Site icon Vivagoal.com

5 Fakta Manajer yang Pernah Meraih Treble Winners

5 Fakta Manajer yang Pernah Treble Winners

Vivagoal5 Fakta – Selama 20 tahun terakhir, dunia sepak bola telah menampilkan sejumlah manajer paling taktis dan inovatif.

Ada beberapa di antaranya yang gemar dengan taktik penguasaan bola, dan sebagian lainnya suka sekali dengan filosofi permainan pragmatis alias yang penting menang.

Untuk beberapa manajer dalam satu musim kompetisi bukan hanya tentang memenangkan satu atau dua trofi saja. Ini semua tentang memenangkan setiap trofi yang ada, khususnya yang paling bergengsi.

Banyak trofi yang direbut, namun trofi paling bergengsi itu antara lain trofi juara liga utama domestik, juara kompetisi domestik dan trofi Liga Champions.

[irp]

Dengan tingkat persaingan yang tinggi, namun hanya sedikit manajer yang bisa menyapu bersih tiga piala paling bergengsi atau yang biasa disebut treble winners itu.

Meraih 3 gelar sekaligus dalam satu musim untuk klub merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi sebuah klub sepak bola manapun.

Tapi tahu nggak sobat VIGO, ternyata sepanjang sejarah hanya ada beberapa manajer yang berhasil meraih treble winner lho. Wah kira-kira siapa aja?

Berikut 5 manajer yang pernah meraih 3 piala sekaligus atau yang sering disebut treble winners dalam satu musim

1. Alex Ferguson – Manchester United (1999)

Manajer berkebangsaan Portugal ini dikenal sebagai pelatih yang memiliki filosofi pragmatis dalam menjalankan strategi permainan. Sering kali Jose Mourinho dituduh menggunakan taktik strategi parkir bus, lantaran menumpuk banyak pemain untuk bertahan.

Walau menerapkan strategi permainan sepak bola yang negatif, Mou harus diakui sebagai salah satu manajer terhebat di dunia. Setiap klub yang ditukanginya, selalu sukses merebut perburuan gelar juara. Namun, masa-masa paling indah manajer berjuluk The Special One itu terjadi bersama Inter Milan pada musim 2009/2010. Ketika

Ketika itu, Internazionale benar-benar luar biasa di bawah besutan Mou. Kekuatan besar mereka memang dibangun dari skema pertahanan yang tangguh. Bersama sederet pemain macam Javier Zanetti, Wesley Sneijder, Samuel Eto’o dan Diego Milito, Mourinho telah menjadi legenda hidup Nerazurri, bahkan sampai hari ini.

Jose Mourinho menangani Inter Milan pada periode 2008-2010. Pada musim terakhirnya menangani klub tersebut, Mou mengangtarkan Inter Milan menjadi Treble Winners setelah memenangi Serie A, Coppa Italia dan Liga Champions.

Pada final Liga Champions, Inter Milan menghajar Bayern Munich dengan skor 2-0 lewat gol yang dicetak Diego Milito. Menurut Mou, kondisi tersebut serupa dengan yang dilakukan Manchester United pada final Liga Europa 2017.

“Pertandingan tadi mengingatkan saya ketika masih bersama Inter Milan. Saat itu, kami tampil di final Liga Champions dan harus berhadapan dengan Bayern Munich. Sejak awal pertandingan, saya sudah merasa kalau kami akan memenanginya.”

“Kami memulai laga dengan baik dan saya bisa merasakan dari bangku cadangan kalau Manchester United memiliki kontrol atas pertandingan tadi. Tim tampil solid dan menunjukkan kecerdasan dalam menerapkan taktik pertandingan. Sejak menit pertama, saya sudah merasakan kalau kami akan keluar sebagai juara.”

“Saya puas kami bisa menjuarai tiga turnamen dalam satu musim. Mungkin bukan Treble seperti Inter Milan, namun pencapaian tersebut penting untuk masa depan tim ini. Pencapaian kami akan masuk dalam sejarah klub, skuat kami memiliki potensi yang besar untuk musim mendatang,” ujar Mourinho.

2. Jose Mourinho – Inter Milan (2010)

Manajer berkebangsaan Portugal ini dikenal sebagai pelatih yang memiliki filosofi pragmatis dalam menjalankan strategi permainan. Sering kali Jose Mourinho dituduh menggunakan taktik strategi parkir bus, lantaran menumpuk banyak pemain untuk bertahan.

