
Obrolan Vigo: Thomas Tuchel, Messiah atau Judas bagi Timnas Inggris?
Vivagoal–Berita Bola– Thomas Tuchel memiliki rasio kemenangan yang lumayan mumpuni ketika ditunjuk sebagai arsitek Timnas Inggris per 1 Januari 2025 kemarin. Namun jika tiga singa gagal memenangkan Piala Dunia, statistik tersebut akan dianggap sia-sia belaka. Mengapa?
Sejak awal kemunculannya sebagai pelatih, banyak fans Inggris yang mengkritisi kehadirannya. Pertama, ia adalah orang Jerman. Inggris dan Jerman memang memiliki rivalitas yang lumayan sengit dalam kancah sepakbola. Mempercayai nahkoda kepemimpinan di bawah komando orang Jerman jelas menjadi kemunduran bagi Timnas Inggris.
Namun jika menarik siapa orang yang pantas dan tersedia untuk menukangi Inggris kala itu. Beberapa sosok seperti Eddie Howe, Lee Carsley, Graham Potter, Mauricio Pochettino hingga Pep Guardiola dibidik. Namun di antara nama yang tersemat dan tersedia dalam waktu dekat, mengangkut Tuchel ketika dirinya berstatus tanpa klub jelas menjadi opsi terbaik yang bisa diambil oleh FA.
Induk sepakbola Inggris memang menargetkan timnya untuk keluar sebagai juara, entah di Piala Dunia 2026 atau di Piala Eropa 2028. Kebetulan kontraknya sudah diperpanjang hingga gelaran kompetisi Eropa itu rampung dihelat. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dilalui mengingat belum ada lagi sosok yang hantarkan negeri Raja Charles mendulang silverware apapun sejak Piala Dunia 1966 rampung.
Baca Juga:
- 5 Fakta Pelatih Tertua di Piala Dunia 2026
- 5 Fakta Calon Kuda Hitam di Piala Dunia 2026
- 5 Fakta Transfer Terburuk Tim Premier League di Musim 2025/26
- 5 Fakta Pemain dengan Caps Terbanyak di Piala Dunia
Reaksi fans ketika laga perdananya pun terlihat. Mereka nampak diam ketika negaranya mentas di Wembley kala bersua Wales dan hal tersebut direspon Tuchel yang menganggap fans Inggris kurang bergairah. Suasana kemudian mencair ketika fans Inggris melakukan chant “Are we loud enough for you?” Tuchel pun kemudian meredakan suasana dengan respon pasca laga.
Bersamanya, Inggris sudah memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2026. Di bawah komando mantan pelatih Chelsea itu,Harry Kane dan kolega mampu mendulang 12 kemenangan, satu seri dan dua kali kalah dari 15 laga yang dimainkan dengan rasio kemenangan 80 persen. Ia baru saja hantarkan Inggris menang 4-2 atas Kroasia di Dallas Stadium, Kamis (18/6)

Namun hajatan empat tahunan tersebut, kontroversi kembali bergulir. Ia tak menyertakan beberapa nama yang sejatinya dianggap layak untuk ada di tim seperti Harry Maguire, Phil Foden, dan Cole Palmer. Sebagai ganti, John Stones, Jordan Henderson hingga Noni Madueke justru disertakan dalam tim. Hal ini jelas mematik kontroversi, terlebih di kanal-kanal sosial media.
Dengan rangkaian nama yang dibawa, andai Inggris gagal mendulang gelar Piala Dunia. Kegagalan jelas akan disematkan kepadanya. Terlebih, berbagai media Inggris sudah menyiapkan peluru jitu untuk melakukan konfrontasi lebih lanjut yakni terkait skuat yang dibawanya ke Amerika Tengah meski dirinya sempat berdalih sudah membawa kekuatan terbaiknya guna mentas di Piala Dunia.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Back to Back PSG di Liga yang Menyelamatkan Sepakbola
- Obrolan Vigo: Barba, Veni, Vidi, Vici dan Menjaga Marwah Persib Bandung
- Obrolan Vigo: Xabi Alonso Bisa Jadi Kartu AS dari Rangkaian Masalah Chelsea?
- Obrolan Vigo: Marcos Llorente, Keping Terpenting dalam Ambisi Timnas Spanyol
Meski begitu, Tuchel jelas bukan sosok yang memiliki reputasi kosong dalam karir kepelatihan layaknya Gareth Southgate atau Lee Carsley. Ia memiliki rangkaian pengalaman, khususnya di ajang turnamen sistem gugur. Beberapa klub sempat merasakan tuah dari tangan dingin pelatih asal Jerman itu.
Borussia Dortmund sempat dihantarkan menangi DFB-Pokal. PSG memenangkan rangkaian gelar domestik di Prancis dan puncaknya hadir ketika ia meenukangi Chelsea. The Blues dibawa menangi Liga Champions kedua, Piala Super Eropa hingga Piala Dunia Antar Klub pada 2021 lalu. Ia juga sempat hantarkan PSG tetap mendominasi Ligue 1.
Dengan rangkaian catatan tersebut dan memilih skuat yang lebih mengutamakan ikatan dibanding nama besar, Tuchel tetap pede terkait kans timnya. Ia juga mengklaim Inggris memerlukan detil kecil andai mampu merapat ke fase gugur lantaran di berbagai momen, langkah tiga singa justru kerap tertatih kala hadapi momen krusial.
Ada harapan ia bisa menjadi oase bagi penantian panjang Inggris untuk mendulang silverware pertama sejak 60 tahun silam entah di Piala Dunia atau Euro. Di sisi lain, cap sebagai judas, yakni musuh yang diam-diam masuk ke dalam perkumpulan juga tersemat padanya andai ia gagal membawa Inggris keluar sebagai juara, di turnamen manapun itu.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















