Tag: Vivagoal One on One

Vivagoal One on One: Perjuangan Rani Mulyasari Menjadi Pivot Terbaik Tanah Air

Vivagoal – Liga Indonesia –  Jadi pemain sepak bola putri di Indoensia jelas bukan hal mudah. Meski belum terlalu populer, tapi beberapa nama mencuat jadi pesepakbola putri terbaik, termasuk Rani Mulyasari. 

Dalam perbincangannya bersama vivagoal, Rani berkisah banyak menyoal perjalanan kariernya. Faktor keluarga berperan besar dalam mengantarnya menjadi pesepakbola putri profesional.

“Jadi dulu itu bapak aku sangat suka dengan sepak bola, dia ingin salah satu anaknya menjadi pesepakbola. Kebetulan saya suka ikut bapak saya main sepak bola,” kata Rani dalam wawancara Vivagoal One on One. 

Di dunia futsal putri, pengalaman Rani tak perlu diragukan lagi. Beberapa klub elit futsal putri pernah dibelanya, bahkan hingga ke luar negeri. Dimana dia tercatat pernah membela Immigration Club di Maladewa.


Baca Juga:


Karenanya, tak aneh bila dia saat ini memegang titel sebagai pivot putri terbaik tanah air. Padahal menurut Rani, bermain sebagai seorang pivot dimulai karena ketidaksengajaan.

“Saya sebenarnya kalo di timnas siap ditempatkan di posisi apa aja. Tapi karena sering jadi topskor, jadi saya sering dipasang sebagai pivot.

“Karena lama kelamaan biasa dipasang menjadi pivot, bisa jadi insting sebagai pemain depan terus terasah. Apalagi intinya kita selalu didorong untuk punya finsihing touch yang baik,” tambah Rani Mulyasari.

Selalu update berita terbaru seputar  Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Vivagoal One on One: Lebih Dekat dengan Suryo Agung, Usain Bolt Versi Indonesia

Vivagoal – Liga Indonesia –  Sebelum era Lalu Muhammad Zohri, Indonesia punya Suryo Agung Wibowo. Dia bahkan sempat memegang rekor sebagai manusia tercepat di tanah air.

Catatan kariernya mengingatkan kita pada Usain Bolt. Selain sukses sebagai pelari, dia juga sempat mencoba peruntungan sebagai pemain bola di Liga Australia bersama Central Coast Marine.

Mirip dengan Bolt, usai sukses sebagai pelari, Suryo sempat melanjutkan karier sebagai pesepakbola. Dia tercatat pernah membela panji Persikab Kabupaten Bandung.

Kabar menyebut dia sempat menjadi player-manajer di Laskar Dalem Bandung. Sayang, sepak terjangnya di dunia olah bola tak sehebat saat dirinya menjadi sprinter nasional.

Lalu apa kabar dengan Suryo Agung? Apa kesibukannya setelah berhenti dari sepak bola dan tak lagi menjadi sprinter.


Baca Juga: 


Vivagoal kali ini berkesempatan untuk berbincang dengan Suryo Agung secara langsung di program Vivagoal One on One. Rencana bakal disiarkan langsung melalui instagram vivagoal pada Kamis (6/8/2020) malam WIB.

Selalu update berita terbaru seputar  Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Vivagoal One on One: Pemain Persija Putri Gak Boleh Manja

Vivagoal – Liga Indonesia –  Beberapa waktu lalu, Vivagoal berkesempatan berbincang dengan salah satu pemain andalan Persija Putri, Basia Putri. Dalam kesempatan itu dia berkisah banyak soal perhelatan Liga 1 Putri pertama di tanah air.

Bertanding di panas terik dengan jadwal superketat menjadi makanan srikandi Macan Kemayoran. Basia bahkan sempat tumbang karena ketatnya pertandingan.

Pemain yang dikenal mengidolakan Cristiano Ronaldo itu juga turut berkisah soal perjalanan kariernya. Dari mulai SSB, nilainya berantakan dan harus rela turun di lapangan futsal hingga membela panji UPH.

Seiring berjalannya waktu, Basia lantas mendapat kesempatan untuk membela klub elit Indonesia, Persija Jakarta. Berikut petikan wawancara Vivagoal bersama Basia Putri eksklusif di Vivagoal One on One:

Ceritain dong gimana kamu mulai karier professional?

