Site icon Vivagoal.com

5 Sepakbola Gajah yang Coreng Indonesia

Vivagoal5 Fakta –   Belakangan sepakbola Indonesia diramaikan dengan kasus mafia dan pengaturan skor. Negara dan institusi penegak hukum dilibatkan untuk membongkar praktek kecurangan di dunia si kulit bundar. 

Namun demikian, kejadian memalukan yang mencoreng nilai sportifitas sudah kerap terjadi sejak lama di Indonesia.   Beberapa kali kita disuguhkan  ‘Sepak Bola Gajah’, kedua kesebelasan tak berhasarat menyerang dan  mencetak gol.

Pemandangan memalukan di lapangan hijau tersebut biasanya melibatkan para pemain di lapangan yang tidak menunjukan sikap sportif.  Bahkan dalam beberapa kasus tak jarang para pemain membobol gawangnya sendiri .

Biasanya hal ini dilakukan untuk menghindari lawan yang lebih berat di babak selanjutnya. Atau bahkan ada sogokan yang diatur oleh mafia agar mereka tidak menang dan mengalah.

Baca Juga : Begini Kisah Soeratin yang Jatuh Bangun Dirikan PSSI

Strategi untuk menghindari tim yang lebih berat merupakan hal yang wajar. Namun menghalalkan segala cara termasuk mengorbankan nilai-nilai sportifitas tentu bukanlah prinsip seorang atlet.

Lemahnya mental dan sportifitas menjadi faktor utama terjadinya sepakbola gajah. Alhasil, kemenangan yang didapat pun menjadi sia-sia. Sebaliknya kekalahan akan lebih membanggakan bila dicapai dengan cara sportif yang elegan.

Berikut kami rangkum beberapa kejadian sepakbola yang memalukan, menjijikan bahkan mencoreng nama pemain, klub, dan negara.

Persebaya Vs Persipura

Dua tim besar Indonesia, Persebaya Surabaya dan Persipura diduga pernah terlibat dalam sepak bola gajah di negeri ini. Hal itu terjadi kala kedua tim saling serang di Stadion 10 November, Surabaya.

Berlaga di  kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1988, Persebaya secara mengejutkan kalah 0-12 dari Mutiara Hitam. Kabarnya, dalam pertandingan tersebut punggawa Bajul Ijo, membiarkan Persipura membobol gawangnya tanpa melakukan perlawanan.

Padahal sejatinya, tampil di depan ribuan Bonek, peluang Persebaya untuk menang terbuka lebar. Dilansir dari Historia, Green Force yang menurunkan pemain lapis duanya sama sekali tak memberi perlawanan pada Persipura di laga tersebut.

Hingga kini, alasan Persebaya melakukan hal tersebut masih menjadi perdebatan. Di kalangan masyarakat tersebar dua versi cerita mengapa Persebaya membiarkan Persipura membantai mereka di kandang.

Pertama, Persebaya disebut sengaja mengalah untuk menyingkirkan rival mereka PSIS Semarang. Dimana musim sebelumnya, PSIS keluar sebagai juara mengalahkan Persebaya di partai puncak.

“Pada peristiwa itu, manajer Persebaya Agil H. Ali yang mengajak semua elemen di dalam tim untuk mengalah. Pendapat pak Agil disetujui para pemain,” jelas Agil.

Namun  demikian, peneliti Persebaya, Dhion Prasetya menyebut alasan utama skandal tersebut bukanlah untuk menyingkirkan PSIS. Persebaya sengaja mengalah untuk menjaga persatuan dan keutuhan NKRI.

Menurutnya, andai Persipura tak lolos ke babak 6 besar setelah Perseman Manokwari  degradasi, nantinya di Indonesia Timur akan minim hiburan.

Usai kejadian ini, Persebaya tak mendapat sanksi sedikitpun dari PSSI. Tim kebanggan masayaraat Surabaya itu bahkan berhasil keluar sebagai juara namun dibenci pecinta sepakbola PSIS Semarang.

Indonesia Vs Thailand (Piala Tiger 1998)

Piala Tiger 1998 diwarnai kejadian memalukan yang melibatkan Tim Nasional Indonesia kala itu. Memainkan laga terakhir melawan Thailand, kedua tim sudah dipastikan lolos dan hasil laga hanya akan menentukan juara dan runner up grup.

Berlaga di stadion Thong Nat, Ho Chi Minh, Vietnam kedua tim sama-sama menghindari bertemu Vietnam yang bertindak sebagai tuan rumah. Karenanya kedua tak berniat menjadi jaura grup dan berharap untuk kalah agar terhindar dari Vietnam yang menjadi runner up  di grup lainnya.

Laga pun berjalan tak menarik, kedua tim benar-benar tak ingin menang dan memainkan sepak bola yang membuat malu bangsa dan negara. Sampai tiba di penghujung pertandingan Mursyid Effendi melakukan gerakan di luar nalar.

Tepat pada tambahan waktu, Mursyid dengan sengaja menendang bola ke gawang sendiri yang dijaga oleh Kurnia Sandy.  Anehnya, gol itu disambut dengan tepuk tangan oleh beberapa rekannya. Alhasil, Indonesia kalah 2-3 dan bertemu Singapura di semifinal.

Namun, kisah Indonesia beraakhir tragis. Di Semifinal mereka kalah dari Singapura dan hanya menempati urutan ketiga setelah menang di perebutan tempat ketiga kontra Thailand.

Selain itu, karier Mursyid Effendi mendapatkan sanksi  larangan beraktivitas di kancah sepak bola internasional seumur hidup. Serta PSSI disanksi 40 ribu dollar AS oleh FIFA buntut dari kejadian itu.

