Obrolan Vigo Diego Ribas: Permata Brazil yang Tak Terasah Sempurna

Obrolan Vigo Diego Ribas: Permata Brazil yang Tak Terasah Sempurna

Heri Susanto - February 28, 2020
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Terbang Tenggelam Bersama Tim Eropa Lain

Keputusan Diego hengkang ke Bremen dirasa tepat. Bundesliga merupakan arena bermain yang cocok untuk para pemain Brazil. Beberapa nama beken asal Brazil macam Giovanne Elber, Kevin Kuranyi, Cacau dan sederet pemain lain sukses di kompetisi teratas sepakbola Jerman itu.

Pelatih Bremen saat itu, Thomas Schaaf paham betul cara memaksimalkan potensi pemain kelahiran 28 Februari 1985. Keberadaan Scaaf dan fans Bremen yang dikenal militant menjadi awal yang baik guna menyongsong karirnya di Eropa yang sempat berantakan di Porto. Bersama Torsten Frings, Diego menjadi elemen penting dalam tim guna mendulang Bundesliga 2006.

Di tahun yang sama, ia sukses menjadi Player of the Year Bundesliga. Di musim pertamanya, Diego mampu menyarangkan 15 gol dan 16 assist dalam 50 penampilannya di berbagai kompetisi. Raihan tersebut pun membuatnya dipanggil ke Timnas Brazil untuk kali pertama.

Baca Juga: Obrolan Vigo Roberto Baggio: Pemain Hebat yang Tak Dimaksimalkan Pelatih Manapun

Musim keduanya pun berjalan dengan baik. Bremen mampu mendulang kembali gelar Bundesliga untuk kali kedua secara beruntun. Bahkan raihan individunya pun semakin baik semusim berselang. ia mentas di 43 laga berbagai kompetisi dan mencetak 18 gol serta empat assist. Fans Bremen pun semakin mengelu-elukan namanya.

Musim ketiga menjadi akhir kebersamaan Diego bersama Bremen. Di tahun terakhirnya, ia mampu mendulang 20 gol di berbagai kompetisi. Meski Die Griin Weißen hanya mampu finish di posisi 10. Mereka sukses membawa pulang DFB-Pokal dan melaju ke babak final Piala UEFA untuk menjamu wakil Ukraina, Shaktar Donetsk. Namun ia tak tampil di laga tersebut lantaran mengalami akumulasi kartu di dase sebelumnya.

Di akhir musim, Diego memutuskan hengkang ke Italia dan bergabung dengan Juventus di musim panas 2009 dengan mahar 27 Juta Euro. Juventus yang diarsiteki Cirro Ferarra mengusung dua misi yakni bangkit pasca skandal Calciopoli dan menginginkan Ferarra bertansformasi untuk sukses seperti Pep Guardiola di Barcelona.

Kedatangannya ke Italia pun membuat Legenda Brazil, Zico buka suara. Menurut si Pele Putih, Diego memiliki segala atribut untuk sukses di Serie A. “Untuk pemain sepertinya, ia memiliki kemampuan bermain yang mumpuni dan tendangan bebas yang hebat,” ungkapnya. Di sisi lain, legenda Serie A, Jose Alafini pun menyebut jika sang pemain lebih cepat dari Zico dan bisa bermain di berbagai posisi.

Baca Juga: 5 Fakta Mencengangkan Tentang Adriano Ribeiro

Meski demikian, ekspektasi tinggal harapan. Pola 4-3-1-2 yang diterapkan Ferrara memang disesuaikan untuk Diego mengatur serangan. Meski demikian, dua pemain di belakangnya yakni Felipe Melo dan Christian Poulsen tak bisa membantu penyerangan sehingga pekerjaan Diego sebagai kreator terasa berat.

Kenyataan berkata lain, Diego tak bisa berbuat banyak di Turin. Ia dianggap gagal. Guru transfer Juventus saat itu, Giueseppe Marrotta pun bergerak cepat untuk melepas sang pemain ke tim lain karena Diego gagal menjadi suksesor Alex Del Piero di dalam tubuh si Nyonya Tua.