Vivagoal.com5 FaktaPaulo Dybala menjadi bintang saat Juventus mengalahkan Barcelona 3-0 dalam duel leg pertama babak perempat final Liga Champions. Dybala mencetak dua gol dalam pertandingan tersebut sehingga berpotensi besar membawa timnya ke semifinal.

Penampilan cemerlang Dybala tersebut tentu saja berhasil mencuri perhatian dunia sepakbola. Terlebih ia terlihat tampil jauh lebih baik dari seniornya Lionel Messi, di Juventus Stadium yang sekarang sudah menjadi Allianz Stadium. Dybala memang digadang-gadang bakal menjadi pemain besar setelah menunjukkan talenta yang luar biasa di Seri A bersama Palermo dan Juventus. Bahkan ia sering disebut sebagai penerus Messi di masa mendatang.

Paulo Bruno Exequiel Dybala lahir di Laguna Larga, 15 November 1993, adalah seorang pemain sepak bola berkewarganegaraan Argentina yang bermain pada posisi penyerang. Ia memiliki nama panggilan La Joya. Permainannya dianggap seperti penyerang Argentina Sergio Agüero atau penyerang Italia Vincenzo Montella.

Dybala memulai karir di klub Instituto de Córdoba, sebelum bergabung dengan Palermo pada tahun 2012. Pada akhir musim 2014-15 ia dibeli Juventus dari Palermo. Dan berikut ini lima fakta tentang Paulo Dybala yang mungkin belum anda ketahui.

 

  1. Paulo Dybala Memecahkan Rekor Mario Kempes, Legenda Instituto Dan Argentina

Instituto Atletico Central de Cordoba, dijuluki Gloria, adalah klub kecil di Argentina. Dybala pernah bermain di sana ketika masih sangat kecil setelah ayahnya membawanya ke sana dari kampung halamannya, Laguna Larga, 55 km dari Cordoba. Dybala bergabung dengan klub saat usia 10, dengan proses trial dan langsung direkrut oleh Santos Turza.

Dybala baru berusia 17 tahun saat ia memulai karir profesionalnya. Ia tampil memukau dengan mencetak 17 gol di musim 2011/12 serta mengantarkan Instituto promosi ke divisi utama Argentina. Nama Dybala kian berkibar lantaran di musim pertamanya bersama skuat senior Instituto ia memecahkan rekor Mario Kempes, legenda Instituto dan Argentina.

Dybala menggeser status Kempes sebagai pencetak gol termuda di skuat senior Instituto. Pencapaian cemerlang lain Dybala pada musim 2011/12 adalah ia selalu jadi starter dalam 38 partai liga Instituto, dua kali mengemas hat-trick, dan pernah mencetak gol dalam enam laga secara beruntun.

 

  1. Dybala Dua Kali Hampir Berhenti Bermain Sepakbola

Tak banyak yang tahu, jika pemain bertalenta hebat seperti Dybala sempat merasakan kejenuhan hebat terhadap sepak bola di usia mudanya. Kejenuhan yang pertama dialaminya, Dybala mencoba mendaftar ke tim basket, karena merasa sudah cukup di sepakbola. Sayangnya, Dybala hanya bertahan sebentar di tim basket kemudian dikeluarkan karena tak mampu menghilangkan refleksnya untuk mengontrol bola dengan kaki bukan tangan, layaknya basket.

Momen kedua yang nyaris membuat Dybala berhenti menendang bola adalah kematian sang ayah, Adolfo, akibat sakit kanker. Saat itu, Dybala masih berusia 15 tahun, dan sempat berpikir meninggalkan sepakbola dan tidak mau lagi pergi ke Cordoba setiap hari untuk latihan. Keputusan itu berlangsung selama beberapa minggu sampai Direktur Instituto datang untuk meyakinkan Dybala untuk kembali bermain sepakbola.

Di masa krusial itulah, Dybala kemudian sadar bahwa cara terbaik untuk membalas cinta sang ayah adalah dengan tetap menjadi pesepakbola. Dybala akhirnya mengambil keputusan krusial dalam hidupnya dengan tak lagi tinggal bareng keluarga dan masuk ke asrama tim muda Instituto. Tak heran jika ia juga dijuluki  El Pibe de la Pension (Si anak asrama).

