
Vardy Bicara Kesulitannya di Italia dan Cremonese
Vivagoal – Serie A – Jamie Vardy bersiap kembali ke Inggris setelah menjalani musim 2025/2026 bersama Cremonese, dan tidak berniat kembali ke Italia, sambil berbicara berbagai kesulitan yang Ia alami saat mencoba peruntungan karir baru di Negeri Pizza.
Jamie Vardy bergabung dengan Cremonese secara gratis pada musim panas lalu setelah mengakhiri kebersamaannya selama 13 tahun dengan Leicester City. Di musim perdananya di Italia, Vardy mencetak tujuh gol dan menorehkan tiga assist dari 29 penampilan di Serie A.
Sayangnya, kontribusi itu tidak cukup untuk menyelamatkan Cremonese dari degradasi ke Serie B. Vardy gagal menyelamatkan Il Grigiorossi karena mereka harus finis di peringkat ke-18 pada klasemen akhir Liga Italia 2025/26, dengan 34 poin dari 38 laga.

Laporan terbaru menyebut Vardy takkan bertahan bersama Cremonese, sambil berbicara betapa sulitnya masa tinggalnya semasa Italia. Hal ini dituturkan oleh Vardy berkaitan pula dengan masalah keluarga yang harus ikut pergi dari Inggris musim kemarin.
Masalah Vardy di Italia ternyata tidak hanya berkaitan dengan keluarga. Penyerang veteran Inggris itu juga sangat kritis terhadap cara klub-klub di Italia berlatih, serta mengeluhkan besarnya pengaruh direktur olahraga terhadap urusan tim.
“Dibandingkan di sini, sepak bola di sana jauh lebih lambat, lebih defensif. Latihannya terus-menerus: lari, lari, lari, lari. Kamu masuk ke pertandingan dan habis-habisan. Sungguh, kita tidak punya tenaga lagi. Itu bukan cuma saya, tetapi semua tim,” ujar Vardy, dikutip dari Football Italia.
Baca Juga:
- Intip Celah, PSG Coba Goda Bintang Bayern Munich
- Agen Duo PSG Jawab Rumor Kepindahan ke Real Madrid
- Ditawar Rp 2,5 Triliun, Forest Masih Tolak Proposal Man City Untuk Anderson
- Grup F Piala Dunia 2026: Hanya Jepang yang Mampu Meredam Ambisi Belanda?
“Begini cara kerjanya, direktur olahraga punya suara dalam segala hal. Segalanya. Itu gila. Saya ingat, saya harus tertawa saat mengenangnya, kami bermain tandang melawan Bologna. Pekan itu, kami melakukan apa yang biasa kami lakukan di Inggris, kami libur sehari setelah pertandingan. Pemain masuk ke laga itu dengan sangat segar. Tandang, menang 3-1. Semua orang senang,” tambahnya.
“Jadi di kepalaku, saya berpikir: ‘ya sudah, teruskan saja, lakukan persis seperti itu.’ Lalu pekan berikutnya kami melawan Pisa. Direktur olahraga bilang, ‘ini laga besar, laga besar’. Saya bilang, ‘semuanya juga laga besar, tak ada pertandingan yang berbeda’. ‘Tidak, tidak, tapi yang ini besar.’ Mereka melatih kami setiap hari, lalu kami bermain melawan Pisa dan kalah.”
Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com















