Obrolan Vigo: Peran Luar Biasa di Balik Kesederhanaan Xabi Alonso

Obrolan Vigo: Peran Luar Biasa di Balik Kesederhanaan Xabi Alonso

Heri Susanto - November 25, 2020
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Glory Days

Pada akhirnya, Alonso benar-benar hengkang dari Liverpool guna berlabuh ke Real Madrid. Los Blancos harus mengeluarkan dana tak kurang dari 30 juta paun guna membawanya kembali ke Spanyol. Kepindahannya pun terbilang kontroversial lantaran ia mengaku sudah sangat nyaman tinggal di Kota Liverpool.

Bermain di Madrid jelas berbeda dengan Liverpool. Bagi Madridista, kemenangan adalah harga wajib yang harus dilakukan di setiap pertandingan. Hasil seri atau kekalahan jelas sebuah noda yang sulit untuk diterima. Namun, kedatangan Alonso boleh dibilang menjadi oase bagi Real Madrid. Ia sukses menggantikan peran Claude Makelele yang hengkang beberapa tahun lalu dengan baik.

Musim debutnya pada 2009/10 berjalan manis. Namanya kerap mengisi starting line up tim. Namun, gelar yang dinanti belum jua tiba lantaran Barcelona kala itu masih terlalu digdaya. Tak berdaya di klub, Alonso pun membuktikan kapasitasnya di Timnas. Bersama La Roja, ia mampu membawa negaranya untuk kali pertama menjadi juara di tahun 2010 pasca mengandaskan Belanda di partai pamungkas via gol Andres Iniesta di babak perpanjangan waktu.

Gelar perdananya di Spanyol hadir kala Real Madrid menjuarai Copa del Rey 2010/11. Semusim berselang, gelar Liga kembali mampir di almari trofi Madrid. Setelahnya, Piala Super Spanyol pun sempat ikut menyusul. Gelar demi gelar pun hadir dalam karir Alonso pasca hengkang dari Liverpool, termasuk kembali membawa Spanyol back to back menjuarai Piala Eropa 2012.


Baca Juga:


Satu hal yang terbilang fenomenal yakni kala ia berhasil mengantarkan Madrid menjuarai La Decima atau gelar ke-10 mereka di Liga Champions di bawah Carlo Ancelotti. Duetnya bersama Sami Khedira membuat lini pertanahanan bekerja lebih ringan guna mengawal lini belakang. Kesuksesan demi kesuksesan tersebut mau tak mau membuat Alonso menjadi salah satu idola di Madrid setelah Cristiano Ronaldo, Mesut Ozil dan Sergio Ramos.

Gelar Liga Champions merupakan gelar terakhir yang diberikan Alonso. Meski dirinya sudah meneken kontrak dua tahun hingga 2016, ia harus meninggalkan Madrid Rumornya, terjadi perselisihan antara dirinya dan Florentino Perez terkait gaji. Selain itu, Madrid juga baru saja mendaratkan Toni Kroos dari Bayern.

Dengan cepat, ia pun mendarat di Bayern Munchen yang kala itu diasuh Pep Guardiola yang meneruskan tongkat estafet dari tangan Jupp Heynckes yang sukses memeprsembahkan treble winner bagi Die Roten. Di Bayern, Alonso sudah menjelma menjadi pria dewasa dengan segudang pengalaman. Posisinya di tim utama pun seakan tak tergantikan andai ia tak berhalangan tampil.

Meski tak mampu memberikan gelar interkontinental bagi Bayern, namanya menjadi bagian supremasi tim Bavaria di ajang domestik. Tercatat, ia sukses mengepak tiga gelar Bundesliga, 1 DFB-Pokal, 1 German eague Cup dengan catatan 117 laga dan mengepak 9 gol serta 12 assist dalam tiga musimnya bersama Bayern.

Bersama Philip Lahm, Alonso memutuskan pensiun di akhir musim 2017 lalu. Ia sempat menangani tim muda Madrid dan dirumorkan bakal menjadi asisten Pep Guardiola pasca kepergian Mikel Arteta ke Arsenal. Meski hal tersebut belum menjadi kenyataan, Alonso saat ini masih nyaman menjabat sebagai pelatih kepala di Real Sociedad B.

Feliz Cumpleaños, Alonso

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com