Dimulai dari SSB Liverpool, tapi karena kurang belajar dan sama mama di stop, jadi wakut itu aku Cuma fitsal sampe SMA bahkan kuliah. Di UPH juga aku masih main dan ikut LIMA dan disitu titik baliknya hingga terjun ke bola.

Pengalaman berkesan selama di LIMA?

Aku gapernah cedera parah dari dulu. Nah baru di LIMA 2018, itu pertama kali cedera sewaktu lawan UI. Disitu aku cedera angkle kanan, samp esekarang beberapa kali kena.


Baca Juga:


Dikenal punya tendangan keras, gimana caranya bisa punya tendangan kayak gitu?

Aku ngefans banget sama Cristiano Ronaldo, dan dia kan terkenal dengan tendangan bebasnya. Jadi aku suka merhatiin bagaimana dia ambil tendangan. Meski aku jarang latihan tendangan bebas, tapi aku rutin untuk latihan shooting.

Perasaan kamu saat main di Liga 1 Putri pertama bersama Persija?

Beda banget sama main di turnamen, kaya “gila ya gue bisa main liga” selain seneng juga, takut, takut salah, takut dimarahin pelatih. Campur aduk lah. Tapi aku suka banget sama atmosfernya dan supporternya.

Sebesar apa peran The Jak buat Persija Putri?

Mereka benar-benar support sebagai salah satu supporter terbesar. Mereka niat,  bahkan pas series pertama di Jogjakarta mereka ada kali 200 orang dukung langsung ke stadion, dimana ada beberapa yang bela-belain datang dari Jakarta.

Waktu itu rame lawan Persib, sempet rusuh juga dan pertandingan harus berhenti.  Makannya setelah kejadian itu semua klub dilarang didukung oleh supporternya masing-masing terutama Persib dan Persija.

Ada Kritik atau Saran gak untuk Liga 1 Putri?

Kemarin kan baru yang pertama kalinya, jadi masih banyak miss komunikasi antar panitia sebenarnya. Dari hal kecil, missal aku mau masuk ke stadion aja harus muter-muter. Harusnya hal-hal macam itu memang perlu diperbaiki. Juga masalah waktu pertandingan mungkin bisa dibuat lebih efektif.

Kala itu, ditengah jadwal yang padat, banyak yang  cedera ga sih?

Banyak banget, aku sama Devi itu di seri 4 ngedrop, kita sakit panas dingin. Bukan cedera tapi memang karena kecapekan. Nah biasanya setiap seri pasti ada yang sakit dari seri 2.

Selengkapnya, ikuti perbincangan kami bersama Basia Putri di platform podcast kesayangan Anda. Atau, klik tautan di bawah ini. 

Selalu update berita terbaru seputar  Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Vivagoal One on One Bersama Kiper Bertalenta Tanah Air: Dikri Yusron

Vivagoal – Liga Indonesia   Meski banyak merasakan asam garam kompetisi, Dikri Yusron Afafa memang belum banyak dikenal publik. Tapi demikian, talenta dan bakat si pemain tak bisa dipandang sebelah mata. 

Sebagai kiper muda, sepak terjang Dikri sejatinya patut diacuingi jempol. Beberapa klub besar di Indonesia macam Persib, Persela dan Sriwijaya pernah dibelanya.

Sejak musim lalu, Dikri memutuskan untuk hijrah ke Badak Lampung FC. Klub berjuluk Laskar Saburai itu mendatangkannya pada musim lalu usai si pemain habis kontrak bersama Sriwijaya FC.

Pepatah sunda berbunyi buruk-buruk papan jati nampak pantas menggambarkan sepak terjangnya di dunia olah bola. Meski tak setenar kiper-kiper lain, tapi Dikri bukanlah pemain miskin prestasi.

Berkat kerja kerasnya, beberapa tahun lalu, tepatnya saat berseragam Persela Lamongan, Dikri mengukir prestasi sebagai kiper muda. Kala itu, dia mengantar Persela U-21 naik podium dengan menyabet juara tiga ISC U-21.


Baca Juga: 


Tampl imprsif di fase grup, Persela muda tampil beringas kala menembus semi final, sayang harapan menginjakan kaki di partai puncak pupus setelah mereka takluk 4-3 oleh Bali United. Di perebutan tempat ketiga menjamu Borneo, Persela berhasil mengunci gelar dengan menundukan Pesut Etam 3-1.


