
Obrolan Vigo: Xhaka dan Filosofi Sunderland Serta Leverkusen
Vivagoal–Berita Bola– Granit Xhaka membuat kejutan dengan pulang kembali ke Premier League meski dirinya menuai kesuksesan tatkala mentas di Bayer Leverkusen. Ada alasan khusus mengapa ia memilih the Black Cats sebagai langkah berikutnya, filosofi dan hasrat yang sama
Sebagai pesepakbola, sosok asal Swiss boleh dibilang lumayan kenyang pengalaman. Ia sempat beredar di berbagai level tertinggi bersama beberapa klub macam FC Basel, Borussia Moechengladbach, Arsenal dan Bayer Leverkusen. Ia sempat hadir di era transisi Arsene Wenger ke Unai Emery hingga merasakan tangan dingin Mikel Arteta.
Bersama Die Werkself, Xhaka sempat menjadi bagian the Invicibles tim bersama Xabi Alonso dan menghapus stigma Neverkusen yang sudah kadung tersemat dalam klub. Tak hanya gelar Bundesliga, catatan DFB-Pokal dan Piala Super Jerman pun sempat ia bukukan bersama tim BUMN Jerman. Namun ia hanya habiskan dua tahun di tambahan di Jerman dan putuskan kembali ke Inggris pada musim panas 2025/26.

Xhaka, yang kenyang akan pengalaman dirasa menjadi sosok yang tepat untuk menjadi pemimpin Sunderland yang mayoritas berisikan pemain muda. Mahar 15 juta Euro pun menjadi kompensasi untuknya guna kembali ke Inggris untuk kali kedua. Ia melihat adanya persamaan antara kedua tim dan ambisi yang kurang lebih serupa.
Baca Juga:
- 5 Fakta Pemain Afrika yang Paling Berpengaruh di Dalam Maupun Luar Lapangan
- 5 Fakta Pemain Asia yang Tengah Mentas di Premier League
- 5 Fakta Jebolan La Masia yang Bermain di Timur Tengah
- 5 Fakta Legenda Sepakbola dari Tim Papan Tengah
“Kedua tim memiliki banyak pemain muda. Leverkusen memang selalu ada di empat besar. Namun saya merasakan ambisi yang sama di Sunderland. Ruang gantinya sama dan hal itu bisa menjadi kunci di akhir musim. Perpaduan pemain muda dan beerpengalaman seakan terbangun di antara mereka,” urainya seperti diwartakan fourfourtwo.
Menjadi mentor bagi pemain muda jelas bukan hal yang baru untuknya. Sebelumnya, ketika berada di London Utara, Bukayo Saka sempat dinilainya menjadi sosok yang bakal menjadi fenomena. Xhaka menilai jika hal serupa ada di tim seperti Chris Rigg, Dan Neil, Anthony Patterson dan berbagia nama lain.

Kombinasi pemain tua dan muda di Sunderland seakan menjadi tumpuan bagi tim besutan Regis Le Bris. Dalam dua periode transfer musim ini, mereka sudah mengucurkan lebih dari 200 juta Euro guna mengamankan sejumlah nama the Stadium of Light. Meski begitu, rataan umur skuatnya terbilang muda yakni 25 tahun dari 29 pemain yang terdaftar.
Performa tim juga terbilang lumayan. Mereka masih beredar di papan tengah Premier League dan asa untuk mentas di Eropa lumayan terbuka. Bahkan sebelum pergantian tahun, tim sempat merusak tatanan big six sebelum akhirnya tergelincir ke papan tengah.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: MLS Jadi Taman Bermain Baru bagi James Rodriguez
- Obrolan Vigo: Masih Layakkah Sematan Special One pada Jose Mourinho?
- Obrolan Vigo: David Trezeguet, Mantan Juara Dunia yang Rela Dua Kali Main di Kasta Bawah
- Obrolan Vigo: Adel Taarabt, Pemain Terbaik Championsip
Di Sunderland, selain Xhaka, ada nama Reinildo Mandava, Dan Ballard hingga Nordi Mukiele yang menjadi poros utama tim untuk menjadi mentor bagi parapemain muda yang juga mayoritas berasal dari akademi dan baru merapat ke klub di musim ini.
Jalan the Black Cats memang masih jauh dari kata selesai. Ada dua potensi yang bisa mereka rengkuh di musim ini. Bertahan di Premier League atau bisa saja mentas di Eropa entah lewat jalur Europa League atau Conference League. Menarik untuk mentikan bagaimana langkah tim yang kini dimiliki pengusaha muda Kyril Louis-Dreyfus itu.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















