Obrolan Vigo: Diogo Jota, Si Bocah Kalem dari Massarelos

Irman Maulana - Juli 4, 2025
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Vivagoal – Berita Bola – Ucapannya tidak se-bombastis Zlatan Ibrahimovic, permainannya tak se-ganas Gennaro Gattusso. Tapi, sosok kalem dari seorang Diogo Jota, kerap  membuatnya jadi juru selamat tim-tim yang Ia bela, di level klub maupun internasional.

Diogo Jose Teixeira da Silva atau yang lebih dikenal dengan nama Diogo Jota, lahir di Massarelos, Porto, pada 4 Desember 1996. Ia barangkali bukan nama yang secepat kilat menyedot perhatian dunia seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi ataupun Neymar.

Namun, Jota diibaratkan seperti arus sungai Douro, yang mengalir tenang tapi pasti, lalu melintasi kampung halamannya di Massarelos. Ia menunjukkan bahwa ketenangan tak selalu berarti lambat, dan kesunyian tidak berarti kosong.

Ada ketekunan yang Ia dipupuk. Ada semangat yang disimpan dalam-dalam, menunggu waktu untuk meledak di panggung terbesar sepak bola dunia. Perjalanan Jota tidak lah sensasional, melainkan lebih kepada sentimental.

Resmi Berseragam Liverpool, Diogo Jota Ingin Curi Ilmu dari Trio Firmansah
Sumber: Daily Mirror

Jota bukan hasil dari akademi raksasa macam Benfica atau Sporting CP, tapi muncul dari klub kecil bernama Gondomar SC. Disana lah, pada usia yang belum genap sepuluh tahun, Jota mulai meniti jalan panjang yang di kemudian hari membawanya ke Anfield, stadion bersejarah di utara Inggris.

Melangkah ke akademi Pacos de Ferreira di usia remaja, tak banyak yang menduga bocah pemalu ini akan menembus level profesional begitu cepat. Salah satu Pepatah Portugal berbunyi: “Quem espera sempre alcanca” yang berarti, “siapa yang menanti dengan sabar, Ia akan mencapai tujuannya”. Jadi gambaran kiprah Jota bersama tim profesional pertamanya itu di dunia sepakbola.

Debut di musim 2014/15, Jota mencetak empat gol, lalu meningkat menjadi 12 gol pada musim berikutnya untuk Pacos de Ferreira. Mata-mata dari Eropa pun mulai melirik bakat dan potensi yang dimiliki oleh seorang Jota, termasuk raksasa Negeri Matador, Atletico Madrid.

Namun, karier di bawah komando Diego Simeone tidak pernah benar-benar dimulai. Ia bahkan tak sempat mencicipi satu menit pun berseragam Los Rojiblancos di pertandingan resmi sejak tiba di Ibukota Madrid tahun 2016 dengan biaya 7 juta euro.

Tapi inilah titik menarik dari perjalanan Jota. Dia tak jatuh, namun justru mampu melompat lebih jauh. Dipinjamkan ke FC Porto, lalu merapat bersama Wolverhampton Wanderers, Jota seperti sedang menyusun puzzle dalam karirnya sendiri

Setiap potongan klub adalah bagian dari gambaran utuh yang akhirnya menampilkan seorang penyerang komplet. Di wilayah barat tengah Inggris itulah nama Jota mulai bersinar terang benderang.


Baca Juga:


Di bawah arahan Nuno Espírito Santo, Jota menjadi bagian dari proyek ambisius Wolves yang diisi oleh banyak talenta-talenta asal Portugal. Musim 2018/2019, Jota memang “hanya” mencetak sembilan gol dan lima assists di Premier League.

Tapi identitas pada seorang Jota sudah mulai tertancap pada para penikmat sepakbola Britania Raya. Ia diperhitungkan bukan hanya sebagai pemain cepat, tapi juga cerdas di atas lapangan hijau.

Gaya bermainnya mencerminkan gabungan antara insting pembunuh ala penyerang tengah dan mobilitas khas penyerang sayap modern. Diogo Jota tak butuh banyak gaya. Hanya butuh ruang, dan bola akan segera menemukan jalannya ke jaring.

Liverpool Jeblok, Diogo Jota Sedih Tak Bisa Membantu
Diogo Jota, Foto: dok 90min

Lalu datanglah Jurgen Klopp, yang tengah menangani Liverpool di tahun 2020. Ia membutuhkan pelapis, bahkan pesaing, bagi trio tersohor milik The Reds, Sadio Mane, Roberto Firmino, dan Mohamed Salah. 