Selengkapnya, Vivagoal akan berbincang dengan Dikri Yusron Afafa pada Kamis (16/7/2020) pukul 18:30 WIB. Wawancara bersama si pemain bakal disiarkan langung melalui instagram @vivagoal.

Selalu update berita terbaru seputar  Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Vivagoal One on One Bersama Pilar Persita, Miftah Anwar Sani

Vivagoal – Liga Indonesia –  Setelah kedatangan banyak tokoh sepak bola nasional dalam program Vivagaol One on One, pekan ini Vivagoal kembali menyajikan tayangan wawancara live melalui instagram bersama salah satu pilar Persita Tangareng di Shopee Liga 1 2020.

Miftah Anwar Sani, memastikan diri untuk hadir di Vivagoal One on One yang akan ditayangkan pada Kamis (8/8/2020) pukul 18:30 WIB. Miftah bakal buka-bukaan menyoal perjalanan kariernya di sepak bola Indonesia.

Miftah sendiri telah banyak merasakan asam garam kompetisi. Memulai karier profesionalnya bersama PS-TNI,  sebagai pemain muda, dirinya harus rela dipinjamkan terlebih dahulu.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, Miftah dipercaya mengawal lini pertahanan Badak Lampung FC. Meski pada akhirnya BLFC terdegradasi, tapi Miftah tetap bertahan di Liga 1 setelah direkrut tim promosi, Persita Tangerang.


Baca Juga:


Selain aktif sebagai pemain sepak bola professional, Miftah juga merupakan anggota TNI aktif. Dimana dirinya menambah panjang anggota aktif TNI yang turut meramaikan pesepakbolaan Indonesia.

Karenanya, untuk mengetahui sepak terjang Miftah Anwar Sani, saksikan Vivagoal One on One bersama sang pemain live di Instagram Vivagoal.

Selalu update berita terbaru seputar  Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Vivagoal One on One: Sepak Bola Tanah Air Pasca Pandemi

Vivagoal – Liga Indonesia –  Sejak maret lalu, Shoppe Liga 1 dan seluruh kompetisi di tanah air harus ditangguhkan karena alasan keasehatan.

Seiring membaiknya situasi, harapan untuk  memulai kembali kompetisi menyeruak. PSSI dan otoritas sepak bola Indonesia berusaha keras menyiapkan beragam protokol yang dibutuhkan demi sepak bola bergulir kembali.

Beragam rumor lantas bermunculan, sebagian pihak menyebut September jadi waktu yang tepat untuk memulai kembali sepak bola. Ada juga yang tegas menyebut Juli mendatang, olah raga luar ruangan termasuk sepak bola sudah bisa kembali dimulai.

Di sisi lain, dari klub peserta, beragam opini bermunculan. Ada yang secara gamblang meminta kompetisi dilanjutkan, diubah format hingga musim ini dihentikan.


Baca Juga:


Tentu banyak faktor yang perlu diperhatikan pemegang kepentingan sebelum mengambil keputusan. Sisi ekonomi, kesehatan, sampai prestasi Tim Nasional jadi bahan pertimbangan.

Menanggapi situasi ini, Vivagoal akan berbincang dengan Akmal Marhali dari Save Our Soccer, soal kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada sepak bola pasca pandemi.  Rencananya, Akmal akan hadir di Vivagoal One on One pada Kamis (18/6/2020) pukul 18:30 WIB di Instagram Vivagoal.

 Selalu update berita terbaru seputar  Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Begini Cara Menjadi PES Player Handal Ala RajaBadut Paudie

Vivagoal – IGL – Indonesia banyak menghasikan pro player PES berbakat. Beberapa nama sukses catatkan prestasi di kancah Asia maupun internasional. Salah satunya yakni Akbar Paudie. Player asal Gorontalo terbilang salah satu pro player PES yang lumayan disegani.

Paudie, yang kini tergabung dalam tim RajaBadut Esports mengaku sudah menjadi profesionalplayer sejak tiga tahun lalu. Menukil ungkapan Kenny Prasetyo yang notabene rekan setimnya, yang membedakan pro player dengan pemain biasa yakni pro player digaji untuk bermain game sementara gamers biasa tidak.

