
5 Fakta Pemain Kutu Loncat di Sepakbola Indonesia
- Rapael Maitimo (18 Tim)

Raphael Maitimo memuncaki daftar teratas sebagai pemain yang kerap berganti klub. Pemain jebolan akademi Feyenoord Rotterdam ini pernah memperkuat 18 tim di berbagai Negara macam Belanda, China hingga Indonesia. Ia banyak menghabiskan karir di tanah air dan memperoleh status sebagai WNI. Meski kerap berganti klub, Maitimo belum pernah sekalipun mendulang gelar prestis dalam karir sepakbolanya
Maitimo pertama kali mendarat di Indonesia pada 2011 dan memperkuat Bali Devata yang kala itu mentas di Indonesia Premier League. Setelahnya, ia banyak berganti klub. Bahkan, ia pernah memperkuat empat tim yang punya rivalitas sengit macam Persija Jakarta, Persib Bandung, Arema FC dan Persebaya Surabaya. Saat ini, sang pemain tengah mentas di Persita Tangerang.
- Hamka Hamzah (15 Tim)

Hamka Hamzah tercatat sudah 15 kali memperkuat tim berbeda di Indonesia dan Malaysia. Pemain yang memulai karir profesionalnya bersama PSM Makassar saat ini memperkuat tim anyar baru milik Raffi Ahmad dan kolega, Rans Cilegon FC.
Baca Juga:
Seperti Maitimo, meski kerap berpindah klub, Hamka belum sekalipun memberikan gelar bagi tim-tim yang ia perkuat. Pemain yang sempat main di Malaysia sejatinya hampir memberikan gelar untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2010 lalu. Namun sayang, di partai pamugkas, Timnas harus keok dari Malaysia.
- Oktavianus Maniani (15 Tim)

Dibandingkan pemain lain yang ada dalam daftar, Okto Maniani menjadi pemain termuda lantaran baru berusa 30 tahun. Namun reputasinya sebagai kutu loncat tak perlu diragukan lagi. Pemain asal Raja Ampat tercatat sudah 15 kali berganti tim.
Dalam karir sepakbolanya, Okto memang kerap berulah dan berlaku indisipliner. Bahkan, ia pernah menusuk perut wasit dengan bendera corner. Hal tersebut berbuah larangan tampil selama enam bulan dari PSSI. Soal perilaku Okto yang ugal-ugalan pun pernah diungkapkan oleh mantan pelatih Timnas, Alfred Riedl yang tak memanggil namanya di Piala AFF 2012 lalu.
“Dia (Okto) selalu bermasalah, saya berkali-kali mengingatkan dia masalah disiplin, tapi tak pernah didengar. Dalam sepak bola, bakat besar tidaklah cukup, olahraga ini butuh kerja tim,” begitu kata Riedl.













