Tag: Rasisme

Mantan Tim Jurgen Klopp Ditinggal Fans yang Rasis! Bagaimana Kisahnya?

Vivagoal Liga Inggris – Salah satu tim asal Bundesliga, Mainz 05 mendapat kejutan lantaran ada seorang fans yang membatalkan keanggotaan karena mantan tim Jurgen Klopp itu masih memiliki pemain kulit hitam.

Mainz membeberkan hal tersebut awal pekan kemarin. Mereka menyebut eks supporter melontarkan nada berbau rasisme dalam sulat yang ia tulis.

“Selama beberapa bulan terakhir saya tak bisa mengasosiasikan diri saya dengan klub ini. Saya merasa seperti berada di Piala Afrika, bukannya Liga Jerman. Saya bukan orang yang rasis, saya pun membencinya. Tapi rasanya sudah terlalu banyak,” tulis surat tersebut.

“Tapi ketika susunan pemain inti terdiri dari sembilan (!!!) pemain kulit hitam dan anak-anak muda Jerman semakin sedikit mendapat kesempatan bermain, ini bukanlah lagi klub yang selama ini ada di hati saya.”

Meski begitu, Mainz tak khawatir karena fans tersbeut. Mereka justru bersyukur lantaran pihaknya tak bersinggungan dengan fans yang berpotensi menimbulkan kekisurhan di masa mendatang. Menurut mereka, warna kulit tak penting lantatan tim yang sempat ditangani Thomas Tuchel itu menanam teguh nilai-nilai kemanusiaan.


Baca Juga:


“Membagikan pandangan (rasisme) di saat seperti ini, saat orang-orang di seluruh dunia menentang diskriminasi dan bersolidaritas atas kematian George Floyd, termasuk para pemain Bundesliga, semakin membuktikan bahwa nilai rasisme itu tertanam di dalam karakter anda,” tegas keterangan tertulis Mainz di laman klub.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Inggris hanya di Vivagoal.com

Lukaku Ingin Serie A Meniru Eredivisie. Kenapa?

Vivagoal – Serie A – Beberapa kali mendapatkan perilaku rasis di Serie A musim ini, membuat penyerang Inter Milan Romelu Lukaku sangat vokal menyuarakan perlawannya. Lukaku berpendapat tidak hanya pihak berwajib, para pemain sendiri harus ikut terlibat seperti yang dilakukan para pemain di Eredivisie.

Sejumlah insiden rasisme oleh para tifosi Serie A merusak sepakbola Italia dalam beberapa musim terakhir. Selain Lukaku, beberapa pemain lain seperti Mario Balotelli, hingga Miralem Pjanic pernah menjadi sasaran aksi rasisme.

Berkali-kali Lukaku menyuarakan pendapatnya secara lantang mengenai isu rasisme ini. Ia berharap para pemain sepakbola harus menjadi aktor utama yang memimpin perang terhadap diskriminasi yang selama ini terjadi di lapangan.

“Bagi saya, Italia adalah tempat indah untuk tinggal,” ujar Lukaku dilansir Sky Sports.

“Italia memiliki potensi untuk menjadi liga terbaik, dimana memang seharusnya seperti itu. Tapi kita harus bekerja sama untuk membuat keluar oknum-oknum itu dari stadion.

Baca Juga: Kedatangan Eriksen ke Inter Bisa Gagal Karena Barcelona, Kok Bisa?

Sebelumnya di Eredivisie, pertandingan dihentikan selama satu menit di Bulan November lalu untuk memprotes aksi rasis yang menimpa pemain sayap Excelsior Ahmad Mendes saat melawan FC Den Bosch.

Hal itu pun memberikan ide baru untuk Lukaku khususnya untuk Serie A. Lukaku sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh para pemain Eredivisie dan ingin Serie A bisa meniru apa yang dilakukan di Belanda.

“Saya pikir kita perlu melakukan hal serupa. Saya tidak berpikir kita harus menyerahkan semuanya pada Federasi,”tambahnya.

“Belanda melakukan pekerjaan hebat, mereka melakukan hal luar biasa dengan para pemain mereka. Terkadang di negara lain, sebagai pemain, harus menghadapi masalah itu dengan tangan kita sendiri.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Serie A Meminta Maaf Perihal Tiga Gambar Monyet Mereka

Vivagoal Serie A – Pihak Serie A yang berupaya melawan aksi rasisme di kompetisi Italia justru menjadi bulan-bulanan setelah gambar yang mereka rilis untuk kampanye tersebut.

