Tag: Obrolan Vigo

Marc Overmars: Si Kaki Kaca Pertama dari Belanda

Vivagoal Berita BolaSeorang winger yang baik jelas memiliki visi bermain mumpuni, daya jelajah yang tinggi serta agresivitas tuk menyisir sisi lapangan. Berbagai aspek tersebut dimiliki oleh Marc Overmars. Namun daya jelajah sang winger yang kelewat tinggi juga membawanya pada resiko besar, cedera kaki yang bakal mematikan karitnya.

Jauh sebelum era Arjen Robben, Belanda memiliki winger yang memiliki kemampuan sama dengan si Winger plontos. Orang itu adalah Overmars. Pria kelahiran Ernst, 29 Maret 1973 sudah menunjukan diri kala masih bermain untuk Go Ahead Eages dan Williem II di awal medio 90an.

Seperti kebanyakan pemain lain, Overmars memiliki pilihan untuk gabung ke salah satu trisula Eredivisie yakni Feyenoord, PSV dan Ajax. Ia pun menjatuhkan pilihan ke klub yang disebut terakhir. Ajax resmi memboyongnya dari Williem II dengan mahar tak kurang dari 2.5 Juta Guilder atau setara dengan 1,2 Juta Euro.

Keinginan Ajax memboyong sang pemain bukannya tanpa sebab. Pelatih de Godenzonen,  Louis Van Gaal menilai Overmars adalah sosok yang cukup dibutuhkan dalam timnya. Selain memiliki kelengkapan sebagai seorang winger, ia terbilang multifungsi. Kedua kakinya sama baik. Sisi kiri dan kanan bisa dijelajahnya dengan mudah. Hal itu pula yang membuat namanya selalu diandalkan dan menjadikan Ajax sebagai tim yang mendominasi Liga Belanda pada pertengahan 90an.


Baca Juga:


Berbagai gelar domestik macam Eredivisi, KNVB Bekker hingga Liga Champions di musim 1995 mampir ke almari tim asal Ibu Kota Belanda itu. Nama Overmars terpatri dala golden generation Ajax bersama Danny Blind, Edwin Van Der Saar, Edgar Davids hingga Patrick Kluivert. Capaian prestis di tahun 1995 membuat namanya dikaitkan dengan tim Eropa. Manchester United tertarik untuk membawanya ke Inggris. Namun dengan santai, kepada Mirror ia menyebut jika masih ingin bertahan setidaknya dalam dua musim ke depan bersama Ajax.

Terkait performa sang pemain, Louis Van Gaal pun memujinya sebagai winger terbaik yang pernah ia lihat.  “Ia adalah penggiring bola yang baik dan dapat mengalahkan pemain manapun dalam situasi satu lawan satu. Ia adalah pemain yang penting dalam sistem saya karena saya adalah pelatih dengan filosofi menyerang (saat di Ajax), dan Overmars ada di sana sebagai winger terbaik yang dimiliki Belanda,” ujar Van Gaal seperti dilansir BBC.

Pasca mendulang gelar Liga Champions, cedera mulai menghantui Overmars mendapatkan cedera panjang hampir dua musim. Alih-alih mengeluarkan skill di atas lapangan, ia lebih banyak berkutat pada ruang perawaran. Meski rentan dengan cedera, Arsenal yang menaruh minat tak sedikitpun mengendurkan penetrasi tuk membawa sang pemain ke London Timur. Pada bursa transfer musim panas 1996/97, Arsenal resmi mendaratkan sang pemain dengan mahar 7 Juta Euro

Giovanni Trapattoni: Satu dari Lima Pelatih Super di Dunia Sepakbola!

Vivagoal Berita Bola – Jika menyebut sosok pelatih hebat, maka nama-nama macam Pep Guardiola, Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, hingga Jurgen Klopp bakal menyeruak ke permukaan. Namun, jika membicarakan pelatih dengan kategori super, nama yang tersemat di atas tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Giovanni Trapattoni.

