Grup G Piala Dunia 2026: Duel Sengit Empat Benua

Irman Maulana - Juni 10, 2026
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Vivagoal – Piala Dunia 2026 – Seiring dengan mulai memudarnya era “Golden Generation”, Tim Nasional Belgia akan menghadapi tantangan sengit dari tiga wakil benua berbeda, Mesir, Iran dan Selandia Baru untuk meramaikan persaingan di Grup G Piala Dunia 2026.

Belgia di atas kertas menjadi unggulan terkuat di Grup G, ketimbang Iran, Mesir maupun Selandia Baru. Secara peringkat FIFA pun Belgia berada di posisi ke-9, cukup jauh dibandingkan Iran (20), Mesir (29), dan Selandia Baru (85).


Baca Juga:


Partai Timnas Belgia melawan Mesir, Selasa (16/6) dini hari WIB mendatang di Seattle Stadium menjadi partai pembuka pada Grup G ini. Diikuti oleh pertemuan antara Iran melawan Selandia Baru pada hari yang sama pada pukul 08.00 WIB di Los Angeles Stadium.

Walau diunggulkan, tapi Belgia belum sepenuhnya tanpa celah terutama dengan mulai runtuhnya generasi emas. The Red Devils wajib mewaspadai berbagai kejutan dari tiga tim lain, andai mereka tak mau pulang secepatnya pada edisi kali ini.

Belgia

(X/Twitter/@BelRedDevils via beritasatu.com)

Timnas Belgia memastikan satu tempat di Piala Dunia 2026 dengan menjadi juara Grup J Kualifikasi Zona Eropa, tanpa sekalipun menderita kekalahan dari delapan laga. Edisi 2026 menjadi penampilan Belgia ke-13 sepanjang sejarah tim.

Pencapaian terbaik mereka adalah menjadi peringkat ke-3 pada gelaran Piala Dunia Rusia 2018 silam, atau ketika era “Golden Generation”. Sejumlah punggawa memang masih dipanggil, seperti Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, sampai Thibaut Courtois, tapi mereka sudah tak lagi muda sekarang.

Keberadaan para veteran ini dinilai bisa menjadi satu diantara faktor yang membuat Belgia tak benar-benar steril dari resiko. Ditambah lagi, kebugaran sejumlah pemain penting mereka yang masih perlu mendapat pengawasan sampai sekarang.

Courtois disebut sebagai bonus karena pulih tepat waktu, tetapi Lukaku baru kembali mencetak gol dalam laga uji coba setelah absen sekitar setahun. Sang pelatih, Rudi Garcia pun secara terbuka meminta ekspektasi terhadap kebugarannya untuk diredam dulu.

De Bruyne sepertinya masih akan sangat diandalkan sebagai poros kreativitas tim, dengan umpan vertital memecah garis pertahanan lawan, maupun memaksimalkan bola mati. Jika Lukaku belum maksimal, Belgia berharap berbagai tusukan Jeremy Doku dari sisi sayap tetap bisa memperbesar peluang mereka mencetak gol.

Adanya skema baru, yakni peringkat tiga terbaik, seharusnya lebih dari cukup untuk membuat Belgia bisa lepas dari Grup G. Ketika melawan tim yang relatif dibawah mereka, Belgia kerap mampu memamerkan kualitasnya sebagai eks peringkat satu FIFA.

Belgia memiliki kualitas, pengalaman, dan struktur permainan yang memadai untuk melaju tanpa drama besar. Namun, risiko utama mereka bukan tersingkir di awal, melainkan menurunnya efisiensi bila ketergantungan pada para veteran terlalu besar.

Iran

AFP Photo via cnnindonesia.com

Iran merupakan salah satu veteran Piala Dunia yang menghiasi Grup G edisi 2026. Mereka tercatat sudah enam kali tampil dalam ajang akbar sepakbola antara negara ini pada edisi 1978 (Argentina), 1998 (Prancis), 2006 (Jerman), 2014 (Brasil), 2018 (Rusia) dan 2022 (Qatar).

Walau lumayan sering ikut serta, tapi Iran belum pernah sekalipun mencapai fase grup. Dalam total 18 laga Piala Dunia di fase grup, Iran baru memenangi tiga pertandingan.

