Tag: Cerita

Mengenal Sosok Johan Neeskens, Penyempurna Taktik Total Football Ala Belanda

0

Vivagoal Berita Bola – Jika bicara Total Football milik Belanda, kebanyakan orang pasti akan langsung menyebut nama Rinus Michels sang penemu taktik unik tersebut dan Johan Cruyff. Tapi ada satu nama yang membuat gaya main tim Belanda era 1970-an itu terlihat sempurna, dia adalah Johan Neeskens.

TheseFootballTimes menyebut Johan Neeskens adalah sebuah penyempurna visi Total Football milik Rinus Michel meski ia sendiri bukan seorang alumni akademi Ajax Amsterdam.

Di awal kariernya, ia berperan sebagai seorang bek kanan. Saat itu Neeskens dianggap salah satu wing-back paling hebat di masanya karena keganasan dan kecepatannya saat membantu tim membangun serangan maupun bertahan.

Namun kecepatannya yang diatas rata-rata plus kelihaiannya dalam melepaskan umpan membuat Rinus Michels yang kala itu menjabat sebagai pelatih timnas Belanda memplotnya sebagai seorang gelandang tengah bersama WIm Jansen dan Wim van Hanegem.

Perjudian Rinus Michels ini terbukti berhasil setelah Johan Neeskens begitu piawai dalam mengadaptasi taktik Total Football di Piala Dunia 1974 dan sempat membuat timnas Brasil yang dikomandoi oleh Pele kala itu harus sibuk sepanjang pertandingan.

Sebagai jantung dari sistem Total Football, Neeskens bagai mesin yang terus menekan (pressing), ia begitu bugar dengan mengontrol penuh terhadap space di lapangan agar lebih besar ketika Belanda menguasai bola, dan menjadi kecil ketika timnya kehilangan bola.

“Faktanya, Neeskens hampir bermain sendirian di tengah lapangan. Kecepatannya dan kegigihannya membuat ia terdorong jauh ke depan. Hal itu membuat pemain Brasil terus sibuk di area pertahanan dan membuat Johan Cruyff memiliki banyak ruang kosong di lini depan.” tulis These Football Times soal peran Neeskens dalam taktik Total Football. 

Setelah membela Ajax dari 1970 hingga 1974 dan mempersembahkan 10 gelar juara, termasuk tiga gelar Liga Champions, Neeskens lalu hijrah ke Barcelona menyusul Johan Cruyff dan Rinus Michels yang sudah lebih dulu berlabuh ke Camp Nou.


Baca Juga:



Di tim Catalan, Johan Neeskens mendapat julukan El Toro atau si Banteng karena cara bermainnya yang begitu agresif dan pantang menyerang.

“Hampir semua orang saat itu mengingat bagaimana ia seperti banteng pemangsa yang mendorong dan menggaruk tanah, mendengus ke bawah dan membuat semua lawan menderita.” lanjut TheseFootballTimes.

Enam musim di Blaugrana, dengan tiga tahun diantaranya terpilih sebagai pemain luar negeri terbaik LaLiga, Johan Neeskens secara mengejutkan menerima tawaran bermain di Amerika Serikat bersama New York Cosmos. Sayang, keputusan ini menjadi awal petaka yang mengakhiri kariernya sebagai bintang lapangan hijau.

Kariernya yang moncer di Barcelona dan timnas Belanda membuat Neeskens jadi bintang idola publik Amerika. Didukung dengan wajah rupawan dan rambut gondrong keemasan, ia pun dinilai sebagai bintang rock lapangan hijau.

Pindah ke Amerika pun membuatnya menemukan surga dunia. Tiap malam Neeskens dikelilingi banyak wanita cantik, dan membuatnya terjerumus ke dunia hitam dengan kecanduan kokain, alkohol serta judi. Kariernya pun jeblok di New York Cosmos dan tak lagi dipanggil masuk timnas Belanda.

Johan Neeskens pada akhirnya harus pensiun di klub kecil asal Swiss, Zug. Setelah pensiun, ia sempat berkarier sebagai asisten pelatih di Galatasaray dan Barcelona.

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com

Chiellini; Tiba di Juventus, Higuain Merasa Seperti di Surga

Vivagoal Serie A – Kapten Juventus, Giorgio Chiellini menceritakan pengalaman pertama kala Gonzalo Higuain didatangkan dari Napoli pada 2016 silam.

