
Obrolan Vigo: Juan Valeron, Gelandang Spanyol Paling Elegan
Vivagoal – Berita Bola – Las Palmas, tim yang kerap turun naik di LaLiga atau Segunda Division lumayan identik dengan nama Pedri, sosok yang belakangan namanya melesat menjadi bintang bersama Barcelona. Sebelum sang pemain beredar, mereka memiliki maestro lain yang hadir dari akademi klub, sosok tersebut adalah Juan Carlos Valeron.
Jauh sebelum nama Pedri, David Silva, hingga Andres Iniesta, Spanyol memiliki sosok gelandang kreatif nan elegan dalam wujud Valeron. Ia tak memiliki kecepatan yang mumpuni. Namun visi bermainnya lumayan mumpuni dan memanjakan mata yang memandang.
Keduanya mengakui jika Valeron merupakan inspirasi dalam bermain. Silva, bersama Valencia bahkan menggunakan nomor 21 yang identik dengan sang pemain. Bahkan, pelatih legendaris Italia, Arrigo Sacchi mengklaim jika gaya bermain Valeron tak ubahnya Zidane!
Se cumplen 23 años de la 3ª Supercopa de España del Depor!!
El Depor ganó la final al Valencia venciendo 3-0 en la ida en Riazor con goles de Valerón, Víctor y Naybet.
También ganó la vuelta en Mestalla 0-1 con gol de Víctor y se proclamó campeón🤍🏆💙
pic.twitter.com/XQHxK5VAfh— Ju@n🍍 (@JuanIBS98) August 25, 2025
Namanya melesat bersama Las Palmas ketika hantarkan tim promosi berturut-turut dari Segunda Division ke LaLiga. Jalan karir pada akhirnya membawa sang pemain merapat ke Mallorca pada 1997 lalu dan membantu tim finish di urutan tiga serta menjadi finalis Copa del Rey. Catatan prestis tersebut membuat berbagai tim tertarik untuk membawanya mentas di level tertinggi.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Samu Aghehowa yang Menjadi Tamparan Keras Bagi Diego Simeone
- Obrolan Vigo: Transformasi Vitinha, Pemain Gagal Wolves yang Jadi Bintang di PSG
- Obrolan Vigo: Sassuolo Adalah Keputusan Terbaik yang diambil Jay Idzes
- Obrolan Vigo: Paul Pogba adalah Perjudian Baru untuk AS Monaco
Atletico Madrid kemudian sempat menjadi destinasi bagi sang pemain. Mahar 9 juta Euro dikeluarkan sebagai kompensasi untuk membawanya ke Vicente Calderon pada 1998 lalu. Dana tersebut lumayan besar bagi Atleti lantaran kala itu, mereka belum sebesar sekarang.
Namun karirnya berujung pahit, ia harus merasakan pahitnya degradasi bersama Los Rojiblancos. Meski begitu, karirnya tak ikut turun. Namanya bersama Joan Capdevila kemudian dipaketkan ke Galacia guna merapat ke Deportivo La Corona. Di era milenium, La Coruna merupakan salah satu tim yang lumayan menggigit di kancah LaLiga. Mereka mampu mencongkel dominasi Real Madrid dan Barcelona di kancah domestik.
Merapat ke La Coruna, sinar Valeron lumayan melejit. Ia memang tak terlalu mentereng jika kita melihat gambaran kotor melalui catatan statistik. El Flaco, atau si kurus adalah metronome apik jauh sebelum Toni Kroos hadir. Jika Depor adalah sebuah orkestra, maka Valeron adalah dirigen yang berdiri paling depan. Ia adalah kurator kemana timnya akan melangkah dalam sebuah pertandingan.

Kembali ke pernyataan Sacchi, jika Prancis memiliki Zidane, maka Spanyol memiliki hal tersebut dalam wujud Valeron. Ia mampu mendistribusikan bola dengan presisi, membuat si kulit bundar terlihat nyaman ketika berada di kakinya. Hal ini memanjakan berbagai nama di lini depan tim macam Roy Maakay dan Diego Tristan lumayan termanjakan.
Pasca hanya mampu mengepak Piala Super Spanyol di musim debutnya. Valeron mampu menghantarkan timnya memenangi LaLiga di musim kedua dan mengangkangi Real Madrid. Bahkan di musim ketiganya, ia mampu hadirkan Copa del Rey.
Baca Juga:
- 5 Fakta Saga Transfer Paling Dramatis di Dunia Sepakbola
- Duduk di Peringkat 20 FIFA, Inilah 5 Fakta Pemain Terbaik Timnas Iran
- 5 Fakta Pemain Premier League yang Ditransfer Langsung ke Asia
- Kembali Promosi, Inilah 5 Fakta Pemain Penting yang Memperkuat FC Koln
Namanya juga sempat hadir dalam remontada paling apik di Liga Champions jauh sebelum Barcelona melakukan Comeback atas PSG. Kala itu, Depor harus keok dengan skor 4-1 dari AC Milan di musim 2003/04 lalu di babak perempat final pada leg pertama. Namun di leg kedua, mereka menang empat kosong dan melaku ke semifinal Liga Champions. Hal ini menjadi momen epik meningat mereka mampu membungkus juara Eropa di musim sebelumnya dengan cara yang sukar dipercaya.
Di balik rangkaian kisah manis bersama Depor, Valeron pernah mengalami cedera ACL yang membuatnya absen dalam kurun waktu dua tahun bersama klub. Dalam periode sulit tersebut, tim harus berjibaku untuk selamat dari jurang degradasi. Hal tersebut seakan menandakan betapa krusialnya peran sang metronom dari kepulauan Canaria. Ia kembali pada 2008 dengan tendon dari orang meninggal agar bisa kembali bermain.
Ia butuh enam bulan untuk benar-benar pulih dari cederanya. Seiring pulihnya Valeron, Depor kembali mengaum dengan sisa-sisa kejayaan. Mereka mampu menjadi juara Piala Intertoto di tahun 2008. Meski begitu, dua musim berselang ia kembali harus melihat timnya terdegradasi ke Segunda Division.

Valeron, dengan sisa-sisa tenaganya di masa senjakala sempat memutuskan pensiun. Namun ia menundanya guna membantu tim mentas di divisi kedua guna mengepak tiket promosi. Untungnya di musim 2011/12 lalu, Mereka kembali ke tier atas dengan status sebagai juara Segunda Division dan sosok yang paling senang dengan capaian tersebut adalah Valeron.
Gelar Segunda menjadi gelar yang menyamai catatan 5 gelar lain yang direngkuh dalam karir profesional sebagai pesepakbola. “Ini adalah hal terbesar yang terjadi dalam hidup saya. Saya tak bisa pensiun tanpa mengembalikan tim ini ke Primera,” urainya kala itu.
Namun mendung masih bergelayut di langit Riazor. Mereka hanya satu musim berada di LaLiga dan Valeron yang sudah kehilangan sisa tenaga memutuskan kembali ke tim masa kecilnya, Las Palmas, 16 tahun pasca hengkang dari Gran Canaria di musim 2013/14. Ia sempat bermian beberapa musim di sana hingga 2016. Ia sempat hantarkan timnya bermain di LaLiga di usia 40 tahun. Sebuah akhir yang lumayan manis baginya.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















