Tag: Timnas Indonesia Senior

Irfan Jaya Siap Bersaing Dengan Andik Di Timnas Indonesia

VivagoalLiga Indonesia – Winger Persebaya Surabaya, Irfan Jaya mengaku siap bersaing dengan Andik Vermansyah dalam upayanya merebut perhatian pelatih timnas Indonesia, Simon McMenemy jelang laga uji coba melawan Yordania dan Vanuatu, Juni mendatang.

Irfan Jaya merupakan salah satu diantara tiga pemain sayap yang dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan timnas Indonesia di Cikarang, Bekasi pada 30 Mei mendatang. Dan pemain asal Bantaeng, Sulawesi Selatan itu tidak menampik jika persaingan di posisi winger akan berlangsung ketat.

“Pastinya seru dan ketat, karena disana ada pemain-pemain hebat seperti Riko Simanjuntak, Andik dan Febri Hariadi, semuanya pemain senior di Timnas.” ujar Irfan.

Irfan jaya sendiri wajar untuk bertekad mendapatkan kepercayaan dari pelatih timnas. Pasalnya, ini merupakan pemanggilan pertamanya untuk skuat Garuda dan ia sama sekali belum tahu karakter pelatih berkebangsaan Skotlandia tersebut.

Namun, winger 23 tahun itu mengaku sudah punya resep untuk menarik perhatian Simon. Satu diantaranya adalah cepat mempelajari taktik yang diberikan oleh eks pelatih Bhayangkara tersebut.

“Bersaing secara sehat sajalah, tunjukkan ke pelatih, nanti soal siapa yang dipilih, tergantung keputusan pelatih. Yang penting cepat beradaptasi, dan ikuti apa kata pelatih.” imbuhnya.

Timnas Indonesia Kalah Bersaing dengan Negara Peringkat 172 FIFA

VivagoalLiga Indonesia – Timnas Indonesia U-23 harus puas menelan kenyataan pahit dalam keikutsertaannya di Kualifikasi Piala Asia U-23 2020 di Vietnam.

Melakoni laga kedua melawan tuan rumah Vietnam, Timnas Indonesia U-23 takluk dengan skor tipis 0-1. Gol Trieu Viet Hung di menit injury time babak kedua, 90+4 pada Minggu (24/03/19).

Kekalahan itu membuat Timnas Indonesia U-23 besutan Indra Sjafri harus tersingkir, karena sudah mengalami dua kali kekalahan. Sebelumnya, mereka takluk dari Thailand dengan skor 4-0 di laga perdana Grup K.

Kegagalan ini pun membuat Timnas Indonesia U-23 wajib mengevaluasi kinerja tim, khususnya di lini depan yang sangat tumpul.

Dari dua laga yang sudah dimainkan, belum sekalipun mereka mencetak gol. Hal itu berbanding terbalik kala mengikuti ajang Piala AFF U-22 2019, pada Februari lalu.

Sektor penyerangan Timnas Indonesia U-23 sangat tajam, dan bahkan salah satu penyerangnya Marinus Wanewar berhasil menjadi top skor, yang membuat Timnas U-23 berhasil merebuat gelar juara.

Lebih mirisnya lagi, lini depan Timnas Indonesia U-23 yang dihuni pemain sekelas Egy Maulana Vikri yang berkarier di Eropa bersama Lechia Gdanks, kalah tajam dari Kamboja.

Negara peringkat 172 FIFA itu mampu mencetak satu gol, bahkan melawan tim yang lebih tangguh yakni Korea Selatan, di laga kedua Grup H, Minggu (24/03/19). Namun sayang, Kamboja harus dibantai di laga tersebut dengan skor 6-1.

Senasib dengan Timnas Indonesia U-23, Kamboja juga dipastikan tersingkir dari Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, karena sudah mengalami dua kekalahan. Yang pertama takluk dari Australia dengan skor 6-0.

Selalu update berita bola terkini seputar sepakbola dunia hanya di vivagoal.com

Timnas Indonesia Kalah Usai Indra Sjafri Rombak Formasi, Bagaimana?

VivagoalLiga Indonesia – Ada yang berbeda saat Timnas Indonesia U-23 dipukul telak oleh Thailand. Yakni susunan pemain yang berbeda saat Timnas Indonesia U-23 menang atas Thailand di ajang Piala AFF.

Timnas Indonesia U-23 menelan kekalahan di laga perdana Grup K kualifikasi Piala Asia U-23 2020. Bermain di Stadion My Dinh Hanoi Vietnam, Timnas Indonesia U-23 kalah dengan skor sangat telak, 0-4 dari Thailand.

Kekalahan ini ada yang janggal, sebab komposisi pemain yang diturunkan Indra Sjafri berbeda saat Timnas Indonesia U-23 menang atas Thailand di ajang Piala AFF. Sebut saja jantung pertahanan Indonesia dari duet Nurhidayat dan Bagas Adi, kini diisi oleh Andi Setyo dengan Rahmat Irianto.

Tak sampai di situ, lini tengah juga mengalami perombakan secara besar-besaran. Yakni tidak ada nama Sani Rizki Fauzi sang pencetak gol di ajang AFF, posisinya diisi oleh Egy Maulana Vikri.

Setali tiga uang, lini depan juga tak luput dari perubahan komposisi yakni tidak ada nama Witan Sulaeman. Posisinya diisi oleh Osvaldo Haay yang berganti posisi ke kiri karena di kanan ada Saddil Ramdani.

Disinggung hal ini, Indra Sjafri selaku elatih memiliki alasan, baginya ia tidak mempertahankan the winning team karena kebutuhan tim saat ini.

