
Obrolan Vigo: 1998/99, Musim Terburuk yang Pernah Dilalui Manchester City
Vivagoal – Berita Bola – Manchester City saat ini tengah impresif di bawah komando Pep Guardiola. Mereka sudah memenangi semua gelar yang tersedia di kolong langit. Namun kesuksesan tersebut tak hadir dalam ruang kosong. Ada jalan panjang yang dilalui dan pernah ada musim terburuk yang mereka lalui.
City awalnya merupakan tim yang tak terlalu mentereng dalam kancah sepakbola Inggris. Mereka kerap turun naik kompetisi. Jika dibandingkan dengan tim yang ada sekarang, City tak ubahnya Fulham atau Everton. Mereka tak ada di atas dan tak juga berada di bawah.
Langit cerah mulai 2007, ketika mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra mengakuisisi tim. City mulai mengamankan sejumlah nama besar untuk memperbaiki performa tim. Dua tahun berselang, proyek besar yang dicanangkan Abu Dhabi United besutan Sheikh Mansour mengakuisisi dan City terus stabil sampai hari ini dan memporakporandakan tatanan Big Four Premier League sejak 2011 sampai sekarang.

Sebelum era milenium, tim pernah menjalani masa suram. Di musim 1998/99 lalu, mungkin hanya Oasis yang digawangi Gallagher bersaudara dan warga asli Manchester yang mengetahui eksistensi City. Kala itu, tim ada di divisi ketiga dan tengah dalam keadaan kurang stabil.
Baca Juga:
- 5 Fakta Mantan Bintang Serie A yang Tengah Menjadi Pelatih
- 5 Fakta Pemain One Man Club yang Masih Aktif di Liga Indonesia
- 5 Fakta Klub Manchester di Luar United dan City
- 5 Jebolan Premier League yang Sempat Menjejal Liga Australia
City baru saja terdegradasi ke Second Division. Mereka perlu membuang banyak pemain guna menutupi beban gaji tim. Sosok-sosok krusial macam Uwe Rösler, Giorgi Kinkladze harus terdepak dari tim harus menggantinya dengan sosok baru seperti Danny Tiatto, Ian Bishop, dan talenta muda Danny Allsopp.
Mereka sempat terperosok ke papan tengah hingga Desember dan arah tim makin tak jelas. Mereka pernah ditonton 30 ribu fans di Maine Road dan 10 persen dari total fans tersebut juga pernah hadir di tempat yang sama. Situasi aneh tersebut benar-benar terjadi. Bahkan, pernah ada momen fans tim lawan lebih banyak dari fans City di kandangnya sendiri!

Manajer tim saat itu, Joe Royle mengklaim jika tim tengah gamang dan masa depannya tak diketahui andai mereka tak mampu promosi ke level yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pernyataan tersebut juga didukung sang penjaga gawang Nicky Weaver yang mengklaim jika semua laga yang melibatkan timnya adalah partai final.
Saat itu, City tengah mentas di Second Division, setara League One saat ini. mereka finish di belakang Fulham dan Walsall yang sukses promosi ke First Division. Di momen tersebut, the Sky Blues harus memainkan laga play-off melawan Wigan Athletic di fase semifinal. Dalam dua leg yang dimainkan melawan the Latics, City menang dengan agregat 2-1 dalam dua leg yang dipertandingkan.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Dele Alli yang Karirnya Merosot Karena Dirinya Sendiri
- Obrolan Vigo: Marinakis yang Menjadikan Nottingham Forest Seperti gim Football Manager
- Obrolan Vigo: Estevao, Ekspor Terbaik Brasil Setelah Kopi dan Neymar
- Obrolan Vigo: Antonio Cassano, Si Badut dengan Mulut Beracun
30 mei 1999, laga final play-off dimainkan di Wembley, London. Mimpi City untuk pomosi hampir sirna lantaran the Gills sempat unggul 0-2 melalui aksi Carl Asaba dan Robert Taylor masing-masing di menit kee-82 dan 87. Di akhir laga, City memaksa laga harus berjalan dramatis. Mereka sempat samakan kedukan melalui Kevin Horlock dan Paul Dickov.
Gol Dickov, sosok yang dianggap sudah payak bahkan lebih penting dari gol yang dicetak Sergio Aguero melawan QPR pada 2012 lalu lantaran membuktikan harapan bagi City untuk promosi masih ada. Putus asa yang sempat hadir di Wembley pada akhirnya memberikan harapan bagi mereka yang hadir di sana untuk menyaksikan potensi kebangkitan tim.
View this post on Instagram
Skor 2-2 bertahan hingga laga rampung. Pertandingan harus dilanjutkan melalui drama adu penalti. Weaver tampil solid di bawah mistar dengan menepis dua sepakan pemain Gillingham. City tanpa kesulitan menceploskan tiga bola ke gawang lawan. Mereka menang dengan agregat 3-1 dan berhak menemani Fulham serta Walsall.
Pasca perjalanan luar biasa itu, City kemudian hanya butuh waktu dua tahun untuk kembali ke Premier League. Mereka sempat terdegradasi sekali lagi dan kemudian di musim 2002/03 sampai hari ini, posisi terburuk mereka hanya ada di peringkat 16 tatkala tim masih diarsiteki Kevin Keagen dan diperkuat beberapa pemain yang hampir selesai macam Steve McManaman, Paul Bosvelt hingga Michael Tarnat.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















