Nesta dan Cannavaro

Obrolan Vigo: Tembok Pertahanan Asal Tengah dan Selatan Italia

Dimas Sembada - March 26, 2019
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Karir Nesta dan Canavaro

Memiliki dua pemain bertahan dengan kualitas mumpuni tentu menjadi salah satu kelebihan Tim Nasional Italia. Terutama saat menghadapi lawan yang memiliki serangan mematikan.

Jika memang membutuhkan seorang pemain bertahan yang siap bertarung dengan penyerang bertubuh besar, Nesta akan keluar sebagai penjegal. Sedangkan Cannavaro akan berada disampingnya untuk mengincar para pemain lawan yang membutuhkan kelincahan serta kecepatan.

Perjalanan karir Nesta dan Cannvaro pun sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh. Selepas menjadi seorang “Bocah” Naples, Ia pergi menuju Utara Italia untuk memulai petualangannya di Parma.

Sedangkan Nesta, menjadi benteng andalan di ibukota Italia, bersama Lazio. Meski tidak berada dalam tim yang memiliki reputasi besar, keduanya tetap mampu memberikan gelar bagi timnya masing-masing.

Cannavaro sukses menyumbangkan trofi UEFA Cup, Coppa Italia, hingga Supercoppa Italia. Sedangkan Nesta, menjalani jalan kesuksesan bersama Lazio dengan menjadi juara di Serie A, Coppa Italia, Supercoppa Italia, Piala Winners, dan Piala Super Eropa.

[irp]

Seiring berjalannya waktu, baik Nesta maupun Cannavaro terpaksa harus angkat kaki menuju tim baru karena secara kebetulan Lazio dan Parma mengalami masalah finansial. Di musim 2002/03 keduanya resmi memiliki pelabuhan baru untuk perjalanan karirnya, yang juga memiliki kesamaan.

Keduanya menuju kota yang sama, yaitu Milan. Meski tidak dalam satu tim yang sama. Nesta menjadi tembok pertahanan, AC Milan sedangkan Cannavaro berseragam saudara mereka, Inter Milan. Mereka berdua pun sama-sama menggunakan nomor punggung 13.

Diawal petualangan mereka di Kota Milan, nasib keduanya berbanding terbalik. Di AC Milan, Nesta dengan elegan membangun tembok pertahanan kokoh bersama kompatriotnya di timnas Italia, Costacurta dan Paolo Maldini.

Saat itu lini pertahanan Milan dapat dikatakan sebagai salah satu yang terbaik di Italia, bahkan dunia. Ia pun bisa memberikan gelar mulai dari Serie A, Coppa Italia, hingga puncaknya Liga Champions Eropa 2002/03 dan 2006/07.

Sedangkan di Lombardia, Cannavaro menghabiskan sebagian karirnya disana tanpa sumbangan trofi apapun. Prestasi terbaiknya, hanya dapat membawa Il Nerrazurri runner-up  Serie A musim 2002/03.

Hanya bertahan dua musim di Kota Milan, akhirnya Cannvaro memilih untuk menyebrang ke Kota Turin bersama Il Bianconerri, Juventus. Disana Ia kembali merasakan gelar bersama klubnya. Ia bisa menyumbangkan gelar Serie A musim 2004/05 dan 2005/06. Meski pada akhirnya gelar tersebut terpaksa dicabut karena adanya skandal calciopoli.