
Obrolan Vigo: Robinho, Scam Terbesar yang Pernah Menghinggapi Manchester City
Vivagoal – Berita Bola – Manchester City pernah dianggap menghamburkan uang tatkala mengamankan Jack Grealish di angka 100 juta paun. Secara statistik, ia dianggap gagal. Namun scam terbesar yang pernah dilakukan the Sky Blues yakni saat mengamankan Robinho pada 2008.
Grealish yang datang dari Aston Villa pada 2021 memang kurang memberikan impresi. Dalam kurun waktu empat tahun, ia sempat mengepak 17 gol dan 23 assist dari 157 laga di lintas kompetisi. Secara statistik, catatannya memang tak terlalu mentereng. Namun, ia adalah keping yang dibuthkan oleh tim guna mendulang kesuksesan.
Dalam periode masa baktinya di klub, sang pemain berperan penting tatkala tim memenangkan rangkaian gelar di bawah Pep Guardiola, termasuk kala mengamankan treble winners pada 2022/23 kemarin.Saat ini sang pemain tengah dipinjamkan ke Everton dan situasi hampir sama pernah terjadi pada 2008.

Kala itu, tim baru saja diakuisisi oleh Abu Dhabi United Group besutan Sheikh Mansour. Proyek ambisius pun dibuat guna membuat tim lebih mentereng dan bukukan status sebagai kekuatan baru dalam sepakbola Inggris. Namun saat akusisi dilakukan akhir Agustus, mereka diburu waktu untuk mengamankan kekuatan baru. Nama-nama seperti Robinho, David Villa, Dimitar Berbatov, dan Mario Gómez.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Ethan Mbappe yang Lepas dari Bayang-Bayang Kakaknya
- Obrolan Vigo, Frank Lampard, Sang Juru Selamat Coventry City
- Obrolan Vigo: Sergio Busquets yang Akan Pensiun di Waktu Terbaik
- Obrolan Vigo: Bernardo Tavarers dan Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan
Nama pertama didatangkan dengan cara layaknya pembalap Moto GP yang menyalip di tikungan akhir. Sebenarnya, Robinho condong akan merapat ke Chelsea dari Real Madrid. Namun sebelum deal terealisasi, the Blues sudah menjual jersie pemain asal Brasil itu di situs resmi mereka dan hal tersebut membuat Los Blancos tak senang. Oleh karenanya, arah transfer berubah
City yang juga meminati jasanya kemudian mengangkut Robinho dengan mahar 32,5 juta paun. Ia bahkan tak menjalani tes medis lantaran mepetnya waktu dan mengkaim bergabung dengan Chelsea. Jelas, ia tak membaca dengan detil kontrak yang sudah ditekennya bersama City.
Proses transfer yang cepat membuat performa sang pemain naik turun. Boleh dikatakan ia merupakan panic buying yang dilakukan City kepadanya. Di beberapa laga awal, ia mampu tampil gemilang. Hattrick ke gawang Stoke City menjadi bukti. Bahkan dalam setengah kalender, ia mampu mendulang 12 gol di berbagai kompetisi.

Namun ketika tahun 2009 menjelang, Robinho seakan kehilangan arah. Ia harus menelan pil pahit lantaran urung mendulang satu pun gol dalam 17 laga yang dimainkan di lintas kompetisi. Meski di akhir musim ia mampu mengepak 14 gol di Premier League, ada harapan sang pemain bisa menghasilkan lebih banyak pada musim debutnya bersama klub. Asa itu pada akhirnya urung terjadi.
Semusim berselang, City yang tengah dalam ambisi besar masih mengamankan sejumlah nama krusial. Carlos Tevez, Emmanuel Adebayor hingga Garreth Barry hadir ke tim. Namun Mark Hughes, juru taktik kala itu tak bisa berbuat banyak dan perannya digantikan oleh sosok krusial. Roberto Mancini datang menukangi tim pasca meninggalkan Inter Milan.
Baca Juga:
- 5 Fakta Pemain yang Memperkuat Arsenal dan Atletico Madrid
- 5 Fakta Wonderkid yang Siap Menghentak Premier League 2025/26
- 5 Fakta Pelatih yang Sempat Mengarsiteki Bayern Munich dan Dortmund
- 5 Fakta Pemain Arab Saudi yang Sempat Abroad ke Luar Negeri
Kedatangan Mancio jelas memberikan perbedaan arah angin pada Robinho. Etos kerja sang pemain dianggapo kurang baik dengan pendekatan yang dilakukannya. Hal tersebut mereduksi penampilannya. Ia hanya enam kali mentas sebagai starter dan hasilnya bisa ditebak. Ia ditepikan dan harus dipinjamkan ke tim yang membesarkan namanya, Santos.
Pulang ke Brasil membuatnya masuk dalam susunan pemain yang dibawa Selecao untuk menyongsong Piala Dunia 2010 lalu di Afrika Selatan. Namun karirnya di City selesai. Ia tak masuk dalam rencana tim dan kemudian dipaketkan ke Italia guna menjadi bagian dari AC Milan. Mentas untuk Milan nyatanya bukan menjadi perbaikan karir. Potensi gemilang sang pemain pada akhirnya benar-benar tenggelam.
Pasca City, ia resmi menjadi journeyman dengan berkelana dari satu tim ke tim lain. Milan, Santos, Guangzhou Evergrande, Atletico MG, Sovassor, Istanbul Basaksehri kemudian menjadi destinasi sang pemain sebelum akhirnya pensiun di Santos pada 2020 lalu. City jelas terkena scam nyata atas potensi sang pemain yang tak benar-benar keluar. Parahnnya, ia dilego ke Milan hanya separuh dari harga belinya yakni di angka 15 juta paun.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















