Obrolan Vigo: Pochettinno Bukan Pelatih yang Spesial untuk PSG

Obrolan Vigo: Pochettinno Bukan Pelatih yang Spesial untuk PSG

Heri Susanto - Juli 28, 2021
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Pochettino yang Butuh Proses Terbiasa Menggali Potensi Pemain

Pochettino meraih reputasinya dalam karir manajerial sepakbola melalui serangkaian jalan berliku. Ia memulai karir di Espanyol pada 2009, tiga tahun pasca dirinya memutuskan pensiun di tim yang sama. Menjadi pelatih muda, ia memiliki hasrat tinggi guna buktikan diri. Berbekal skema 4-2-3-1 dan kominasi pemain muda potensial yang dimiliki klub, ia mampu membawa Espanyol hadir sebagai kuda hitam di LaLiga.

Bersama Periquitos , kebiasaan mempromosikan pemain muda ke tim utama mulai dibangun. Hal tersebut sukses ia bawa ke tim setelahnya yakni Southampton dan Tottenham Hotspur. Pasca Espanyol, ia menyeberangi Inggris guna melatih the Saints pada 2013 lalu.

Dipanggilnya Poch sebagai pelatih utama Soton menggantikan Nigel Adkins dipertanyakan fans Soton. Ia merasa pelatih Argentina itu tak pantas melatih Soton lantaran di musim sebelumnya, ia tak mampu mebawa Espanyol keluar dari jerat degradasi. Namun direksi Soton tetap mempercayai Poch melatih tim.

Di Soton, Poch mengedepankan tiga apsek sepakbola dari kompatiriot sekaligus sang maha guru, Marcelo Bielsa. Ia menggunakan pola kecepatan, intensistas tinggi dan kolektivitas. Tiga aspek tersebut memang biasa terlihat pada tim-tim yang dibesut oleh El Locco. Gaya pressing tinggi juga kerap digunakannya guna menekan lawan dan membawa tim terhindar dari zona merah.

Berbagai bibit-bibit terbaik pun mulai ia temukan di tim yang bermarkas di St Marry Stadium. Nama-nama macam Nathaniel Clyne, Calum Chambers dan Luke Shaw sukses berkembang di bawah asuhannya. Belum lagi, ia juga mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dari Morgan Schneiderlin, Victor Wanyama, hingga Adam Lallana dan Jay Rodriguez.

Di musim perdana sekaligus terakhirnya, ia sukses membawa Saints menduduki posisi kedelapan. Posisi tersebut merupakan yang tertinggi sejak musim 2002/03 lalu. Tak hanya itu, ia juga catatan pointertinggi sejak 1992/93 silam. Setelahnya, Tottenham Hotspur pun mejadi destinasi Poch.


Baca Juga:


Sama seperti Soton, Spurs dibuat Poch bermain aktraktif. Di musim perdananya, ia membawa tim lolos ke final Piala Liga dengan balutan skuat muda yang dinamis. Sayang pada Final Piala Liga 2015 itu, ia harus kalah dari Chelsea. Di kancah domestik, membawa Spurs finish di urutan kelima.  Beberapa pemain muda “temuannya” macam Eric Dier, Dele Alli dan Harry Kane bahkan dipanggil Timnas Inggris guna ikuti Euro 2016 lalu.

Di Spurs, Poch membawa era baru bagi klub. Permainan aktraktif dan dinamis masih dipertahankan. Dua musim berselang, ia mampu membawa Spurs dalam perburuan gelar Premier League bersama Chelsea. Namun di akhir musim 2016/17, ia kembali gagal dan Spurs harus tempati posisi runner up di bawah Chelsea dengan selisih 7 poin. Di musim tersebut, Spurs mampu mendulang 86 poin. Capaian tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 1962/63.

Bahkan, periode manisnya berlanjut kala membawa the Lilywhites ke final Liga Champions 2018/19. Spurs menang dramatis melawan Ajax di laga semifinal. Namun di laga pamungkas, mereka keok dari Liverpool dengan skor mencolok. Setahun pasca hantarkan Spurs ke final, Poch pun dipecat lantaran gagal membawa prestasi bagi tim London Utara. Lima tahun karirnya di Spurs hanya berbuah tiga kali runner up di tiga ajang berbeda. Piala Liga, Premier League dan Liga Champions