Bekerja sama dengan seniman Simone Fugazzotto, Serie A kemudian merilis tiga gambar monyet dengan corak warna berbeda. Tiga gambar monyet itu sendiri melambangkan sikap mereka melawan aksi rasisme yang begitu sering terjadi di Serie A.

Namun bukannya mendapat apresiasi, keputusan tersebut justru banjir kecaman. Salah satunya datang dari AS Roma melalui akun sosial media mereka.

“AS Roma sangat terkejut melihat apa yang tampak sebagai kampanye anti-rasis Serie A, yang menampilkan lukisan monyet-monyet di media sosial hari ini,” tulis AS Roma, seperti yang dikutip dari Football Italia.

Baca Juga: Kampanye Anti Rasis Serie A Banjir Kecaman

Sadar telah membuat kesalahan, sang Chief Executive Officer, Luigi De Siervo kemudian meminta maaf.

“Saya meminta maaf kepada semuanya yang tersinggung oleh karya yang diciptakan Simone Fugazzotto bulan Mei lalu, di final Coppa Italia,” ujar De Siervo dikutip dari Football Italia.

“Terlepas dari penjelasan sang seniman yang menjelaskan bahwa kreasinya adalah pesan melawan rasisme, karyanya masih dipertanyakan oleh banyak orang,” lanjutnya.

Lebih lanjut De Siervo menegaskan pihak Lega Serie A akan tetap melakukan kampanye anti rasisme di Italia.

“Apa yang tak bisa dipertanyakan adalah kecaman kuat dan terus-menerus dari Lega Serie A terhadap semua bentuk diskriminasi dan rasisme, yang berkomitmen menghapus tindakan tersebut dari liga kami,” tutupnya.

Serie A memang dicap sebagai kompetisi yang kurang bisa menghargai perbedaan. Sebut saja pada musim 2019 ini kasus rasisme kerap terjadi kepada banyak pesepakbola di Italia khususnya mereka yang berkulit hitam salah satunya adalah Romelu Lukaku.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Terkait Rasisme Dua Pemain United, Polisi Tetapkan Satu Tersangka

Vivagoal Liga Inggris Dua pemain Manchester United, Fred dan Jesse Lingard mengalami pelecehan rasialis dalam derby Manchester, Minggu (8/12) kemarin. Kepolisian setempat sukses menangkap satu orang atas insiden tersebut.

Sekedar pengingat, dalam laga yang dimenangi United dengan skor tipis 1-2 itu, Fred mendapat insiden rasisme kala ingin mengambil sepak pojok. Pemain asal Brazil itu dilempari korek api dan botol plastic. Tak hanya itu, oknum fans City pun membuat gerakan rasial kepada Fred dan Jesse Lingard. Pihak klub pun membuat pernyataan resmi terkait insiden tersebut.

Tak kurang dari 24 jam pasca aksi tersebut, pihak kepolisian langsung mengidentifikasi sosok yang harus bertanggung jawab dalam insiden tersebut yakni Anthony Bruke, 41 tahun.

“Seorang pria telah ditangkap setelah sebuah video di media sosial menanyangkan seorang suporter yang melakukan gestur rasialis dalam laga Manchester City v Manchester United di Etihad Stadium kemarin,” demikian pernyataan resmi dari Kepolisian Greater Manchester, seperti dinukil Goal International. “Pria berusia 41 tahun ini ditangkap atas dugaan mengganggu ketertiban umum secara rasial dan yang bersangkutan kini telah ditahan untuk diinterogasi.”

Seorang petinggi kepolisian Manchester, Chris Hill pun mengaku berterima kasih kepada semua pihak karena bisa menagkap pelaku rasisme tersebut dan kasus ini bisa segera terungkap dan diumumkan ke publik

Baca Juga: Fred Jadi Korban Rasial, Akankah Sterling Fair?

“Rasisme dan sejenisnya tidak boleh ada dalam sepakbola maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Penahanan ini merupakan bentuk keseriusan kami menangani isu rasisme. Kami akan terus bekerja sama dengan Manchester City dan Manchester United terkait kasus ini,” jelas Hill.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Inggris hanya di Vivagoal.com

Sempat Alami Masa Kelam, Striker Belgia Malah Merasa Betah di Italia

Vivagoal Serie A – Romelu Lukaku telah mengalami kejadian pahit berupa pelecehan rasisme meski baru sebentar membela Inter Milan. Meski demikian, striker asal Belgia ini mengaku tetap bahagia berada di Italia pasca melewati masa kelam bersama klubnya terdahulu, Manchester United.