Transfer Higuain itu sendiri mengundang reaksi keras dari para pendukung Napoli. Mereka menyebut jika striker asal Argentina tersebut merupakan sosok pengkhianat. Bahkan dalam rilis 11 legenda asal Argentina yang pernah bermain di Napoli, Higuain tak masuk dalam daftar tersebut.

Namun Chiellini menyebut jika Higuain tetap memberikan yang terbaik selama berada di Juventus. Tak ada dampak besar dari kritik yang datang dan menurutnya Higuain mampu memberikan semangat tersendiri dalam tim.

“Gonzalo [Higuain] merupakan sosok yang begitu baik. Dia menyenangkan, kerap menuntut tapi menyenangkan, dia selalu ingin mendapat rasa percaya diri dari para pemain di sekitarnya,” ujar Chiellini dalam buku otobiografinya seperti dikutip Football Italia.

“Saya menyukai dia, saya suka keefektifan khas pemain Latin dari dia. Dia adalah rekan setim saya dan seseorang yang sensitif: hal ini membuatnya sangat memikirkan sesuatu, mungkin terlalu banyak di beberapa laga,” tambahnya.

Chiellini juga mengingat saat Higuain pertama kali tiba di Turin. Dengan jelas eks pemain Real Madrid itu menyebut jika Juventus adalah surga baginya.


Baca Juga:



“Saya ingat hari-hari pertama saat Higuain di Turin. Dia ingin keluar untuk minum dan kami meminta kira-kira hanya dua foto selfie,” ungkap Chiellini.

“Ini surga!’ Gonzalo terus mengulanginya setiap hari, surga yang bisa dibuat dengan fakta bahwa Juventus merupakan keluarga yang sesungguhnya’,” tukas Chiellini.

Selalu update berita bola terbaru seputar Serie A hanya di Vivagoal.com

Cerita Bernardo Silva Saat AS Monaco Menjuarai Ligue 1 Prancis, Patahkan Dominasi PSG

Vivagoal Ligue 1 – Bernardo Silva menceritakan kembali pengalamannya saat berhasil menjadi juara Ligue 1 Prancis musim 2016/2017 bersama AS Monaco. Ia menyebut, tidak ada satupun dari para pemain Les Monegasque yang menyangka mereka bisa merusak dominasi Paris Saint-Germain.

Monaco mengunci gelar juara usai mengalahkan Saint-Etienne 2-0 di Stade Louis II pada pekan ke-37 Liga Prancis. Kemenangan tersebut membuat Monaco mengumpulkan 92 poin, unggul enam angka atas PSG yang berada di posisi kedua. Dengan menyisakan satu laga, mustahil perolehan poin Monaco bisa dikejar sang juara bertahan.

Ini adalah gelar Ligue 1 kedelapan bagi Monaco dan yang pertama sejak musim 1999/2000. Monaco sukses menghentikan kedigdayaan PSG yang sebelumnya menjadi juara dalam empat musim beruntun.

Dengan keberhasilannya itu pula, Monaco berada di urutan ketiga dalam daftar pengoleksi gelar terbanyak Liga Prancis. Jumlah gelar mereka sama dengan Nantes, tapi masih dibawah Marseille dan Saint-Etienne yang masing-masing mengoleksi 10 gelar.

Bernardo Silva yang menjadi bagian dari skuad AS Monaco saat itu pun mengaku tak mengira mereka bisa menjadi juara Liga Prancis. Pasalnya, beberapa tahun sebelumnya, mereka hanya berkutat di Ligue 2.

“Musim itu adalah musim yang spesial karena tidak ada yang menyangka kami bisa melakukan hal tersebut, bahkan para pemain sekalipun. Sampai paruh pertama musim, kami tidak berpikir bisa memenangkan Liga. Namun setelah beberapa bulan, kami mulai sadar betapa spesialnya kami.” ungkap Silva seperti dilansir dari Sky Sports.


Baca Juga:



Monaco menjadi juara Ligue 1 musim 2016/2017 dengan menyandang status sebagai tim terproduktif di Eropa dengan mencetak lebih dari 100 gol selama semusim. Kunci kekuatan mereka ada di lini serang dengan Radamel Falcao, Kylian Mbappe, Thomas Lemar dan Bernardo Silva sebagai andalan untuk mendulang gol. Adapun Tiemoue Bakayoko dan Fabinho menjaga kedalaman di lini tengah.

