(AP Photo/Armin Durgut via liputan6.com)

Marwah Sepakbola Italia itu Catenaccio, Bukan Tiki-taka!

Irman Maulana - April 21, 2026
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Vivagoal – Serie A – Legenda AC Milan, Ruud Gullit meminta sepakbola Italia untuk kembali mengedepankan DNA mereka sebagai tim dengan lini pertahanan yang solid, bukan terlalu mengikuti arus dengan mengedepankan gaya bermain indah ala tiki-taka.

Era kegelapan yang kini tengah menaungi Negeri Pizza kembali menuai perhatian, salah satunya dari seorang Ruud Gullit. Eks pemain asal Belanda itu sebelumnya pernah menghiasi sepakbola Italia ketika membela AC Milan pada era 80an sampai awal 90an.

Gullit menjadi bagian dari skuad emas AC Milan yang mampu menguasai tidak hanya domestik tapi juga di Eropa. Bersama Frank Rijkaard dan Marco van Basten, Gullit membangun trio Belanda yang membuat Milan jadi tim sangat menakutkan.

Timnas Italia
(c) AP Photo/Armin Durgut

Era dimana Gullit masih aktif bermain itu, Italia masih sangat kenal dengan aroma catenaccio yang menjadi identitas Gli Azzurri. Hal yang kini dianggap mulai pudar atau terlalu usang untuk digunakan pada sepakbola modern seperti sekarang.

Meski begitu, bagi Gullit salah satu cara agar sepakbola Italia bangkit adalah kembali pada marwah mereka sebagai tim dengan lini pertahanan tangguh. Menurut Gullit, DNA Italia bukanlah sebagai tim yang bermain indah, tapi lebih mengedepankan efektivitas di atas lapangan.


Baca Juga:


Bagi Gullit, Italia tidak perlu sepenuhnya mengikuti sepakbola modern yang banyak mengekor tiki-taka ala Spanyol atau Pep Guardiola. Gullit menegaskan bahwa DNA catenaccio Italia bisa melahirkan lagi talenta asli berkualitas, terutama untuk area pertahanan.

“Kalian harus kembali ke DNA Italia, yaitu bek-bek yang tangguh, kiper-kiper handal, dan penyerang-penyerang tajam. Trofi terakhir yang diraih Italia sebagian besar berkat Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Itulah DNA kalian, para bek terbaik,” ujar Gullit dilansir Football Italia.

“Saya tidak bermaksud kalian harus bermain bertahan total, tapi dulu ada Paolo Maldini di lini belakang, sementara Fabio Cannavaro memenangkan Ballon d’Or untuk Italia. Pertahanan itu penting. Kini semua orang ingin bermain sepak bola tiki-taka dengan membangun serangan dari area penalti mereka sendiri, tapi itu tidak cocok untuk semua orang.”

Timnas Italia sendiri sebelumnya harus kembali gagal untuk ketiga kali secara beruntun tampil pada ajang akbar seperti Piala Dunia. Gli Azzurri menyerah lewat adu penalti dari Bosnia pada final playoff zona Eropa, memastikan mereka absen di Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Selalu update berita terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

adu_2RgveEg7HbWK43B2O5wkeA