
Juventus Masih Harus Hadapi Ancaman Finansial
Vivagoal – Serie A – Juventus kembali menghadapi tekanan finansial. Neraca klub masih dibebani penurunan pendapatan, terutama akibat berkurangnya pemasukan dari aktivitas jual-beli pemain dan hilangnya pendapatan dari Liga Champions. Kondisi tersebut menjadi tantangan awal bagi CEO baru, Giovanni Carnevali.
Persoalan ini terlihat dalam proses penyusunan laporan keuangan Juventus per 30 Juni kemarin. Laporan tersebut menjadi gambaran kondisi finansial klub untuk periode sebelumnya sekaligus pijakan dalam menentukan langkah pengelolaan berikutnya.
Laporan Tuttosport via Goal, menulis jika neraca Juventus diperkirakan masih menunjukkan defisit yang signifikan, meski angka akhirnya belum ditetapkan. Tekanan terhadap keuangan Juventus tidak muncul dari satu faktor. Hasil di lapangan, kesepakatan komersial, serta terutama menurunnya pemasukan dari transaksi pemain, termasuk capital gain dan penjualan, sama-sama berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Juventus sempat mengandalkan suntikan modal untuk membantu memperkuat neraca. Penambahan modal terakhir dilakukan pada 2025 dan menjadi yang keempat dalam beberapa tahun setelah langkah serupa pada 2019, 2021, dan 2023. Namun, pola tersebut kini tidak diperkirakan berlanjut.

Menurut Tuttosport, pemilik Juventus tidak memiliki rencana untuk kembali melakukan rekapitalisasi dalam waktu dekat. Padahal, sepanjang tujuh tahun terakhir, John Elkann secara berkala menyediakan tambahan modal untuk membantu klub menata kembali kondisi keuangannya.
Tanpa suntikan dana baru, beban penyesuaian kini lebih banyak berada di tangan manajemen. Carnevali dituntut menekan pengeluaran sekaligus mencari cara untuk menutup pendapatan yang hilang. Pengurangan biaya sekitar 20 juta euro dibandingkan musim 2024/25 bahkan sudah tercermin dalam perhitungan keuangan terbaru.
Masalah berikutnya berkaitan dengan prospek musim mendatang. Kegagalan Juventus tampil di Liga Champions berarti klub kehilangan salah satu sumber pendapatan terbesar dalam sepak bola Eropa. Dampaknya tidak hanya terasa pada laporan keuangan saat ini, tetapi juga dapat mempengaruhi neraca untuk musim 2026/27.
Baca Juga:
- John Herdman Yakin Timnas Indonesia Bisa Atasi Bangladesh
- Digempur Malaysia, Maarten Paes Ungkap Resep Torehkan Clean Sheet
- Spanyol vs Kroasia: Laju Bagus Vatreni Terhenti?
- Kompany Menginginkan Pickford Jadi Kiper Nomor Satu Munchen?
Risiko finansial itu bisa bertambah apabila Juventus harus membayar denda terkait dugaan pelanggaran aturan Football Earnings UEFA. Nilai dendanya disebut dapat mencapai maksimum 20 juta euro dan, jika benar terjadi, akan menambah beban yang harus dicatat klub.
Karena itu, kubu Si Nyonya Tua perlu mengendalikan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, klub harus memangkas biaya, termasuk mengelola beban amortisasi transfer dan gaji pemain yang tinggi. Di sisi lain, sumber pendapatan harus kembali ditingkatkan agar neraca tidak terus berada di bawah tekanan.
Dalam konteks tersebut, kembalinya Juventus ke Liga Champions menjadi semakin penting. Target tersebut bukan hanya berkaitan dengan ambisi olahraga, tetapi juga menjadi salah satu jalan utama bagi klub untuk memulihkan pendapatan dan menjaga stabilitas keuangan tanpa harus kembali mengandalkan suntikan modal dari pemilik.
Selalu update kabar terbaru seputar dunia sepakbola hanya di Vivagoal.com