“Skuad kami dibentuk atas dasar pengalaman dari para pemain seperti Falcao dan Moutinho. Mereka berperan penting untuk para pemain muda seperti Kylian Mbappe. Dia pemain yang spesial dan berharga buat kami. Saya percaya di masa depan, dia akan berkembang menjadi pemain terbaik.” Silva menambahkan.

“Yang terpenting saat itu, kami tidak boleh takut dengan siapapun. Melawan PSG, Manchester City, Borussia Dortmund, Tottenham atau tim-tim kecil, kami harus tetap bermain dengan cara yang sama. Kami harus harga semua itu.” tutupnya.

Selalu update berita bola terbaru seputar Ligue 1 hanya di Vivagoal.com

Cerita Pulisic Saat Tiba Di Pusat Latihan Chelsea Pertama Kali

Vivagoal Liga Inggris – Christian Pulisic mengumbar cerita ketika dirinya menjalani latihan perdana bersama Chelsea. Mantan pemain Borussia Dortmund itu mengaku sedikit grogi karena tak ada satu pemainpun yang menyapa dirinya.

Chelsea sendiri mengeluarkan uang sebesar £58 juta untuk mendatangkan Pulisic dari Dortmund pada tahun 2019 lalu. Pemain asal Amerika Serikat tersebut diharapkan bisa mengganti peran Eden Hazard yang berlabuh ke Real Madrid.

Di Dortmund, penampilan Pulisic tak perlu diragukan. Lima musim disana, pemain berusia 21 tahun tersebut berhasil mengantongi 81 penampilan dan mengemas 10 gol di semua ajang.

Tapi ketenaran Pulisic di Dortmund tak berlaku saat dirinya tiba di Inggris. Sang pemain mengaku dirinya dirinya tidak mendapat sambutan yang cukup baik dari para pemain Chelsea.

“Aku naik bus, mereka juga baru saja datang. Semua orang setengah tidur, aku pergi dan duduk di bus dan tak ada seorangpun yang menyadari kehadiranku,” kata Pulisic di Daily Mail.


Baca Juga:


“Tak ada seorang pun yang mengajak berbincang. Mungkin cuma ada satu atau dua yang bilang, ‘hey, halo’ dan aku cuma membalas ‘apa yang terjadi di sini’,” tambahnya.

Sejauh ini, Pulisic sudah mencatatkan 23 penampilan bersama Chelsea. Total Pulisic sudah mengemas 6 gol dan 6 assist di semua kompetisi. Sayang cedera yang menerpa sekaligus dihentikannya kompetisi sementara waktu karena corona, menghambat perkembangan sang pemain.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Inggris hanya di Vivagoal.com

Kisah Michael Owen ‘The Wonder Man’ Dicampakkan Real Madrid

VivagoalLa Liga – Penyerang legendaris asal Inggris, Michael Owen adalah salah satu pesepakbola top yang pernah mentas di muka bumi. Salah bukti sahih kehebatannya adalah keberhasilannya meraih trofi Ballon d’Or 2001.

Beberapa diantara klub elite Eropa yang pernah disinggahinya adalah Liverpool, Real Madrid, Manchester United, Newcastle United dan pensiun di Stoke City.

Sayangnya, berstatus penyerang nomor satu di Liverpool, ia harus menerima kenyataan dicampakkan oleh Los Blancos. Diboyong ke Santiago Bernabeu dari Liverpool pada musim panas 2004 silam dengan banderol sebesar 12 juta euro, Owen diproyeksikan masuk proyek pertama Presiden El Real, Florentino Perez membangun skuad bertabur bintang yang diberi nama Los Galacticos Jilid I.

Owen terpilih masuk dalam Los Galacticos berkat performa impresifnya selama berseragam The Reds. Dari tahun 1997 hingga 2004, Owen adalah mesin gol utama dengan torehan 158 gol dari 297 penampilan. Selama periode itu, Owen dua kali keluar sebagai top skor Liga Inggris dan mempersembahkan masing-masing satu trofi Piala FA, Liga Europa dan Piala Super Eropa.

Pada musim debutnya, The Wonder Man julukan Owen tampil begitu mengesankan di lini depan bersama Ronaldo da Lima dan Raul Gonzales. Ia bahkan tercatat sebagai top skor kedua klub dengan 16 gol dibawah Ronaldo da Lima.

