Obrolan Vigo: Bentford FC, Siap Menggigit atau Tergigit?

Obrolan Vigo: Brentford FC, Siap Menggigit atau Tergigit?

Heri Susanto - Juli 19, 2021
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Jalan Panjang Menuju Promosi

Brentford sejatinya bukanlah tim yang kerap turun naik Premier League macam Watford, West Bromwich Albion hingga Norwich City. Mereka lebih banyak habiskan musim di kompetisi kelas tiga dan kelas dua Inggris; Tangan dingin pemilik klub, Matthew Benham dan Co-Director of Football, Rasmus Ankersen menuai buah dari kesabaran mereka mengelola tim.

Bees resmi menutup akademi mereka pada 2016. Penutupan akademi ini, menurut Benham, merupakan langkah bijak karena pembuatan akademi sudah dilakukan tim-tim Inggris lain macam, Chelsea, City, United, Liverpool, Southampton hingga Arsenal dan lainnya. Berbagai tim tersebut memiliki akademi yang terbilang mumpuni. Sehingga Benham memilih jalan lain yakni dengan menutup tim akademi dan merekrut pemain setengah jadi untuk mentas di Brentford B, yang banyak diisi oleh pemain U-17 hingga U-21.

Bees juga menjalin kerjasama berupa affiliated club dengan FC Midtjylland, yang notabene merupakan tim milik Rasmus dan tim non liga London Tigers. Kerjasama dengan kedua tim tersebut berguna untuk memantau pemain yang ingin mereka rekrut. Sejauh ini, Brantford sudah disesaki sedikitnya 9 pemain dari Skandinavia dalam skuatnya. Kehadiran pemain tesebut memang masih berada dalam jangkauan Midtjylland yang berada di Denmark.


Baca Juga:


“Saat kamu melakukan pembinaan pemain muda, ada 2 jalan untuk mengukur kesuksesan. Apakah kamu membina pemain untuk masuk ke tim utama? Dan apakah kamu bisa menjual pemain yang kamu bina dan mendatangkan keuntungan? Pada akhirnya pembinaan pemain muda juga merupakan sebuat bisnis, dan layaknya bisnis-bisnis lain, kamu menginginkan balik modal,” kata Rasmus Ankersen kepada Talksports beberapa waktu lalu. “Jika David ingin mengalahkan Goliath, tentu saja dia tidak bisa menggunakan senjata yang sama,”

Sebagai ganti, tim asal London menggunakan data sains untuk mengeidentifikasi pemain yang punya level lebih tinggi. Di sini, Matthew punya keahlian di bidang ini sementara Ankersen mampu mengeksekusi skema tersebut dengan baik. Tim Brentford B juga mendapatkan fasilitas yang sama dengan tim utama. Mereka juga kerap bertanding melawan tim besar yang memiliki reseve skuat di setiap musimnya.

Dengan menggunakan pemain reserve, efektivitas penyerapan pemain juga amat terasa pada klub berlogo lebah itu. Dalam empat musim terakhir, sedikitnya ada 16 pemain dari Brentord B yang dipromosikan ke tim utama.

Belakangan, Brentford juga menepikan peran manajer dalam tim. Bees menggunakan pelaih kepala untuk melatih dan mereka punya direktur olahraga yang mengurusi skema transfer klub. Tak berhenti sampai di situ, tim reserve mereka juga ditangani langsung oleh sepasang direktur olahraga yang mereka miliki.