Il Trap, begitu ia biasa disapa sukses mendulang kejayaan bersama beberapa klub yang ditanganinya sebagai pelatih. Berbagai raihan gelar domestik maupun internasional bersama beberapa klub di negara yang berbeda. Di kancah Italia, nama Trap tak perlu diragukan lagi. Ia sukses bersama Juventus dan Inter. Selain itu, ia juga mampu mendulang hal yang sama bersama beberapa klub yang diasuhnya di berbagai negara. Hal tersebut merupakan sesuatu yang bisa diraih oleh pelatih manapun di seluruh dunia.

Sebelum memulai karir sebagai pelatih, Trap lebih dulu menjejal karir bersama AC Milan. Boleh dibilang, bersama tim asal Kota Mode, sederet prestasi sukses diraihnya, termasuk gelar Liga Champions dan berbagai gelar berskala lokal.


Baca Juga: 


Sebagai pemain, Trap biasa beroperasi di pos tengah. Hal itulah yang secara tak langsung membuatnya sukses sebagai pelatih karena paham cara membangun transisi tim dari bertahan hingga menyerang. Biasanya, pelatih yang baik memang hadir dari pemain yang berposisi sebagai pemain tengah. Tak percaya? Lihat saja sederet prestasi yang ditorehkan Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, hingga yang termahsyur, Zinedine Zidane.

Pasca gantung sepatu sebagai pemain, Trap langsung menjejal karir sebagai pelatih. AC Milan menjadi destinasi utamanya sebagai juru taktik. Namun kesuksesan sebagai pemain tak bisa diulanginya kala berkiprah sebagai pelatih. Meski dibilang gagal, Juventus nyatanya tertarik untuk membawa Trap ke kota Turin guna melatih si Nyonya Tua.

Obrolan Vigo Edgar Davids: Pitbull Terakhir dalam Dunia Sepakbola

Vivagoal Berita Bola – Mencari sosok gelandang penghancur serangan, atau anchor man dalam dunia sepakbola merupakan hal yang susah-susah gampang ditemui di hari ini. Dua nama beken yang kerap mengisi pos tersebut adalah N’Golo Kante dan Casemiro. Namun jauh sebelum era Millenium, sosok Edgar Davids terbilang lumayan mendominasi.

Pemain Belanda kelahiran Suriname. 13 Maret 1973 memang merupakan sosok pemian bedaya jelajah tinggi. Di Eranya, beberapa pemain sepertinya memegang peranan penting. Ada nama Genarro Gatusso (Milan) dan Claude Makelele (Real Madrid) yang menjadi benteng terakhir pemutus serangan sebelum bola meluncur deras ke backfour di belakangnya. Davids pun kurang lebih memiliki peran yang cukup sama dengan dua pemain tesebut.

Sejak memulai debutnya bersama Ajax Amsterdam pada 1991, ia langsung mengamankan satu tempat di tim utama. Namanya bahkan masuk ke dalam golden generation Ajax bersama Clerence Seedorf, Patrick Kluivert dan Edwin Van Der Saar.

Ketiganya sukses memberikan berbagai gelar domestik bagi Ajax dan sepasang gelar Liga Europa dan Liga Champions di tahun 1995. Gelar tersebut bahkan belum bisa dibawa kembali ke Ibu Kota Belanda sampai hari ini. Pasca kesuksesan tersebut, pelatih legendaris Belanda, Louis Van Gaal pun memberinya julukan Pitbull karena ia tak segan berlarian kesana kemari guna mengamankan bola. Selain itu, Davids juga diberkahi stamina yang mumpuni untuk menunjang mobilitasnya di atas lapangan.


Baca Juga Artikel Lainnya:

Obrolan Vigo: Keberlangsungan Liga 1 Terancam Virus Corona?

