
5 Fakta Nama Besar yang Sempat Mentas di Liga Iran
- Antonio Adan

Adan merupakan jebolan La Fabrica yang sudah memulai debut di tim utama pada 2009 lalu. Namun karirnya bersama Real Madrid tak bisa dibilang berjalan baik. Statusnya hanyalah kiper nomor dua di belakang Iker Casillas. Dalam enam tahun karirnya di Santiago Bernabeu, ia hanya mengepak 18 laga di berbagai ajang dan kebobolan 14 gol dalam kesempatan tersebut.
Karir Adan kemudian berlanjut ke berbagai tim. Ia sempat bermain ke Cagliari, Real Betis, Atletico dan Sporting. Adan lumayan banyak bermain di Betis dan Sporting. Prestasi sebagai pemain reguler pun hadir bersama dua tim tersebut seperti Segunda Division dan berbagai gelar domestik Portugal.
Pasca Portugal, Adan sempat menganggur selama setahun sebelum ia menerima pinangan raksasa Iran, Esteghal di usia 38 tahun. Bersama tim Iran tersebut, ia tampil reguler dengan sudah mengepak 13 laga di berbagai ajang. Gawangnya baru bobol 18 kali.
- Serge Aurier

Jebolan akademi RC Lens ini lumayan banyak memperkuat berbagai tim. Pasca promosi dari Lens pada 2010, ia total sudah mentas untuk 8 tim Eropa mulai dari Lens, PSG, Toulouse hingga Tottenham Hotspur. Di tim yang disebut terakhir, ia sempat bermain selamaempat musim.
Namun pasca Spurs, performanya tak lagi sama. Ia hanya mendapatkan kontrak jangka pendek bersama beberapa tim seperti Villarreal, Nottingham Forest dan Galatasaray. Bahkan bersama Gala, ia hanya dikontrak selama enam bulan sebelum akhirnya dilepas.
Pada musim panas 2025 kemarin, Aurier memutuskan merapat ke Persepolis untuk membuatnya bermain reguler guna memperlebar kemungkinan mentas di Piala Afrika 2025 bersama Timnas Pantai Gading pada ajang yang dimainkan di Maroko itu.
- Didier Ndong

Nama Ndog mulai mencuri perhatian kala Sunderland mengangkutnya ke Wearside dengan mahar 20 juta Euro pada 2016 lalu lantaran Jalani musim yang brilian bersama FC Lorient. Namun pemain asal Gabon gagal membuktikan ekspektasi bersama the Black Cats dalam masa baktinya di Stadium of Light.
Di sana, ia sempat mentas tiga tahun plus dipinjamkan setahun ke Watford. Ndong tak mampu membuktikan kapasitasnya sebagai gelandang terbaik. Namanya kemudian sempat menjadi kutu loncat dengan memperkuat tim asal Prancis, Turki dan Arab Saudi. Sejak 2024 kemarin, ia merapat ke Esteghal FC.
Sosok 31 tahun seakan menemukan kembali dirinya. Sejauh ini, ia sudah mengepak 58 laga di berbagai ajang dan memberikan satu assist. Satu gelar Piala Liga sempat menjadi persembahannya untuk klub.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo Youssofa Moukoko: Wonderkid Jerman yang Mencari Kesunyian di Denmark
- Obrolan Vigo: Mempertanyakan Jalur Karir Kalvin Phillips di Manchester City
- Obrolan Vigo: Mario Jardel, Penyerang Buas Brasil yang Karirnya Redup Karena Negara
- Obrolan Vigo: Lennart Karl, Mesut Ozil Baru Milik Bayern Munich
- Gael Kakuta

Sosok yang digadang bakal menjadi pemain potensial oleh gim Football Manager gagal membuktikan diri di dunia nyata. Kakuta gagal menemukan performa terbaiknya lantaran kerap dipinjamkan ke berbagai klub oleh timnya, Chelsea dalam masa baktinya di London Barat.
Total, sosok asal Prancis sempat dipinjamkan ke enam tim berbeda sejak dipromosikan ke tim utama pada 2011 lalu. Sosok yang digadang sebagai Eden Hazard dari Repubik Kongo itu juga mendapatkan predikat sebagai kutu Loncat. Pasca pergi dari Chelsea. Ia sempat bermain di Spanyol, China, Prancis dan memperkuat Estenghal pada 2024 kemarin.
Bersama tim Iran, karirnya juga tak bisa dibilang baik. Hanya ada torehan satu assist dari 18 laga yang dimainkan. Saat ini, Kakuta tengah mengadu nasib di tim divisi dua Turki, Sakaryaspor dan tampil apik dengan bukukan 8 gol serta dua assist dari 16 laga yang telah dimainkan.
- Steven Nzonzi

Nzonzi merupakan contoh pesepakbola yang memulai segala sesuatunya dari bawah. Pasca berpindah dari satu tim ke tim Prancis lain, ia mulai menemukan kestabilan tatkala memperkuat Blackburn Rovers. Reputasinya sebagai salah satu tukang jagal terbaik datang ketika memperkat Stoke City.
Pada 2015, ia pergi ke Sevilla dengan mahar 8 juta Euro. Dalam dua tahunnya di Andalusia, ia sempat hantarkan tim menangi Europa League. setelahnya, perjalanan berlanjut ke AS Roma. Namun karirnya di Trigoria tak berjalan sesuai rencana. Ia dianggap gagal. Meski begitu, sang pemain sempat menjadi bagian dari Prancis kala menjadi juara dunia kedua pada 2018 lalu.
Setelah Roma, Asia dan Turki sempat menjadi destinasinya. Ia bahkan sempat merapat sejenak ke Sepahan pada 2024 lalu. Bersama Yellow Lion, ia sempat mempersembahkan satu gelar Piala Super. Saat ini, Nzonzi telah kembali memperkuat Stoke City yang berlaga di EFL Championhsip.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















