Obrolan Vigo: Eredivisie yang Terlalu Jauh Bagi Liga Top Eropa

Obrolan Vigo: Eredivisie yang Terlalu Jauh Bagi Liga Top Eropa

Heri Susanto - Juli 30, 2024
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Vivagoal Berita BolaEredivisie banyak melahirkan calon bintang bagi tim-tim besar Eropa. Namun dalam beberapa waktu belakangan, tak semua jebolan kompetisi tier atas Belanda mampu bersinar ketika bermain bagi tim barunya. Mengapa demikian?

Sebagai salah satu kompetisi dari top Eropa, Eredivisie menjadi tempat yang baik bagi pemain muda untuk berkembang. Beberapa tahun lalu, Chelsea sempat menjalin kemitraan dengan Vitesse guna meminjamkan berbagai pemain muda mereka untuk dapatkan menit bermain reguler di Belanda.

Meminjamkan pemain muda dengan harapan bisa mendapatkan match fitness dan siap main di tim utama adalah program yang biasa dicanangkan satu tim dengan skala lebih besar ke tim lain. Praktek ini lumrah terlihat di berbagai kompetisi. Tak jarang kita melihat banyak pemain dari tim Premier League yang dipinjamkan untuk mentas di Championship, League One atau League Two.

Kembai ke Chelsea, nama-nama macam Marco Van Ginkel, Lucas Piazon, Ulises Davila hingga Mason Mount pernah mentas di sana. Total ada 29 nama yang sempat mentas di Belanda. Namun hanya ada beberapa nama yang pada akhirnya masih bermain di level tertinggi. Vitesse sudah menjalankan tugasnya dengan baik dengan mainkan para pemain muda tersebut. Namun standar kompetisi mereka nampaknya memang terlalu jauh untuk bisa langsung nyetel ke liga top Eropa lain.


Baca Juga:


Dalam beberapa kasus, ada pemain yang masih menuai sukses macam Xavi Simons yang tetap moncer ketika main di RB Leizpig pasca jalani musim sensasional di PSV Eindhoven dua musim lalu. Bahkan jika mau menarik ke belakang, Arjen Robben, Ruud Van Nistelrooy hingga Matthijs De Ligt menjai contoh sukses bagaimana pemain jebolan Eredivisie menunjukan kualitasnya di level dunia.

Namun tak sedikit pula dari mereka yang pada akhirnya gagal total. Dalam beberapa musim belakangan, Manchester United kena getahhnya. Pembelian Antony dan Tyrell Malacia dianggap flop. Nama pertama telalu sering memainkan bola layaknya pemain FIFA Street alih-alih berkontribusi langsung untuk tim dan nama kedua lebih sering berkutat dengan cedera.

Vincent Jansen yang berstatus sebagai top skor AZ Alkmaar sempat didatangkan Tottenham pada 2016 lalu dengan mahar 20 juta Euro. Namun karirnya di London Utara justru stagnan. Dibanding menuai gol, ia lebih banyak menuai kritik. Inkonsistensi performa dan masalah cedera menjadi pengganggunya.

Di luar Antony, Jansen higga Malacia dan sederet pemain dari Eredivisie lain yang melempem performanya. Pertanyaan besar pun kemudian menyeruak. Apa yang sebenarnya terjadi dengan masifnya pemain dari Belanda yang gagal tampil apik? Perbedaan kualitas kompetisi dan tentunya ekspektasi yang menjadi semua irisan tersebut menjadi relevan.

Menurut laporan koefisien UEFA yang baru saja dirilis per 18 Juli kemarin, Eredivisie menempati peringkat enam sebagai liga terbaik di bawah Premier League, Serie A LaLiga, Bundesliga dan Ligue 1. Dalam 5 musim terakhir, koefisien mereka ada di angka 53.900. Berbanding jauh dengan Premier League (89.10) atau Jerman (71.660).


Baca Juga:


Dari gap tersebut sudah tercermin bagaimana jauhnya kualitas kompetisi di Belanda atau negara lain. Dari skema bermain, sosok-sosok macam Antony atau Donny van de Beek hingga Janssen, mereka terbiasa bermain melawan pemain yang kelasnya tertinggal jauh. Antony terlihat hebat karena ia mungkin tak mendapat kawalan dari Ruben Dias atau Virgil Van Dijk karena hanya bersua bek-bek dari tim macam VVV Venlo, Ado Den Haag atau FC Utrecht misal sehingga mereka yang berposisi sebagai penyerang atau pemain di pos lain tak akan menghadapi kesulitan yang berarti.

Ekspektasi juga menjadi bumbu lain dari transfer yang terjadi. Antony misal. Ketika ia datang ke United. Ada harapan sang pemain bisa memberikan perbedaan lantaran gaya strylish yang dimainkan ketika memperkuat Ajax. Kebetulan, ia juga dilatih oleh Erik ten Hag, sosok yang lama mengenalnya di De Godenzonen.

Obrolan Vigo: Eredivisie yang Terlalu Jauh Bagi Liga Top Eropa
Sumber: Detiksport

Stylish masih ia perlihatkan entah dari gaya bermain ataupun gaya rambut. Namun tidak dengan permainan. Premier League tak memiliki banyak waktu bagi pemain untuk menjadi seniman di lapangan. Telat sepersekian detik bisa menjadi bencana. Antony sering melakukan hal tersebut dan dalam beberapa kesempatan, tempat terbaiknya jelas ada di bangku cadangan.

Dengan berbagai faktor tersebut, jangan perlu ada kekagetan lain andai ada pemain dari Belanda yang kemudian gagal bersinar di kompetisi lain lantaran fakta tersebut masih berjalan setidaknya sampai hari ini. Jika ada dari mereka yang berhasil beradaptasi dan terus bersaing mencapai level tertinggi seperti layaknya Robben, Ruudje atau Cody Gakpo, maka hal itu menjadi anomali tersendiri.

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com