Obrolan Vigo Diego Ribas: Permata Brazil yang Tak Terasah Sempurna

Obrolan Vigo: James Beattie, Striker Underrated yang Selalu Dicintai

Obrolan Vigo Roberto Baggio: Pemain Hebat yang Tak Dimaksimalkan Pelatih Manapun


Lima musim membela Ajax, Davids mengumpulkan ratusan penampilan bersama tim asal Ibu Kota Belanda dan mendulang berbagai trofi, ia memutuskan untuk menerima pinangan salah satu raksasa Italia, AC Milan dengan status bebas transfer. Namun karirnya di San Siro justru meredup. Ia hanya bertahan satu musim sebelum akhirnya hengkang ke Juventus dengan mahar 8 Juta Euro. Bersama Juve, ia mulai dikenal orang karena menggunakan kacamatanya yang terbilang cukup stylish.

Kacamata Davids bukanlah untuk bergaya di atas lapangan, ia menderita glaukoma yang bakal merusak optik matanya. Meski menderita glaucoma, Davids malah menemukan performa puncaknya kala berseragam Putih Hitam. Bersama tim asal  Kota Turin, ia sukses mempersembahkan trofi domestik dalam wujud tiga kali  Scudetto. Davids sempat bermain dalam All Italian Final di Liga Champions 2003 kontra AC Milan. Di partai pamungkas, Bianconerri harus bertekuk lutut melalui drama adu penalti.

Obrolan Vigo Diego Ribas: Permata Brazil yang Tak Terasah Sempurna

 Vivagoal Berita Bola – Brazil merupakan Negara penghasil playmaker terbaik di jagad sepakbola. Tak terhitung berbagai nama yang sukses dalam karirnya di dunia si kulit bundar. Beberapa nama pun terpaksa harus gagal karena satu dan lain hal. Diego Ribas da Cuncha adalah nama playmaker yang terbilang gagal membuktikan diri karena faktor pelatih yang tak bisa memaksimalkan bakatnya

Bakat Diego sudah terlihat kala ia menjalani latihan bersama tim asal Ribeirao Preto, Comercial FC di usia enam tahun. Ia sudah menampilkan skil di atas rata-rata. Bakatnya terendus oleh tim penuh sejarah asal Brazil, Santos yang kerap melahirkan beberapa nama beken macam Pele, Toninho Guerreiro dan pemain berbakat Negeri Samba Lainnya.

Di usia 16 tahun, ia sudah memulai debut profesionalnya bersama Santos. Seperti kebanyakan wonderkid lain, Diego juga memperlihatkan bakat besar. Tipikal bermainnya lebih condong ke arah gelandang serang classic macam Rivaldo, Rui Costa hingga Ronaldinho. Diego muda tak dibekali kecepatan. Namun efektivitas sang pemain terlihat saat bola berada di kakinya.

Thesefootballtimes melaporkan sang pemain tahu kapan bergerak ke sektor penyerangan dan menjaringkan bola. Bahkan kemampuan dribblenya bisa membuat kawan dan lawan tak bisa memprediksi bagaimana pergerakannya kelak.

Baca Juga: Obrolan Vigo: James Beattie, Striker Underrated yang Selalu Dicintai

Di awal medio 2000an, Santos sudah memiliki beberapa pemain berbakat macam Elano, Robinho dan Diego. Ketiganya bahu membahu membawa mantan tim Pele menjuarai Liga di musim 2002. Prestasi tersebut merupakan yang pertama sejak 1968 silam. Bahkan di tahun yang sama, Santos mampu melaju ke babak final Copa Libertadores sebelum akhirnya ditundukan Boca Junior. Meski demikian, sinar Diego dan Robinho tak pudar. Pele menyebut keduanya memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik darinya.