Peluang untuk memutus catatan buruk itu kini hadir dengan adanya format baru pada Piala Dunia 2026. Jalan tersebut lebih realistis lewat perebutan posisi ketiga terbaik, ketimbang memaksakan untuk mendapatkan peringkat dua besar.

Walaupun sebenarnya Iran relatif berimbang dengan kontestan lain, seperti Mesir dan Selandia Baru, dengan Belgia sebagai rintangan paling berat pada Grup G ini. Artinya, satu atau dua hasil positif bisa sangat menentukan nasib Iran.

Masalah utama Iran bukan semata kualitas, melainkan kondisi persiapan. Laporan Reuters menuliskan bahwa skuad asuhan Amir Ghalenoei ini sangat terdampak oleh faktor non-teknsi, yakni perang dengan Amerika Serikat dan Israel.

Liga domestik sempat ditangguhkan, hanya enam pemain yang berbasis di luar Iran, dan banyak pemain senior kekurangan ritme kompetitif. Ghalenoei sendiri mengakui bahwa ini kemungkinan menjadi turnamen terakhir bagi banyak pemain senior, sebelum generasi baru dibangun lagi untuk Piala Asia 2027 mendatang.

Persiapan mereka juga masih dibayangi masalah logistik dan visa. Iran memindahkan basis latihan dari Arizona ke Tijuana, lalu berencana menyeberang ke Amerika Serikat hanya pada hari pertandingan di fase grup.

Reuters juga melaporkan bahwa pada 5 Juni 2026, skuad Iran masih belum menerima visa AS. Alhasil, partisipasi mereka sempat berada dalam ketidakpastian praktis, meski bukan larangan formal, bahkan sempat ada rumor bakal digantikan oleh negara lain.

Ditengah berbagai masalah luar lapangan itu, Iran untungnya masih menunjukan sinyal positif pada laga persiapan medio akhir Maret sampai awal Juni ini. Mereka meraih tiga kemenangan melawan Kosta Rika (5-0), Gambia (3-1) dan Mali (2-0).

Secara psikologis hasil tersebut bisa membantu, tetapi ritme pertandingan yang hilang akibat pembekuan liga domestik tetap menjadi catatan besar. Pada akhirnya, Iran punya kualitas kompetitif di grup, namun kondisi eksternal mereka lebih berat daripada lawan-lawannya.

Jika andai bisa menjaga ketajaman, kualitas umpan serta transisi, Iran sangat mungkin bersaing bahkan mendapatkan tiket menuju fase gugur, setidaknya lewat posisi tiga terbaik. Mereka tinggal berharap tak ada lagi masalah non-teknsi, seperti visa yang bisa menganggu mobilitas dan ritme internal.

Mesir

(c) AP Photo/Themba Hadebe via bola.net

Timnas Mesir memiliki peluang realistis untuk bersaing di Grup G Piala Dunia 2026, tetapi jalan ke fase gugur tetap terjal. Mereka bukan favorit utama, karena keberadaan Belgia, tapi lebih dari mampu untuk hadapi Iran atau Selandia Baru.

Format baru Piala Dunia 2026 memberi jalan tambahan: dua tim teratas dan delapan peringkat ketiga terbaik lolos ke babak 32 besar. Itu membuat peluang Mesir tetap hidup, terutama bila mampu mencuri poin dari Iran dan Selandia Baru, lalu tidak jadi lumbung gol dihadapan Belgia.

Penilaian yang logis, bukan kepastian, tetapi jalur terbaik Mesir memang ada pada efisiensi, bukan dominasi permainan. Dipimpin oleh eks bintang Liverpool, Mohamed Salah, kondisi skuad Mesir di Piala Dunia 2026 cukup menjanjikan.

Walau sudah menginjak usia 33 tahun, tapi Mo Salah dinilai masih akan menjadi ancaman utama dari kubu The Pharaohs. Ia bakal berbagi beban untuk memimpin lini depan Mesir bersama pilar andalan Manchester City, Omar Marmoush.

Piala Dunia 2026 menjadi penampilan ke-4 bagi Mesir, setelah 1934, 1990, dan 2018. Pada edisi terakhir di Rusia lalu, Timnas Mesir hanya bertahan sampai fase grup dan tenggelam di dasar klasemen tanpa meraih satu angka pun dari tiga laga.

