. Dalam foto tersebut terlihat beberapa kendaraan terbalik dan sebagian terbakar yang mana tengah dicoba dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran.

Tak hanya itu, beberapa oknum juga membuat kerusuhan dengan melemparkan suar ke berbagai penjuru di Champs-Elysees. Dimana di berbagai titik terlihat fasilitas publik berantakan.


Baca Juga: 


Kekalahan PSG atas Bayern Munchen memang cukup menyakitkan. Pasalnya, asa untuk mencatat sejarah baru di Liga Champions gagal terlaksana dan mereka harus puas dengan tangan hampa.

Selalu update berita bola terbaru seputar Ligue 1 hanya di Vivagoal.com

LATEST NEWS

HOT NEWS