Site icon Vivagoal.com

5 Pemain yang Pernah Berseragam Inter dan Barcelona

5 Pemain yang Pernah Berseragam Inter dan Barcelona

Vivagoal 5 Fakta Pertandingan matchday ke-2 dalam kompetisi Liga Champions musim 2019/20 Grup F mempertemukan dua raksasa dari Eropa, Barcelona melawan Inter Milan pada Kamis (03/10) dini hari.

Alexis Sanchez sudah tidak asing lagi dengan nama Barcelona. Sanchez sendiri pernah berseragam klub Barcelona selama tiga musim berturut-turut.

Pemain berkebangsaan Chile ini telah berhasil menorehkan 47 gol dalam 141 pertandingan bersama tim La Blaugrana -julukan Barcelona- dalam semua kompetisi. Bahkan, Sanchez berhasil mendaptkan enam trofi sebelum akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Arsenal.

Baca Juga: 5 Pemain yang Miliki Peran Besar bagi Barcelona Kejar Treble Winners

Ternyata diketahui, ada yang unik usai laga Barcelona kontra Inter Milan. Ada beberapa pemain yang pernah membela dua klub raksasa Eropa ini selain Alexis Sanchez.

Berikut VIGO akan merangkum 5 Pemain yang Pernah Berseragam Inter dan Barcelona sepanjang karirnya.

1. Ronaldo Luiz

Barcelona

Sir Bobby Robson yang merupakan manajer FC Barcelona saat itu memproyeksikan Alan Shearer sebagi target utama, sayangnya Blackburn Rovers tidak mengijinkan Shearer untuk pindah (namun mereka menggaetnya). Maka target pun beralih kepada Ronaldo untuk memakai seragam no. 9 di Barça.

PSV Eindhoven setuju untuk melepas Ronaldo dengan nilai transfer 12 juta poundsterling. Penampilan Il Fenômeno mencapai puncaknya di Barça dimana ia secara spektakuler mencetak 47 gol dalam 49 penampilan untuk semua ajang kompetisi bersama Barça.

Pergerakan Ronaldo yang gesit dan kuat bahkan pernah memporak porandakan pertahanan klub Celta Vigo yang menjadi lawan Barça di liga, dimana ia mencetak sebuah gol solo run melewati hampir semua pemain Celta Vigo.

Penampilan impresifnya pun diganjar dengan meraih gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA 1996. Ia menjadi pemain termuda yang pernah meraihnya dalam usia 20 tahun. Bersama Barça Ronaldo meraih trofi Winner Cup, Piala Spanyol dan Piala Super Spanyol.

Ronaldo juga menjadi pencetak gol terbanyak di Liga dengan 34 gol dari 37 penampilan. Akan tetapi dibalik kesuksesan Ronaldo, Barça justru menunda-nunda perpanjangan kontrak sang penyerang sehingga Ronaldo menjadi tidak bahagia, dan akhirnya mulai menyuarakan keinginan untuk pindah.

Pada akhir musimnya bersama Barça klub-klub besar mulai mendekati Ronaldo, salah satunya adalah Inter Milan.

Baca Juga: Kontra Vietnam dan UEA, Timnas Rilis Daftar 25 Pemain

Inter Milan

Keadaan Ronaldo yang mulai tidak bahagia di klubnya dimanfaatkan oleh Inter Milan yang membeli kontrak Ronaldo sebesar 19 juta poundsterling. Ronaldo menjadi pemain termahal dunia pada saat itu.

Pada musim pertamnya di Inter Il Fenômeno mengantarkan klub barunya meraih gelar UEFA Cup yang mana ia mencetak hat-trick pada final melawan Lazio. Pada tahun ini Ronaldo pun kembali meraih gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA untuk kedua kalinya secara berturut turut.

Pada musim pertamanya ia mencetak total 34 gol dalam 47 penampilan dalam semua ajang kompetisi. Ronaldo pun menjadi tumpuan Brasil untuk meraih gelar Piala Dunia 1998 di Prancis.

