Vivagoal One on One: Sepak Bola Ditengah Pandemi

0
37
Vivagoal One on One

Vivagoal – Liga Indonesia – Pandemi corona berdampak langsung ke semua lini kehidupan termasuk sepak bola. Deretan liga top Eropa, Shopee Liga 1, hingga Bandung Premier League terpaksa ditangguhkan. 

Vivagoal berkesempatan berbincang langsung dengan Doni Setiabudi, CEO BPL. Dia mengisahkan dampak yang diterimanya dari corona yang mewabah di seluruh dunia.

Bukan saja kerugian secara ekonomi yang ditimbulkan. Pria yang akrab disapa Jalu itu memprediksi euforia di dunia sepak bola bakal berlipat ganda.

Berikut wawancara Vivagoal bersama Jalu dalam program Vivagoal One on One beberapa waktu lalu:

Apa  dampak yang dirasakan Bandung Premier League sejak pandemi corona?

Liga 2 BPL dan gelaran Liga U-16 masih tertunda. Tapi mau gimana lagi, saya juga habis meeting dengan salah satu sponsor, jadi memang situasinya yang tidak memungkinan dan membuat semuanya harus pending.

Tapi yang pasti kalo di BPL itu, saya sedang berusaha bisa live di Tv nasional. Karenanya sih setau saya belum pernah ada liga amatir di TV. Tapi kan liga amatir ini adalah sesuatu yang berbeda. Permasalahannya apakah rating TV itu bisa baik atau tidak, kita juga belum tau. Tapi kan setidaknya kita coba dulu.

Bagaimana mengatasi kerugian yang muncul?

Sebetulnya dalam kerjasama kita dengan soponsor, ada klausul force major. Meski begitu, operator pasti rugi dengan situasi seperti ini. Karena kan pembayaran sponsorship itu di akhir, jadi dengan keadaan ini kerugian yang cukup besar  memang kami rasakan.

Tapi ya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisinya seperti ini. Jadi kita anggap kejadian luar biasa yang tidak diprediksi

Perubahan apa yang bakal terjadi kira-kira setelah pandemi berakhir?

Orang pasti berbondong-bondong ingin main bola, sudah tiga minggu orang-orang tidak bisa main bola. Kondisinya pasti akan lebh meriah dan pasti ada hikmahnya.


Baca Juga:


 PSSI melakukan pemotongan gaji dan penangguhan liga, bagaimana menurut Anda sebagai pengamat?

Sebetulnya, hampir di seluruh dunia, seluruh pemain bola dapat pemotongan gaji. Tapi yang jadi masalah adalah besaran pemotongan. Ketika PSSI melakukan pomotongan 75 persen dan maksimal yang dibayarkan 25 persen, yng jadi masalah, pemain tidak ikut serta dilibatkan saat pengambilan keputusan.

Kalo mereka dilibatkan contohnya APPI, mungkin tidak akan jadi masalah. Kalo soal besaran, ketika bicara  force major, saat klub tak membayar pun tidak jadi masalah. Dalam hal ini, kontrak pasti batal, maka diambil jalan tengah yang bakal menguntungkan semua pihak.

25 persen itu kan kecil sekali?

Tapi kalo 25 persen dikali jumlah team, pasti untuk klub akan berat di keadaan seperti ini. Makannya harus dicari win-win solution. Juga, pemain bola di Indonesia kan hari ini bisa mencari income lain, mungkin bisa endorse, atau bisa bikin wawancara dengan vivagoal, tapi kita sekarang harus sabar karena kondisi seperti ini. Tapi saya pikir kondisi tidak akan lama dan bakal segera normal. Karena saya juga sudah rindu lapangan bola.

Kira-Kira berapa kerugian klub sebenarnya ketika liga ditunda?

Kalo klub, kerugian pasti bisa minimal, karena kalo masalah sponsor mereka pasti dapat dari sebelum-sebelumnya. Juga kan pasti ada Down Payment, kalo lihat contoh kerjasama sebetulnya tidak ada kerugian di kacamata saya.

Untuk gaji pemain pasti sudah diperhitungkan di neraca, tapi  dengan situasi ini kan pemasukan mungkin saja berkurang dari hak siar dan ticketing. Tapi semua balik lagi ke faktor ekonomi, kalo rugi pasti teriak-teriak, kalo untung diem-diem aja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here