Musim pertamanya bersama Santos pun berjalan manis. Dalam 28 laga yang dihelat, ia sukses menjaringkan 10 gol. Tawaran demi tawaran pun sempat singgah menghampiri dirinya. Tottenham Hotspur asuhan Glenn Hoddle sempat membuka penawaran. Namun karena permasalahan paspor, ia tertahan di Brazil. Meski gagal bergabung dengan tim Eropa, ia tak parah arang. Tawaran kedua datang dari FC Porto. Raksasa Portugal membutuhkan sosok anyar sebagai penerus Deco de Souza yang memutuskan hengkang ke tim lain.

Obrolan Vigo: Prediksi Tim yang Bakal Lolos ke Babak 8 Besar Liga Champions

Vivagoal Liga Champions – Pasca fase pengundian beberapa waktu lalu, Liga Champions bakal dihelat kembali pada 19 Februari mendatang. 16 tim terbaik Eropa bakal kembali berjibaku guna kukuhkan supremasi tertinggi di kancah tertinggi Benua Biru.

Semua tim yang lolos ke fase 16 besar sejatinya sudah mengantongi dana segar sebesar 9,5 Juta Euro. Angka ini belum diakumulasikan dengan total kemenangan dan hasil imbang yang mereka rengkuh. Sebagai catatan, UEFA memberikan jatah 15 Juta Euro kepada setiap tim yang berpartisipasi di fase grup. Untuk kemenangan dihadiahi 2,7 Juta Euro dan hasil imbang mendapatkan 900 ribu pounds.

Baca Juga: Susun Tim Terbaik di MPL Liga Fantasi dan Dapatkan GoPay!

Di sisi perwakilan, Inggris dan Spanyol mampu meloloskan empat tim. Jumlah ini merupakan yang terbanyak dibandingkan negara lain yang berpartisipasi di fase gugur. Namun ada dua laga yang melibatkan pertempuran kedua negara yakni kala Atletico Madrid bersua Liverpool dan Real Madrid ditantang Manchester City di Santiago Bernabeu. Artinya, setelah laga kedua tim, jumlah perwakilan kedua negara akan berkurang.

Di tempat lain ada beberapa tim yang bakal saling bersaing guna pastikan diri lolos ke fase selanjutnya di ajang Liga Champions. Vivagoal akan merangkum berbagai laga dan kans tim-tim yang bertanding guna lolos ke fase berikutnya.

Obrolan Vigo: Utak-Atik Peluang Juara Copa del Rey 19/20

Vivagoal – La Liga  Gelaran Copa del Rey 2019/20 sudah memasuki fase semifinal. Spesialnya, di edisi kali ini, tak ada nama besar yang bercokol di jajaran empat besar. Mengapa demikian?

Selayaknya Cup Competition, rangkaian kejutan kerap hadir. Tak jarang laga David vs Goliath pun tersaji dan David yang bertengger sebagai pemenang. Piala FA dan Piala Liga Inggris kerap menghadrikan kejutan. Berbagai tim besar harus terkapar oleh tim yang di atas kertas memiliki kemampuan jauh di bawah mereka. Hal yang sama pun nampak terjadi di Piala Raja Spanyol.

Pada edisi teranyarnya, tak ada nama-nama besar yang mentas di ajang kelas dua ini macam Real & Atletico Madrid, Barcelona, Sevilla hingga Valencia. Seluruh tim tersebut secara mengejutkan harus tumbang atas lawan-lawan yang dianggap kurang sepada.

Selayaknya ajang kelas dua, seluruh tim yang tak memiliki kans untuk mentas di Eropa via klasemen Liga jelas mengincar gelar Cup Competition. Pasalnya, selain mampu menambah koleksi di kabinet trofi, mereka yang menjuarai Copa del Rey juga berkesempatan mentas di ajang Europa League dan mengikuiti format baru Piala Super Spanyol.

Baca Juga: Susun Tim Terbaik di MPL Liga Fantasi dan Dapatkan GoPay!