Perseta Tulungagung Vs Perseba Bangkalan

Pengaturan skor ditengarai terjadi dalam laga antara Perseta Tulung Agung dan Perseba Bangkalan.  Berlaga dalam lanjutan pertandingan divisi tiga Liga Indonesia pada 2013 silam ada beberapa kejadian janggal yang mencoreng.

Perseba sebenarnya sudah dinyatakan lolos ke babak berikutnya kala itu terlepas dari hasil apapun yang didapat dari Perseta.  Sementara bagi tim tamu Perseta, kemenangan menjadi penentu nasib mereka.

Dua kali penalti yang didapatkan Perseta pada babak kedua dari laga yang digelar di Bangkalan tersebut juga menjadi dasar kecurigaan sepakbola gajah.

Pasalnya, sebelum laga yang berakhir 3-2 untuk kemenangan Perseta ini usai, dua tim lain hampir saja lolos sebagai peringkat tiga Grup 3.

Baca Juga: Untuk Kelima Kalinya, Semen Padang Kembali Ditinggal Pemainnya

Dimana Deltras Sidoarjo sudah unggul dua gol dari Persid Jember sementara PSBK Blitar yang kalah dari Persebaya juga memiliki poin yang lebih tinggi dari Perseta. Penalti kedua Perseta yang terjadi pada menit ke-88 seolah menunggu hasil dari pertandingan Deltras.

Kala itu, Pelatih Deltras menuding, ada kejadia tidak sportif di Bangkalan. Dimana Perseta sengaja mendapatkan penalty agar lolos ke babak selanjutnya.

“Hasil tadi dikotori oleh dua penalti di Bangkalan. Kalau normal-normal, saya kita tidak masalah,” sebut Djoko seperti dikutip Berita Jatim.

PS Sleman Vs PSIS Semarang

Pada 2014 silam, dua klub tradisional Indonesia, PS Sleman dan PSIS Semarang terlibat kasus sepak bola gajah. Berlaga di babak delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia kedua tim dinilai mencederai nilai sportifitas.

Kedua tim dicurigai tak ingin menang karena ingin menghindar menjadi juara grup yang akan melawan Borneo FC di semifinal. Meski pada akhir laga PSS tetap menang dengan skor 3-2 namun semua gol dalam laga tersebut terjadi lantaran bunuh diri dari pemain masing-masing tim.

Buntut dari kejadian ini, Pelatih PSS Sleman, Hery Kiswanto, dan pelatih PSIS Semarang, Eko Riyadi, dihukum seumur hidup tak boleh berkecimpung dalam dunia sepak bola. Selain itu, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjantuhkan denda kepada mereka masing-masing sebesar 200 juta rupiah.

Baca Juga: Terinspirasi Dari Ajax, PSS Sleman Siap Bikin Kejutan di Liga 1 2019

“Sanksi yang kami putuskan baru tahap sementara. Ini hanya yang terjadi di dalam lapangan. Yang jelas sanksi ini berlaku sejak 11 November,” kata Hinca Panjaitan usai sidang Komdis PSSI.

Selain kedua pelatih, Komdis juga memberikan hukuman yang sama kepada official PS Sleman, Rumadi, serta kepada Eri Febrianto yang biasa dipanggil Ableh, yang merupakan sekretaris tim.

“Eri Febrianto atau Ableh adalah orang yang memerintahkan pemain untuk melakukan tingkah laku buruk. Untuk keputusan Suparjianto (manajer PSS) masih dipending (ditunda) karena dia tidak datang pada sidang Komdis hari ini,” kata Hinca dengan tegas dilansir dari Kompas.com

Aceh United Vs PSMP Mojokerto

Terjadi hal aneh dalam laga antara Aceh United dan PSMP Mojokerto pada babak 8 Besar Liga 2 2018. Kala itu terjadi kejanggalan yang berujung pada tuduhan terjadinya sepakbola gajah dalam laga tersebut.

Pada laga tersebut, PSMP Mojokerto Putra yang tertinggal 2-3 sebenarnya berpeluang menyamakan kedudukan lewat tendangan penalti pada menit ke-87.

Namun, Krisna Adi Darma yang menjadi algojo gagal menceploskan bola ke gawang Aceh United. Alhasil, Krisna dinilai tidak mengarahkan bola ke arah gawang Aceh United. Dimana kala mengambil tendangan itu, Krisna sengaja menendang bola ke arah luar agar tidak terjadi gol.

Baca Juga:  Patahnya Dominasi Bayern dan PSG di Eropa

Padahal, andai Krisna mampu mencetak gol,  PSMP Mojokerto Putra bisa saja lolos ke babak semifinal dengan 10 poin unggul selisih gol (+3) dengan Kalteng Putra yang memiliki poin sama.

Kejanggalan lain terjadi ketika laga ini telat 10 menit dari jadwal yang telah ditentukan, sebelumnya laga ini dijadwalkan akan kick off bersamaan dengan laga penentuan lain antara Semen Padang melawan Kalteng Putra yang digelar di Stadion Haji Agus Salim.

Di Padang, Kalteng Putra gagal mengalahkan Semen Padang dengan skor 1-3 yang artinya mereka bergantung dengan hasil dari laga Aceh United dan PSMP. Karenanya kegagalan penalty Kresna secara otomatis melenggangkan Kalteng Putra untuk melaju ke babak selanjut.

Buntut dari kejadian ini, PSMP Putra dan Krisna Adi dijatuhkan hukuman berat oleh PSSI.  PSMP dihukum tak boleh mengikuti kompetisi musim 2019 sedangkan Krisna menapat larangan bermain seumur hidupnya.

Selalu Update Berita Bola Terbaru Hanya di Vivagoal.com

Exit mobile version