Tidak hanya itu, Owen juga beberapa kali menjadi pahlawan dengan mencetak gol krusial kala melawan Valencia di ajang LaLiga, Dynamo Kiev di Liga Champions dan Leganes di laga Copa Del Rey.

Sayang, Owen ternyata hanya bisa bertahan semusim di El Real. Pada musim panas 2005, ia dipaksa pindah ke Newcastle yang kala itu datang membawa proposal penawaran dua kali lebih besar dari harga beli Owen. Padahal Owen saat itu sudah terlanjur betah dan ingin bertahan lama sebagai pemain Madrid.

Namun, jika uang banyak yang sudah bicara, Owen tidak bisa apa-apa lagi. Guyuran uang yang disodorkan kubu Newcastle saat itu membuat manajemen Los Blancos enggan mempertahankan The Wonder Man. Alhasil, ia pun pulang ke Inggris dengan banderol sebesar 25 juta euro.


Baca Juga:



“Sejujurnya saya kesal karena kehilangan pemain profesional, pemain kelas dunia dan sosok yang selalu positif.” ucap Arrigo Sacchi yang menjabat direktur olahraga Real kala itu.

Sebagai informasi, dana hasil penjualan Michael Owen lalu digunakan Real Madrid untuk mendatangkan dua penyerang sekaligus, yakni Julio Baptista dan Robinho. Owen sendiri, pengalaman yang tidak mengenakkan di Real Madrid membuatnya kapok untuk coba berkarir di luar Inggris lagi.

“Saya sangat ragu ingin bermain di luar Inggris lagi. Dulu saya sangat ingin merasakan pengalaman baru, dan merasakan bagaimana bermain di Liga Spanyol. tapi kini mata saya telah terbuka dan saya merasa lebih senang main di rumah sendiri.” kata Owen seperti dilansir dari BBC, 4 Oktober 2005.

Selalu update berita bola terbaru seputar La Liga hanya di Vivagoal.com

Cerita Menegangkan Wiljan Pluim Saat Harus Away ke Markas Perseru Serui

Vivagoal – Liga Indonesia – Gelandang PSM Makassar, Wiljan Pluim bicara pengalamannya bermain di Indonesia, khususnya saat bertandang ke markas Perseru Serui kepada media asal Belanda. Menurutnya, pengalaman bermain di Serui jadi hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Perjalanan away ke markas Perseru Serui di Stadion Marora memang sudah menjadi rahasia umum hampir semua klub dan pemain di Indonesia tidak ada yang menyukainya.

Kondisi geografis Stadion Marora yang terbilang cukup terpencil, dan terletak di kepulauan Yapen yang terpisah dari daratan pulau Papua membuat para pemain lawan yang ingin kesana harus berpindah-pindah transportasi. Bahkan duku tak ada pesawat kecil khusus yang terbang ke Yapen sehingga harus ditempuh dengan perjalanan laut dengan kapal kecil.

Pluim pun sangat bersyukur sudah tak ada lagi Perseru yang kini telah berpindah homebase dan mengganti namanya menjadi Perseru Badak Lampung FC. Setidaknya, ia tidak harus lagi menjalani tradisi away ke belantara Serui nun jauh disana.

“Saya sudah naik pesawat ratusan kali di Indonesia, saya tak pernah khawatir sama sekali, kecuali saat ke Serui.” ucap Pluim seperti dilansir dari Voetbal International.

“Ketika kami kesana dengan pesawat, kami harus melanjutkan perjalanan dengan pesawat lagi yang mirip bus tapi dengan baling-baling. Saya bukan orang yang fanatik agama, tapi ketika kesana, saya terus saja berdoa sampai pesawat mendarat.” sambungnya.


Baca Juga:



Lebih lanjut, Pluim mengaku tak pernah menyesal dengan pengalamannya bepergian ke Serui, Menurutnya, alam Papua merupakan salah satu lingkungan paling asri yang pernah dikunjunginya.

“Makanya saya tidak kasihan ketika tim Perseru itu akhirnya dileburkan dan pindah homebase. Kami main di tengah-tengah hutan, rekan setim bilang disana orang-orang pakai koteka, tapi saya tak pernah lihat. Kalau monyet memang banyak karena alam disana sangat luar biasa.” tutupnya.

