Tag: Gagal

Barcelona Jadikan Luis Suarez Kambing Hitam Atas Kegagalan Musim Lalu

0

VivagoalLa Liga – Barcelona dituding menjadikan Luis Suarez sebagai kambing hitam buruknya performa mereka musim kemarin. Blaugrana diketahui ingin menimpakan semua kesalahan kepada sang bomber.

Menurunnya performa Luis Suarez sudah terlihat di Barcelona musim 2020/2021. Nasibnya saat ini masih terkatung-katung karena tak lagi dibutuhkan El Barca yang sedang memulai proyek baru bersama pelatih asal Belanda, Ronald Koeman.

Musim lalu yang nirgelar, mengkritik kepemimpinan Quique Setien sebagai pelatih hingga dipermalukan oleh Bayern Munchen di ajang Liga Champions bak menjadi alasan buat manajemen Blaugrana menjual Luis Suarez musim panas ini.

Padahal, bersama Lionel Messi di lini depan, Suarez bisa dibilang termasuk ikon klub dalam enam musim terakhir. Dari tahun 2014 dirinya membela klub Catalan, trofi demi trofi, gol demi gol ia bukukan. Tak heran jika julukan El Pistolero begitu melekat pada dirinya, merujuk kemampuannya menembak bola sama seperti letupan peluru dari dalam pistol.

13 trofi juara dan 198 gol plus 109 assist dicatatkannya bersama Barcelona, jelas sebuah pencapaian yang tak main-main. Namun, kontribusi besarnya seakan tak berasa ketika Barcelona mengalami kegagalan musim kemarin.


Baca Juga:



Spekulasi soal masa depanya pun kemudian bergulir selayaknya bola salju yang terus-terusan membesar dan membuat spekulasi semakin liar. Suarez mau ke Juventus, Suarez mau ke Atletico dan lainnya. Di usia yang sudah 33 tahun, belum ada yang meragukan insting gol seorang Luis Suarez.

Mantan pelatihnya di Atletico Nacional, Martin Lasarte sekaligus sosok yang memberikan debut profesional pertama kepada Suarez menilai, gagalnya Barcelona musim lalu semata bukan kesalahan eks anak didiknya itu. Tapi Barcelona seakan ingin menimpakan semua kesalahan kepada pemain Uruguay itu.

“Kelihatannya semua tanggung jawab atas segala sesuatu yang buruk terjadi di Barcelona ditimpakan ke Luis. Mereka lupa bahwa mereka melakukan pergantian pelatih ketika tim sedang di puncak klasemen, dan mereka seakan tidak merasa bersalah atas hal itu.” sembur Martin Lasarte dilansir dari Marca.

“Pertanyaannya sekarang, apa Barcelona bisa merekrut pemain yang lebih baik dari Suarez sekarang? Saya kira Barcelona hanya ingin membuat Luis membayar atas kesalahan manajemen sepanjang tahun ini.” geramnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar La Liga hanya di Vivagoal.com

Terlalu Egosentris Bikin Guardiola Selalu Kandas di Liga Champions

Vivagoal Liga Champions – Legenda Bayern Munich, Lothar Matthaus mengkritik Josep Guardiola adalah sosok yang begitu egois dengan taktik yang dimiliki. Menurutnya pelatih asal Spanyol itu terlalu percaya diri dengan taktik yang ia terapkan meski itu sangat tidak dibutuhkan dalam sebuah permainan.

Nama Guardiola melesat sebagai salah satu pelatih top di Eropa saat ini. Keberhasilan membawa Barcelona meraih 14 trofi hanya dalam empat musim menjadi salah satu penyebabnya.

Ia kemudian melanjutkan karier di Bayern Munich dan Manchester City. Di sana, Guardiola kembali menunjukkan kualitasnya dengan menghadirkan beberapa trofi bergengsi.

Namun perjalanan Guardiola di Bayern dan City hanya sebatas raja domestik. Ia tak bisa berbicara banyak di kancah Eropa.

Terbaru City yang diperkuat nama-nama besar terpeleset di babak delapan besar. Mereka kalah 1-3 dari kuda hitam, Lyon.