Rata-rata, tim yang berpartisipasi berada di papan tengah klasemen masing-masing liga. Bedasarkan data yang dinukil pada Senin (10/2), Real Sociedad berada di peringkat ke-6, Bilbao ada di posisi kesembilan dan Granada tepat berada satu titik di bawah Bilbao. Sementara Mirandes ada di peringkat kesepuluh Segunda Division.

Lantas, dengan peringat yang ada di Liga mereka masing-masing, bagaimana kans keempat tim tersebut mendulang gelar Copa del Rey 2019/20. Vivagoal coba mendedah kans seluruh tim untuk menjuarai ajang yang sudah dihelat sejak 1903 ini.

Obrolan Vigo: Tentang Ravel Morrison, Wonderkid Gagal Inggris

Vivagoal Liga Inggris – Orang-orang Inggris kerap mengalami masalah terhadap penilaian wonderkid. Di era modern, ada beberapa nama macam Mikel Owen, David Bentley hingga Ravel Morrison. Pada Obrolan Vigo edisi kali ini, kita akan mendedah lebih jauh terkait nama yang disebut terakhir.

Biasanya, kegagalan seorang wonderkid berkembang lantaran cedera yang membekapnya. Pasca pulih dari cedera, inskonsistensi permainan pun mulai terjadi. Nama yang disebut pertama merupakan bukti nyata. Kita semua tahu darimana Michael Owen berasal. Ia sudah tampil di Piala Dunia 1998 bersama Timnas Inggris. Ia sempat bermain untuk Liverpool dan Real Madrid sebelum di puncak karirnya bertransformasi menjadi medioker lantaran cedera yang ia dapat.

Sementara David Bentley pun 11-12 dengan Owen. Pasca memulai debutnya bersama Arsenal, ia digadang menjadi bintang Inggris berikutynya. Bahkan julukan Next David Beckham pun sempat dilontarkan mantan pelatih Tiga SInga, Steve McLaren. Meski ekspektasi ada di bahunya, ia justru gagal membuktikan diri karena permainan yang tak berkembang. Bahkan Bentley pun harus pensiun di usia 29 tahun.

Di sisi Manchester, Ravel Morrison menjadi sosok yang gagal karena kelakuan buruk yang ia perbuat sendiri meskipun ia memiliki kemampuan baik di atas lapangan Sejatinya, awal karir pemain berdarah Jamaika ini nampak baik-baik saja. Menilik lebih jauh, Morrison, yang sukses menampilkan performa apiknya di masa muda mendapat privilege khusus, ia direkrut oleh tim pemandu bakat United kala anak-anak lain harus melakukan proses pendaftaran dan seleksi ketat untuk akademi Setan Merah.

Baca Juga: Wonderkid Gagal Manchester United Putuskan Kembali ke Inggris

Morrison memiliki beberapa aspek penting sebagai seorang gelandang. Ia memiliki kaki yang sama kokoh, visi bermain yang helas kecepatan dan umpan yang presisi dan yang terpenting, ia memiliki naluri mencetak gol yang tinggi. Morrison memiliki permainan yang menjanjikan. Bahkan bakatnya disebut melebihi rekan seangkatannya, Paul Pogba.

Rio Ferdinand Bahkan pernah menyebut jika Morrison merupakan bakat terbaik yang pernah dilihat Ferguson. “Lihatlah bocah lelaki itu. Manajer pikir dia adalah pemain terbaik yang pernah dilihat pada usianya saat itu,” ungkapnya dinukil dari BT Sports. Bahkan, pemain senior United lain, Darren Fletcher pun sempat takjub dengan kemampuan juniornya di atas lapangan.

“Morrison berbicara kepada saya. Dia berlari dengan bola, hanya berlari dengan itu dan dia hampir menatapku sambil membawa bola dan menunggu untuk saya bergerak dan kemudian dia baru bereaksi,” papar Fletcher.