Namun setelah cedera misterius di final melawan tuan rumah Prancis, penempilan Ronaldo menurun tajam. Hal ini berpengaruh pada performa Ronaldo di klub dimana ia hanya bisa tampil 19 kali dalam pertandingan liga.

Walaupun begitu ia masih bisa mencetak 14 gol bagi Inter, dan menjadi runner-up Pemain Terbaik Dunia versi FIFA dibawah Zinedine Zidane yang mengalahkannya dalam partai final Piala Dunia 1998.

Pada musim ketiganya Ronaldo kembali mengalami cedera parah ketika melawan Lecce dalam laga Serie A, dokter tim pun menyarankan Ronaldo untuk di operasi sehingga praktis musim itu pun berakhir secara tragis untuk Ronaldo.

Ia hanya tampil dalam 7 pertandingan Serie A dan mencetak 3 gol. Pada tanggal 12 April 2000 Ronaldo melakukan pertandingan pertamanya setelah cedera tetapi hanya mampu bertahan selama 7 menit dalam pertandinga Coppa Italia melawan Lazio.

Lututnya kembali mengalami cedera sehingga ia pun absen sepanjang musim keempatnya bersama Inter. Setelah 2 operasi dan rehabilitasi yang memakan waktu 20 bulan.

Ronaldo pun tampil kembali membela Inter dan mencetak 7 gol dalam 16 pertandingan dalam semua ajang kompetisi.

Ia kemudian terpanggil dalam skuat Brasil untuk Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea, dimana ia secara luar biasa mengantar Brasil meraih gelar Piala Dunia yang kelima.

Para fans Inter pun bersuka cita karena mereka mengharapkan Il Fenômeno akan kembali ke performa seperti dulu dan mengantarkan Inter meraih gelar Juara Serie A yang mereka idam-idamkan. Semasa di Inter total Ronaldo mencetak 59 gol dalam 99 penampilan.

Namun suatu proposal dari klub Real Madrid sebesar € 39 juta membuyarkan impian itu, Ronaldo memilih pindah ke Real Madrid yang sedang membangun timnya dengan mengumpulkan pemain-pemain terbaik dunia untuk bermain bagi El Real.

2. Zlatan Ibrahimovic

Inter Milan

Tahun 2004, saat berusia 23 Tahun, Ibra bergabung dengan klub Juventus untuk bermain di Serie A di Italia. Bersama Juventus, ia bertahan selama 2 musim hal ini karena adanya kasus ‘Calcio Poli’ yang di dera oleh si Nyonya Tua.

Hingga akhirnya pada akhir 2006, secara resmi Inter Milan merekrut Ibra, pada klub tersebut Ibra menempati posisi striker yang berhasil mencetak 74 gol dari 88 pertandingan bersama Inter Milan.

Selang 3 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2009 ia bergabung ke FB Barcelona dengan nilai transfer £56,5 juta, hal tersebut menjadikannya sebagai pemain sepak bola termahal kedua sepanjang sejarah.

Baca Juga: 5 Pemain yang Memiliki Nasib Berbeda di Klub dan Timnas

Barcelona

Ibra merapat ke Barcelona dengan skema tukar tambah antara kedua tim. Pada saat bersamaan, Barca harus melepas Samuel Eto’o ke Inter Milan.

Pada Juli 2009, Zlatan Ibtahimovic resmi pindah ke Barcelona. Selama membela Barcelona sebenarnya Ibra menunjukkan performa yang cukup baik.

Puncaknya ialah pada duel El Classico melawan Real Madrid, ia mampu mencetak gol semata wayang untuk memperjauh selisih point dari rival abadinya, yang akhirnya pada tahun tersebut Barcelona kembali berhasil menyabet gelar La Liga, sebelum akhirnya Ibra dipinjamkan ke salah satu raksasa liga Italia, AC Milan.

Hubungan tak akurnya dengan Pep Guardiola jadi salah satu penyebab sinarnya meredup di Catalonia.