Pasca menjadi pro player, Paudie sukses mendulang berbagai gelar di kancah domestik maupun Asean. Terakhir di tahun kemarin, ia sukses menjadi juara kompetisi PES di Malaysia dan di kancah domestik, ia menjadi juara di Vivagoal PES Challenge Hal tersebut bahkan dilakukannya secara back to back.

Dengan segenap prestasi yang direngkuhnya, Paudie tak segan menganalisa serta membagikan tips kepada PES player yang hendak menjadi seorang profesional di bidangnya.

“Kalau saya lihat, pemain PES biasa bermain game untuk fun. Sementara pro player fokusnya berbeda. Dari cara main juga sudah terlihat. Mereka yang bukan pro biasanya selalu mendistribusikan bola dengan cepat ke depan sementara pro lebih perlahan dan penuh perhitungan,” ungkap Paudie dalam wawancara Live Instagram One on One Vivagoal beberapa waktu lalu.


Baca Juga:


Selain perbedaan cara bermain, Paudie juga menyarankan PES player untuk banyak latihan dan mempelajari taktikbermain lawan dan tidak gegabah dalam menentukan keputusan. Ia bahan menyarankan untuk player menjalani latihan online guna mempelajari delay yang mungkin saja terjadi di tengah laga.

Terkait lawan tersulit, Paudie mengaku sosok Rizky Faidan menjadi kompetitor beratnya. Ia merasa player asal Jawa Barat dan dirinya bersaing secara ketat guna membuktikan diri sebagai yang terbaik di game besutan Konami itu. “Saya dan Rizky selalu gentian menjadi juara. Kadang juara satu saya, dia juara dua. Sebaliknya. Selain Rizky ada beberapa nama lain juga yang lumayan merepotkan,” ungkapnya.

Di tengah pandemic Corona seperti saat ini, Paudie juga terkena imbas. Sejatinya, player asal Sulawesi mengaku sudah menjalin komunikasi dengan kontestan Thai e-League Pro. Namun lantaran pandemic pembicaraan kontrak terpaksa ditunda.

Sekedar catatan, Thai e-League Pro merupakan kompetisi game esports bergenre sepakbola yang melibatkan tim Liga 1 Thailand dengan menggunakan game Pro Evolution Soccer (PES). Dalam kompetisi tersebut, tercatat ada sekitar 7 pemain asal Indonesia yang berkiprah termasuk Rizky Faidan dan Rizal “Ivander” Danyarta.

Kabar terbaru menyebutkan jika Thai e-League Pro putaran kedua bakal kembali dihelat pasca pandemi Corona pada 23 Mei mendatang dengan skema online di gamehouse masing-masing tim.

Jangan lupa mengikuti update terkini seputar turnamen FIFA 20, Efootball PES 2020 dan FUT CUP di Indonesia Gaming League (IGL) Season 2, untuk informasi lebih lanjut, silahkan follow akun resmi Instagram IGL  dan download aplikasinya di Google Play atau App Store

Selalu update berita terbaru seputar Indonesia Gaming League hanya di vivagoal.com

Membedah Masa Depan Timnas Bersama Indra Sjafri

Vivagoal – Liga Indonesia –  Tujuh tahun silam, nama Indra Sjafri tiba-tiba mendadak jadi bahan perbincangan. Tangan dinginnya mengantarkan Tim Nasional Indonesia menjuarai AFF Cup U-19.

Dia terus dielu-elukan bahkan setelah turnamen, penampilan apik skuad Garuda Jaya kala itu membuat Indra dinilai sukses oleh banyak kalangan. Apalagi setelah Evan Dimas dkk mencukur habis Korea Selatan di SUGBK dalam kualifikasi Piala Asia U-19.

Setelahnya, Indra menjadi salah satu nama yang diperhitungkan di kancah sepak bola nasional. Namanya langsung masuk ke dalam daftar pelatih elit Indonesia, di empat tahun belakangan ini dia bahkan selalu naik podium dengan Timnas U-19 dan U-22.

Paling diingat tentu saat memboyong Piala AFF U-22 pada 2019 dan terbaru medali di SEA Games . Sebagian beranggapan, kejelian Indra meramu strategi membuat Indonesia setidaknya bisa melepas dahaga gelar bersama Tim Nasional.

Usai Sea Games, peta kepelatihan Timnas sedikit berubah dengan hadirnya Shin Tae-Yong. Sempat menempati posisi sebagai assisten, posisi lantas menjadi direktur teknik Timnas.

