Patahnya Dominasi PSG dan Bayern Munchen

Obrolan Vigo: Patahnya Dominasi Bayern dan PSG di Eropa

Heri Susanto - Juli 24, 2019
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Efek Dominasi di Liga Masing-Masing

Dominannya Bayern dan PSG di liga masing-masing juga membawa efek baik di Bundesliga maupun Ligue 1. Secara peta persaingan, kedua kesebelasan seakan membuat liga tak lagi kompetitif. Bahkan sebelum liga dimulai, kita semua mungkin hampir tahu  siapa yang akan menjadi juara di dua liga tersebut.

Namun Bayern memang sudah mulai mejajakan diri sebagai kekuatan Bundesliga di awal 70an. Namun setelah itu, mereka seakan tenggelam oleh dominasi tim-tim lainnya.

Barulah menjelang era Milenium, Bayern mulai menunjukan kembali taringnya sebagai salah satu tim besar di tanah Jerman berkat raihan berbagai gelar juara sampai hari ini.

Salah satu kunci dominasi Die Roten di Bundesliga adalah kebijakan transfer yang mereka anut dalam beberapa tahun belakangan. Nama-nama beken di tim rival mulai dipreteli satu per satu guna menjadi bagian dari FC Hollywood.

Manuel Neuer & Leon Goretzka (Schalke 04) Robert Lewandowski (Dortmund), Nicklas Sule (Hoffenheim), Benjamin Pavard (Stuttgart) merupakan nama yang berhasil di-Bayern-kan. Kebijakan transfer tersebut mau tak mau membuat Bayern lebih superior dibandingkan tim lainnya di Bundesliga.

Bahkan setiap ada bintang anyar muncul di setiap musimnya, mereka akan selalu dikaitkan dengan Bayern. Posisi tawar klub yang tak baik untuk berbicara banyak di Bundesliga serta kans memenangkan gelar bersama Bayern yang cukup besar membuat mereka selalu dikaitkan dengan tim asal Bavaria tersebut.

[irp]

Pun demikian dengan PSG, mereka pun bebas mendatangkan nama pemain beken dari berbagai kolong langit guna memperkuat tim. Beberapa bintang mulai dari Javier Pastore, Ezequiel Lavezzi, Edinson Cavani, Zlatan Ibrahimovic, hingga Neymar dan Mbappe berhasil didatangkan via kekuatan finansial mereka yang boleh dibilang tak terbatas.

Mendatangkan sederet nama besar, PSG pun sukses merajai Ligue 1 dengan tak memiliki lawan sepadan. Meski sejatinya ada AS Monaco yang sempat menempel ketat kedigdayaan mereka di piramida tertingi sepak bola Prancis tersebut.

Bahkan di musim 2016/17, Monaco sempat menghentikan sejenak dominasi PSG di Ligue 1. Namun setelahnya, kejayan Monaco seakan hilang pasca sang pemilik mengubah haluan transfer dengan menjual beberapa bintangnya seperti Kylian Mbappe, Benjamin Mendy, Bernardo Silva, Tiemoue Bakayoko, Nabil Dirar, Correntin Jean, Abdou Diallo, dan Valere Germain. Melalui penjualan tersebut, Monaco telah mendapatkan dana segar sekitar 150 juta euro.

Praktis dengan penjualan berbagai pemain tersebut, Monaco pun terhempas dari peta persaingan juara. Tim-tim Tradisional Prancis semacam Marseille, Lyon, Saint-Etienne hingga Bordeaux pun tak mampu membendung laju PSG. Terkait dominasi sebuah klub di Liga, mantan pemain Glasgow Celtic, Martin Petrov buka suara.

“Satu klub besar di sebuah kompetisi adalah hal yang tidak menarik,” kata Petrov.

Menurutnya sebuah liga harus membutuhkan beberapa klub agar persaingan terasa lebih sehat. Petrov angkat suara pasca mantan klubnya Glasgow Celtic sukses merajai kembali Scottish Premier League meski rival abadinya, Glasgow Rangers sudah berada di kompetisi yang sama pasca dinyatakan bangkrut beberapa waktu lalu.

[irp]

Meski demikian, Dominasi Bayern Munchen dan Paris Saint-Germain tak selalu berdampak buruk. Keunggulan keduanya dibanding tim lain juga menjadi berkah tersendiri. Hal tesebut dapat dilihat dari naiknya koefisien liga.

Semula Ligue 1 dan Bundesliga hanya menyematkan 3 wakil di Champions League namun slot di masing-masing Liga bertambah satu berkat capaian keduanya yang sukses mendompleng liga masing-masing.