3. Philippe Coutinho

Inter Milan

Coutinho memulai karier sepak bolanya sebagai bagian dari skuat muda Vasco da Gama dan dibeli oleh raksasa Italia Serie A Internazionale pada tahun 2008, pada usia 16 tahun.  Coutinho tinggal di Vasco dan dipinjamankan sampai ulang tahun ke-18. Menjadi pemain tim pertama untuk klub Brasil meskipun usianya masih muda.

Kepindahan Coutinho ke Internazionale berlaku efektif pada bulan Juli 2010, setelah ia berusia 18, dengan pelatih baru Rafael Benítez dan ketua Massimo Moratti mengatakan bahwa “Coutinho adalah masa depan Inter”.

Dia melakukan debut resminya dengan jersey Inter sebagai pengganti dalam kekalahan 2-0 Nerazzurri di tangan Atletico Madrid pada Super 2010 final Piala UEFA pada 27 Agustus 2010.

Setelah putus seleksi di starting lineup, ia kembali dan terbukti penting dalam kemenangan 3-2 atas Bayern Munich di Jerman saat ia memberikan umpan indah untuk Eto’o setelah berjalan di pertahanan, diikuti oleh Eto’o.

Ia mencetak gol pertamanya untuk Inter dari tendangan bebas yang melengkung tajam dan masuk ke gawang ketika Internazionale menang 3-1 di kandang melawan Fiorentina.

Gol keduanya untuk Inter datang pada pertandingan melawan Cagliari pada 19 November 2011 di mana Coutinho mengambil melalui bola dari rekan setim Alvarez untuk menempatkan bola ke sudut kiri bawah gawang dan membuat skor menjadi 2-0 untuk Internazionale.

Baca Juga: 5 Pemain yang Diprediksi Raih Sepatu Emas di Liga Inggris

Barcelona

Dibeli dari Liverpool pada Januari 2018, Coutinho sempat menjadi andalan Barcelona. Penyerang 26 tahun itu mencetak 10 gol dan enam assist dalam 22 penampilan di musim pertama bersama Azulgrana.

Musim kedua Coutinho bersama Barcelona jauh dari kata impresif. Coutinho bermain di 51 pertandingan dengan sebagian besarnya sebagai pemain cadangan. Dari 51 laga tersebut Coutinho hanya mampu mencetak 11 gol dan lima assist. Sebuah catatan yang buruk untuk pemain seharga £142 juta.

4. Samuel Eto’o

Barcelona

Setelah performa impresif bersama Mallorca, Barcelona tertarik dan akhirnya berhasil memboyong Samuel Eto’o ke Nou Camp pada tahun 2004. Bersama Barcelona, Eto’o berhasil meraih tahun-tahun keemasannya. Berikut pencapaian luar biasa Eto’o bersama Barcelona:

– 3 kali menjuarai La Liga (2004-05, 2005-06, 2008-09)
– 2 kali menjuarai Liga Champion (2005-06, 2008-09)
– UEFA Best Forward of the Year (2006)
– 2 kali menjadi African Player of the Year (2004, 2005)
– 2 kali menjadi FIFPro World XI (2005, 2006)
– Juara 3 FIFA World Player of the Year (2005)

Baca Juga: 5 Pemain Bola yang Gagal Penuhi Ekspektasi Pribadinya di Klub Impiannya

Inter Milan

Sejatinya, penyerang asal Kamerun ini tidak pernah berharap ke Inter Milan. Ia menjadi korban kesepakatan Blaugrana yang bersikukuh ingin mendatangkan Zlatan Ibrahimovic. Eto’o dilepas ke Nerrazurri dengan harga transfer 20 juta euro, harga yang tergolong tinggi saat itu.

Namun, keputusannya merapat ke Inter Milan membawa berkah tersendiri. Pada musim perdananya, Eto’o menjadi bagian dari skuat kejayaan Inter menjuarai tiga gelar dalam semusim. Liga Champions, Serie A, dan Coppa Italia berhasil diraih dalam satu kalender kompetisi.

