Belajar Soal Respect dari Sepak Bola - Vivagoal.com
Respect

Belajar Soal Respect dari Sepak Bola

Dimas Sembada - September 8, 2021
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Vivagoal – Berita Bola – Publik sepak bola Indonesia sempat geger dengan permainan keras menjurus kasar yang terjadi di laga uji coba antara AHHA PS Pati dengan Persis Solo. 

Syaiful Indra Cahya kedapatan melakukan tendangan kungfu di laga yang bergulir di Pancoran Soccer Field, Jakarta pada Senin (6/9) lalu. Sementara Zulham Zamrun, juga terlihat tersulut emosi dengan melakukan tekel keras hingga terpancing emosi keributan.

Situasi ini lantas mengudang reaksi keras dari berbagai elemen. Termasuk para petinggi klub baik dari AHHA PS Pati, maupun Persiraja Banda Aceh.

COO AHHA PS Pati, Divo Sashendra, langsung mengambil sikap. Dia memberikan teguran dan akan memberikan sanksi jika Syaiful Indra kembali melakukan tindakan tak sportif.

“Kami selaku Manajemen @ahhaps.fc sudah memberikan teguran secara resmi kepada Syaiful Indra Cahya karna melakukan pelanggaran keras.

“Jika melakukan hal yang sama lagi, kami tidak segan segan memberikan sanksi Skorsing maupun akan dikeluarkan dari tim,” tulis Divo melalui akun Instagram miliknya.

Sementara itu Presiden Persiraja Banda Aceh, Nazaruddin Dek Gam, juga menyindir permainan keras AHHA PS Pati.

“Ini Main sepakbola bos, bukan karate. Saya sangat kecewa saat uji coba lawan AHHA PS Pati FC. Bukan masalah hasil, tapi masalah keselamatan pemain,” tulis Nazaruddin Dek Gam di akun Instagram pribadinya.

Mencontoh Kampanye Respect UEFA

Apa yang dilakukan Zulham dan Saiful jelas bukan hal yang layak dicontoh. Bahkan perlakuan keduanya tidak untuk dibenarkan.

Ironi memang, ketika pesan perdamaian terus digaungkan oleh elemen-elemen supporter, para pemain yang berada di lapangan, yang notebane merupakan panutan fans, malah memeberikan contoh yang tak terpuji.

Memang, faktor emosi dan persaingan di lapangan hijau terkadang membuat pemain sulit mengontrol diri. Namun, menjadi aneh ketika situasi ini terjadi pada diri Zulham dan Saiful yang notabene merupakan pemain senior dengan segudang pengalaman.

Alangkah lebih baiknya, siapapun dalam sepak bola, pemain, supporter, hingga petinggi di jajaran manajemen kembali mengingat kampanye Respect yang diinisasi oleh UEFA dalam setiap pertandingan.


Baca Juga:


Pertama digaungkan  pada 2008, kampanye ini bertujuan untuk bersama-sama bekerja menuju persatuan dan rasa hormat lintas gender, ras, agama dan kemampuan.

Artinya, meski bertindak sebagai lawan bahkan rival sekalipun, para pegiat sepak bola selalu dituntut untuk tetap menunjukan rasa hormat kepada lawan.

Hormat bukan berarti tidak berkompetisi. Hormat bukan artinya membiarkan lawan menginjak-nginjak harga diri, tapi menghargai rival dengan nilai-nilai sportifitas yang sepatutnya dijunjung tinggi dalam sebuah pertandingan olahraga.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘Respek’ diartikan sebagai sebuah rasa hormat; kehormatan; menaruh–atas perbuatan mulia.

Sudah sepatutunya, demi memajukan sepak bola Indonesia, seluruh elemen; supporter, pemain hingga klub mulai menanamkan rasa hormat kepada lawan. Bukan berarti menolak kompetitif, tapi dengan tetap menghargai hak yang melekat dalam diri seorang lawan.

Respect tak bakal menyengsarakanmu!

Sepertinya kita harus banyak belajar dari kisah Timnas Italia di Piala Dunia 1966. Waktu itu di pertandingan terakhir fase grup, Italia harus berhadapan dengan Korea Utara.

Pelatih Timnas Italia, Edomondo Fabbri, lantas menugaskan asistennya Ferruccio Valcereggi, untuk mengintai kekuatan Korea Utara.

Ferrucio kembali dan memberikan laporan soal calon lawannya itu. Sang assisten berkata “Una squadra di Ridolini” yang berarti “mereka adalah tim badut”, ejek Ferruccio.

Sayangnya, sikap tak menghargai lawan tersebut menjadi boomerang buat Italia. Di pertandingan, Italia menyerah 1-0 dari Korea Utara.

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com