Guardiola menyalahkan blunder lini pertahanan kala tim lawan begitu tegas dengan permainan serangan baliknya. Kekecewaan Guardiola itulah yang membuat Matthaus menyebutnya sebagai pelatih yang egosentris.

“Tentang Pep Guardiola, saya merasa dia selalu ingin melakukan sesuatu yang istimewa pada pertandingan besar,” kata Matthaus kepada Sport Bild.


Baca Juga:



“Barcelona memiliki DNA, sistem yang dia pelopori. Pep pun sukses di sana. Dengan Bayern dan City, dia mencobanya berulang kali dengan sejumlah modifikasi, tapi hasilnya gagal lagi dan lagi.

“Dia selalu ingin memamerkan kepada semua orang bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Saya ingin sekali menasihati dia: Pep, Anda adalah pelatih hebat, tapi tolong pertahankan sistem bermain Anda!

“Saya mendeskripsikannya sebagai sosok yang egosentris. Ya, itu kata yang sedikit berlebihan, tapi itu karena perbuatannya sendiri. Di Bayern, Robert Lewandowski bahkan pernah coba dia mainkan sebagai sayap kiri dan itu tidak berhasil sama sekali,” imbuhnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Champions hanya di Vivagoal.com

Luka Lukaku, 10 Tahun Gagal Rengkuh Gelar Juara

Vivagoal Liga Europa – Romelu Lukaku bisa jadi pemain paling tersakiti saat Inter Milan kalah dari Sevilla. Bukan hanya membuat gol bunuh diri, kekalahan tersebut membuatnya sudah absen meraih gelar juara 10 tahun terakhir.

Pada final Liga Europa yang digelar di RheinEnergie Stadion, Cologne, Sabtu dini hari WIB, 22 Agustus 2020, dini hari tadi, Lukaku sempat membawa Inter melalui titik putih. Namun, situasi berbuah 180 derajat ketika dia mencetak gol bunuh diri di menit 74.

Sebuah tendangan akrobatik yang dilepaskan oleh Diego Carlos coba dihalau Lukaku yang sayangnya bola justru mengarah ke gawang sendiri. Sial baginya, gol tersebut menjadi penentu kemenangan Sevilla dengan skor 3-2.

Dilansir dari The Sun, Lukaku kemudian tak tampak dalam penyerahan medali. Sang bomber disebut memilih bertahan di ruang ganti meratapi nasibnya.

Kekecewaan Lukaku cukup masuk akal. Dilansir dari Transfermarkt, kekalahan ini membuat Lukaku memperpanjang kariernya yang minim trofi. Sepanjang kariernya, dia baru merebut satu gelar, yakni Liga Belgia bersama Anderlecht di musim 2009/10. Ya, 10 tahun silam.

Hal ini cukup miris mengingat Lukaku sebelumnya juga memperkuat tim kuat sekelas Chelsea dan Manchester United. Lukaku sebenarnya merupakan bagian dalam skuad Chelsea yang menjuarai Liga Champions 2011/12. Namun, pemain asal Belgia ini tak bermain semenit pun di Liga Champions, sehingga namanya dinilai tak berhak meraih gelar tersebut.


Baca Juga:



Fakta miris tersebut cukup disayangkan. Terlebih pemain 27 tahun ini tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Belgia dengan 52 gol dari 84 laga. Ia juga tergolong bomber tajam dengan 221 gol dari 464 laga sepanjang karier profesionalnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Europa hanya di Vivagoal.com

Gagal Juara Liga Europa, Conte Indikasikan Kepergiannya dari Inter?

Vivagoal Serie A – Antonio Conte mengaku tidak ingin mundur dari jabatannya sebagai pelatih Inter Milan. Namun klub harus terus bergerak maju baik dengan ataupun tanpa dirinya.

Inter harus menelan kekalahan 2-3 pada final Liga Europa melawan Sevilla dini hari tadi. Kekalahan tersebut jelas terasa menyakitkan mengingat ini kesempatan terakhir Inter meraih gelar juara musim ini.

Sebelumnya Inter sudah gagal di Coppa Italia dengan hanya melaju hingga semifinal. Setelahnya mereka kalah bersaing dengan Juventus di Serie dengan hanya menjadi runner-up.

