
5 Fakta Legenda Sepakbola yang Setia Saat Timnya Terpuruk
- Gabriel Batistuta

Fiorentina merupakan tim pertama yang diperkuat Gabriel Batistuta di Eropa. Ia datang di musim 1991 pasca gelaran Copa America. Di musim debtunya ia sukses mengepak 13 gol bagi klub. Namun sayang, semusim berselang, Batigol harus merasakan momen degradasi ke Serie B meski catatan golnya sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Alih-alih hengkang, ia memutuskan bertahan dan membantu tim asal Firenze kembali ke Serie A dengan hantarkan timnya juara. Ia kemudian terus bermain hingga tahun 2000 dan hantarkan tim mendulang berbagai tinta emas macam mentas di Liga Champions, Piala Winners dan membantu tim menangi Piala Super Italia dan Coppa Italia.
Buon compleanno, Batigol 👑🦁
Auguri a Gabriel Omar Batistuta 🎂⚜️#ForzaViola 💜 #Fiorentina #ACFFiorentina pic.twitter.com/m5QxEc12D7— ACF Fiorentina (@acffiorentina) February 1, 2022
Ketika dilantik menjad Hall of Fame klub pada 2014, ia pun mengirimkan pesan penting terkait harapannya dulu bermain di klub. “Sejak pertama kali tiba di Fiorentina, saya menginginkan tempat dalam sejarah klub. Saya bisa mengatakan jika saya berhasil.” Dalam 9 tahun karirnya, Batigol sukses mendulang 331 laga di lintas kompetisi dan mengepak 204 gol.
- Alessandro Lucarelli

AC Parma sempat mengalami kebangkurtan di musim 2014/15 lantaran masalah finansial. Hampir semua orang yang ada di klub pergi kecuali Alessandro Lucarelli. Ia memutuskan bertahan di Ennio Tardini. Saat itu ia sudah berstatus sebagai kapten klub. Banyak tawaran yang menghampiri namun ia memutuskan bertahan.
“Saya sudah mati bersama klub ini. Saya ingin menjadi bagian dari kelahiran kembalinya,” kata Lucarelli dalam wawancara dengan Parmafanzine. “Saya menerima beberapa telepon dari klub-klub, tapi saya tak peduli. Saya takkan mengingkari kata-kata saya.”timpalnya.
Ia membantu Parma naik dari Serie D ke Serie A dalam kurun waktu tiga tahun saja. Setelah misinya berhasil, ia memutuskan pensiun. Bersama Parma, ia mentas lebih dari 330 laga. Sebagai penghormatan bagi legendanya, I Ducali pun mempensiunkan nomor 6 yang lumayan lekat dengannya.
- Angelo Di Livio

Angelo Di Livio menjadi kapten tim ketika Fiorentina dinyatakan bangkrut pada 2002 lalu. Tim memiliki hutang 70 juta Euro dan tak mampu melunasinya. Semua aset klub dicabut, termasuk nama yang berganti menjadi Florentina Viola. Namun Angelo Di Livio memutuskan tetap bertahan di klub.
Sosok yang sebelumnya membela AS Roma berjibaku membantu tim kembali ke Serie A di usianya yang sudah 37 tahun ketika itu. Setelah perjalanan panjang, ia hantarkan kembali tim asal Firenze mentas di tier atas sepakbola Italia dua tahun berselang. Bahkan setelah mentas di Serie A, ia masih sempat ambil bagian di musim 2004/05 lalu dengan main di 12 laga.
Di Livio sempat dilantik menejadi Hall of Fame klub di tahun 2023 kemarin. Bersama Fiorentina, satu gelar Coppa Italia dan Serie C2 sempat diraih. Ia pernah mentas dalam 208 laga dan mengepak 8 gol serta 22 assist bagi tim.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Melepas Rashford Adalah Keputusan Terbaik yang Bisa Diambil United
- Obrolan Vigo: Mason Greenwood dan Suksesnya Pembuktian di Kesempatan Kedua
- Obrolan Vigo: Sunderland dan Misi Besar Kembali ke Premier League
- Obrolan Vigo: Endrick dan Dua Refleksi yang Bisa Diambilnya Bersama Real Madrid
- Paul Dickov

Pasca meninggalkan Arsenal di tahun 1996, Dickov memutuskan hengkang ke Manchester City yang saat itu tengah mentas di divisi dua piramida sepakbola Inggris. Karirnya tak berjalan mulus lantaran dalam dua musmi golnya terbilang paceklik. Bahkan di musim keduanya, ia harus mengalami momen pahit lantaran the Sky Blues harus terdegradasi ke divisi tiga.
Di momen degradasi itu, potensinya terlihat. Ia berduet dengan Shaun Goater di lini depan. Momen paling berkelas darinya hadir ketika play-off melawan Gillingham. Di sana, ia mendulang gol spektakuler yang membantu City promosi ke Division One dan semusim berselang mentas di Premier League.
Setelahnya, ia kembali harus tersisih lantaran tim mengamankan George Weah. Kedatangan legenda AC Milan membuatnya menjadi pilihan kesekian setelah Goater dan Paulo Wanchope. Bersama City, Dickov pernah mentas dalam dua periode yakni pada 1996-2002 dan 2006-2008. Dalam momen tersebut, 197 laga sudah dimainkan dan 39 gol serta 21 assist sukses ia lesatkan.
- Claudio Pizarro

Jika ada sosok yang terbilang lumayan cinta pada satu tim maka Claudio Pizarro merupakan sosok itu. Ia memang belum pernah mentas bersama Werder Bremen dalam keadaan tim terdegradasi. Namun sosok asal Peru sudah 5 kali bolak balik Wesser Stadium dalam berbagai periode berbeda dan putuskan pensiun di sana.
Bersama Bremen, ia melewati berbagai fase mulai dari membantu tim menjuarai DFB Pokal dan hantarkant im melaju ke final Piala UEFA. Ia juga pernah hadir saat tim harus melalui play-off degradasi pada 2018 silam. Capaian terbesarnya mungkin hadir bersama Bayern Munich namun Bremen memiliki tempat spesial baginya.
Total, sang pemain mampu lesatkan 320 gol dalam 5 periode berbeda dan mendulang 153 gol serta 53 assist bagi Bremen. ia putuskan pensiun pada 2020 lalu.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















