Obrolan Vigo: Peran Luar Biasa di Balik Kesederhanaan Xabi Alonso

Obrolan Vigo: Peran Luar Biasa di Balik Kesederhanaan Xabi Alonso

Heri Susanto - November 25, 2020
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Setelahnya, La Real pun mulai membangun kekuatan di bawah pelatih anyar Raynald Denoueix yang sukses memberikan gelar juara divisi satu untuk Nantes. Musim 2002/03, Sociedad memiliki beberapa gelandang terbaik macam Alonso, Javier de Pedro, Mikel Aranburu dan pemain veteran Valeri Karpin. Di lini depan, mereka diperkuat duet maut Darko Kovačević dan Nihat Kahveci,

Musim tersebut terbilang fantastis, selama empat bulan, Ra Real mampu mempertahankan momentum dengan berdiri sebagai pemuncak klasemen. Mereka sukses menumbangkan lawan-lawannya. Namun di akhir musim, La Real harus menyerahkan gelar ke tangan Madrid yang kala itu masih dilatih Vicente del Bosque dengan jarak dua poin. Mereka duduk di posisi kedua dengan torehan 76 poin dan berhak lolos ke fase grup Liga Champions musim 2003.04. Di musim tersebut, Alonso pun tampil produktif dengan mengepak 33 laga di berbagai kompetisi dan megemas tiga gol serta satu assist.

Catatan tersebut sejatinya membuat Del Bosque ingin meminangnya ke Real Madrid. Namun kenyataan berkata lain, Del Bosque keburu hengkang dan pada akhirnya Alonso pun menetap setahun lagi di San Sebastian. Di musim terakhirnya, ia hanya mampu membawa tim nangkring di posisi ke-15 klasemen akhir dan sukses melaju ke fase gugur Liga Champions pasca ditumbangkan Lyon dengan skor 1-0 di laga kandang maupun tandang.

Hengkang dan Berjaya di Liverpool

Di akhir musim, Sociedad pun resmi menjual Alonso ke Liverpool dengan mahar tak kurang dari 16 juta Euro. Di sana, kemampuannya sebagai gelandang lumayan terasah lantaran ia memiliki intelejensi tinggi dan fisik yang lumayan mumpuni untuk bersaing di Premier League yang memang mengutamakan ketahanan fisik dari para pemainnya.

Bahkan semusim berselang, Liverpool sukses membuat “Miracle in Instanbul” pasca comeback dari AC Milan di partai puncak. Sempat tertinggal 0-3 di babak pertama, mereka sukses menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di waktu normal. Laga pun ditentukan lewat adu penalti. The Reds pun keluar sebagai juara sekaligus membawa trofi kelima mereka di kancah Liga Champions guna disimpan dengna rapih di Anfield.

Semusim berselang, ia sukses mempersembahkan gelar Piala FA untuk Liverpool. Di musim 2006/07, Alonso mencetak gol ajaib kala bersua Luton Town di babak ketiga. Setelahnya, mereka melaju hingga partai final dan sukses membawa gelar. Piala FA merupakan gelar kedua yang dicatatkan Alonso sebagai oemain profesional.


Baca Juga:


Meski berperan penting, hubungannya dengan pelatih the Reds kala itu, Rafa Benitez sedikit merenggang pasca pelatih asal Spanyol mendatangkan Javier Mascherano. Hal tersebut membuat menit bermain Alonso sedikit tereduksi. Meski di tahun 2007 Liverpool sukses melaju ke final dan kembali bersua AC Milan, mereka harus tunduk dengan skor ketat 2-1 untuk kemenangan Rossoneri.

Setelahnya, Alonso pun dipanggil ke Timnas Spanyol guna membela La Roja di Piala Eropa 2008 yang dihelat di Asutria. Pada ajang tersebut, Spanyol memang tengah dihiasi pemain-pemain bintang macam Carles Puyol, Iker Casillas, Sergio Ramos, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, hingga Fernando Torres. Dengan komposisi pemain tersebut, mereka sukses mendulang gelar Piala Eropa pertama sejak tahun 1964 lalu.

Pasca kembali dari tugas Negara, Alonso pun kembali ke Liverpool. Hubungannya dengan Benitez pun memanas pasca mantan petih Valencia membuka minat untuk memboyong bintang Aston Villa, Gareth Bary ke Anfield. Sang pemain pun merasa gerah dan merasa waktu bermainnya di Merseyside sudah habis.

Meski begitu, kesepakatan Liverpool mengangkut Barry pun gagal pasca tawaran mereka tak terealisasi menjadi kenyataan. Di musim tersebut, Liverpool hampir mennjuarai Premier League pertama mereka sejak 1989. Namun hal itu urung terealisasi lantaran Manchester United yang tampil lumayan konsisten di musim 2009/10.