Seperti diketahui, Lukaku tampil di bawah ekspektasi kala berseragam United. Dalam dua musim, ia mencetak kurang dari 30 gol. Angka tersebut jelas merupakan aib tersendiri mengingat dirinya dibeli dengan harga mahal. United pun pada akhirnya melego eks pemain Chelsea itu ke Inter Milan pada bursa transfer musim panas kemarin.

Di Inter, Lukaku langsung tampil beringas. Ia seakan membuktikan dirinya belum habis. Sejauh ini, pemain bernomor punggung 9 sudah mencetak 9 gol untuk La Beneamata di berbagai kompetisi yang mereka mainkan. Namun di balik momen manis tersebut, ada hal kelam yang menghinggapinya yakni aksi rasisme.

September lalu, Lukaku mendapatkan pelecehan rasisme dari fans Cagliari kala ingin mengeksekusi penalti. Namun sebelum hal tersebut terjadi, ia mengaku sudah siap dengan konsekuensi yang bakal dihadapinya kelak. Bahkan untuk saat ini, sang striker mengaku sangat kerasan tinggal di Italia.

Baca Juga: Pindah ke Italia, Bomber Inter Sudah Prediksi Bakal Terima Rasisme

“Saya bersenang-senang di Italia,” ungkapnya seperti dinukil Goal International. “Orang-orang di jalan sangat baik kepada saya dan keluarga saya juga suka tinggal di sini. Saya ingin berkonsentrasi pada hal tersebut.”

“Ketika saya tidak bermain bagus, saya ingin [pelatih, Antonio Conte] memberitahu saya tentang hal itu. Saya berusia 26 tahun, saya tahu saya bisa lebih meningkat,” pungkasnya.

Saat ini, Inter Milan berada di peringkat kedua di bawah Juventus dengan selisih satu poin. Pasca jeda Internasional, Inter akan menghadapi Torino di Turin dalam lanjutan Giornata ke-13 Serie A.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Dapat Ejekan Rasialis, Gelandang Shakhtar Donetsk Malah Dikartu Merah

0

Vivagoal Berita Bola – Kasus rasialisme di dunia sepakbola sepertinya masih marak terjadi. Yang teranyar, gelandang Shakhtar Donetsk, Taison, mengalami hal itu saat klubnya melawan Dynamo Kyiv, Minggu (10/11/2019). Kesal, dia pun menunjukkan reaksi keras, tapi wasit malah menghadiahinya kartu merah.

Pertandingan Shakhtar Donetsk vs Dynamo Kyiv sudah memasuki menit ke-73 ketika Taison melakukan akselerasi dari sisi kiri pertahanan Kyiv. Lajunya kemudian coba dihadang seorang pemain lawan. Saat itulah, Taison mendengar ejekan bernada rasial dari tribun penonton.

Baca juga: Vivagoal Bagi-bagi Jersey Gratis!

Naik pitam, Taison lalu mengambil bola sembari mengacungkan jari tengah ke arah kelompok yang diduga kelompok ultras Kyiv dan menendang bola ke arah mereka.

Laga antara Shakhtar Donetsk melawan Kyiv sendiri sempat dihentikan selama tiga menit oleh wasit Nikolai Balakin. Para pemain diminta masuk ke ruang ganti. Namun, hal yang mengejutkan terjadi saat pertandingan dimulai lagi, wasit malah mengganjar Taison dengan kartu merah.

Hukuman untuk pemain asal Brasil ini pastinya berbeda dengan beberapa kasus yang dialami pemain sepakbola saat mengalami kasus rasis. Seperti Mario Balotelli saat Brescia melawan Verona, yang menunjukkan reaksi keras kepada ultras Verona, eks striker Manchester City tidak mendapatkan hukuman apapun. Jangankan kartu merah, kartu kuning pun tidak.

Dalam pernyataan resminya, kubu Shakhtar mengutuk keras insiden rasialisme yang dialami salah satu pemainnya itu.

Baca juga: Jeda Internasional Untungkan Arsenal, Kenapa?

“Kami mengutuk perilaku penonton seperti ini. Kami akan selalu mendukung dan melindungi para pemain kami dan mendorong otoritas dan klub-klub sepakbola agar menghentikan segala bentuk rasialisme dalam stadion,” urai pernyataan resmi klub Donetsk dikutip dari Football Express.