Walau menerapkan strategi permainan sepak bola yang negatif, Mou harus diakui sebagai salah satu manajer terhebat di dunia. Setiap klub yang ditukanginya, selalu sukses merebut perburuan gelar juara. Namun, masa-masa paling indah manajer berjuluk The Special One itu terjadi bersama Inter Milan pada musim 2009/2010. Ketika

Ketika itu, Internazionale benar-benar luar biasa di bawah besutan Mou. Kekuatan besar mereka memang dibangun dari skema pertahanan yang tangguh. Bersama sederet pemain macam Javier Zanetti, Wesley Sneijder, Samuel Eto’o dan Diego Milito, Mourinho telah menjadi legenda hidup Nerazurri, bahkan sampai hari ini.

Jose Mourinho menangani Inter Milan pada periode 2008-2010. Pada musim terakhirnya menangani klub tersebut, Mou mengangtarkan Inter Milan menjadi Treble Winners setelah memenangi Serie A, Coppa Italia dan Liga Champions.

Pada final Liga Champions, Inter Milan menghajar Bayern Munich dengan skor 2-0 lewat gol yang dicetak Diego Milito. Menurut Mou, kondisi tersebut serupa dengan yang dilakukan Manchester United pada final Liga Europa 2017.

“Pertandingan tadi mengingatkan saya ketika masih bersama Inter Milan. Saat itu, kami tampil di final Liga Champions dan harus berhadapan dengan Bayern Munich. Sejak awal pertandingan, saya sudah merasa kalau kami akan memenanginya.”

“Kami memulai laga dengan baik dan saya bisa merasakan dari bangku cadangan kalau Manchester United memiliki kontrol atas pertandingan tadi. Tim tampil solid dan menunjukkan kecerdasan dalam menerapkan taktik pertandingan. Sejak menit pertama, saya sudah merasakan kalau kami akan keluar sebagai juara.”

“Saya puas kami bisa menjuarai tiga turnamen dalam satu musim. Mungkin bukan Treble seperti Inter Milan, namun pencapaian tersebut penting untuk masa depan tim ini. Pencapaian kami akan masuk dalam sejarah klub, skuat kami memiliki potensi yang besar untuk musim mendatang,” ujar Mourinho.

3. Jupp Heynckes – Bayern Munich (2013)

Tahun 2013 berlangsung istimewa bagi raksasa Jerman, Bayern Munich. Die Roten sukses menyabet 5 gelar sekaligus tahun ini.

Praktis, hanya gelar DFL-Super Cup atau Piala Super Jerman yang harus lepas dari genggaman. Gelar ini harus jatuh ke tangan rival, Borussia Dortmund. Sisanya, Bayern sukses menyabet gelar Bundesliga, Liga Champions, DFB-Pokal, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Bayern begitu tampil superior di Bundesliga. Di bawah asuhan Jupp Heynckes, mereka sudah memastikan gelar juara pada 27 April 2013. Kemenangan 1-0 atas SC Freiburg memastikan gelar Liga Jerman Bayern yang ke-23.

Hebatnya, hal ini sudah dipastikan di pekan ke-28 saat masih tersisa 6 pertandingan. Ini jadi rekor baru di Bundesliga.

Meski sudah memastikan gelar, Bayern tetap menunjukkan superiotasnya hingga akhir musim. Bayern mengakhiri musim dengan 91 poin dari 24 pertandingan. Mereka unggul 25 poin atas Borussia Dortmund yang menempati peringkat 2. Ini juga menjadi rekor di Bundesliga.

Bayern juga tampil digdaya di Liga Champions. Mereka memastikan gelar setelah menundukkan Borussia Dortmund 2-1 dalam partai final di Wembley, 25 Mei 2013. Ini menjadi gelar Liga Champions kelima untuk raksasa Bavaria, setelah kali terakhir merebutnya pada 2001.

Perjalanan Bayern menuju juara Liga Champions bisa dikatakan begitu istimewa. Die Roten melewati hadangan tim-tim tangguh dari mulai Arsenal, Juventus, dan Barcelona. Yang paling diingat tentu saja saat menundukkan Barca dengan agregat mencolok, 7-0 di babak semifinal. Die Roten menghajar Los Alzugranas 4-0 di Allianz Arena, lalu menang 3-0 saat berlaga di Camp Nou.

Bayern memastikan raihan treble winners usai memastikan gelar DFB-Pokal atau Piala Jerman pada 1 Juni 2013. Di final yang berlangsung di Olympiastadion Berlin, Bayern menundukkan VfB Stuttgart 3-2. Ini menjadi kado perpisahan yang manis untuk pelatih Jupp Heynckes yang memutuskan pensiun.