Conte pun menyiratkan kekecewaannya dengan mengatakan jika laga itu bisa jadi laga terakhirnya. Menurutnya klub harus terus bergerak maju ke depannya meski tanpa dia.

“Saya selalu berterima kasih atas kesempatan ini. Tapi, sekarang kami harus merencanakan masa depan Inter Milan. Apakah itu dengan atau tanpa saya. Ini laga yang sulit, cukup berimbang dimana satu insiden di babak kedua mengubah segalanya,” ucap Conte usai laga dikutip dari Mirror.

“Kami mendapat kesempatan. Tapi, terjadi kesialan ketika bola membentur Romelu Lukaku. Itu tidak bisa dihindari. Sebab, saat itu situasinya di sana sangat rumit. Kami sangat menyesali kekalahan ini,” lanjut Conte.

Conte menambahkan akan ada evaluasi perkembangan tim di musim ini. Namun ia menolak untuk menyerah di Inter.


Baca Juga:



“Para pemain sudah bekerja keras, tumbuh sangat cepat dan berkembang. Mereka menembus final Liga Europa. Banyak diantara mereka yang baru pertama kali merasakannya. Jadi antara Liga Champions dan Liga Europa, setidaknya banyak pemain muda kami yang mendapat pengalaman,” ucap Conte.

“Jika Anda berpikir saya akan mundur, maka jawabannya tidak. Saya sudah sampaikan pendapat saya, Anda sudah mendengar perkataan saya dan itu tidak akan berubah. Yang pasti saya akan melakukan evaluasi. Begitu juga presiden klub,” tutup Conte.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

KF Drita Terancam Gagal ke Pentas Eropa Musim Depan, Kok Bisa?

Vivagoal Liga Champions – UEFA yang akan memulai babak kualifikasi Liga Champions musim 2020/21 dihadapkan dengan salah satu klub peserta yang pemainnya terjangkit covid-19. Laga kemungkinan tertunda dan bahkan tim itu terancam gagal lolos ke babak selanjutnya.

UEFA tampaknya ingin bergegas mempersiapkan diri untuk Liga Champions musim berikutnya kendati musim ini masih menginjak babak perempat final. Mereka memulai dengan menggelar babak kualifikasi untuk tim-tim yang berasal dari liga-liga kasta menengah ke bawah.

Namun di tengah rencana tersebut, UEFA mendapati salah satu pemain dari tim peserta terpapar virus corona. Salah satu pemain tersebut berasal dari KF Drita. Klub asal Kosovo itu rencananya akan bertemu tim asal Irlandia Utara, Lindfield pada 11 Agustus di Nyon, Swiss mendatang.

Langkah pertama sudah dilakukan yakni dengan mengarantina pemain tersebut bersama rekan satu timnya yang diketahui sempat melakukan kontak langsung dengannya.

“Tes positif kedua dari pemain yang berhubungan dengan anggota delegasi lainnya dalam beberapa hari terakhir telah mendorong otoritas Swiss untuk menempatkan seluruh tim Kosovo ke karantina,” bunyi pernyataan UEFA, dikutip dari Mirror.


Baca Juga:



“Oleh karena itu, pertandingan yang akan datang tidak bisa dimainkan. Masalah tersebut akan diserahkan pada Badan Kontrol dan Disiplin UEFA.”

“Keputusan yang akan diambil sesuai dengan lampiran I dari peraturan Liga Champions 2020/21, yang telah disetujui oleh Komite Eksekutif UEFA beberapa pekan lalu,” tutup pernyataan tersebut.

KF Drita kemungkinan akan langsung tersingkir dari babak kualifikasi nanti sedang Linfield bisa lolos ke babak berikutnya. Kepastiannya baru bisa keluar dari keputusan UEFA nantinya.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Champions hanya di Vivagoal.com

Rangnick: Bukan Waktu Yang Tepat Ke Milan Saat Ini

Vivagoal Serie A – Ralf Rangnick mengatakan jika pindah ke Milan adalah langkah yang tidak bijaksana mengingat mereka tengah berada dalam laju positif.

