
Obrolan Vigo: Del Piero, Saat Cinta Dibalas dengan Peremajaan
Vivagoal–Berita Bola– Soal loyalitas, sosok Alessandro Del Piero jelas tak perlu diragukan. Ia merupakan sosok yang lumayan setia bersama Juventus. Namun akhir karir I Pinturicchio bersama si Nyonya Tua harus berakhir pedih lantaran alasan peremajaan skuat.
Del Piero bukanlah jebolan akademi Juventus. Ia merupakan lulusan Padova yang kemudian menyematkan cinta pada tim asal Turin pada 1993 lalu dengan mahar 2,5 juta Euro. sejak dibeli, kesetiaannya terbilang lumayan lekat. Penyerang baru boleh saja datang dan pergi dari Delle Alpi atau Allianz Stadium, namun ia tetap bertahan.
Bersama pemain asal Italia, Juve mendulang banyak kesuksesan. Ia membantu timnya menangi berbagai gelar prstis di medio 90an hingga awal 2000an. Tak hanya gelar domestik, Piala Interkontinental, Liga Champions hingga Piala Super Eropa pun hadir dalam pencapaiannya bersama klub.

Tak hanya hadir di periode emas, ia juga tetap setia membela Juventus kala tim dinyatakan bersalah dan harus memulai segala sesuatunya di Serie B pada 2006/07 lalu. Dirinya bersama Pavel Nedved, David Trezeguet, Gianluigi Buffon hingga Mauro Camoranesi bertahan di kasta dua Italia dan tak mengikuti jejak dari para pemain yang sebelumnya hengkang.
Baca Juga:
- 5 Fakta Pemain Inggris yang Kerap Berpindah Klub
- 5 Fakta Pemain Legendaris yang Pernah Perkuat Persija dan Arema
- 5 Fakta Pemain Eredivisie yang Lumayan Loyal
- 5 Fakta Rekrutan Mahal RB Leipzig yang Terbilang Gagal
Padahal di momen bersamaan, ada tawaran dari Manchester United yang kala itu diarsiteki Sir Alex Ferguson yang ingin mengangkatnya ke Old Trafford lantaran potensi besarnya dirasa masih mampu membantu tim untuk berkembang. Namun Del Piero mengambil jalan lain. Sebagai kapten tim, ia memutuskan tenggelam bersama kapal yang tengah karam.
“Ada berbagai alasan. Saya adalah penggemar Juve sebelum menjadi pemain Juve, lalu bergabung dengan Juve di usia yang sangat muda, memecahkan rekor, dan menjadi kapten,” tuturnya dalam kanal Youtube Shoot for Love beberapa waktu lalu. “Apa yang kami hadapi di tahun 2006, saya juga seorang kapten, jadi saya ingin menyampaikan pesan kepada semua orang, dan langsung saya berkata ‘Saya akan bertahan. Gentelman sejati tak akan meninggalkan kekasihnya,”

Ia adalah sosok yang hadir di tengah momen terbang tenggelam Juve. Bahkan ketika tim kembali ke Serie A dan belum menemukan performanya kembali seperti sebelum masalah Calciopoli datang, ia tetap ada di dalam tim. Buah manis kemudian terjadi di musim 2011/12 lalu. Ia sukses hantarkan tim mendulang Scudetto, gelar pertama tim sejak 2003 lantaran gelar di tahun 2004 dan 2005 resmi dicopot.
Musim itu menjadi musim terakhirnya bersama klub. Musim dingin 2012/13, kontraknya diputus lantaran Juve ingin meremajakan tim. Padahal, dalam skuat ia bukan termasuk pemain dengan gaji besar lantaran ia hanya mendapatkan sedikit bayaran dalam setiap kontrak yang ditekennya.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Gaizka Mendieta yang Sempat Terkena PHP Real Madrid
- Obrolan Vigo: Tore Andre Flo, Monster Norwegia Sebelum Haaland dan Solroth
- Obrolan Vigo: Jonjo Shelvey, Sepakbola dan Keluarga
- Obrolan Vigo: James Milner Mesin Perang Inggris yang Menolak Usang
Belum diketahui siapa yang mengambil peran pengusiran apakah mantan rekan setimnya Antonio Conte yang menjadi pelatih, Direktur Giueseppe Marotta atau Andrea Agnelli sebagai presiden. satu yang pasti, ia tak akan beredar kembali di tim utama pasca keputusan tersebut dibuat.
Ia pada akhirnya dianggap sebagai surplus dalam tim pasca 19 tahun pengabdian bersama Juve dan rangkaian gelar yang dihantarkannya ke almari trofi si Nyonya Tua. Namun alih-alih protes atau menimbulkan perpecahan, pemenang Piala Dunia 2006 itu pergi dalam sunyinya melalui catatan 705 pertandingan 290 gol dan 174 assist yang ia torehkan bersama tim.
Pasca meninggalkan tim, ia memutuskan pergi jauh dari Italia guna mentas di Australia bersama Sydney FC. Namun ia tak ingin memperpanjang masalah meski luka tentu masih ada dalam sanubari lantaran harus ditinggal sang kekasih lantaran hal yang mungkin dirasa tak masuk logika.
“Kepergian saya bersifat traumatis dan meninggalkan bekas yang tak terelakan. Saya tak ingin memeecah belah siapapun. Karena mereka yang mendukung Juve juga bisa menukung Sydney,” urainya seperti diwartakan Football Italia, 2013 lalu.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















