
Obrolan Vigo: Mario Jardel, Penyerang Buas Brasil yang Karirnya Redup Karena Negara
Vivagoal – Berita Bola – Sejak era lampau, Brasil dikenal kerap menghadirkan predator kelas kakap. Di medio 90an, ada nama Mario Jardel yang lumayan bersinar baik di kancah domesik maupun Eropa. Namun karirnya tak berjalan sempurna dan ada peran negara di dalamnya.
Jauh sebelum merekahnya sosok Ronaldo Nazario, Adriano atau Vitor Roque, Brasil sempat memiliki predator ganas dalam wujud Mario Jardel. Sosok yang lahir di Fortaleza, 18 September 1973 merupakan produk akademi Vasco da Gamma yang mencuat ke tim utama pada 1994 silam. Namun namanya benar-benar mencuat kala memperkuat Gremio.
Bersama Immortal tricolor, Jardel tampil menggila di musim 1995/96. Ia mampu mendulang 30 gol dan empat assist dari 38 laga. Ia merupakan penyerang klasik yang memiliki naluri mencetak gol tinggi kala berada di kotak penalti lawan. Ia juga sempat hantarkan Gremio mendulang Copa Libertadores dan berbagai gelar domestik lain dalam masa bakti singkatnya di klub.

Performa apik tersebut membuat berbagai penawaran padanya datang, termasuk dari Eropa. Di musim panas 1996/97, FC Porto yang dikenal senang mengoleksi talenta potensial dari Amerika Selatan mengamankan jasanya di angka empat juta Euro. Ia menjadi andalan the Dragon guna mengeksploitasi pertahanan lawan.
Baca Juga:
- 5 Fakta Pemain Telupakan yang Pernah Main untuk Bayern Munich
- 5 Fakta Klub Tersukses di Copa Libertadores
- 5 Fakta Kiper yang Sukses Saat Menjadi Pelatih
- 5 Fakta Pemain PSM Makassar yang Paling Loyal
Hasilnya bisa ditebak. Porto lumayan mendominasi Liga Portugal. Dalam empat tahun masa baktinya di Estadio do Dragao, ia membantu tim menangi tiga gelar Portugal, tiga Piala Portugal serta beberapa gelar lain. Namanya juga sudah mulai dipanggil Timnas Brasil sejak 1996 lalu. Dalam karirnya di Porto, 168 gol dan 26 assist jadi persembahannya dalam 175 laga yang dimainkan. Ia juga sempat mendulang sepatu emas Eropa.
Catatan prestis di Portugal membuat banyak tawaran mendekat kepadanya. Inter Milan, Glasgow Rangers dan Galatasaray tertarik untuk merekrutnya. Namun tawaran serius datang darI Galatasaray. Mereka menjadikan Jardel sebagai pengganti Hakan Sukur yang hengkang ke Inter. Mahar 17 juta Euro menjadi pelicin transfernya agar sang pemain mau merapat ke Turki pada musim panas 2000.

Di Istanbul, ia langsung tancap gas bersama Galatasaray. Gol demi gol lewat kakinya. Di musim perdannaya, Jardel mendulang 34 gol dari 43 laga di berbagai ajang. Meski gagal membantu tim juara domestik, gelar Piala Super Eropa sempat menjadi persembahannya di klub. Namun karirnya hanya berjalan satu musim.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Lennart Karl, Mesut Ozil Baru Milik Bayern Munich
- Obrolan Vigo: Loyalitas yang Bernama Rohit Chand
- Obrolan Vigo: 2012, Era Kegelapan AC Milan Dimulai
- Obrolan Vigo: Vinicius Jr yang Membuka Tirai Opera Sabun Real Madrid
Ia kerap mendapatkan kritikan dari media meski menuai banyak gol. Selain itu, istrinya juga tak senang dengan kehidupan di Turki. Kombinasi tersebut membuatnya gerah dan memutuskan pulang ke Portugal di musim 2001/02 lalu. Bukan, Porto, ia mentas untuk rival the Dragons, Sporting CP. Sang pemain pulang dengan mahar 6,2 juta Euro plus tiga pemain yakni Mbo Mpenza, Robert Spehar dan Pavel Horváth.
Di Portugal, tanah yang sudah lumayan ia kenal, performanya lumayan menanjak. Sporting dihantarkan mendulang double winners dalam wujud Liga Portugal dan Piala Portugal. Sepatu emas kedua sempat ditorehkan lantaran sumbangan 42 gol dari 30 laga yang dimainkan di lintas kompetisi. Masalah kemudian hadir ketika ia dipanggil Timnas Brasil.
Selecao mentas di Copa America 2001. Namun tim Samba tampil buruk dan Jardel hadir dalam kontingen tersebut. Ia tampil tak sesuai harapan untuk menggantikan peran Ronaldo Nazario. Selecao harus kalah dari Honduras. Namanya menjadi kambing hitam dan tak disertakan di Piala Dunia 2002 meski kalah itu Ronaldo Nazario tengah cedera sebelum akhirnya pulih.
Sepasang sepatu emas Eropa dan gol demi gol yang ia lesatkan di level klub seakan tak dianggap oleh Brasil. Ia hanya mendulang 10 caps dan mengepak satu gol. Jardel menjadi depresi dan mulai mengonsumsi narkotika sebagai pelarian. Tak hanya itu, keluarganya berantakan dan masalah kebugaran serta mentalnnya bermasalah.
2002 seakan menjadi akhir karir bagi Jardel. Pasca Sporting, performanya tak pernah sama. Ia menjadi kutu loncat dengan pindah dari satu tim ke tim lain mulai dari Eropa, Asia hingga Australia pernah ia seberangi sebelum akhirnya putuskan pensiun pada 2011 silam. Ia tak pernah main di tim besar Eropa dan panggung Piala Dunia. Namun Tanah Portugal bisa selalu menjadi dongeng indah untuknya.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