Selalu update berita terbaru seputar Bola Liga Indonesia hanya di Vivagoal.com

Cerita Ozil Yang Ditolak Guardiola Dan Akhirnya Berlabuh ke Real Madrid

Vivagoal La Liga – Salah satu kisah yang paling menarik dalam karier Mesut Ozil adalah saat dirinya jadi buruan banyak klub-klub top Eropa pasca tampil gemilang di Piala Dunia 2010. Barcelona jadi tujuan utamanya, namun pada prosesnya ia malah membela Real Madrid.

Ozil adalah buruan nomor satu klub-klub top Eropa selepas tampil ciamik bersama timnas Jerman di Piala Dunia 2010 yang dilangsungkan di Afrika Selatan. Meski gagal membawa Jerman juara dunia, Ozil tetap bisa memikat para pemandu bakat klub elit Eropa dengan satu gol dan tiga assist-nya yang sukses membantu Jerman keluar sebagai juara ketiga.

Barcelona, Real Madrid, Arsenal, Manchester United dan Bayern Munchen berlomba untuk mendapatkan tanda tangannya. Namun, Ozil mengaku, Barcelona-nya Pep Guardiola saat itu benar-benar memikat perhatiannya.

Bersama Guardiola, Barcelona tampil mendominasi dunia sepakbola sejak tahun 2008 dengan gaya tiki taka. Di musim debutnya, Guardiola bahkan langsung bisa menghadirkan treble winner, disusul serangkaian titel lainnya yang jumlah totalnya mencapai 14 buah hingga musim 2011/2012.

Tapi sayangnya, Guardiola saat itu tidak melihat Ozil sebagai gelandang yang cocok dengan skema tiki taka. Ditambah lagi, ia baru saja mempromosikan Sergio Busquets dari akademi La Masia dan ingin memberi menit bermain yang banyak buat pemain mudanya itu.

Pada prosesnya, Ozil akhirnya menerima ajakan Jose Mourinho yang saat itu membesut Real Madrid. Bersama Mourinho, Ozil bisa memenangi tiga trofi, LaLiga, Copa del Rey dan Piala Super Spanyol.

“Setelah Piala Dunia 2010, Real Madrid dan Barcelona, Arsenal, Bayern Munchen dan Manchester United menginginkan saya. Tim favorit saya saat itu adalah Barcelona. Saya belum pernah melihat sebuah tim bermain secantik mereka.” ungkap Ozil seperti dilansir dari Marca.


Baca Juga:



“Saya sempat berhasrat bisa gabung ke Barcelona, tapi kelihatannya Guardiola tidak menginginkan saya. Absennya dia dalam negosiasi membuat saya curiga, tapi Barca saat itu bilang dia sedang berlibur.” sambungnya.

“Di sisi lain, Mourinho datang dengan sangat meyakinkan, dia ramah dan punya keinginan kuat membawa saya ke Madrid. Dia benar-benar berbeda dengan Guardiola. Jadi saya putuskan untuk gabung ke Real Madrid-nya Mourinho,” pungkas Ozil.

Selalu update berita bola terbaru seputar La Liga hanya di Vivagoal.com

Cerita Van Persie Main Dengan Para Senior Man United

Vivagoal Liga Inggris – Robin Van Persie mengagumi beberapa sosok senior saat berseragam Manchester United. Ia menyebut ada tiga pemain yang membuatnya kagum atas kontribusi mereka.

Kendati hanya bermain selama tiga musim di Manchester United, namun Van Persie mampu memberikan cerita yang indah. Selama berseragam Setan Merah di musim 2012-2015, bomber asal Belanda itu berhasil menyumbangkan satu trofi Premier League yang belum berhasil diulangi sampai sekarang.

Terlepas dari fakta menyedihkan tersebut, Van Persie juga mengenang perjalannya di sana. Ia menyebut ada tiga pemain senior yang menginspirasi tim salah satunya adalah Ryan Giggs yang disebutnya pemain paling flamboyan kala itu.

“(Ryan) Giggs saat itu pemain flamboyan-nya, ia senantiasa memberi kesan berada di zona nyamannya sendiri,” kata Van Persie kepada SoFoot yang dikutip Express.

“Masih dalam kondisi bugar sampai usia 39! Secara bersamaan, ia melakukan yoga dan hidup di dalam sepakbola,” ujarnya.


Baca Juga:



Van Persie juga mengagumi dua sosok tembok kokoh di pertahanan Manchester United. Ia menyebut jika Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand tampil solid meski memiliki penampilan yang sangat berbeda.