“Kami memilih tim berdasarkan hasil latihan sebelumnya, dan di laga sebelumnya kami mengalahkan Bali United,” ucap Indra selepa laga.

Pelatih asal Sumatera Barat ini juga menilai pemain yang saat ini bermain adalah pemain terbaik. Sehingga dia menilai memang layak bermain dalam laga tadi.

“Setelah itu, kami pun berpikir bahwa pemain yang turun di laga ini merupakan pemain yang siap yang juga tampil baik di laga melawan Bali United tersebut,” tutup Indra Sjafri.

Setelah kalah dari Thailand, Timnas Indonesia U-23 bakal melanjutkan perjalanannya di kualifikasi Piala Asia U-23 2020 dengan menghadapi Vietnam dan Brunei Darussalam. Memang peluang untuk lolos mulai menipis, akan tetapi segala sesuatu masih mungkin

 

Bedah Formasi Simon McMenemy di Timnas Senior

VivagoalLiga IndonesiaSimon McMenemy menghadirkan hal baru untuk Tim Nasional Indonesia senior, yaitu penggunaan formasi 4-4-2 permata dan 3-4-3. Kedua formasi ini bukanlah hal yang lazim dipakai oleh timnas Indonesia.

Selama bertahun-tahun bersama pelatih manapun, skuat Garuda kerap mengusung formasi 4-3-3 atau 4-3-2-1. Penyerang tunggal selalu menjadi prioritas dalam pakem permainan skuat timnas Indonesia selama ini.

Bahkan untuk level klub di tanah air, formasi 4-4-2 permata dan 3-4-3 tidak populer. Dalam dua musim terakhir, hanya Bhayangkara FC bersama Simon yang kerap mengusung formasi tersebut.

“Dari pengalaman saya, saya banyak meraih keberhasilan jika menggunakan skema 4-4-2 permata. Karena yang utama, saya melihat tipe pemain di Indonesia, kebanyakan striker tidak bertubuh besar dan tinggi. Begitu juga pemain belakang, jarang ada yang besar dan tinggi,” jelas Simon.

Dibawah asuhannya, Ia pun menghindari permainan dengan menggunakan bola-bola panjang. Maka dari itu, 4-4-2 dirasa cocok untuk Timnas Senior karena akan melahirkan identitas permainan baru dengan talenta yang ada.

“Saya pikir, Indonesia tidak terlalu bagus jika memainkan bola-bola panjang, atau bola langsung. Makanya, saya memilih formasi 4-4-2 permata karena ini pas dengan talenta pemain Indonesia. Kita harus mencari identitas permainan sendiri, cara bermain yang baru dan bisa dinikmati banyak orang,” Simon menambahkan.

Selain 4-4-2, Simon juga kerap menggunakan skema 3-4-3 seperti yang digunakannya saat laga uji coba melawan Bali United. Menurutnya 3-4-3 bisa menjadi opsi untuk Timnas karena memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi.

“3-4-3 lebih pada fleksibilitas karena bisa langsung berubah ke 5-4-1.Hal itu membuat pemain sayap kami turun ketika bermain bertahan dan akan sangat berbahaya jika bermain menekan. Ini formasi paling  cocok untuk tipe pemain Indonesia yang banyak memiliki tipe pemain lincah dan cepat,” tambah Simon.

Meski dirinya menyebut dua formasi tersebut cocok diterapkan pada Timnas, bukan berarti tanpa kendala. Simon mengakui beberapa pemain perlu melakukan adaptasi atas perubahan sekma yang ia lakukan.

“Buat beberapa pemain, mungkin perlu adaptasi lagi, tapi buat para gelandang, formasi ini membuat mereka nyaman. Untuk striker juga jadi enak karena ada tiga pemain depan.” tambahnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Tak Terima Disebut Tua, Greg: Main Bola Itu Pake Otak, Bukan Asal Lari

VivagoalLiga IndonesiaGreg Nwokolo menolak disebut tidak bisa tampil maksimal bersama Timnas Indonesia karena usianya sudah menginjak kepala tiga. Menurut pemain naturalisasi itu, sepak bola tak sekadar mengandalkan fisik semata.

Sebanyak 22 pemain dipanggil oleh pelatih Simon McMenemy untuk melakoni laga uji coba melawan Myanmar, Senin (25/3/2019). Dalam skuatnya, beberapa pemain yang dipanggil sudah berusia diatas 30 tahun, seperti Ruben Sanadi, Yustinus Pae dan Greg.

Tapi Greg yang sudah berusia 33 tahun menolak  usia dijadikan patokan untuk membela timnas Indonesia.  Ia pun bertekad untuk menunjukkan bahwa kualitasnya tidak kalah dengan pemain yang jauh lebih muda.

“Mungkin hanya di Indonesia yang mempermasalahkan umur. Masa baru 33 tahun, orang Indonesia sudah meragukan saya. Saya masih kuat, main sepak bola itu pakai otak bukan kuat lari saja, tegas Greg.

Greg menyesalkan banyak pihak yang mempermasalahkan usianya. Terlebih di lapangan hijau bukan hanya kecepatan yang perlu diperhatikan. Ia pun menyindir balik haters  yang menyebut bermain bola hanya memerlukan kecepatan dalam berlari.

“Di Eropa tidak begitu, masih ada yang 40 tahun masih jadi pemain timnas. Ya kalau cuma andalkan lari di lapangan, mending jadi pemain marathon saja. Bermain bola itu pakai otak dan kaki, bukan lari saja cukup,” Greg menambahkan.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

LATEST NEWS

- Advertisement -

HOT NEWS