5. Luis Figo

Barcelona

Empat musim berseragam Sporting, Figo tumbuh menjadi pemain sayap yang cukup diperhitungkan. Dalam perjalannya tersebut, Figo juga membawa Sporting meraih Piala Portugal pada 1995. Kemudian di tahun yang sama, FIGO melebarkan sayapnya dengan bergabung ke tim asal Spanyol, Barcelona.

Meski kepindahannya ke Barcelona sempat menimbulkan berbagai kontroversi, Figo akhirnya resmi merapat ke Camp Nou dengan mahar sebesar 2,5 juta euro atau sekira Rp40 miliar pada musim panas 2005.

Blaugrana –julukan Barca– mendatangkan bintang Portugal itu untuk menggantikan posisi Michael Laudrup yang memilih hengkang satu musim setelahnya.

Perjalanan karier sepakbola Figo bisa dikatakan mencapai puncaknya di Tanah Matador. Beberapa gelar penting seperti juara Liga Spanyol, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Piala Winner dan Piala Super Eropa diraih Figo bersama tim asal Katalunya.

Secara keseluruhan, 12 titel juara baik di kompetisi domestik hingga internasional, disumbangkan Figo selama bersama Barcelona dari 1995-2000.

Penampilan apiknya bersama Barcelona membawa Figo masuk ke dalam nominasi peraih Ballon d’Or pada 1999 meski akhirnya ia harus rela hanya menempati posisi kelima.

Figo terus menancapkan taringnya sebagai salah satu pesepakbola terbaik Eropa Pada medio tersebut. Tidak hanya di level klub, prestasinya di level internasional juga cukup ciamik dengan berhasil mengantarkan Timnas Portugal melaju ke babak semifinal Piala Eropa 2000 setelah mengalahkan Inggris 3-2.

Berkat penampilan apiknya di lapangan hijau, Figo pun didapuk sebagai pemain terbaik Eropa oleh France Football dan meraih Ballon d’Or pada tahun yang sama

Baca Juga: 5 Pemain yang Diprediksi Akan Diincar Setan Merah Musim Mendatang

Inter Milan

Penampilan apik Figo bersama Blaugrana membuat banyak klub besar Eropa mengincarnya, salah satunya rival abadi Barca, Real Madrid. Di tengah berbagai kontroversi, Figo kemudian memilih hijrah ke Santiago Bernabeu pada 2000.

Kepindahannya dari Barcelona ke Real Madrid adalah salah satu drama terbesar di dunia sepak bola. Mengetahui bahwa salah satu pemain andalannya pindah ke tim rival, jelas membuat para pendukung Barca kesal. Los Cules bahkan kerap mengeluarkan sumpah serapah hingga kata-kata kotor untuk Figo ketiga bersua.

Figo bahkan disebut sebagai pengkhianat, sampah, hingga tentara bayaran. Kondisi itu bahkan semakin terasa pada atmosfer laga El Clasico di Stadion Camp Nou. Setiap kali Figo mendapat bola, siulan dan cemoohan terus dilayangkan untuk Figo. Suporter Barca bahkan pernah melakukan pelemparan kepala babi pada 2002 yang menjadi fenomenal hingga saat ini.

Meski begitu, berbagai kecaman yang ditujukan sama sekali tak berpengaruh pada prestasi Figo bersama Real Madrid. Dua kali juara Liga Spanyol pada 2000-2001 dan 2002-2003, Piala Super Spanyol pada 2001 dan 2003 menjadi bukti nyata. Akan tetapi ,puncaknya adalah ketika Figo membawa Real Madrid Meraih gelar juara Liga Champions pada 2001-2002.

Setelah meraih berbagai gelar di Real Madrid, Figo akhirnya pindah ke Inter Milan dengan status bebas transfer pada 2005.

Empat tahun berseragam Inter dengan menyumbang empat gelar juara Liga Italia 2005-2006 hingga 2008-2009, satu gelar Copa Italia pada 2006 dan Piala Super Italia pada 2006 dan 2008, Figo akhirnya memutuskan pensiun pada 2009.

Selalu update berita terbaru seputar 5 Fakta hanya di Vivagoal.com

Exit mobile version