Milan melakukan pergantian pemain kala musim bergulir. Adalah Stefano Pioli yang kala itu ditunjuk oleh Paolo Maldini dan Zvonimir Boban untuk menggantikan peran Marco Giampaolo.

Langkah dua direktur Milan tersebut sempat membuat CEO klub, Ivan Gazidis kesal. Ia disebut lebih memilih sosok Ralf Rangnick sebagai pelatih Milan. Bahkan situasi panas tersebut membuat Boban lengser dari jabatannya.

Setelah sempat terdengar kabar Rangnick akan merapat ke Milan musim depan, keputusan akhirnya diambil. Milan memilih untuk mempertahankan Pioli yang berhasil membawa perubahan besar dalam permainan tim.

Rangnick kemudian angkat bicara tentang situasi tersebut. Menurutnya tidak datang ke Milan adalah langkah terbaik untuk semua orang.

“Milan telah tampil dengan sangat baik sejak dimulainya kembali kompetisi, dengan sembilan kemenangan dan tiga kali imbang. Tidaklah bijaksana untuk pergi ke sana,” katanya kepada Süddeutsche Zeitung, via Football Italia.


Baca Juga:



“Tidak masalah dari perspektif mana Anda melihat semua ini, apakah itu milik saya atau klub, itu tidak bijaksana,” tegas Rangnick.

“Jika saya menempatkan diri pada posisi para penggemar Milan, apakah itu pelatih, direktur olahraga, pemain atau penggemar, saya hampir tidak akan mengerti mengapa Milan ingin mengubah segalanya setelah periode yang begitu positif,” sambungnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Inilah Penyebab Gagalnya James Di Madrid, Apa?

VivagoalLa Liga – Sejak Real Madrid menunjuk Zinedine Zidane sebagai pelatih, performa James Rodriguez langsung menukik tajam. Mantan bomber El Real, Fernando Morientes pun coba menganalisis penyebabnya.

Sejak kembali dari masa peminjaman di Bayern Munchen selama dua musim, nasib James Rodriguez di El Real tak banyak yang berubah. Gelandang berusia 28 tahun itu masih tetap saja lebih banyak jadi penghangat bangku cadangan sepanjang musim 2019/2020 ini.

James yang saat ini sedang menjalani musim keenamnya bersama Los Blancos tercatat baru delapan kali bermain di ajang LaLiga Spanyol dari 36 pekan berlalu. Dari jumlah sebanyak itu, hanya enam diantaranya James bermain sebagai starter, namun tak sekalipun ia dimainkan full selama 90 menit.

Jika merujuk sejak pertama kali Zidane ditunjuk jadi pelatih Madrid musim panas 2016 silam, James hanya 47 kali dimainkan di ajang LaLiga Spanyol dengan menorehkan 13 gol dan 11 assist.

Kondisi ini membuat Morientes mengaku sangat paham dengan situasi James di El Real. Menurutnya, James mengalami ketidakcocokan dengan skema permainan Madrid yang diusung Zidane. Hal itu juga tidak lepas dari ruang geraknya yang terbatas sebagai akibat Zidane yang lebih banyak memfokuskan serangan lewat sayap.


Baca Juga:



“Sejujurnya saya berharap sedikit lebih dari James. Menurut saya, dia adalah seorang pemain yang bisa memberikan lebih. Dia adalah pemain dengan talenta luar biasa dan dia adalah pemain yang spesial.” ucap Morientes seperti dilansir dari
Goal International.

“Bermain untuk Madrid memang selalu rumit. Cara bermain mereka berbeda dan James adalah tipe pemain yang senang mendapatkan banyak kebebasan dalam hal pergerakan. Menurut saya, dia hanya tidak cocok dengan taktik yang diterapkan Zidane di Madrid.” ulasnya.

“Tapi saya percaya, James bisa sukses bersama tim lain jika dia hengkang dari Madrid.” Morientes menuturkan.

Selalu update berita bola terbaru seputar La Liga hanya di Vivagoal.com

5 Hal yang Terjadi Jika Arsenal Gagal Lolos ke Eropa Musim Depan

Vivagoal Liga Inggris – Arsenal saat ini tengah terpuruk dan terancam mengakhiri musim terburuk dalam sejarah.