Tak banyak yang mengira bahwa pemain yang dibeli seharga 44,7 juta euro itu, akan langsung nyetel di sistem pressing ketat khas Klopp. Tapi Jota, seperti biasa, menjawab keraguan dengan kerja sunyi dan efektivitas luar biasa.

Musim pertamanya di Liverpool seolah menjadi perkenalan sempurna, terutama bagi para pendukung The Reds. Ia mampu mencetak 13 gol di semua kompetisi, termasuk torehan hattrick menawan ke gawang Atalanta di ajang Liga Champions.

Porto vs Liverpool: Klopp Pilih Andalkan Diogo Jota
Diogo Jota, Foto: dok Goal Indonesia

Statistik debut Jota di Liverpool memang berbicara. Tapi lebih dari itu, Jota menyatu dengan mentalitas Merseyside Merah bersama Klopp. Keras kepala, pantang menyerah, dan selalu berlari sampai peluit akhir berbunyi.

Musim demi musim, Jota berkembang menjadi pemain penting, bukan sekadar pelapis. Bahkan di tengah badai cedera yang menerpa skuat The Reds, Ia berkali-kali menjadi penentu. Musim 2021/2022 menjadi tonggak penting dalam karir Jota di Liverpool.

Ia mencetak total 21 gol di semua ajang, membuatnya masuk sebagai pemain Liverpool paling tajam, dan hanya kalah dari Mo Salah. Klopp, yang cukup jarang memberikan pujian, menggambarkan Jota sebagai monster dalam kotak penalti, meski posturnya tidak begitu besar.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Vivagoal (@vivagoal)

Hal yang membuat Jota semakin menarik adalah karena sebagai penyerang, Ia bukan hanya mengandalkan kecepatan atau insting. Jota punya visi, penempatan posisi yang brilian, dan keberanian menusuk ruang sempit. 

Seperti pemain catur yang tahu kapan harus menyerang, Ia membaca permainan, mencari celah, dan menghukum lawan. Dalam konteks sepak bola modern yang semakin mengandalkan statistik dan data, Jota adalah manifestasi dari efisiensi. Ia bukan yang paling mencolok, tapi selalu menyala saat dibutuhkan.

Di luar lapangan, Ia tetap seperti Jota yang tak pernah berubah, tenang, tidak banyak bicara, dan menjauhi sorotan. Bahkan saat mencetak gol, ekspresinya tak jarang selalu datar, seolah-olah mengatakan, bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kejaiban, melainkan sudah kewajiban.

Namun justru dari ketenangan itulah muncul kekuatan. Ia bukan pemain untuk satu sorotan besar saja di media sosial. Jota adalah pemain untuk sembilan puluh menit penuh, pekan demi pekan, dan musim demi musim.

Tahun 2025, Jota menginjak usia 29 tahun, dengan raihan berbagai gelar bergengsi, baik bersama Liverpool maupun Timnas Portugal. Trofi Liga Inggris untuk Liverpool dan UEFA Nations League di Timnas Portugal, jadi persembahan terakhir Jota sebagai aktor lapangan hijau.

Tapi jauh dari itu semua, Jota merupakan pria kalem, yang sangat melekat bagi orang disekitarnya. Kepergiannya sangat ditangisi dan disesali, bukan cuma pendukung Liverpool tapi semua orang yang mengenal Jota.


Baca Juga:


Lewat akun instagram pribadinya, Klopp berkata: “Diogo bukan hanya pemain yang fantastis, tetapi juga teman yang baik, suami dan ayah yang penuh kasih serta perhatian! Kami akan sangat merindukanmu!

Jika karier sepak bola adalah buku, maka Diogo Jota menulisnya dengan pena kesabaran, tinta kerja keras, disertai halaman-halaman penuh kejutan. Jota bukan judul utama di setiap berita, tapi Ia adalah alasan di balik banyak kemenangan.

Dalam dunia sepak bola yang sering terobsesi pada kemegahan dan label bintang, Jota mengajarkan satu hal, bahwa kerja diam-diam, jika dilakukan dengan sepenuh hati, akan terdengar paling lantang pada akhirnya.

‘He is our lad from Portugal, better than Figo, don’t you know. Oh his name is Diogoal!’

Rest in Piece, Diogo

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com