“(Nemanja) Vidic merupakan seorang petarung murni. Ia melakukan sesuatu yang biasanya menakutkan untuk dikerjakan oleh orang lain. Ia melakukan segalanya untuk menang.”

“Rio Ferdinand, ia bermain lebih ‘elegan’. Nyaman dengan bola dan tangguh di udara,” tutur Van Persie.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Inggris hanya di Vivagoal.com

Cerita Manu Hernando: Tekel Ronaldo Lalu Hilang Dari Skuat Madrid

VivagoalLa Liga – Centre-back Racing Club, Manu Hernando punya kisah yang menarik di Real Madrid. Pemain akademi Madrid Castilla ini dikabarkan menghilang pasca menekel Cristiano Ronaldo.

Kisah Manu yang menghilang ini diceritakan oleh Marca. Peristiwanya terjadi pada akhir musim 2017/2018 ketika Madrid tengah bersaing memperebutkan trofi Liga Champions pasca gagal menyaingi Barcelona di ajang LaLiga Spanyol.

Dikisahkan oleh Marca, dalam sebuah latihan di kamp latihan Valdebebas, Manu yang kala itu baru dipromosikan dari Madrid Castilla ke tim senior tak sengaja menekel Ronaldo dalam sebuah sesi internal game. Sang bintang lantas terjatuh dan mengerang kesakitan.

Ronaldo yang merupakan mesin gol utama Madrid pada saat itu diketahui marah betul kepada Manu Hernando. Manu sendiri langsung meminta maaf kepada pemain asal Portugal tersebut dan latihan pun dilanjutkan kembali.

Namun anehnya, pasca kejadian tersebut, Manu seolah menghilang dari skuat utama Los Blancos. Pemain bernama asli Jose Manuel Hernando tersebut tak pernah lagi diajak berlatih di skuat senior. Bahkan ia diturunkan ke tim Madrid U-19.


Baca Juga:



Semusim berselang, ketika Ronaldo pindah ke Juventus, Manu tetap tak bisa kembali berlatih di tim utama. Sampai pada akhirnya, Manu yang saat ini berusia 21 tahun dipinjamkan ke Racing Club yang bermain di divisi Segunda B, Spanyol.

Kontraknya sendiri bakal habis di akhir musim ini, dan sejauh ini Racing Club belum ada tanda-tanda bakal memperpanjang kontrak sang pemain.

Selalu update berita bola terbaru seputar La Liga hanya di Vivagoal.com

John Terry Beberkan Gaya Kepelatihan Mourinho Ketika Menukangi Chelsea

Vivagoal Liga Inggris – John Terry membeberkan cerita menarik ketika ditukangi Jose Mourinho. Menurutnya pelatih asal Portugal tersebut berhasil membawa perubahan besar di Chelsea.

Sembilan trofi bergengsi berhasil diberikan Jose Mourinho dalam dua periode melatih di Chelsea. Tiga titel juara Premier League, Piala FA, Piala Liga Inggris, dan Community Shield menjadi bukti kesuksesan Mou di Chelsea.

Tidak hanya mendatangkan trofi bergengsi, Mou juga melahirkan para pemain bintang. Sebut saja Petr Cech, John Terry, Frank Lampard, sampai Didier Drogba muncul sebagai pemain kelas dunia saat itu.

Di tengah Mou yang kini tengah menjadi sorotan di Tottenham Hotspur, Terry membeberkan jika ia masih sosok yang pantas dihormati. Terlepas dari gaya bermain atau taktik, Terry melihat jika Mou memiliki kemampuan untuk merubah tim seperti saat ia merubah cara berpikir Chelsea.

“Jose Mourinho adalah orang yang pertama kali merevolusi segala hal di Chelsea dan mengubah cara berpikir kami semua,” kata Terry membuka cerita dilansir dari talkSport.


Baca Juga:



“Pada sesi latihan, Mourinho punya visi permainan, analisis, dan mentalitas. Dia punya banyak hal untuk diajarkan,” terang Terry.

“Misalnya dia pernah bilang seorang pianis tidak akan jauh dari pianonya. Ya, sama seperti kami pemain bola yang tidak boleh jauh dari bola. Mourinho mau kami terus menguasai bola dan merebutnya dengan cepat dari lawan. Secara psikologis Mourinho sudah menguasai isi kepala para pemainnya,” lanjut Terry.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Inggris hanya di Vivagoal.com

LATEST NEWS

- Advertisement -

HOT NEWS