Obrolan Vigo: Simbiosis Mutualisme antara Oasis dan Manchester City

Obrolan Vigo: Simbiosis Mutualisme antara Oasis dan Manchester City

Heri Susanto - April 21, 2026
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

VivagoalBerita Bola– Musik dan sepakbola yang telah mengakar lama di Britania Raya. Dua elemen itu kerap berkaitan satu sama lain. Oasis, khususnya dua leader mereka, Noel & Liam Gallagher memang kerap memberi dukungan kepada the Sky Blues di masa ketika tim jauh dari kata jaya.

Baik Noel dan Liam kerap mempromosikan tim favorit melalui konser atau interview yang mereka lakukan sejak medio 90, ketika band mereka tengah bergema sampai hari ini. Tak jarang, keduanya pun kerap menggunakan jersie City dalam berbagai kesempatan. Liam, dalam wawancaranya via podcast Zach Sang Show, Louis Tomlinson (ex-member One Direction), mendapat pertanyaan “Apakah musik rock telah mati?” Sambil tersenyum, Ia menjawab “Tidak, selama Liam Gallagher masih ada.”

Musisi yang mendukung Doncaster Rovers itu memang dikenal sebagai pengagum berat Oasis. Bahkan, Louis pernah meminjam chorus ‘Acquiecse’ milik Oasis untuk lagunya ‘Walls’ yang rilis 2020 lalu. Selain Louis Tomlinson, band asal Glasgow, Travis, juga sempat mengambil intro ‘Wonderwall’ untuk tembang mereka ‘Writing to Reach You’ pada 1999 silam.

Tak bisa dipungkiri, band yang digawangi Gallagher bersaudara itu bagaikan magnet kuat bagi musisi baru terutama di Britania Raya. Sebelum Premier League mendunia seperti sekarang, Inggris mengguncang dunia melalui musik lewat First British Invasion pada medio 60an melalui The Beatles dan Rolling Stones. Setelahnya, banyak band lain yang mengikuti jejak pada invasi selanjutnya seperti the Cure, Duran-Duran hingga britpop yang sudah barang tentu digawangi Oasis.


Baca Juga:


Keberhasilan band asal Manchester menyeruak di tengah gemuruh grunge itu memancing banyak pasang mata untuk meniru perangai mereka. Bukan hanya mencontoh gaya bermusik, fashion statement mereka pun kerap menjadi trademark. Di tengah euphoria yang dimiliki Oasis, Manchester City juga ikut mengalami lonjakan penggemar baru. Bagaimana tidak, dua pentolan band tersebut memang dikenal sebagai pendukung City jauh sebelum klub diakuisisi oleh anggota kerajaan Abu Dhabi, Sheikh Mansour.

 Gelagat Liam dan Noel sebagai Cityzens sudah tampak sejak album pertama mereka bertajuk “Definitely Maybe.” Di cover album tersebut terpampang jelas foto Rodney Marsh, mantan pemain Manchester City di era 1970-an. Bukan tanpa alasan mengapa kakak-beradik itu amat mencintai City. Mereka yang lahir dan tumbuh sebagai kelas pekerja di sana memandang tim tersebut sebagai identitas dan harga diri mereka.

Nasib Oasis dan Manchester City ibarat langit dan bumi. Ketika Oasis merasakan puncak karir di pertengahan 90-an, Manchester City justru mengalami penurunan performa parah. Pada 1996, The Cityzens harus terdegradasi ke Championship. Kondisi semakin buruk pada 1998, ketika anak asuh Joe Royle kembali turun kasta ke League One.

Meski begitu, di tengah keterpurukan tim dan kejayaan tetangga mereka, Man United, City tetap dikenal luas karena Oasis terus menggaungkan namanya di konser dan atribut yang mereka pakai. Saking cintanya kepada klubnya, ketika Noel Gallagher sedang nongkrong bersama Paolo Madini, Ia sempat bercanda dengan mengajak bek AC Milan itu untuk bergabung dengan Manchester City. Bahkan, Noel rela merogoh 150 ribu pounds per minggu untuk menggaji Maldini.


Baca Juga:


Pada 2008, ketika Manchester City mulai diambil alih oleh Sheikh Mansour, perlahan namun pasti, performa tim mulai mengalami peningkatan. Namun di sisi lain, internal Oasis justru menghadapi pertengkaran besar antara dua frontman-nya yang membuat band bubar pada 2009. Walaupun telah berpisah,

Gallagher bersaudara tetap mendukung Manchester City dengan caranya masing-masing. Noel Gallagher sering datang ke Etihad Stadium, entah sebagai penonton biasa atau masuk ke ruang ganti saat Menchester City merengkuh trofi. Sedangkan sang adik lebih sering berbicara tentang klub favoritnya via media sosial.

Oasis bukanlah band jago kandang, nama mereka memang lumayan harum di kolong langit. Banyak tokoh besar, termasuk mereka yang merupakan sineas lapangan hijau yang mengemari karyanya, Lionel Messi. Pada Piala Dunia 2010, Carlos Tevez, rekan satu tim Lionel Messi di Timnas Argentina mencekoki lagu Oasis kepadanya. Dari situlah Messi menjadi fans Oasis dan sesumbar akan menyatukan band tersebut jika negaranya menjadi juara di Piala Dunia 2010 berapa pun harga yang diminta Oasis.

 “Dalam pesawat di perjalanan menuju Afrika Selatan, Tevez memaksa saya untuk mendengarkan dua album pertama Oasis. Lagu-lagu mereka luar biasa, harus kuakui ‘Supersonic’ dan ‘Live Forever’ menjadi favoritku.” ujar Messi dilansir NME.

Tiga belas tahun kemudian, setelah Messi gagal menyatukan Oasis, Liam berjanji melalui akun X-nya dengan menyebut akan bereuni dengan kakaknya jika Manchester City berhasil menjuarai Liga Champions. “If Man City wins the Champions League I call my brother and I bring back the f***in ban together LG.” via X Liam Gallagher.

City meresponnya bukan hanya dengan gelar Champions League, namun diserai dengan predikat ‘Treble Winner” pada akhir musim 2022/23. Setelahnya, reuni Oasis benar-benar di gelar pada 2025 lalu. Sejak pertengkarannya pada 2009, untuk pertama kalinya duo Gallagher berdiri di satu panggung yang sama.

Sampai hari ini, Oasis dan Manchester City kerap menjalin kolaborasi. Terbaru, mereka meluncurkan merchandise untuk merayakan 30 tahun album “Definitely Maybe.” Lagu-lagu Oasis juga selalu berkumandang di Etihad Stadium sebelum pertandingan, pada jeda turun minum, hingga setelah laga.

Penulis: Aldo Nugraha

Editor: Heri Susanto

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com

adu_2RgveEg7HbWK43B2O5wkeA