
Man City Berandil Besar Dalam Pembentukan Diri Balotelli
Vivagoal – Liga Inggris – Penyerang asal Italia, Mario Balotelli menjabarkan tentang pengalamannya bermain untuk Manchester City, yang Ia kui membentuk dirinya sebagai seorang individu, ditengah tekanan banyak media selama meramaikan Liga Inggris dulu.
Mario Balotelli masuk dalam gerbong awal Manchester City sejak diakuisisi oleh pengusaha Timur Tengah, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan. The Citizen memboyong Balotelli dari Inter Milan dengan biaya 29,5 juta euro di musim panas 2010.
Balotelli datang ke Kota Manchester dengan reputasi sebagai salah satu pemain potensial dari Negeri Pizza. Disamping itu, Balotelli pun menyandang status pemain bengal dan tak lepas dari kontroversi, dalam maupun luar lapangan.

Sayangnya, status tersebut yang kemudian menjadi sasaran empuk bagi berbagai media massa di Inggris. Ia kerap menjadi primadona di publik, namun bobotnya lebih condong pada berbagai masalah di luar lapangan, seperti kebakaran rumah karena pesta kembang api.
Tapi bukan berarti Balotelli tak memiliki apapun yang ditawarkan pada Man City di atas lapangan hijau. Satu diantara aksi yang paling ikonik adalah selebrasinya dengan kaus dalam bertuliskan “Why Always Me”.
Baca Juga:
- VG ART COMPETITION: Syarat, Mekanisme, dan Total Hadiah Puluhan Juta Rupiah
- Spalletti Puji Kinerja Gattuso pasca Eranya di Timnas Italia
- Curhatan Bojan Hodak Yang Sulit Catatkan Hattrick Juara
- Ardhi Tjahjoko: Sudah Waktunya Persija Juara, Kembali demi Jakmania
Selebrasi tersebut Ia lakukan spesialnya adalah ketika melumat sang rival sekota, Manchester United 6-1 di Bulan Oktober 2011. Aksi itu menjadi semacam tanggapan atas berbagai laporan-laporan miring yang terus menerus tentang dia.
Masa baktinya di Etihad, berlangsung mulai dari tahun 2010 sampai 2013, dengan mencetak 30 gol dari 80 pertandingan. Ia turut andil besar dalam keberhasilan City merengkuh trofi juara Liga Inggris secara dramatis di musim 2011/12.
Balotelli merupakan pemain yang memberikan assist matang pada Sergio Aguero, untuk kemudian mengunci trofi pertama Liga Inggris sejak 1967/68. Namun, berbagai drama atau kekacauan di Tanah Britania Raya itu diakui Balotelli sangat berdampak padanya secara pribadi.
View this post on Instagram
“Pengalaman saya di Inter merupakan bagian dari perkembanganku, tapi sepertiny Inggris yang paling membentuk saya. Itu adalah kali pertama saya sendirian, keluarga tidak ada di sana, dan aku tidak terbiasa dengan itu,” ujar Balotelli dilansir Goal.
“Itu membentuk kamu, baik atau buruk, karena kita membuat kesalahan dan harus keluar dari situ sendiri. Why Always Me? Aku mengalaminya sebelum pertandingan dengan seorang pekerja gudang; saya menjadi pusat perhatian karena masalahku, dan itu adalah ledakan emosi yang menyenangkan. Tabloid di Inggris berlebihan dalam memberitakan tentang saya.”