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com

Bintang Fiorentina Sebut Rasisme di Italia Susah Diberantas

Vivagoal Serie ABintang Fiorentina, Kevin Prince Boateng menilai rasisme di Italia akan sulit diberantas karena hal yang sama akan terus kembali terulang. Teranyar, striker Brescia, Mario Balotelli mendapat ejekan rasis dari fans Verona.

Boateng sejatinya sempat mendapatkan hal yang sama enam tahun lalu kala masih berseragam AC Milan. Ia pun merasa hal tersebut akan terus berulang. Ia mendapat ejeka  rasial dari fans Pro Partia di laga persahabatan

“6 tahun lalu tidak ada yang berubah tetapi kami tidak menyerah dengan hal menjinjikan itu. Mari kita terus berjuang bersama melawan rasisme,” kata Boateng seperti dikutip Daily Mail, Selasa (5/11).

Hampir sama dengan Balotelli, Boateng pun langsung melakukan tindakan protes saat mendapat tindakan rasial. Kala itu, ia langsung melepas seragam AC Milan dan berjalan keluar lapangan. Isu rasial memang bukan barang baru, sebelum kasus Balotelli, Romelu Lukaku pun semapat mendapat ejekan serupa dari fans Genoa beberapa waktu lalu.

FIGC, selaku federasi sepakbola Italia seakan tak terlihat serius untuk menyelesaikan kasus yang sering terulang ini. Bahkan, mantan pemain Juventus, Lilian Thuram menyarankan agar pemain kulit hitam segera angkat kaki dari Italia guna menghindari kasus rasisme yang semakin hari semakin mengerika.

Selalu update Serie berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Balotelli Yang Terus Jadi Korban Rasisme

Vivagoal Serie A – Sepak bola khususnya Italia seperti tak pernah bisa menerima Mario Balotelli. Hal ini setelah sang pemain terus saja menjadi korban rasisme saat bermain di sana.

Insiden tak terpuji tersebut kembali dialami oleh Balotelli ketika timnya, Brescia melawat ke markas Hellas Verona dalam laga pekan ke-11 Serie A hari Minggu (3/11/2019). Suara ejekan tersebut terdengar kian lantang pada menit 54. 

Baca juga: Inilah Arti Satu Gol dari De Ligt!

Saat sedang berduel dengan pemain lawan, Balotelli langsung mengambil bola yang belum keluar dari lapangan dan menendangnya ke arah fans tuan rumah.

Ia kemudian balik memarahi penonton yang mengejeknya dan langsung berjalan ke luar lapangan. Beberapa rekan setimnya serta pemain lawan langsung mencoba membujuknya agar tidak meninggalkan permainan.

Wasit kemudian menghentikan pertandingan selama beberapa menit. Pihak tuan rumah juga berinisiatif untuk meredam tingkah laku suporter yang sudah di luar batas. Melalui pengeras suara, mereka mengancam akan menghentikan pertandingan andai fans tuan rumah tak segera menghentikan aksi rasisme tersebut.

Insiden tersebut kian menambah panjang masalah rasisme di Italia khususnya yang menimpa Balotelli. Semuanya diawali saat dirinya tengah membela timnas muda Italia, di mana oknum fans Roma melempari Balotelli dengan pisang di jalan sebelum akhirnya kabur.

Kemudian Balotelli menjadi korban rasisme saat membela Inter Milan. Kala bertemu Juventus pada April 2009, fans Bianconeri menyanyikan kalimat yang menyakitkan hati Balotelli. “Tidak ada orang Italia yang berkulit hitam.”

Baca juga: Ibunda Sebut Ronaldo Korban Mafia Sepak Bola

Di ajang Euro 2012, Balotelli pun menegaskan peperangan antara dirinya dengan rasisme. “Jika seseorang melempari saya dengan pisang di jalan, saya akan masuk penjara, sebab saya akan membunuh mereka,” tukasnya saat itu.

Situasi tak berubah kala Balotelli berseragam AC Milan. Melawan Napoli pada Februari 2014, Balotelli yang ditarik keluar tak kuasa menahan tangis atas sikap rasis suporter tim lawan.

“Apakah saya akan meninggalkan lapangan? Ya, saya akan melakukannya. Saya menerima kritik profesional, tetapi satu-satunya yang mengganggu saya adalah rasisme,” ujar Balotelli.