Kabar menyebut Indra berselisih dengan Shin Tae-Yong hingga dia pada akhirnya harus menanggalkan posisinya di Timnas U-23.  Sebaliknya, Indra membantah hal tersebut mempermasalhkan penempatan dirinya sebagai direktur teknik Timnas menggantikan Danur Windo.

“Tidak usah diperdebatkan lagi. Saya tidak pernah berselisih dengan pelatih Shin. Biarkan Shin bekerja dengan nyaman dan tenang. Mudah-mudahan apa yang ditargetkan PSSI bisa tercapai dan saya dukung seribu persen.


Baca Juga: 


“Ini menjadi proses tambahan bagi saya untuk bisa memahami sepak bola secara utuh. Setelah lama di lapangan, saya pikir ini pekerjaan yang sangat menantang dan saya suka,” ujar Indra Sjafri dikutip dari Tempo.

Selama bertugas untuk merah putih banyak hal yang sukses diraih oleh pelatih asal Padang tersebut. Kini, Vivagoal berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Indra Sjafri untuk membahas masa depan sepak bola Indonesia melalui kanal Live Instagram (@vivagoal) pada Jum’at (15/5/2020) pukul  20.00 WIB.

Selalu update berita terbaru seputar  Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Shalika Aurelia: Perjuangan Menembus Tim Nasional Indonesia

Vivagoal – Liga Indonesia – Shalika Auriela berkisah soal perjalanannya menjadi pesepak bola wanita professional.  Bek Timnas Indonesia ini nyatanya punya perjalanan panjang untuk menggapai mimpinya

Sempat mendapat tantangan dari lingkungan terdekat, Shalika berusaha keras untuk menjawab semua keraguan. Latihan keras didorong doa tanpa henti, dia akhirnya mampu membayar keraguan lewat prestasi.

Bukan cuma di dalam negeri, kemampuannya mengolah si kulit bundar mengantarnya ke negara-negara yang syarat akan sejarah sepak bola wanita. Amerika dan Inggris dia jajaki untuk terus mengembangkan bakatnya.

Seiring berkembangnya kemampuan Shalika, dirinya lantas dipanggil Tim Nasional Wanita Indonesia. Rasa haru, bangga dan XXX dirasakan saat membela panji merah putih.

Vivagoal berhasil mewawancarai Shalika Aurelia menyoal sepak terjangnya di dunia olah bola. Berikut petikan wawancara kami dengan Shalika dalam Vivagoal Live One on One beberapa waktu lalu:

Sejak kapan kamu mulai menekuni dunia sepak bola?

Alasan aku pakai nomor punggung 4 itu soalnya aku sudah mulai main sepak bola saat aku umur 4 tahun. Kalo pertama kali debut di Timnas, itu ada di umur 14 tahun.

Selama menggeluti dunia sepakbola, sempat ada penolakankah dari orang terdekat?

Pernah ditentang orang tua karena dulu sempat sulit mencari klub khusus untuk cewek. Jadi aku sempat menekuni golf, tapi akhirnya dapet cara lagi untuk kembali ke sepak bola. Tapatnya saat aku umur 12-14 tahun.


Baca Juga: 


Wanita bermain sepak bola terkadang masih dianggap hal taboo. Bagaimana menurut kamu?

Semua orang itu punya kebebasan dan pilihan sendiri, yang penting  selama apa yang dipilih tidak merugikan orang lain, menurut aku itu gak apa-apa. Aku sendiri bisa menginspirasi banyak orang lewat sepak bola dan aku senang dan itu hal yang baik bukan hal buruk.

Punya banyak saudara cowok, tanggapan mereka setelah kamu jadi pemain bola beneran apa?

Awal suka main bola juga awalnya memang gara-gara saudar cowok aku. Mereka lagi main bola bertiga kurang satu orang dan aku diajak dipaksa jadi kiper. Darisitu aku lanjut terus main bola.

Dulu sempat disuruh les balet, kok bisa?

Dulu orang tua aku ingin aku les balet karena mereka sempat kebawa kebanyakan orang-orang. Dimana yang berkembang cewek itu harus feminism, jadi mereka sempat kebawa oleh lingkungan. Jadi mereka akhirnya mencoba aku supaya bisa lebih feminism  dengan mendaftarkan aku les balet.

