Obrolan Vigo: Harga Mahal untuk Manchester City dari Overthinking-nya Pep Guardiola

Obrolan Vigo: Harga Mahal untuk Manchester City dari Overthinking-nya Pep Guardiola

Heri Susanto - Mei 20, 2025
Dibaca Normal dengan Waktu Menit

Vivagoal – Berita Bola – Manchester City harus kalah dari Crystal Palace di final Piala FA. Hal naif dilakukan Pep Guardiola di laga tersebut. Momen itu bukan yang pertama dalam overthinking yang dilakukan Pep. Ia pernah beberapa kali melakukannya dan ada harga mahal yang harus dibayar oleh the Sky Blues.

Guardiola sejatinya merupakan sosok yang lumayan memiliki legacy dalam dunia sepakbola. Sebelum merapat ke City, ia sempat hantarkan Barcelona dan Bayern Munich mendulang kesuksesan baik di kancah domestik maupun kontinental. Tak berhenti dari sisi prestasi, ia juga bisa memaksimalkan pemain untuk mentas di luar posisinya.

Pep pernah memainkan Javier Mascherano sebagai bek tengah dan hal itu berjalan sukses. Phillip Lahm yang notabene merupakan fullback kanan dicoba sebagai gelandang bertahan dan momen itu sukses. Bahkan, Joshua Kimmich juga memainkan peran yang senada dengan seniornya di Bayern maupun Timnas Jerman.

Meski demikian, tak semua metodenya berjalan dengan baik. Pep pernah melakukan hal serupa Lahm pada Pablo Zabaleta. City seakan bermain dengan 10 orang ketika peran itu tersemat padanya. Yaya Toure juga pernah dipaksa menjadi bek tengah dan hal itu tak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan, hubungannya dengan nama yang disebut terakhir merenggang pasca hal itu terjadi.


Baca Juga:


Pasca merapat ke City pada 2016 sampai hari ini, Pep masih meneruskan tradisi tim untuk menjadi juara di kancah domestik. Berbagai gelar diraih, termasuk rangkaian Premier League dalam beberapa musim terakhir. Momen menjadi juara hanya tercoreng dua kali dari Liverpool pada tahun 2019 dan 2025 ini. Setelahnya, City selalu keluar sebagai juara.

Momen prestis terjadi pada 2022/23 lalu. Saat itu, City dihantarkan menjadi pemenang treble winners dan menyaingi Manchester United sebagai tim Inggris yang pernah mendulang status serupa. Catatan itu membuat mereka sejajar dengan Barcelona, Bayern Munich hingga Inter Milan yang pernah merealisasikan hal serupa.

Meski begitu, dalam karirnya di City Pep bukannya tanpa cela. Ada beberapa momen yang membuatnya dipuji dan dicela. Ia sempat memainkan Ilkay Gundogan sebagai false nine jauh sebelum Erling Haaland datang. Hal itu memberikannya kredit lebih. Rico Lewis dan Matheus Nunes pernah dicoba mentas di luar posisinya dan momen itu berjalan.

Kebiasaan Pep, untuk overthinking memainkan pemain di luar posisinya masih kerap terjadi. Bahkan, ia melakukannya tanpa kenal waktu yang tepat. Pada final Liga Champions 2021/22 lalu, ia sempat menduetkan Kevin De Byune dan Bernardo Silva di lini tengah. Dalam laga melawan Chelsea, lini tengah the Sky Blues kerap dieksploitasi. Mereka pun harus merelakan gelar juara melayang ke Sisi Barat Kota London pada periode pertamanya di final.


Baca Juga:


Selain itu, Pep juga melakukan hal serupa kala bersua dengan Crystal Palace Sabtu (17/5) malam WIB. Dua pemain bertipikal menyerang itu kembali dipasang di final Piala FA. Hasilnya sudah bisa ditebak, lini tengah City tak stabil. Mereka bermain bak anjing tanpa kepala yang kerap menyalak tanpa suara.

Melawan Palace, dominasi mereka masih terjaga. Namun City seakan tak memiliki arah bermain yang jelas. Gol Eberechi Eze di menit ke-16 menjadi pembeda di laga itu. Palace keluar sebagai juara Piala FA untuk kali pertama dan di saat yang bersamaan, City berstatus nirgelar perdana sejak ditangani Pep. Hal ini jelas merupakan pukulan telak.

Obrolan Vigo: Harga Mahal untuk Manchester City dari Overthinking-nya Pep Guardiola
Sumber: Goal

Padahal di waktu yang bersamaan, ada Nico Gonzalez yang bisa dimainkan sebagai gelandang tengah. Ia tak cedera namun kesempatan bermainnya sama sekali tak ada. Tak berhenti sampai di sana, kembalinya Haaland dan Manuel Akanji dari cedera juga membuat pola permainan City seakan stagnan. Keduanya seakan memiliki kewajiban untuk terus bermain reguler pasca pulih dari cedera yang mendera.

Musim 2024/25 resmi berakhir bagi Pep dan City. Hanya ada tiket Liga Champions untuk diperjuangkan hingga pekan ke-38. Andai hal tersebut didapatkan, catatan itu bukan momen prestis bagi City mengigat status mereka yang tak pernah keluar empat besar sejak 2011/12 lalu bersama Roberto Mancini. Namun andai gagal, reputasi Pep sebagai pelatih jelas akan dipertanyakan dengan overthinking yang dimilikinya, setidaknya sampai hari ini.

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com