Terlepas dari sikapnya yang bengal, Balotelli sejatinya memiliki kapabilitas untuk menjadi pemain hebat. Namun banyaknya kontroversi dan aksi rasisme menutup betapa berharganya sosok pemain 29 tahun tersebut.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Fans Bersikap Rasis, UEFA Berikan Lazio “Hadiah”

Vivagoal Serie A – Lazio harus menerima “hadiah” dari UEFA berupa penutupan sebagian tribun stadion menyusul sikap rasialis yang dilontarkan Laziale dalam laga kontra Rennes beberapa waktu lalu. Artinya, kapasitas penonton di Olimpico dalam laga kontra Celtic dalam lanjutan Europa League bakal tereduksi.

Lazio sendiri didakwa hukuman tersebut pasca sejumlah fans yang berada di tribun tersebut melakukan hormat rasialis kala mereka menundukan Rennes. Selain penutupan tribun, Lazio pun didenda 20 ribu Euro oleh federasi tertinggi sepakbola Eropa itu.

Pengumuman tersebut dikonfirmasi oleh UEFA melalui laman resminya, Rabu (16/10) waktu setempat. Curva Nord Olimpico akan ditutup dalam laga Kontra Celtic, 7 November mendatang. Sebagai gantinya, spanduk bertuliskan #EqualGame dengan logo UEFA di dalamnya bakal ditempatkan di zona tersebut.

Meski hukuman telah dijatuhkan, Lazio memprotes hukuman yang dialamtkan kepada mereka. Melalui keterangan resminya, pihak klub asal Roma itu pun buka suara. “Keputusan-keputusan yang merupakan hukuman berat nampaknya tidak memperhitungkan bahwa Biancocelesti mengecam sikap rasis dari sejumlah orang yang tidak bertanggung jawab,” kata pihak klub, seperti dilansir dari Antara.

Pernyataan itu ditambahi bahwa klub menyatakan kembali tekad yang kuat untuk menuntut orang-orang itu dari perilaku yang tidak dapat diterima.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Nyanyian Monyet Tak Selamanya Rasis, Ini Kata Presiden Lazio

Vivagoal Serie AClaudio Lotito selaku Presiden Lazio telah memberikan pernyataan yang konyol. dia mengungkapkan bahwa nyanyian monyet tidak selamanya harus diartikan dengan tindakan rasis terhadap seseorang.

Claudio Lotito mengungkapkan bahwa hal seperti itu juga terkadang ditujukan untuk pemain yang memiliki kulit putih.

Ada beberapa insiden rasis yang memalukan terjadi di Italia belakangan ini. Kalidou Koulibaly dan Romelu Lukaku termasuk di antara yang mendapatkan ungkapan rasis dari para penonton selama pertandingan.

Sedangkan Lazio akan melakoni satu pertandingan tanpa penonton sebagai hukuman atas nyanyian rasis yang ditunjukkan kepada salah satu pemain andalan AC Milan, Tiemoue Bakayoko dan Franck Kessie pada musim lalu.

Baca Juga: Dianggap Rasis, Cuitan Bernardo Silva ke Benjamin Mendy Berbuah Sanksi

Saat ini, Presiden Lazio muncul dengan membuat pernyataan yang sangat konyol untuk membenarkan perilaku yang pernah dibuat oleh pendukungnya saat itu.

“Nyanyian monyet tak selalu sesuai dengan tindakan diskriminatif atau rasis terhadap seseorang,” ucap Lotito dilansir dari ANSA.

“Saya teringat ketika saya masih kecil sering kali pemain bola yang tidak memiliki kulit berwarna atau yang memiliki kulit putih normal biasanya membuat nyanyian tersebut untuk mencegah lawan agar tidak mencetak gol didepan penjaga gawang,” imbuhnya.

Mereka memang harus diperlakukan secara individual. Kami mempunyai pemain yang berkulit hitam di klub kami. Saya tak memikirkan Lazio membedakan warna kulit di antara para pemain,” lanjutnya.

Fakta bahwa Lotito adalah presiden dari salah satu klub raksasa di Italia dan juga anggota dewan untuk Liga. Namun sayang dia menutup Mata terhadap masalah rasisme. Jelas, ini sangat mengkhawatirkan untuk sosok sekelas presiden Lazio.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

LATEST NEWS

- Advertisement -

HOT NEWS