
Obrolan Vigo: David Trezeguet, Mantan Juara Dunia yang Rela Dua Kali Main di Kasta Bawah
Vivagoal–Berita Bola– David Trezeguet memiliki banyak catatan emas di kancah sepakbola entah di level klub atau Timnas Prancis. Namun, ia memiliki dua momen yang jarang dimiliki pemain lain yakni dua kali mentas di tier bawah saat bermain di klub.
Nama Trezeguet mencuat sejak dirinya membala AS Monaco dalam pertengahan hingga awal 90an. Bersama Les Monegasques, ia dan Thierry Henry muda menjadi predator berbahya untuk tim. Monaco sempat dibawa menguasai kancah domestik dengan dua gelar liga dan satu Piala Super Prancis.
Namanya juga mulai hadir bersama Timnas Prancis kala mentas di Piala Dunia 1998 dan Euro 2000. Khusus untuk ajang terakhir, ia menjadi penentu kemenangan Le Bleu melalui golden goal-nya kala bersua dengan Italia di final. Catatan tersebut menambah daftar panjang Prancis yang sebelumnya menang Piala Dunia kala helatan dimainkan di depan publik sendiri.

Ia kemudian merapat ke Juventus dengan mahar 24 juta Euro guna membangun kemitraan deengan Alessandro Del Piero dan Filippo Inzaghi di lini depan. Sepeninggal Inzaghi yang hengkang ke Milan, ia menjadi andalan tim. Musim 2001-02 menjadi momentum baik baginya kala hantarkan tim juara dan namanya keluar sebagai top skor dengan 24 gol.
Baca Juga:
- 5 Fakta Legenda Sepakbola dari Tim Papan Tengah
- 5 Fakta Legenda Sepakbola dari Tim Papan Tengah
- 5 Fakta Pemain Persija dan PSM yang Masih Aktif Bermain
- 5 Fakta Pemain Penting Aston Villa di Era Sepakbola Modern
Catatannya setara dengan Dario Hubner. Namun sosok asal Prancis menjadi top skor murni lantaran tak pernah mendulang gol dari titik putih. Pasca periode keemasan tersebut, ia tetap hadir dalam dominasi di Nyonya Tua di kancah domestik. Juve sempat dihantarkan mentas ke final Liga Champions. Tak hanya ada di momen suka, ada duka juga yagn diterima pemain yang memiliki paspor Argentina.
Pada 2006, Juventus diharuskan terdegradasi lantaran terlibat praktek calciopoli. Banyak pemain bintang yang memutuskan angkat kaki lantaran enggan mentas di tier dua sepakbola Italia. Namun dirinya, Del Piero, Gianluigi Buffon dan Pavel Nedved memutuskan bertahan di Serie B meski ada tawaran besar dari Liverpool yang menghampirinya.

15 gol menjadi sumbangannya dan kontrak baru hingga 2011 diteken. Ketika Juve promosi ke Serie A, semusim berselang, situasinya tak lagi sama. Mereka harus tertatih-tatih terlebih dahulu dan menunggu lama untuk bangkit dari keterpurukan. Sang pemain juga sudah mengalami masalah kebugaran dan dilepas pada 2010 dengan catatan sebagai pencetak gol terbanyak keempat tim lewat 176 gol yang dilesatkan.
Pasca Juve, tim asal Spanyol, Hercules sebagai destinasinya. Ia kemudian menjadi journeyman dengan berkelana ke Uni Emirat Arab sebelum putuskan pulang ke tempatnya tumbuh besar, Argentina. River Plate menjadi pelabuhan Trezegol. Namun situasi yang hadir kala itu tak sama, Los Millonairos tengah terdegradasi ke Divisi Dua Argentina namun ia memutuskan hadir di tengah hal buruk yang menerpa klub untuk kali pertama.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Adel Taarabt, Pemain Terbaik Championsip
- Obrolan Vigo: Claudio Giraldez, Manajer Potensial Spanyol yang Siap Merekah
- Obrolan Vigo: Del Piero, Saat Cinta Dibalas dengan Peremajaan
- Obrolan Vigo: Gaizka Mendieta yang Sempat Terkena PHP Real Madrid
Dalam sebuah wawancara, ia mengklaim merupakan fans River sejak kecil dan ingin bermain di sana sebelum pensiun. Mentas di divisi dua jelas bukan hal baru baginya lantaran hal serupa pernah dialami ketika memperkuat Juventus beberapa tahun lalu. Di kasta kedua, torehan 13 gol dari 18 laga menjadi sumbangsihnya. Tak hanya itu, River juga dihantarkan promosi kembali ke kasta teratas.
“Saya memiliki perasaan yang tak pernah saya miliki sebelumnya entah bersama Juventus, Monaco atau Timnas Prancis. Menjadi fans River dan melihat semangat itu ada di tim membuat saya lebih beradrenalin dibanding sebelumnya,” urai Trezegol pada laman FIFA.
Meksi hantarkan tim promosi, karirnya berakhir prematur lantaran hanya bertahan satu musim karena pelatihnya ketika itu, Ramon Diaz tak memasukan namanya dalam rencana. Ia sempat lanjutkan karir bersama Newells Old Boys setelahnya dan putuskan pensiun di India ketika membela Pune City pada 2014 lalu.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















