Site icon Vivagoal.com

Obrolan Vigo: Yandi Sofyan dan Jarak yang Terbentang dengan si Kakak

Obrolan Vigo: Yandi Sofyan dan Jarak yang Terbentang dengan si Kakak

 Vivagoal Berita Bola – Dunia sepakbola banyak melahirkan kakak beradik yang mentas sebagai pemain. Tak hanya di Eropa, di Indonesia pun hal serupa terjadi dalam beberapa tahun terkahir dan biasanya, salah satu dari mereka ada yang lebih baik dari satunya lagi.

Untuk sepakbola Eropa, di masa lampau kita mengenal De Boer bersaudara. Sepasang pemain kembar asal Belanda sempat bermain bersama di beberapa klub macam Ajax Amsterdam, Barcelona, Glasgow Rangers dan tim-tim Timur Tenngah di akhir karirnya sebagai pesepakbola. Tak banyak kakak beradik yang memiliki privilase seperti itu.

Menarik sedikit lebih jauh ke era milenium, Italia juga memiliki Filippo dan Simone Inzaghi. Keduanya memiliki garis nasib yang berbeda. Pippo lumayan mentereng kala masih menjadi juru gedor AC Milan sementara Simone hanya menjadi pemanis di Lazio. Namun kala berkarir sebagai pelatih, situasi justru berbalik. Si kakak tenggelam dalam mediokeritas sementara si adik bergelimang prestasi bersama klub yang dibelanya.

Sumber: Goal

Indonesia juga memiliki beberapa pesepakbola kakak beradik yang lumayan kesohor. Bagus dan Bagas Kahfi, Yakob dan Yabes Sayuri, Indra Kahfi dan Andridany, Ahmad Kurniawan dan Kurnia Meiga hingga Ortizan dan Boas Sollosa. mereka pernah membela tim yang sama dan beberapa di antaranya masih bersama sampai hari ini. Selain berbagai nama di atas, Zeenal Arif dan Yandi Sofyan juga masuk dalam kriteria itu.


Baca Juga:


Zaenal Arif lumayan kesohor sebagai salah satu poacher yang lumayan mematikan pada masanya. Sosok asal Garut memiliki reputasi baik sebagai pencetak gol. Ia pernah bermain untuk bebragai tim elit di Liga  Indonesia seperti Persib Bandung, Persita Tangerang, Persikabo dan akhiri karir di Persepam Madura United. Catatan golnya sebagai penyerang lokal juga lumayan impresif.

Sementara Yandi Sofyan juga mengikuti jejak karir dari sang kakak. Sosok 31 tahun sama-sama berposisi sebagai penyerang dan punya postur yang lumayan mirip. Namun garis takdir seakan memisahkan mereka. Jika Zaenal lumayan moncer sebagai penyerang maka hal serupa tak terjadi pada Yandi.

Di awal karir, ia memiliki catatan yang lumayan baik. Yandi sempat tergabung dalam SAD yang mentas di Uruguay. Namanya juga pernah tercatat memperkuat CS Vise dan Brisbane Roar di masa mudanya dulu. Menilik karirnya, tim luar yang diperkuatnya masih terafiliasi oleh orang Indonesia. Namun dirinya mengaku tak mendapatkan privilase lantaran tetap harus menjalani seleksi sebelum mentas di sana.

Sumber: Okezone

“Dulu ga pernah berpikir soal apapun, yang penting saya bisa main bola. Keadaan sekarang berbeda. Main di luar mungkin kesempatan langka meski waktu itu saya memperkuat tim  yang dimiliki orang Indonesia. Namun di sana tetap ada proses seleksi. Di awal bermain sempat ada sentimen dari pemain lain karena kami orang Indonesia. Namun semuanya baik-baik saja setelahnya,” urainya.

Pasca kembali dari luar negeri, ia melanjutkan karir di Indonesia. Berbeda dengan Zaenal. Ia jarang mendapatkan menit bermain lantaran kondisi tak memungkinkannya untuk mendapatkan kesempatan lebih.Pasalnya, sejak 20 tahun ke belakang, banyak tim Indonesia yang mengandalkan penyerang asing guna menjadi mesin gol.


Baca Juga:  


Selain itu, perubahan taktik pun menjadi muasal mengapa karirnya tak berkembang. Jika di era Zainal banya tim yang memakai dua penyerang di depan maka saat ini pos tersebut tereduksi menjadi satu dan terkunci untuk pemain asing. Hal tersebut mau tak mau membuat porsi bermain penyerang lokal tergerus seiring berjalanya waktu.

Sosok yang sempat membela Persikota Kota Tangerang mengklaim sudah tak terlalu pusing membandingkan karirnya dengan sang kakak. Ia juga paham dengan situasi beberapa waktu ke belakang, klub-klub Indonesia banyak mempercayai pemain asing karena punya postur dan finishing yang lebih baik dibanding pemain lokal. Lantaran situasi yang terjepit, ia mencoba memaksimalkan kesempatan bermain yang diberikan oleh pelatih.

Meski sempat memperkuat berbagai tim besar macam Arema, Persib Bandung, Bali United, Persikota higga Persikabo, ia jarang mendapat kesempatan main lantaran kerap turun dari bangku cadangan. Situasi itu mau tak mau membuatnya selalu ditepikan dari panggilan Timnas Senior meski karirnya di tim junior terbilang lumayan mentereng.

Sumber: Okezone

“Secara pribadi saya juga tak terlalu berambisi bermain untuk Timnas karena situasinya seperti ini. Saya sempat masuk daftar tunggu Timnas di era sebelum Shin Tae-yong. Namun hal itu dibatalkan karena kompetisi keburu dibubarkan lantaran intervensi pemerintah,” tambahnya

Meski karirnya tersendat lantaran pemain luar, ia mengaku tak menyesali keputusannya main sebagai penyerang, Pemain yang sempat ditawari bermain di DC United ini mengaku sempat menjejal karir sebagai winger. Kini dirinya hanya ingin fokus terhadap karir sepakbolanya sebagai seorang penyerang kala diberi kepercayaan tampil oleh pelatih.

Namun musim ini, namanya tengah mencuat lantaran menjadi salah satu top skor lokal  dengan catatan empat gol dari 12 laga. Raihannya hanya kalah dari Ramadhan Sananta dari Persis Solo dan Mohammad Khanafi yang mentas di Persik Kediri dengan 5 gol.

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com

Exit mobile version