4. Luis Enrique – Barcelona (2015)

Satu lagi manajer berkebangsaan Spanyol selain Pep Guardiola yang pernah membawa sebuah klub meraih gelar Treble Winners. Sama-sama menukangi Barcelona, hanya saja kiprah Luis Enrique tidak mendapat apresiasi yang layak dari publik.

Pada debutnya memegang tampuk kepelatihan Blaugrana pada musim 2014/2015 menggantikan Gerardo Martino yang dipecat, Enrique berhasil menyumbang gelar juara La Liga, Copa Del Rey dan Liga Champions. Namun ketika itu, Barcelona merupakan klub terhebat. Banyak yang mengatakan, klub Catalan ini tak perlu seorang pelatih untuk membuat mereka juara.

Pendapat semacam itulah yang mengurangi perjuangan Enrique membawa Barcelona menjadi sebuah klub juara. Padahal sebelumnya, dalam sepanjang 50 pertandingan, klub yang dia besut ini menorehkan rekor 42 kali kemenangan. Rekor terbaik dari semua manajer yang pernah melatih Barca, termasuk Pep Guardiola.

Seperti dikutip dari Mister Chip, Barcelona menjadi tim ketiga di dunia yang mampu dua kali melakukan treble setelah Al-Ahly (2006 dan 2007) serta Auckland City FC (2006, 2014, dan 2015).

Hingga kini, hanya ada tujuh klub asal Eropa yang bisa melakukan treble. Selain Barcelona, ada Glasgow Celtic (1967), Ajax Amsterdam (1972), PSV Eindhoven (1988), Manchester United (1999), Inter Milan (2010), dan Bayern Munich (2013).

Pelatih Luis Enrique berhasil menyamai rekor Guardiola yang langsung mempersembahkan treble di musim pertamanya bersama Barcelona.

Enrique juga menjadi pelatih asal Spanyol keempat yang berhasil meraih gelar Liga Champions, dan yang kedua bersama Barcelona setelah Guardiola

5. Pep Guardiola – Barcelona dan Manchester City (2009 & 2019)

Josep ‘Pep’ Guardiola Sala merupakan salah satu seorang manajer terbaik di dunia. Soalnya, dia memenangkan gelar treble winner dengan gaya. Bersama Barcelona musim 2008/2009, Pep mengangkat permainan total football menjadi lebih enak untuk ditonton.

Di bawah besutannya, gaya ball posession ala total football tak lagi sama. Tiki-taka, begitu gaya permainan Barca disebut, sukses membuat klub yang bermarkas di Nou Camp itu merebut tiga piala mayor yaitu La Liga, Copa Del Rey dan Liga Champions.

Faktanya lagi, gelar treble winner itu diikuti tiga gelar lainnya seperti Piala Super Spanyol, Piala Super UEFA dan Piala Dunia Antarklub. Ketika itu, enam gelar Barca itu disebut Sextuple.

Setelah memenangkan gelar sextuple itu, Blaugrana menunjukkan grafik prestasi yang menurun. Walau demikian, Barcelona tahun 2009 itu merupakan fenomena di jagat sepak bola.

Setelah satu dekade, Pep Guardiola mencetak rekor treble winners kembali. Manchester City mengukir sejarah baru setelah menjuarai Piala FA di Stadion Wembley, London, Minggu (19/5/2019) dini hari WIB. Ini kali pertama tim Inggris meraih treble gelar domestik.

City berhasil merengkuh tiga titel pada musim ini. Uniknya semua diraih di level domestik. Selain jadi kampiun Piala FA, The Citizen juga berstatus juara Premier League dan Carabao Cup (Piala Liga Inggris).

Gelar treble dipastikan setelah City tampil superior atas Watford pada laga puncak. Tim besutan Pep Guardiola berhasil menggelontorkan enam gol tanpa balas ke gawang Watford. Mereka tak terbendung menuju trofi Piala FA.

Kapten Manchester City girang bukan kepalang setelah memastikan gelar Piala FA. Dia melabeli The Citizen sebagai tim terbaik di dunia.

“Klub luar biasa. Sebuah keistimewaan (berada di City),” kata Kompany kepada BBC Sport.

“Ini semua berawal dari manajer. Dia membuat standar pada awal musim dan mengatakan kami harus membukukan back to back gelar (Premier League). Ini tim terbaik dunia menurut saya. Kami memasang standar tinggi begitu lama, bukan hanya satu tahun, tapi sudah dua tahun sekarang,” imbuh Kompany.

Exit mobile version