Keputusan CAS mengabulkan banding Manchester City berdampak pada klub-klub di papan klasemen termasuk Arsenal. Mereka tidak boleh finis di bawah peringkat tujuh klasemen akhir Premier League jika ingin bermain di Eropa musim depan. 

Terdengar gampang, namun target tersebut sangatlah sulit melihat mereka kini masih berada di peringkat 9 klasemen sementara dengan 50 poin dari 35 pertandingan. Hanya tiga pertandingan yang tersisa dan mereka menggantungkan harapan pada kegagalan tim lain.

Ada satu jalan untuk meraih tiket ke Eropa yakni juara Piala FA. Namun, untuk itu mereka harus terlebih dahulu mengalahkan Man City di semifinal, misi yang terdengar mustahil.

Andai benar-benar gagal menembus kompetisi Eropa musim depan, Arsenal dihadapkan dengan 5 dampak nyata. Apa sajakah itu?

  1. Ancaman Kepergian Pemain

Dampak nyata yang mereka hadapi nantinya sudah pasti kemungkinan perginya para pemain bintang. Arsenal sudah lama tidak bermain di Liga Champions, yang menyebabkan kepergian beberapa pemain. Sekarang, tanpa Liga Europa situasinya bakal jadi lebih sulit.

Satu nama yang mungkin bisa lepas adalah Pierre-Emerick Aubameyang. Nama satu ini sudah sejak lama disebut akan pergi dari Emirates. Kemungkinan tanpa kompetisi Eropa musim depan jelas bukan jawaban atas situasi striker asal Gabon tersebut.

  1. Dampak Finansial

Arsenal pada Februari kemarin telah mengumumkan erugian operasional sampai 27,1 juta poundsterling. Itu artinya kerugian klub asal London utara itu bisa kian membengkak jika gagal lolos ke Eropa musim depan.

Dampak finansial akibat gagal menembus kompetisi Eropa akan sangat terasa bagi kebanyakan klub termasuk Arsenal. Terlebih lagi dengan adanya pandemi virus corona saat ini.

  1. Modal Transfer Terkikis

Kepergian pemain bintang bisa diatasi dengan belanja pemain baru. Sayangnya, dengan gagal lolos ke Eropa maka modal untuk belanja pastinya juga akan dipangkas.

Manajemen klub pastinya akan berusaha memperbaiki finansial klub. Alih-alih untuk transfer, uang tersebut kemungkinan besar akan dialokasikan untuk membayar gaji para pemain.


Baca Juga:


 

  1. Catat Sejarah Terburuk

Nama besar yang disandang Arsenal bukan tanpa alasan. Klub berjuluk The Gunners tersebut tak hanya meraih berbagai trofi bergengsi namun tak pernah absen di kompetisi Eropa selama 25 tahun terakhir.

Dan kemungkinan catatan tersebut akan terhenti musim depan. Mungkin hanya sebuah penurunan, namun untuk sebuah klub besar tidak bermain di kancah Eropa akan mencoreng muka mereka.

  1. Miliki Waktu Benahi Tim

Dampak terakhir lebih mengarah ke sisi positif. Ditinggal pemain, tak bisa mendatangkan pemain baru dan muka tercoreng, namun Arsenal bisa acuh dengan hal tersebut untuk satu musim.

Caranya adalah dengan fokus mengembangkan tim bersama Mikel Arteta. Semua akan berjalan sulit awalnya, namun dengan waktu yang lebih longgar, maka mereka setidaknya bisa mendalami taktik yang diinginkan oleh Arteta semaksimal mungkin.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Inggris hanya di Vivagoal.com

Gagal Eksekusi Penalti, Pemain Ini Salahkan Stadion Yang Sepi

Vivagoal Bundesliga – Eksekusi penalti penyerang Augsburg, Florian Niederlechner gagal berbuah gol saat melawan FC Koln. Niederlechner menyalahkan sepinya stadion atas kegagalannya tersebut.

Pada spieltag ke-30 Bundesliga Jerman, Niederlechner sesungguhnya berpeluang membawa Augsburg unggul lawannya FC Koln di WWK Arena dalam lanjutan Liga Jerman, Senin (8/6/2020) dinihari WIB, setelah timnya mendapat hadiah penalti pada menit ke-27.

