Eks Wasit Inggris Ini Kenang Final UCL 2016/17 dan Mulut Besar Pepe

0
19
Mark Clattenburg

Vivagoal Liga Champions – Mark Clattenburg mengenang dua momen menarik yang melibatkannya dengan Pepe pada final Liga Champions musim 2016/17.

Final musim tersebut mempertemukan Real Madrid kontra Atletico Madrid di San Siro. Tensi tinggi mewarnai laga tersebut. Selain karena derby, juga karena sebelumnya Atletico sempat tersungkur pada pertemuan sebelumnya.

Laga diwarnai dengan beberapa intrik salah satunya dari Pepe. Kala itu sang bek tampak kesakitan setelah berbenturan dengan Yannick Ferreira Carrasco.

Alih-alih mendapat keuntungan, Clattenburg justru menjulur-julurkan lidahnya kepada Pepe.

“Semua orang selalu bertanya tentang kejadian di final Liga Champions 2016,” tulis Clattenburg di Daily Mail.

“Ketika saya melakukan hal dengan lidah saya saat dia berguling-guling di rumput, berakting.”

“Di kepala saya, saya berpikir: Seberapa lemah diri Anda untuk pria [bertubuh] besar?”

“Dia melakukannya dua kali dalam pertandingan itu, mencoba mengelabuhi saya untuk memberikan kartu merah kepada pemain Atletico Madrid.”

“Wasit lain mungkin tertipu, tetapi saya sudah melakukan pekerjaan rumah saya dan Anda harus melakukan praduga.”

“Saya tahu persis seperti apa dia di lapangan, mentalitasnya, dan saya membutuhkan pengetahuan itu untuk menanganinya. Dia adalah pemain yang tidak bisa Anda percayai. Saat permainan berjalan, dia akan melakukan hal licik.”


Baca Juga:


Gesekan antara Clattenburg dan Pepe berlanjut. Kali ini saat dirinya memberikan hadiah penalti kepada Atletico Madrid.

Pepe melakukan protes keras. Namun ia dengan cerdas membungkam mulut bek asal Portugal tersebut.

“Dalam laga itu, Real Madrid unggul di babak pertama, tapi itu sedikit berbau offside dan kami sadar saat jeda. Itu adalah keputusan sulit dan asisten saya melewatkannya.”

“Saya lalu memberi Atletico penalti pada awal babak kedua ketika Pepe melanggar Fernando Torres. Pepe sangat marah dan berkata kepada saya dalam bahasa Inggris yang jelas: ‘Bukan penalti, Mark.’ Saya lalu berkata kepadanya, “Gol pertama Anda seharusnya tidak sah.” Itu membuatnya terdiam.”

“Orang mungkin berpikir itu terdengar aneh, karena dua kesalahan [bagi masing-masing tim] tidak membuat keputusan itu menjadi benar dan wasit juga tidak berpikir seperti itu, tetapi para pemain melakukannya [mengelabuhi wasit].”

“Saya tahu dengan mengatakan kepadanya itu akan membuatnya lebih menerima situasi, tetapi dia pemain yang bandel dan tidak menyenangkan bagi wasit sedikitpun, Anda harus selalu waspada dengan dia,” pungkasnya.

Real Madrid kemudian keluar sebagai juara melalui drama adu penalti usai laga berkesudahan dengan skor 1-1. Hasil tersebut sekaligus menjadi awal dari trigelar Liga Champions beruntun El Real.

Selalu update berita terbaru seputar Liga Champions hanya di Vivagoal.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here