Tim asuhan Hossam Hassan ini punya peluang yang nyata untuk mengganggu peta Grup G dan bahkan lolos, tetapi tidak berada di jalur yang mudah. Bila Salah fit, Marmoush produktif, dan lini belakang cukup disiplin, Mesir bisa menjadi kandidat kuat untuk posisi kedua atau ketiga. Sebaliknya, andai terlalu banyak bergantung pada individu, peluang akan menyempit dengan cepat, terutama saat menghadapi Belgia.

Selandia Baru

Twitter/X/NZ_Football via jatim.tribunnews.com

Selandia Baru datang ke Piala Dunia 2026 dengan status yang jelas, sebagai satu-satunya wakil Oseania. Selandia Baru jadi satu diantara negara yang terkena berkah dari perubahan format Piala Dunia menjadi 48 tim.

Perjalanan Selandia Baru akan dimulai ketika menghadapi Iran, Selasa (16/6) pagi WIB di Los Angeles Stadium. Partai ini sangat wajib bagi kedua tim untuk meraih tiga poin agar memperbesar peluang lolos menuju fase gugur.

Piala Dunia 2026 menjadi penampilan ketiga sepanjang sejarah keikutsertaan Selandia Baru, setelah edisi 1982 dan 2010. Mereka belum pernah meraih kemenangan maupun lolos ke fase gugur, tapi di tahun 2010, mereka pulang tanpa terkalahkan lewat tiga kali imbang.

Kondisi terkini skuad memberi alasan untuk optimistis secara terbatas. Kapten tim, Chris Wood sudah pulih dari masalah lutut dan menyatakan kesiapannya habis-habisan membela Selandia Baru di Amerika Utara.

Sosok lain yang kini cukup dinantikan dari skuad Selandia Baru adalah bek kanan mereka, Tim Payne. Pemain 32 tahun sempat viral karena dianggap sebagai pemain paling tidak dikenal jelang Piala Dunia 2026.

Tapi Payne kini tercatat memiliki sampai 5,5 juta pengikut di sosial media instagram, dari awalnya “hanya” sekitar 5000an pengikut. Namun disiplin pertahanan bukan merupakan kelemahan terbesar Selandia Baru, melainkan pada kekuatan di lini tengah.

Pelatih Selandia Baru, Darren Bazeley menggambarkan timnya sebagai skuad yang “courageous and possession-based”. Generasi baru Selandia Baru ini pun dinilai lebih mengedepankan sisi teknis serta penguasaan bola, ketimbang edisi 2010 yang mengandalkan fisik.

Chris Wood tetap menjadi poros serangan. Selain kapten, Wood merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Selandia Baru dengan 45 gol dalam 88 penampilan, dan tipe penyerang target yang kuat dalam duel fisik serta efektif di kotak penalti.

Kemudian ada Liberato Cacace yang memberi ancaman dari sisi kiri sebagai bek sayap progresif yang bisa naik membantu serangan dan menciptakan peluang. Sementara Michael Boxall merupakan bek tengah veteran yang memberi organisasi, duel udara, dan distribusi panjang.

Di atas kertas kondisi pada Grup G ini memang kurang “seksi” karena hanya ada Belgia sebagai tim besar sepakbola. Tapi, persaingan relatif berimbang, yang melibatkan Mesir, Iran dan Selandia Baru bisa membuatnya jadi menarik.

Target paling realistis bagi Selandia Baru adalah memaksimalkan laga melawan Iran dan Mesir, lalu membatasi kerusakan saat menghadapi Belgia. Mereka dapat mengincar satu dari delapan slot peringkat tiga terbaik untuk melangkah ke fase gugur.

Jika Wood tetap tajam, lini belakang stabil, serta masalah kebugaran di lini tengah tidak semakin parah, Selandia Baru bisa menjadi lawan yang sangat sulit dikalahkan. Namun, tanpa kemenangan cepat di dua laga awal, peluang mereka untuk lolos akan menipis dengan cepat pula.

Selalu update berita bola terbaru seputar Piala Dunia 2026 hanya di Vivagoal.com