Namun Niederlechner malah gagal mengonversi kesempatan itu jadi sebuah gol. Bola tendangannya berhasil ditepis kiper FC Koln, Timo Horn dan pada akhirnya, kedua tim harus puas berbagi angka usai bermain imbang 1-1.

Niederlechner mengungkapkan kegagalan penaltinya dikarenakan dia merubah arah tendangannya. Dia melakukan itu karena mendengar teriakan pemain lawan kepada kiper Timo Horn, sesuatu yang tak mungkin dia bisa dengar kalau stadion dalam kondisi ramai penonton.

“Saya membuat kesalahan terbesar sebagai eksekutor penalti. Biasanya, saya menendang ke pojok kanan, tapi waktu itu saya mendengar komentar dari lawan karena pertandingan tertutup ini.” sesal Niederlechner seperti dilansir dari ESPN.


Baca Juga:



“Pemain itu berteriak ke kiper agar mengingat ke arah mana saya biasanya menempatkan bola. Dan itu membuat saya berubah pikiran. Itu sebuah kesalahan besar, karena membiarkan diri saya terpengaruh. Padahal, saya sering jadi pahlawan buat tim, dan hari itu saya benar-benar bodoh.” kesalnya.

Akibat kegagalan meraup poin penuh, Niederlechner pun harus melihat klubnya, Augsburg turun ke peringkat 13 klasemen Liga Jerman dengan torehan 32 poin dari 30 laga. Sementara FC Koln ada satu tingkat diatasnya dengan koleksi 35 poin.

Selalu update berita bola terbaru seputar Bundesliga hanya di Vivagoal.com

Van Persie Menolak Jika David Moyes Dituduh Biang Kegagalan Man United, Kenapa?

Vivagoal Liga Inggris – Eks penyerang Manchester United, Robin Van Persie angkat bicara terhadap situasi klub saat ditinggal Sir Alex Ferguson. Menurutnya pelatih yang dipilih tuk menggantikan peran Fergie akan mengalami kesulitan yang luar biasa.

Man United mulai menjalani masa sulit ketika Sir Alex Ferguson memutuskan hengkang pada musim 2013 setelah berhasil memberi gelar Premier League ke-13. Kemudian klub menunjuk pelatih Everton saat itu, David Moyes.

Dengan skuad yang terbilang sudah berumur, manajemen menaruh harapan tinggi pada Moyes. Sayangnya hasil berkata lain, Young dkk hanya mampu mengakhiri musim dengan bertengger di sepuluh besar klasemen.

Moyes pun tak bertahan lama. Pria berusia 57 tahun tersebut langsung dipecat hanya dalam hitungan bulan karena dianggap tak mampu mengangkat performa klub.

Namun Robin Van Persie menilai penampilan buruk Man United musim itu bukan sekedar kesalahan Moyes semata. Menurutnya seluruh pemain juga punya tanggung jawab besar atas kegagalan yang mereka dapatkan.

“Kami memang kesulitan karena kami berakhir di posisi tujuh,” ujar Van Persie kepada Premier League Productions “Dari tempat yang tinggi, kami berpikir tentang menjuarai Liga Champions dan seterusnya.


Baca Juga:


“Itu juga periode yang baru dengan Paul Scholes memasuki akhir karier, Ryan Giggs menjadi pemain/pelatih. Semuanya baru.

“Moyes tidak bisa disalahkan – siapapun yang datang setelah Ferguson, semoga beruntung. Bukan hanya dia yang harus disalahkan, kami juga demikian. Standar sebelumnya sangat tinggi tetapi kemudian merosot.”

“Itu sedikit mengejutkan,” ungkap Van Persie. “Tepat sebelum saya tanda tangan, saya – secara harfiah – sedang memegang pena dan saya mengatakan ‘Satu hal lagi Sir Alex, berapa lama lagi Anda berencana untuk bertahan?’ dan dia mengatakan ‘Setidaknya tiga tahun lagi’.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Inggris hanya di Vivagoal.com

LATEST NEWS

HOT NEWS