 

  1. Julukan La Joya Diberikan Oleh Wartawan Olahraga Argentina, Marcos Villalobo

Penyerang Juventus, Paulo Dybala tak henti jadi buah bibir khalayak sepakbola dunia. Terutama setelah lesatkan sepasang gol, yang bawa I Bianconeri menang telak 3-0 atas Barcelona. Bagi para Juventini atau pemerhati Dybala, pasti tahu jika pemain berusia 23 tahun itu punya julukan “La Joya”, yang artinya “Sang Permata”.

Namun tak banyak yang tahu bagaimana awal mula Dybala mendapat julukan tersebut. Waktu masih bermain di klub Instituto Cordoba, seorang jurnalis di Argentina, Marcos Villalobo selalu memperhatikan permainan Dybala dan memprediksi masa depannya yang besar. Keyakinan sang jurnalis jika Dybala akan bersinar di masa mendatang membuatnya menulis sebuah artikel tentang Dybala di laga profesional keduanya.

Sang jurnalis melabeli tulisannya tersebut dengan judul “La Joya”, yang artinya “Sang Permata”. Akhirnya, mulai dari situ para jurnalis mulai melekatkan nama Dybala dengan julukan “La Joya” dan para fans pun mulai mengenalnya dengan julukan tersebut.

 

  1. Paulo Dybala Jadi Pemain Termahal Dalam Sejarah Sepakbola Argentina Dan Termahal Dalam Transfer Seri-A Musim 2015/2016

Pada musim panas 2015, Juventus membayar 35 juta kepada Palermo untuk mendapatkan Dybala. Ia menjadi pemain termahal Argentina kedelapan dalam sejarah dan pembelian termahal klub Seri A di bursa transfer musim 2015/16. Setelah datang ke Turin, Dybala langsung memilih jersey No.2, yang kosong setelah ditinggal Pirlo. Nomor itu juga pernah dipakai Zinedine Zidane selama di klub.

Di Juve, sinar Dybala tetap terjaga bahkan saat di musim perdananya bersama Juve sudah lebih baik ketimbang Carlos Tevez, bintang tim dua musim terakhir yang kini bermain di Boca Juniors.

Dalam 10 partai pertama dengan kostum Si Nyonya Tua, Dybala dan Tevez sama-sama mengemas empat gol. Bedanya, menit tampil Dybala (542 menit) lebih sedikit ketimbang Tevez (807).

 

  1. Paulo Dybala Membuat Guru Di Indonesia Mendunia

Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Jawa Tengah, Husnul Khotimah, mendadak terkenal karena foto yang diunggahnya di akun Instagram. Bagi yang pertama melihat, tak ada yang aneh dengan foto tersebut. Hanya sebuah pose berjamaah antara Husnul Khotimah dilengkapi latar belakang anak-anak muridnya dengan gaya yang sama.

Namun, bagi pecinta sepak bola, khususnya suporter Juventus, pose Husnul Khotimah dan anak muridnya tentu sudah tak asing. Sebab, pose menggunakan telapak tangan yang menutupi mulut dengan dua jari terbuka tersebut dilakukan kala euforia atas kemenangan Juventus melawan Lazio dengan skor 2-0 pada 22 Januari 2017, dengan bintangnya, Paulo Dybala, penyerang muda Argentina yang menjadi andalan lini depan Juventus, ketika menjebol gawang Lazio di menit kelima.

Dybala langsung merespon foto Husnul Khotimah tersebut dari Italia. Dybala memposting ulang foto Husnul Khotimah dan anak muridnya yang meniru pose dybalamask dengan menuliskan “Foto ini berasal dari Indonesia. Terima kasih,” kata Dybala.

Sejak saat itulah Husnul Khotimah dan anak muridnya mendunia. Foto kebersamaan tersebut mencuri perhatian publik yang mayoritas adalah suporter Juventus dan Paulo Dybala.

Selalu update berita terbaru sepakbola, highlights dan 5 fakta hanya di Vivagoal.com

Leave a Reply