Kisah manis pun berlanjut. Ia bahkan sukses membawa tim muda United menjuarai FA Youth 2010. Ia disebut siap menembus tim utama. Namun sebelum hal tersebut terjadi, serangkaian masalah yang ia buat sendiri pun menghampiri.

Obrolan Vigo: Gabriel Batistuta, The Argentinian Assassin

Vivagoal Berita BolaTepat hari ini, 51 tahun silam, Gabriel Batistuta lahir ke dunia. Batistuta dan gol memang menjadi bagian tak terpisahkan. Rentetan prestasi pun lahir dari pria kelahiran Sant Fe, Argentina ini baik di level klub maupun Tim Nasional.

Batigol, begitu ia biasa disapa memulai karir profesional bersama Newell’s Old Boys. Ia tertatik menjadi seorang pesepakbola pasca melihat aksi Mario Kempes yang sukses mengantarkan Argentina Juara Piala Dunia 1978. Di Newell’s, ia dilatih oleh sosok yang tepat yakni Marcelo Bielsa. Si Gila dari Argentina memang kerap memproyeksikan pesepakbola top di masa mendatang.

Namun kenyataan pahit harus diterima Batistuta lantaran ia jarang mendapatkan kesempatan bermain di tim utama karena faktor homesick dan kelebihan berat badan. Ia pun dipinjamkan ke tim lain guna menambah garansi waktu bermain. Meski dipinjamkan, Batigol sama sekali tak dendam. Bahkan ia memuji Bielsa sebagai sosok pening dalam karir sepakbolanya.

“Bielsa adalah orang yang selalu melatih saya dikala hujan. Ia juga yang memberikan semangat dan mengajari cara menjadi pemain sepakbola yang hebat. Ia memberikan segalanya untuk saya,” tulis Batistuta dalam autobiografinya.

Baca Juga: Messi Tembus 500 Kemenangan dan 500 Gol Di Barcelona

Pasca melakukan perjalanan singkat di Newell’s, Batistuta menerima pinangan River Plate pada pertengahan tahun 1989. Namun badai gelap masih belum menjauh darinya. Di bawah asuhan Daniel Passarela, tanpa alasan yang jelas dan tanpa ada riak perselisihan antara keduanya,

Batistuta harus menerima kenyataan pahit karena hanya duduk di bangku cadangan dan tak bisa memaksimalkan potensinya sebagai predator ulung. Passarela pun menyebut jika River bukanlah tim yang tepat untuk seorang Batistuta. “Kala ia menemukan tim yang tepat, maka ia akan menjadi senjata yang mematikan di lini depan,” ungkap Passarela beberapa waktu lalu.

Ucapan tersebut pun didengar oleh Batistuta. Ia pun mengakhiri karir bersama River untuk menuju Boca Juniors. Namun ia lagi-lagi tak menemukan kemampuan terbaik kala tak ditempatkan di posisi yang seharusnya. Namun pasca kedatangan Oscar Tabarez di tahun 1991, Batistuta pun langsung bertransformasi menjadi mesin gol Boca. Bersama tim yang bermarkas di La Bombonera, total ia mengemas 19 gol dari 42 laga yang ia mainkan. Bersama Tricolor, ia sukses mempersembahkan Torneo Clausura.

Obrolan Vigo: Duel Konsumen Melawan Produsen Dibalik Laga Ajax v Juventus

VivagoalLiga ChampionsDrawing Quarter-Final Champions League musim 2018/19 sudah dilangsungkan beberapa pekan lalu di Nyon Swiss. Semua tim sudah mendapatkan lawan untuk dihempaskan guna melaju ke babak semifinal.

Ajax Amsterdam v Juventus, Liverpool v FC Porto, Tottenham v Manchester City dan Manchester United v Barcelona akan tersaji mulai 11 April mendatang. Dari sekian duel yang tersaji, laga Ajax melawan Juventus akan sangat spesial. Mengapa demikian?