Lantas bagaimana cara meyakinkan mereka supaya kamu bisa tetap main sepak bola?

Awalnya mereka sempat tidak setuju, tapi lama-lama mereka merestui juga setelah aku menunjukan keseriusan. Aku hampir setiap hari latihan sendiri dan sampai akhirnya bisa dipanggil Tim Nasional dan akhirnya mereka mendukung karenan melihat aku bahagia bermain sepak bola sampai saat ini aku sekolah di Inggris.

Vivagoal One on One: Peran Fisioterapis di Klub Profesional

Vivagoal – Liga Indonesia – Kepada Vivagoal, Luthfi Ananda, fisioterapis yang syarat akan pengalaman berkisah soal pengalamannya menjadi fisioterapi di klub sepak bola tanah air. 

Bekerja dibalik layar, banyak pihak kurang aware terhadap kehadiran fisioterapis di dalam klub. Padahal peran mereka di divisi medis terbilang vital.

Selain rekomendasi keadaan pemain pada pelatih kepala, dia bertanggungjawab pada program penyembuhan pemain yang tengah dalam proses penyembuhan cedera.

Ekstremnya, fisioterapis bertanggungjawab pada semua gerak tubuh seluruh pemain dalam tim. Apalagi para pemain profesional dengan skill tinggi membuat peran fisioterapis dipastikan vital di klub-klub profesional.

Vivagoal berhasil memwawancarai Luthfi Ananda yang sekarang bertugas untuk PS Sleman. Dimana sebelumnya dia pernah bahu-membahu bersama staff medis Timnas U-19 era Fachri Husaini. Berikut petikan wawancara kami dengan Luthfi dalam Vivagoal Live One on One beberapa waktu lalu:

Sebetulnya seperti apa pekerjaan seorang fisioterapi di klub sepak bola professional?

Fisioterapi di sepak bola sebenarnya bukan barang baru, apalagi di tim luar negeri, fisioterapi menjadi posisi penting. Di awal saya mulai masuk ke sepak bola di liga saat itu bersama sebuah klub, saya sadar populasi fisioterapi di dalam negri masih sangat minim. Jadi banyak yang menyebut dirinya fisio tapi nayatanya mereka bukan fisio, semacam black market lah.

Kami juga tidak bisa menyalahkan publik sepak bola yang tidak mengenal fision dengan terlalu baik. Mungkin sebelumnya masyarakat awam dan professional belum begitu tahu soal fisioterapi.


Baca Juga:


Seiring berjalannya waktu kami terus berkembang sebagai SDM . Sekarang kita bisa lihat klinik fisioterapi di luar Jakarta dan di luar Jawa terus banyak bermunculan. Bahkan banyak yang masuk ke perusahaan besar dan BUMN.

Apa bedanya dokter dan fisioterapi?

Beda, tapi kami tergabung di divisi medis. Idealnyabukan cuma fisio dan dokter saja, tapi harus ada nutrisionis juga perawat. Jadi titik berat fisio itu ada di kesembuhan pada penyakit. Demam, flu dan segala macam penyakit penyembuhannya ada di tim dokter. Kalo fisioterapi, kami lebih ke cedera, pemulihan, pencegahan dan recovery.

Pendekatan pembulihannya juga berbeda dengan dokter. Mereka menyebuhkan dengan obat, carian dan suntikan. Sedang kami menyembuhkan lewat exercise dan manual therapy.

Sebelum di PSS, dimana Anda berkarier?

Sebelum gabung di PSS, saya menjadi fisioterapi di Timnas U-19 besutan Fachri Husaini pas Bagus Bagas lolos ke Piala Asia Uzbekistan.

Menyoal Bagus, saat ini dia sedang cedera di Inggris, bagaimana kabar terbarunya?

Dia sempat konsultasi juga sama saya. Jadi kronologinya sudah pada tau ya, sebagai dia pemain harapan bangsa. Kebetulan dia cedera di pertandingan uji cobad an sedang moncer-moncernya. Kabar terakhir yang didapat, saya anjurkan dia untuk fokus melakukan penyembuhan di sana.

Jenis cederanya, kebetulan dia ada robekan yang lumayan di ligament angkelnya. Untuk membayangkannya di bawah mata kaki dan di samping mata kaki. Doakan saja Bagus bisa kembali ke performa terbaiknya lagi.

LATEST NEWS

HOT NEWS