Jika Anda menilai pertandingan antar kedua tim merupakan pertandingan yang berat sebelah, Anda tak sepenuhnya salah. Pasalnya, Juventus di atas kertas memang diunggulkan dibandingkan dengan lawannya.

Konsumen Melawan Produsen

Si Nyonya Tua, memiliki materi pemain yang jauh mentereng mulai dari penjaga gawang hingga sektor penyerangan. Boleh dibilang, diantara seluruh kontestan delapan besar Champions League 2018/19, skuat Juve-lah yang memiliki kedalaman skuat paling baik.

Bangku cadangan Juventus bisa dibilang yang termahal diantara para kontestan lain di Liga Champions. Sebut saja Mattia Perin, Daniel Rugani, Leonardo Spaniazola, Sami Khedira, hingga Paulo Dybala merupakan nama top yang harus menepi dan menjadi penhangat bangku cadangan.

Juve memang merupakan tim Serie A yang memiliki neraca finansial yang stabil. Kekasih Italia ini kerap merekrut bakat-bakat domestik guna memperkuat tim sekaligus melemahkan rival mereka. Beberapa nama macam Leonardo Bonnuci, Giorgio Chiellini, Miralem Pjanic, Juan Cuardado Mattia De Sciglio hingga Federico Bernadeschi berhasil direkrut guna tampil di tim utama sekaligus menjaga kedalaman skuat.

Selain bakat-bakat lokal, mereka juga kerap membeli pemain jadi dari Tim Eropa lainnya. Juve bahkan tak segan mengeluarkan dana transfer cukup besar untuk memboyong nama-nama beken sekelas Alex Sandro, Douglas Costa, Mario Manzukic, Joao Cancelo hingga sang megabintang Cristiano Ronaldo.

Obrolan Vigo: Mencari Raja Gol Eropa 2019

VivagoalBerita Bola – Bicara tentang Liga-liga di Eropa, kita tentu tak bisa melepaskan diri dari agenda perburuan gelar juara setiap musimnya. Beberapa nama tim semacam Bayern Munchen dan Dortmund di Jerman, Juventus dan Napoli di Italia, serta Real Madrid dan Barcelona di Spanyol, dan Manchester City, United, Liverpool serta Chelsea di Inggris hingga PSG yang nyaris tanpa kompetitor di Perancis, merupakan nama-nama tim yang kerap diasosiasikan sebagai calon kuat juara di liganya masing-masing.

Di balik nama-nama klub yang mentereng tersebut, ada satu aspek yang mungkin agak sedikit terlupakan. Ya, mencari pencetak gol terbanyak di liganya masing-masing. Kita mungkin akan dengan mudah memprediksi dua nama beken seperti Lionel Messi (Barcelona), Cristiano Ronaldo (Juventus) yang akan merajai deretan pencetak gol terbanyak. Namun, hal ini akan menjadi menarik tatkala kita menarik satu nama paling potensial yang akan mendapatkan tahta sebagai European Golden Boots musim kompetisi 2018/19.

Sekedar informasi, European Golden Boots merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan guna mencari siapa yang tersubur di Eropa. Ajang yang sudah digulirkan sejak tahun 1967 ini kerap memunculkan nama-nama beken yang muncul sebagai pemenangnya. Nantinya, peraih award ini akan mendapatkan nilai tambah untuk dirinya seperti harga transfer yang melambung serta kemungkinan memperoleh peningkatan gaji. Satu yang pasti, mereka yang memenngkan gelar ini akan terus dihinggapi rumor transfer yang begitu kencang setiap jendela bursa resmi dibuka.

Oleh karena itu, vivagoal merangkum beberapa “nominator” Raja Gol Eropa musim ini. Siapa saja mereka? Apakah di akhir musim nama-nama ini akan keluar sebagai pemenangnya? Berikut ulasannya.

LATEST NEWS

- Advertisement -

HOT NEWS